www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

no image

Posted by On 03.34

Produk yang menyasar pasar bayi tidak pernah mati. Namun perlu suatu strategi dan inovasi untuk merebut ceruk ini, di antaranya memproduksi perlengkapan bayi dengan beberapa fungsi. Wiyono

Saat akan menyambut kehadiran si buah hati, perlengkapan bayi selalu menjadi salah satu daftar wajib di antara pengisi keranjang belanja.  Sekarang ini produk-produk perlengkapan bayi bukan hanya beragam jenisnya, modelnya juga dibuat menarik serta lucu-lucu. Mulai dari pemberian hiasan atau motif-motif khas anak-anak, sampai kepada variasi model yang multifungsi, praktis dan unik.

Memang, bila dilihat dari sisi pengusaha,  bagi produsen atau pun pedagang, pasar untuk produk ini selalu memikat. Betapa tidak, di atas kertas untuk pasar lokal saja, besarnya jumlah penduduk serta tingginya tingkat pertumbuhan sudah menjanjikan ceruk pasar yang tidak akan pernah habis.

Selain itu dari sisi urgensi, produk-produk perlengkapan bayi bukan termasuk barang-barang yang pemenuhannya bisa ditunda, sehingga ini merupakan pasar yang menggiurkan bagi para pemain yang terjun ke dalamnya.

Alasan di atas membuat Johan, 31 tahun, ikut melirik peluang pasar yang menurutnya sangat bagus, sebab produk perlengkapan bayi senantiasa bersifat terus-menerus dan merupakan kebutuhan pokok bagi keluarga yang punya momongan “Kami berproduksi  perlengkapan bayi mulai Juli 2006. Perusahaan atau lebih tepatnya home industry ini sebenarnya adalah pengembangan dari produk-produk kami yang sebelumnya lebih ke arah produk fancy, antara lain tempat HP, tempat kosmetik dan berbagai macam tas untuk souvenir,” ujar pria asal Klaten, Jawa Tengah tersebut.

Thacia BabyKini UD Thacia,  nama bendera usaha lulusan Magister Management Universitas Atmajaya Jogyakarta itu, di samping menjadi produsen boks atau aneka kotak hias serta perusahaan mineral makanan ternak dan bangunan juga dikenal oleh masyarakat sekitar memiliki diversifikasi usaha berupa produk-produk perlengkapan bayi dan anak-anak. Namun yang membuat sedikit berbeda, Johan tidak mau memproduksi jenis pakaian bayi berupa popok, gurita, atau yang lain seperti pengusaha yang bergerak di bidang perlengkapan bayi kebanyakan melainkan hanya fokus ke perlengkapannya seperti gendongan, selimut, topi selimut untuk bepergian, tas perlengkapan bayi, bantal-guling, perlak (alas), bedong, dan lain sebagainya.

Menariknya lagi, Johan mengembangkan kreasi produk perlengkapan bayinya dengan beberapa sentuhan inovasi. Seperti misalnya, tas perlengkapan dikombinasi dengan alas tidur bayi sehingga mampu berfungsi ganda. Hampir serupa, terdapat pula tas dengan serut, atau yang lain, misalnya ia membuat bantal peyang khusus untuk bayi baru lahir. “Jenis produk diperoleh dari pengembangan produk-produk yang telah ada maupun menjiplak disain yang telah ada. Kita hanya mengefisienkan ukuran dalam pemotongan pola sehingga diperoleh biaya produksi yang minimal, sehingga harganya bisa bersaing,” ungkapnya.

Thacia BabyUsaha bermodal awal sekitar Rp 25 juta tersebut melibatkan kira-kira sepuluh orang penjahit dengan sistem borongan. Artinya produksi dilakukan secara makloon, dengan begitu Johan tinggal melakukan kontrol kualitas dan fokus pada pemasaran sebab produksi dilakukan kontinyu dengan sistem stok.

