www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

no image

Posted by On 01.20

Citi Mikro Entrepeneur Award (CMA), malam penghargaan bagi para pebisnis mikro akan digelar pada 29 Nopember mendatang. Acara tahunan yang diselenggarakan oleh Citi Foundation dan Citi Peka bekerjasama dengan UKM-Center FE Universitas Indonesia. Dari riset yang dilakukan sejak beberapa waktu lalu itu, terjaring 24 pebisnis mikro dan metreka akan bersaing untuk memperoleh gelar siapa yang terbaik pada tahun ini.  CMA merupakan salah satu program CSR dari Citi Indonesia yang begitu peduli dengan pertumbuhan usaha mikro di Tanah Air.  Para finalis itu akan diseleksi lagi menjadi 12 dan mereka ini langsung dinobatkan sebagai pemenang.  CMA 2007 ini memperebutkan hadiah total Rp 200 juta per kategori.

no image

Posted by On 02.48

Meski usianya masih belia, Icha tak gamang untuk mengelola usaha sekaligus menekuni studinya. Sukatna

Menjadi seorang jurnalis adalah cita-cita Annisa Putrinda, yang akrab disapa Icha. Namun di tengah-tengah usahanya memburu cita-cita putri kedua pasangan Irwan-Afifah ini ternyata juga menakhodai sebuah usaha money changer Trend Valasindo Cabang Graha Niaga. “Cita-cita saya ingin menjadi jurnalis televisi dan pengusaha sekaligus,” ungkap dara cantik berkulit kuning langsat ini. 

Cita-cita mahasiswi Jurusan Mass Communication London School ini agaknya tidak terlalu jauh dari akar lingkungannya. Sang ayah adalah seorang dokter sekaligus pengusaha minimarket dan makanan.
Icha sadar menapaki dua dunia sebagai mahasiswi dan pengusaha tentu harus memiliki manajemen waktu tersendiri. “Saya tidak memiliki waktu untuk bermain-main seperti teman-teman yang lain. Sepulang kuliah saya harus pergi ke kantor. Bahkan aktivitas sehari-hari lebih banyak bersentuhan dengan orang-orang kantoran,” tuturnya. 
Namun Icha mengaku sangat enjoy dengan dua perannya tersebut. Banyak hal yang ia dapatkan sekaitan dengan aktivitasnya sebagai pengusaha di usia belia. Terutama sekali adalah masalah tanggung jawab, mental, kedisiplinan, leadership, dan partnership. Icha mengakui sebagai franchise Trend Valasindo, ia mendapat dukungan penuh dari Trend Valasindo pusat, baik dalam sistem maupun networking. “Tetapi saya juga terus mengembangkan relasi. Tak jarang saya menjalin relasi bisnis dengan teman-teman, orang tua mereka, bahkan dengan para dosen,” imbuhnya.

Meski usianya belum genap 20 tahun, Icha berposisi sebagai decision maker di perusahaan yang konon modalnya berada di kisaran 10 digit ini. “Namun saya tetap meminta pertimbangan orang tua maupun karyawan atau karyawati senior saya,” sambung Icha. 
Langkah yang ditempuh Icha ini agaknya on the right track. Usaha yang dijalani menunjukkan perkembangan yang signifikan. Beberapa perusahaan besar yang berkantor di Graha Niaga tercatat sebagai nasabahnya. Bahkan Trend Valasindo Cabang Graha Niaga ini juga telah memiliki nasabah perusahaan-perusahaan yang berkantor di gedung-gedung yang bersebelahan dengan Graha Niaga. “Kami memang membidik sektor korporat, tetapi banyak juga perorangan yang menjadi nasabah kami,” tegasnya. Dengan dukungan penuh dari Trend Valasindo pusat, yang bulan lalu menyabet predikat sebagai Franchise Terbaik 2007 (Versi Majalah Pengusaha) untuk kategori bisnis money changer, dan upaya giatnya menjalin relasi bisnis di lingkungan kampus maupun perkantorannya, keberhasilan bisnis yang dikemudikan Icha hanya soal waktu saja.

no image

Posted by On 02.58

Sekolah boarding berstandar internasional di Bandung ini memadukan tiga pilar utama, akademis, agama dan life skill. Dalam pilar life skill inilah nilai-nilai entrepreneurship dimasukkan di dalamnya
Sukatna