Sejak awal usaha hingga tahun pertama, Johan mengatakan, prospek produk perlengkapan bayi sejatinya sangat bagus. Meskipun konsumen baru meliputi Jawa Tengah dan DIY, penjualan tiap item produk perbulan minimal mencapai 200 pcs. “Sekarang ini saya baru fokus ke kapasitas produksinya, setelah kapasitas produksi kami benar-benar sip, maka kami berencana melakukan intensif marketing,” akunya sembari menjelaskan, karena saat ini masih terdapat kendala produksi, maka pemasaran baru sebatas melalui internet serta beberapa baby shop yang dibuka saudara-saudaranya.

no image

Posted by On 01.45

Apakah bisnis yang sekarang akan tetap eksis seperti seperti sekarang?  Begitulah  kata berulang yang kerap kita atau Anda dan siapa saja yang akan terjun sebagai calon pebisnis, pebisnis, investor, pembaca majalah ekonomi atau pengamat ekonomi. Kata-kata di atas bukan sebagai nada kekhawatiran atau pesimistis. Namun, sebuah ungkapan bijak untuk mengetahui apa yang bakal terjadi di dunia bisnis di tahun-tahun mendatang.

Tahun 2008 kondisi makro ekonomi di Tanah Air diperkirakan sangat kondusif. Begitu ramalan para pakar ekonomi, bank dunia, yang dipresentasikan pada pertengahan tahun ini. Pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6,8%, lebih tinggi ketimbang tahun lalu yang hanya 6,3%.  Bila ramalan itu benar, kondisi makro dan mikro ekonomi akan bagus. Kebijakan baru yang menyangkut reformasi di sektor mikro akan muncul akibat dari membaiknya sektor makro. Dan, ini, menurut kami,  akan menumbuhkan peluang-peluang dan gairah yang besar dari para pebisnis.

Kami berharap prediksi itu tidak meleset. Gairah berbisnis dari para pengusaha yang kami temui di lapangan sangat besar. Mereka optimistis. Beberapa di antara mereka tengah menyiapkan  rencana untuk membangun sebuah bisnis baru.  Adler Haymans Manurung, salah satu pengamat bisnis UKM mengatakan, tanda-tanda akan membaiknya  bisnis sudah kelihatan. Bahkan dalam dua atau tiga tahun ke depan. Hanya, menurut dia, bisnis yang akan berkibar adalah yang berorientasi ekspor meski skalanya kecil atau UKM.

Kami sependapat dengan Adler.  Dari lapangan, kami telah membuktikannya.  Bisnis distro (distribusi outlet), misalnya, perlahan-lahan terkerek naik dan kini melesat ke depan. Bisnis yang dulu hanya berkutat di pasar domestik kini telah menancapkan kukunya di pasar mancanegara. Ide dan kreatifitas yang dipadukan dengan semangat untuk maju dari pengelolanya—rata-rata kawula muda—mampu menarik minat konsumen di beberapa negara untuk memakai produk Indonesia. Produk distro & clothing disini telah diekspor ke negara pemesan. 

Bisnis lain, yang tak kalah menariknya adalah  di sektor otomotif. Jasa bengkel modifikasi motor, misalnya lahir dari jawaban permintaan para bikers akan model tunggangannya. Begitu juga toko aksesoris  motor, adalah upaya memenuhi permintaan para bikers yang modis. Motor berbeda dengan yang lain, modis, adalah bagian perilaku bikers yang tidak menggangap lagi motor sebagai alat fungsional belaka, namun sebagai sarana aktualisasi dan gaya.  Bisnis ini akan tumbuh dan berbanding lurus dengan tumbuhnya pasar sepeda motor di Tanah Air.

Agribisnis pada tahun mendatang diperkirakan akan mendulang fulus yang besar. Beberapa komoditas ekspor agribisnis telah membuktikannya. Bisnis Ikan Arwana ekspor terus berkibar hingga kini. Lalu, beberapa species ikan tawar lainnya, seperti  ikan patin juga latis manis di mancanegara. Lalu, yang lagi ngetren kali ini adalah tanaman gelombang cinta atau anthurium yang banyak peminatnya. Tunggu beberapa bulan, langsung dijual dan hasilnya miliaran rupiah.  Cara menanmny cukup mudah. Yang sulit ialah bagaimana mencari pembeli yang betul-betul sreg. Karena, tanaman jenis ini termasuk barang collectible bond  yang harganya mahal kalau pembeli suka.

Gencarnya penggunaan enerji alternatif untuk bahan bakar minyak (BBM), melahirkan peluang bisnis biodiesel dari berbagai bahan nabati. Salah satunya adalah minyak jelantah, sisa minyak goreng yang tidak dipakai lagi. Bahan ini kemudian bisa diproses dan menjadi bahan bakar untuk kendaraan diesel.  Biaya produksinya rendah.  Begitu juga dengan investasinya. Dan, yang lebih menarik lagi, kebutuhan akan bahan bakar ini akan tinggi. Karena, pihak Pertamina berani membeli dengan harga Rp 7 ribu per liternya.

Sektor makanan, adalah bisnis yang tak lekang dan tak lapuk dalam kondisi apapaun. Meski sifatnya seasonal, namun kreatifitas makanan dan citarasa yang diciptakan oleh pebisnisnya mampu menyedot ribuan orang untuk mencicipinya.  Bisnis makanan cepat saji, misalnya, selalu saja muncul hal-hal baru dan inovatif.  Jual burger atau hotdog di SPBU (Stasiun Pompa Bensin Umum), misalnya, kini tumbuh pesat. Beno, pemilik jasa Pesan & Delivery menciptakan Hot Dog Both sebuah makanan cepat saji yang dijual di SPBU strategis.

Bisnis makanan yang juga tidak kalah menarik adalah resto yang menjual makanan tradisional, tapi disajikan dengan cara moderen. Dulu, kita kenal warung khas Makassar, Sop Konro, Mamink Daeng Tata. Kini, di Jakarta kita kenal Bumbu Desa, Rawon Setan, Surabaya, yang pembelinya tak kalah ramai dengan sop konro.   Makanan khas Indonesia memiliki nilai jual tinggi. Bila dikelola dengan professional bisa jadi menjadi komoditas yang bisa dijual tidak hanya di pasar domestik, tapi di mancanegara.

Bisnis-bisnis di sektor jasa juga akan tumbuh pada 2008.  Jasa Tour & Travel akan tetap saja booming, khususnya jasa-jasa layanan haji dan umroh. Sekarang, layanan itu berkembang lagi dengan jasa Holy Tour sebagai meningkatnya kesadaran kalangan kristiani untuk berwisata ziarah ke Jerusalem, Vatikan atau Lourdes. Menurut sebuah sumber tiap tahun puluhan ribu umat kristiani berkunjung ke tempat-tempat tersebut.

Bisnis jasa lainnya yang bakal tumbuh dengan pesat adalah  jasa arsitek, desain visual, percetakan (publishing), software & computer, periklanan dan beberapa lagi lainnya. Bisnis yang tergolong dalam new economy ini semuanya dalam lingkup industri kreatif.  Untuk jasa periklanan misalnya, belanja iklan terus merangkak naik dan mendekati angka Rp 37,2 triliun.  Begitu juga dengan jasa desain visual yang menurut sebuah majalah ekonomi terbitan Jakarta, pasarnya senilai Rp5 triliun.  Peluang masih terbuka bagi pemain baru yang ingin terjun ke bisnis.

Industri craft, atau jasa kerajinan yang berorientasi ekspor diprediksikan juga bakal tumbuh pesat. Sebuah produsen puzzle  di Jogyakarta, misalnya, pasarnya sudah meramabah ke beberapa negara di dunia. Desain yang cantik serta kualitas produk yang dihasilkan ternyata mampu mentraik minat konsumen di beberapa negara seperti mislanya : Belanda, Inggris, Jerman dan Amerika Serikat. Di bisnis ini kuncinya adalah mampu menciptakan produk yang unik, ngetren dan ramah lingkungan. Dan, satu lagi, adalah pasar di mancanegara. Apresiasi seni dari masyarakat di sini yang rendah, kurang mendukung bila produk kerajinan dipasarkan di dalam negeri.

Diluar bisnis-bisnis ini, masih banyak lagi yang bakal booming di tahun depan. Majalah ini hanya memberi gambaran peluang bisnis jika Anda berminat terjun ke bisnis. Gambaran keberhasilan yang kami sajikan mungkin bisa dijadikan patokan atau acuan Anda untuk memilih bisnis ini. Namun, sekali lagi kami ingatkan bahwa keberhasilan itu tetap saja ditangan Anda sendiri. Contoh beberapa bisnis yang sukses tersebut  hanya sebagai inspiring bagi Anda.

no image

Posted by On 03.33

Selama ini tak banyak yang bisa menambah added value komoditas kelapa. Padahal ada 1.600 item produk yang bisa dihasilkannya. Wiyono

Anda pernah mendengar sirup air kelapa (sirkel)? Ya, sejatinya sirup hasil pengolahan limbah air kelapa tersebut hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak produk yang bisa dikembangkan dari hasil tanaman kelapa. Menurut Wisnu Gardjito, pengusaha plus aktifis yang menaruh perhatian besar pada komoditas tumbuhan tropis satu ini terdapat 1.600 item produk akhir kelapa, primer maupun skunder. Direktur Improvement Institute yang juga dosen Akademi Pimpinan Perusahaan di bawah Departemen Perindustrian tersebut, dalam tugasnya mengembangkan agroindustri empat komoditas di Kawasan Timur Indonesia (coklat, kelapa, jagung, dan ikan) berkesimpulan, dari empat komoditas di atas maka paling strategis untuk dikembangkan adalah kelapa.