Letak sekolah boarding ini di bilangan Cibiru, suatu daerah yang relatif jauh dari kota Bandung. Tetapi letak yang “terpencil” tak menghalanginya untuk dikenal di seluruh Nusantara. Maklum, sekolah ini memiliki standar internasional. 
Mengusung konsep SMA Terpadu (SMAT), Krida Nusantara memiliki tiga pilar pengajaran, sebagaimana diungkapkan Kepala Sekolah Drs H Nuryana. “Tiga pilar ini terjemahan dari visi yang disampaikan oleh Ibu Try Sutrisno yang disampaikan ke yayasan dan kemudian disampaikan kepada kami,” ujar Nuryana, yang telah lama menggeluti bisnis travel jauh sebelum memangku jabatan sebagai kepala sekolah di SMA elit tersebut.

Tiga pilar tersebut, imbuh Nuryana, meliputi pendidikan akademis, pendidikan agama dan pendidikan life skill dengan komposisi 50:30:20. Lantaran sang kepala sekolah selain memiliki background  pendidik, juga seorang pengusaha maka tak heran kalau ia juga menanamkan nilai-nilai entrepreneurship kepada anak didiknya untuk memberi nilai plus terhadap pilar life skill. “Kalau nilai-nilai entrepreneurship diartikan sebagai sebuah ajaran tentang kemandirian, kami sudah men-setting dari awal,” tuturnya.
Misalnya pada event  Gebyar, siswa kelas II SMAT Krida Nusantara mengundang siswa SMP untuk mengikuti kegiatan kompetisi yang mereka selenggarakan seperti kompetisi Bahasa Inggris, olahraga atau cerdas cermat.  “Selain mereka belajar menyelanggarakan suatu event di antara mereka ada yang berjualan,” sebut Nuryana, mengenai implementasi dari nilai-nilai entrepreneurship. “Tetapi semua kegiatan tersebut hanya dibatasi di lingkungan Krida Nusantara, tidak boleh keluar.”

Nuryana mengakui adanya rasa khawatir implementasi nilai-nilai entrepreneurship kebablasan, karena tugas anak-anak didik adalah belajar akademis, sehingga ada suatu kondisi yang stagnan. “Harus ada inovasi-inovasi entrepreneurship. Saya mencoba untuk membuka wacana itu, karena pernah ada kondisi yang stagnan. Saya mencoba mengubah citra bahwa belajar itu sebuah komunitas pembaharu untuk mengembangkan potensi diri sehingga aksesnya diterima masyarakat. Akses itu mungkin berupa hubungan dan pada akhirnya hubungan itu bisa di akomodir menjadi aset,” paparnya. 

Nuryana yakin siswa-siswinya yang rata-rata berasal dari golongan menengah ke atas tak kesulitan untuk mencerap pendidikan akademis sekaligus nilai-nilai entrepreneurship. Apalagi Krida Nusantara memiliki gedung khusus atau workshop dan fasilitas untuk mempertajam life skill mereka.
Salah satu langkah terbaru yang diambil oleh Nuryana adalah menjajaki kerjasama dengan Be Boss untuk mengajarkan nilai entrepreneurship di SMAT Krida Nusantara. Kalau langkah ini berhasil, setidaknya Nuryana bisa membuktikan bahwa bahwa pengajaran akademis dan nilai-nilai entrepreneurship bisa disandingkan dan tidak perlu saling mengalahkan.

no image

Posted by On 02.56

Berbisnis ketika murid-murid masih menuntut ilmu akademis mungkin dirasa tabu untuk beberapa tahun lalu. Tetapi sekarang banyak orang tua dan sekolah yang mendorong agar anak didiknya belajar berbisnis demi kemandirian di kemudian hari. Russanti Lubis dan Sukatna