Wisnu memiliki sejumlah argumentasi. Area tanaman kelapa di Indonesia tercatat terluas di dunia tersebar di Riau, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, NTT, serta daerah-daerah lain, mengungguli Philipina yang memiliki 3,1 juta hektar disusul India dengan 1,1 juta hektar lahan. Tetapi uniknya, di Indonesia  karakteristik usaha budidaya tanaman kelapa dimiliki oleh rakyat. Sebanyak 96% merupakan perkebunan rakyat yang diusahakan di kebun dan atau di pekarangan, secara monokultur atau kebun campuran. Jumlah petani kelapa lumayan besar, melibatkan sekitar 25 juta warga. Berarti apabila itu dimaksimalkan maka akan menopang hajat hidup sejumlah besar penduduk.

Ironisnya, pada saat ini nilai ekonomi kelapa dihargai sangat murah. Kian merosotnya harga jual kopra, akhirnya menyebabkan kecenderungan masyarakat makin membiarkan tanaman ini dalam kondisi tidak terawat sehingga berdampak makin anjloknya produktifitasnya. Maka Wisnu berpendapat perlu ada upaya sistem pengembangan terpadu melalui usaha-usaha kelompok/ klaster agar tercipta kesempatan nilainya melompat ke tingkat yang jauh lebih tinggi. Sebut saja pengolahan kelapa menjadi produk virgin coconut oil (VCO), misalnya.

Peraih gelar Doktor Teknologi Industri Pertanian IPB cum laude itu menyebutkan, nilai tambah hasil pengolahan aneka produk berbahan dasar kelapa mampu mencapai 8800% dari harga sekarang. Soal teknologi pembuatan segala macam produk juga tidak perlu khawatir, sebab semuanya sudah kita miliki. Apalagi, Wisnu menyebutkan alasan terakhir, pasokan untuk kebutuhan pasar dunia nyaris masih kosong, total hanya sekitar 1,8% yang telah terisi.

Menyadari hal itu, sejak 1999 mulai serius mengembangkan usaha berbasis kelapa. Sejatinya rintisan usaha sudah dilakukan keluarganya sejak 1996, berbendera usaha  Sumber Rejeki dengan produk awal berupa kecap. Kemudian fokusnya mulai diperluas ke produk-produk lain sehingga akhirnya berkembang menjadi perusahaan agri specialist & agri trading. Dan sampai sekarang usaha yang kini dikelola bersama Vipie Gardjito, istrinya, itu telah berkembang sekitar 40 jenis, antara lain sabun, minyak goreng, arang batok, asap cair, body lotion, lotion anti nyamuk, VCO, dan lain-lain semua berbahan dasar kelapa. Terakhir kali, mereka mengenalkan produk sirup berbahan limbah air kelapa.

Karena ketersediaan bahan baku tersebar meliputi wilayah dengan kondisi geografis yang luas, maka industri pengolahan produk kelapa tidak mungkin ditempatkan berpusat di satu titik, sebaliknya ikut menyebar di area sentra produksi kelapa. Secara singkat Wisnu menggambarkan, dari keseluruhan produk, Sumber Rejeki tidak selalu memproduksi langsung melainkan berposisi sebagai penampung sekaligus memperbaiki produk petani sebelum dipasarkan. Di sisi lain, melalui lembaga Improvement Institute yang  ia pimpin, Wisnu giat menggalang dan melakukan pembinaan klaster-klaster di tengah-tengah masyarakat petani kelapa. Pembinaan itu meliputi technology transfer, pendanaan, sekaligus membuat semacam awareness program bagi pasar lokal hingga global. 

“Intinya, desa-desa didesain agar mampu membuat produk-produk yang marketable bagi global market, “ jelasnya mengenai klaster-klaster binaannya tersebut. Produk yang dihasilkan satu klaster bisa berupa produk mentah, atau pun berupa produk jadi dalam kemasan. Klaster berawal dari satu desa kemudian dihimpun dengan yang ada di desa-desa lain di seluruh Indonesia. Tentu saja dengan melibatkan dinas perkebunan, dan asosiasi petani kelapa. Selanjutnya semua disatukan dalam AEC (Agroindustry Export Cluster), suatu badan usaha murni milik rakyat.

Sirup Air KelapaKepada pemerintah pusat, Wisnu bahkan telah menyiapkan proposal pembentukan lembaga BOPAI (Badan Otorita Percepatan Agro Industri), khususnya kelapa. Dalam usulannya lembaga itu semestinya langsung bertanggung jawab kepada Presiden, tetapi tidak masuk dalam kabinet. “Kalau saja ada financial support dari pemerintah sekitar Rp 30 triliun, dalam waktu setahun dana tersebut sudah akan kembali, dan lima tahun sesudahnya, penghasilan bersih dari kelapa sekitar sebesar Rp 700 triliun,” ucapnya yakin.

Sebab, seperti diungkapkan, permintaan dari luar negeri berupa VCO, yang hanya merupakan  salah satu produk derivatif kelapa saja, untuk pengiriman ke UK sebanyak 50 ton/bulan dan 100 ton/bulan ke USA belum sepenuhnya terlayani. “Kalau namanya agro tidak bisa kecil, pasti gede, karena setiap orang pasti butuh. AEC di Kendari pasokan VCO-nya cuma 60 ton sebulan, ordernya 100 ton sebulan,” imbuhnya. Padahal harga pasar dunia untuk VCO bermutu paling rendah sekitar USD 5,00/liter, harga standar USD 20,00/liter atau sekitar Rp 200.000,00/liter.

Di samping itu, ternyata banyak produk limbah kelapa yang masih memiliki nilai ekonomi. Sebagai contoh, tempurung, sabut kelapa, daun, lidi, dan sebagainya, bisa dimanfaatkan untuk bahan industri, kerajinan, dan lain-lain. Telah lama kita mengenal produk nata decoco dari hasil olahan limbah air kelapa, yang ternyata juga bisa dibikin sirup. Sebagai gambaran atas bisnis pembuatan sirkel yang dilakukan Wisnu dan Vipie, air kelapa per liter semula dihargai Rp 400,00. Dengan modal tambahan seperti gula, peralatan, berikut tenaga kerja, setelah diolah menjadi sirup, per liternya bernilai jual Rp 15.000,00. Berarti dari limbah tersebut mampu menghasilkan nilai tambah hampir 20%.

Produksi dilakukan dengan sistem klaster, di tiap daerah padat penduduk dibuatkan instalasi pembuatan sirkel. Dalam kondisi normal tiap satu titik klaster bisa menghasilkan 400 botol per hari. Keuntungan sudah bisa dihitung, kalau diambil keuntungan Rp 4.000/botol, berarti Rp 1,6 juta dari satu titik saja. Dengan adanya 20 titik didiperoleh keuntungan Rp 32 juta sehari.

Lebih jauh, mata rantai penjualan produk hasil olahan kelapa juga membuka peluang usaha baru. Dari harga Rp 15 ribu per botol, sebesar Rp 5 ribu adalah keuntungan buat pedagang. Sebab, selain orientasi ekspor, Wisnu tengah menggagas peluang kerjasama untuk penjualan ritel dengan model stand boat melalui sistem bagi hasil 60:40. Mitra dibekali termos CO2 serupa alat pembuat minuman berkarbonansi. Cukup dengan modal Rp 5 jutaan, disebutkan, sudah dapat beroperasi dua lokasi, dengan perkiraan pendapatan minimal @ Rp 300 ribu/hari, profit margin 300%, balik modal tidak sampai sebulan. Artinya, setiap orang berkesempatan menjadi kaya dari produk-produk berbasis kelapa.

no image

Posted by On 03.32

Memanfaatkan bahan baku clay--semacam tanah liat—Yeny membuat berbagai kerajinan miniatur cantik. Wiyono

Nilai produk seni seringkali tidak dihitung dari besar angka rupiah bahan material saat pembuatannya, namun lebih banyak ditentukan oleh kaca mata estetika yang sulit terukur secara nominal.  Sebuah lukisan bikinan mahasiswa seni lukis yang masih taraf belajar boleh jadi tidak akan laku sampai ratusan ribu, sebaliknya karya seniman yang sudah profesional akan ditawar hingga ratusan juta rupiah.