Ada suatu masa ketika orang melihat pelajaran akademis dan pelajaran bisnis sebagai minyak dan air. Artinya, sesuatu yang tidak akan pernah bisa bersatu selamanya. Makanya tak jarang orang tua yang melarang anaknya menjalankan aktivitas bisnis ketika mereka masih menuntut ilmu akademis. “Kalau mereka sudah tahu manisnya uang mereka akan lupa pada pelajaran,” dalih salah satu orang tua. “
Namun, cara pandang seperti ini agaknya sudah mengalami koreksi di sana sini. Banyak anak didik yang justru merasa mendapatkan manfaat positif ketika “nyambi” berbisnis. “ Annisa Putrinda mengaku dirinya jauh lebih berdisiplin mengelola waktu ketika dihadapkan kepada perannya sebagai mahasiswi sekaligus pemilik bisnis money changer Trend Valasindo di Lantai Dasar Graha Niaga. Sedangkan kedisiplinan merupakan pilar utama dalam menggapai kesuksesan baik di bidang akademis maupun bisnis. Jadi, menurutnya, tidak ada yang perlu dipertentangkan antara peraihan prestasi akademis dengan usaha meningkatkan kinerja bisnis. “Keduanya bisa saling mendukung,” ujarnya.

Segendang sepenarian dengan Annisa, Bani, siswa SMAN 1 Cileunyi, Bandung, “nyambi” berbisnis saat masih menuntut pendidikan formal justru bisa mendongkrak prestasi akademis. Setidaknya bisa membuat dirinya jauh lebih pede  dalam menjalankan tugas-tugas sekolah. Misalnya, ketika ia harus melakukan presentasi di depan kelas ia merasa tidak grogi lagi.
Nilai positif dari pengenalan nilai-nilai entrepreneurship di sekolah formal ini juga dirasakan oleh Otong Ahmad Fathoni, Kepala Sekolah SMAN 1 Cileunyi, Bandung. Menurutnya, kemampuan berbisnis merupakan esensi dasar dan setiap orang mempunyai potensi ke arah sana (baca: menjadi pebisnis, red.). Tapi, karena satu dan lain hal, potensi ini banyak yang terkubur atau terpendam. Di sekolah-sekolah juga tidak secara eksplisit terdapat pembelajaran tentang entrepreneurship, tetapi include dalam pembelajaran-pembelajaran lain, terutama dalam pelajaran ekonomi.
“Itu kan hanya ‘muatannya’, sedangkan ‘jiwanya’ sendiri tidak tergali. Berlatar belakang inilah SMAN 1 Cileunyi, Bandung, ingin membentuk semacam wadah bagi para siswanya, dalam rangka memberikan pembelajaran tentang entrepreneurship, sekaligus mengembangkan potensi mereka. Karena, kami melihat bahwa sebagian dari mereka ada yang menonjol dalam hal ini,” kata Otong Ahmad Fathoni, Kepala Sekolah SMAN 1 Cileunyi, Bandung.

Di sekolah ini, program tersebut diterapkan dalam bentuk ekstrakurikuler (eskul) yang masuk dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang muatannya adalah pengembangan diri. Program ini, menjadi salah satu dari 20 eskul di SMAN 1 Cileunyi dan masuk ke dalam eskul koperasi siswa dan kewirausahaan. “Eskul ini diberikan mulai kelas 10 (1 SMA, red.) dan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2006/2007,” jelasnya.
Pada awalnya, ia melanjutnya, para siswa tidak tertarik dengan eskul ini. “Ketika Be Boss masuk ke sini, terjadi sinkronisasi dengan program kami tersebut, sehingga sosialisasi kewirausahaannya langsung menyentuh para murid,” ujarnya. Kendala tidak berhenti di situ, karena para siswa masih bertanya-tanya tentang program ini. “Tapi, setelah mereka mengikuti outbound Be Boss, banyak murid kami yang tertarik untuk mengikutinya dan ke sininya jadi lebih mudah,” tambahnya. Kini, tercatat 17 siswa mengikuti eskul ini.

Kendala berikutnya muncul yaitu masalah finansial. Hampir semua orang tua murid sekolah ini berasal dari kelas menengah ke bawah, dengan pekerjaan utama sebagai petani. Dengan demikian, sekecil apa pun masalah keuangan yang mereka hadapi, membuat mereka mentok dalam mengembangkan ketertarikan bisnis. “Kami mengatasi kondisi ini dengan sharing dan menjalankan trik-trik yang diberikan Be Boss, yaitu praktik bisnis secara langsung sehingga memperoleh pemasukan. Lantas, pemasukan tersebut mereka gunakan untuk merealisasikan bisnis yang menarik perhatian mereka,” kata Otong yang memberi keleluasaan para siswanya untuk aktif berbisnis.