Ilustrasi di atas sejatinya bukan untuk menonjolkan karya seni yang memiliki nilai jual ‘irasional’ yang biasanya hanya dimiliki pada karya seni murni. Sebab diakui, agak berlebihan apabila karya seni di atas disejajarkan dengan produk kerajinan yang ketika proses pembuatannya masih memperhitungkan prinsip-prinsip ekonomi. Akan tetapi tetap terasa wajar memasukkan nilai estetik sebagai salah satu faktor harga dalam produk seni kerajinan tangan yang jelas-jelas membutuhkan keahlian, ketrampilan, ketelitian, dan rasa estetis pada saat pengerjaannya. Sama halnya dengan produk miniatur berbahan clay. Sebagai produk handmade,  di pasaran kerajinan ini memiliki kisaran harga mulai dari lima ribu hingga mencapai jutaan rupiah. “Harga jual juga ditentukan oleh besaran, detil, dan tingkat kerumitan,” ungkap Yeny, pemilik Hanycraft.

Yeny mengenal kerajinan berbahan sejenis tanah liat ini sejak 2003. Dari semula sebatas hobi,  ternyata banyak saudara dan teman-temannya tertarik melihat hasilnya. Kemudian berawal dari melayani pesanan kerabat dekat itulah, setahun kemudian ia mencoba merintis bisnis pembuatan barang miniatur khusus dengan bahan clay secara lebih serius. “Saat itu masih jarang tempat yang menjual hasil kerajinan, dan terutama yang memberikan kursus cara pembuatan dan kreasi menggunakan clay ini,” tuturnya.

Kecuali menjual produk dan bahan kerajinan clay maupun aneka jenis kerajinan keramik mini, wanita 29 tahun tersebut sekaligus juga megadakan kursus pembuatan clay di rumahnya, di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Kursus yang diajarkan dibagi dalam dua kelas, yaitu kelas pembuatan makanan dan kelas pembuatan bunga dengan lama masing-masing kelas sekitar 5 jam.

Sedangkan nama Hanycraft itu sendiri, seperti dijelaskan, dikarenakan bisnis tersebut dijalankan bersama suaminya, Harry. “Pertama, merupakan kepanjangan dari nama suami saya (Harry) dan nama saya sendiri yaitu Yeny. Dan karena berhubungan dengan craft maka kami menggunakan nama Hanycraft. Alasan kedua, kata hany kalau dibaca sama dengan kata ‘honey’ yang berarti ‘sayang’. Artinya craft yang kami hasilkan tersebut bisa diberikan kepada orang yang disayangi,” ungkapnya.

Produk ClayProduk miniatur yang telah dihasilkan Yeny cukup banyak macamnya, antara lain ada yang berbentuk seperti makanan, misalnya kue, sushi, bakery, nasi tumpeng, steak, set breakfast, buah-buahan, tart, es krim, serta isi dari gerobak dorong makanan lengkap. Selain itu juga terdapat beraneka bunga-bungaan seperti mawar dan berbagai jenis-jenis anggrek, mulai anggrek bulan, dendrobium, anggrek kantong, vanda, cattleya, maupun ponne, di samping tulip, lily, teratai, lotus, gerbera, bunga matahari dan lainnya. Sedangkan kreasi miniatur berbentuk binatang, di antaranya kolam ikan koi, pigsty, gajah, kelinci, ayam, dan sebagainya.

Sampai saat ini produksi secara kontinyu, terutama dilakukan dengan mencoba menghasilkan kreasi-kreasi baru. Sementara itu, dengan dibantu dua orang karyawan ia juga menerima pesanan khusus dari pelanggan. Misalnya mengerjakan pesanan pembuatan sushi untuk dijadikan hiasan kalung dan bando. Tetapi, tidak jarang sebagian order juga diberikan kepada para mantan peserta kursus dengan sistem bagi hasil. “Kami juga bekerja sama dengan pengrajin dari luar khususnya untuk keramik-keramik kecil seperti aneka piring, mangkok, cangkir, tea set, dan binatang,” imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakan, sampai saat ini usaha bermodal awal sekitar Rp 20 juta itu perkembangannya cukup menjanjikan. Meskipun diakui, masih terdapat tantangan yang dihadapi, seperti misalnya bahan clay masih impor ,sehingga sangat terpengaruh oleh nilai kurs rupiah. Walaupun pernah mencoba menggunakan clay lokal, namun menurutnya hasilnya tidaklah maksimal dan kurang memuaskan.

Saat ini, dikatakan, pembeli meliputi area Jawa, Sumatera dan Kalimantan, dan bahkan ia pernah juga mendapatkan pesanan dari Singapura dan Australia. “Kapasitas produksi tidak tetap. Namun rata-rata mencapai ratusan buah tergantung ukuran dan tingkat kesulitan dari pembuatannya,” ucapnya. Sayang ia enggan menyebut nominal omsetnya.

Disebutkan, sistem pemasaran yang ditempuh bisnis suami-istri ini dibagi dua cara, sistem penjualan langsung dan sistem reseller. Sistem yang pertama biasanya berupa pesanan khusus dari para langganan. Untuk itu telah disediakan situs penjualan lengkap dengan daftar harga barang berikut dengan gambar produk, dan pemesanan bisa dilakukan melalui email, pesan pendek (SMS) atau pun telpon.
Sedangkan sistem yang kedua adalah penjualan melalui bisnis partner. Yeny mengatakan, peluang kerja sama selalu ditawarkan, dan terbuka dengan pihak manapun dengan prinsip kemitraan yang saling menguntungkan. Misalnya, sebagai contoh apabila terdapat kreasi baru yang dibuat atas pesanan rekanan bisnis, maka untuk selanjutnya kreasi tersebut akan menjadi semacam ‘paten’ dari bisnis partner yang bersangkutan. “Apabila ada permintaan dari pelanggan atau customer, maka kami akan meminta mereka menghubungi bisnis partner kami itu secara langsung. Sehingga nantinya transaksi penjualan terjadi antara customer dengan bisnis partner kami,” jelas Yeny yang kini tengah mempersiapkan rencana pengembangan usaha, salah satunya dengan melakukan ekspansi, bekerja-sama dengan sebuah boutique di Cikarang, Jawa Barat.

no image

Posted by On 22.30

SPBU merupakan salah satu tempat “keramaian” yang pasti dikunjungi orang. Celah peluang ini dibaca dengan jeli oleh Benno dengan mendirikan Hotdog Booth

 * Fisamawati

 ImageBisnis makanan dipercaya merupakan salah satu dari sekian banyak bisnis yang tidak terlalu terkena imbas pergantian tahun. Sebabnya, semua orang butuh makanan, sehingga otomatis pasti dicari orang. Sekarang tinggal bagaimana mengemas bisnis tersebut, sehingga mampu dijual. Yang jelas, faktor paling mendasar adalah rasa (taste) dari makanan yang dijual. Setelah itu untuk dapat sukses diperlukan strategi yang fokus dan komitmen penuh. Tiga hal tersebut mutlak dilakukan oleh bisnis makanan yang dikelola, baik secara mandiri atau dengan menganut sistem franchise.

Salah satu pemain yang melihat celah bisnis makanan siap saji adalah Benno Pranata. Lulusan Master Northeastern University ini, tak memerlukan teori bisnis yang rumit untuk melihat terbukanya peluang di bisnis makanan tersebut. “Yang penting dari bisnis adalah memulainya. Karena dengan memulai bisnis sekecil apa pun, akan diketahui peluang lainnya,” ucapnya.

Prinsip sederhana. Alhasil brand Hotdog Booth miliknya berkibar hingga sekarang. Menurutnya, alasan memilih bisnis makanan siap saji dilandasi pemikiran, bahwa jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya bertambah, dan bukan berkurang. Menganut pertimbangan setiap orang butuh makan untuk bertahan hidup, maka selama itu pula bisnis makanan tetap bisa mendatangkan keuntungan, apa pun kondisinya,” imbuhnya yang juga terjun ke bisnis Pesan Delivery ini.

Awalnya, saat menjalankan bisnis delivery service, ada beberapa data base yang memantau permintaan pelanggan terhadap produk. “Banyak pelanggan yang mencari makanan hotdog, dan saya kesulitan untuk mencarinya karena belum banyak yang menjualnya. Akhirnya saya putuskan untuk terjn ke bisnis ini, terlebih dahulu dengan melakukan survey sampai ke konsep bisnisnya,” jelasnya yang mengeluarkan modal awal sekitar Rp 160 juta.

Informasi tambahan Hotdog Booth adalah merek dagang yang telah dipatenkan di bawah hak pengelola PT Mutu Karya Perkasa sebagai franchisor yang menjual produk makanan fast food Hotdog. Sejak beroperasi tanggal 5 Januari 2004 lalu, Hotdog Booth telah menjadi salah satu produk brand favorit masyarakat di Jakarta dan mulai membuka cabang di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

“Dalam pengembangan bisnisnya, Hotdog Booth ditawarkan dalam bentuk franchise yang dapat menjadi salah satu alternatif usaha dan investasi. Franchise yang saya kembangkan berupa booth dan cafe. Pertimbangannya, pengelolaan booth lebih simpel, dan tidak membutuhkan lahan yang luas, serta bisa menggunakan SDM yang minimal,” kata pria kelahiran 5 Mei 1974 ini.

 Memiliki cafe Hotdog Booth di dalam SPBU Simatupang dan Petronas Lenteng Agung, Benno yakin dengan keunggulan hotdog-nya. Ia mengklaim produk burger Hotdog Booth memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh kompetitornya. Selain menyajikan menu utama hotdog, varian menu lainnya pun disediakan seperti sushi dog.

            Ke depannya, Benno berharap bisnisnya dapat berkembang baik di tahun mendatang maupun tahun-tahun berikutnya. “Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat Asean. Mutu franchise lokal tidak kalah dibandingkan franchise yang berasal dari negara tetangga,” ungkapnya optimis menyambut tahun 2008 nanti.

no image

Posted by On 03.31

Fosil kayu sempat “disia-siakan” dengan mengekspornya dalam bentuk mentah. Padahal dengan sentuhan seni, fosil kayu ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi.Wiyono

“Kalau di Amerika sudah dicagarkan, sementara di Indonesia masih disia-siakan,” ujar Wiwit Sudarsono mengenai fosil kayu, kerajinan yang digeluti di sela-sela kesibukannya sebagai pengelola biro jasa perjalanan umroh dan haji serta jasa pengiriman TKI ke Korea Selatan. Ia menyayangkan, jika komoditas yang mestinya merupakan barang langka itu ternyata di pasaran hanya menjadi produk bernilai rendah. Ia bahkan menyaksikan beberapa tahun yang lalu sempat terjadi jor-joran ekspor komoditas ini dalam wujud asli dan belum diolah sama sekali. Dan hal itu terjadi, menurutnya dikarenakan masyarakat awam kurang tahu kalau hasil alam tersebut bisa dijadikan produk kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi.

Untunglah, praktek seperti itu kini sudah tidak terjadi lagi. Pasalnya sekarang telah ada pelarangan ekspor fosil kayu kecuali telah menjadi produk kerajinan yang bernilai tambah oleh pemerintah.  “Karena kalau digarap dengan bagus bisa menjadi produk hiasan, baik interior maupun eksterior, seperti cenderamata dan home decoration yang menarik,” sambungnya.

 Pertified wood, istilah asing fosil kayu, sejatinya merupakan produk alam setelah mengalami proses selama jutaan tahun. Di Indonesia pada umumnya terjadi sejak jaman miosen sampai dengan pliocane atau sekitar 25 juta sampai 2 juta tahun SM. Sampai diketemukan, kayu-kayu yang berasal dari pepohonan hutan tropis itu sebelumnya telah terkubur di dalam tanah, yakni di bawah lapisan sedimen air yang banyak mengandung mineral dan mengalami proses permineralisasi. Molekul-molekul lignin dan selulosa pembentuk batang yang membusuk secara perlahan-lahan tidak lantas hancur, melainkan tergantikan oleh mineral, biasanya silikat, yang bersifat keras.

 Akhirnya, peristiwa fisika dan kimia dalam jangka waktu teramat panjang itu telah mengubah semua bahan organiknya, namun struktur kayunya tetap terjaga. Malah sering kali, pada saat penggalian masih dijumpai bentuk batang pohon yang utuh hingga sepanjang empat meter atau lebih.

 ImageDi pulau Jawa, dikatakan Wiwit, kayu yang telah membatu tersebut banyak terdapat di daerah pesisir selatan. Tetapi di daerah lain pun dapat pula dijumpai, seperti misalnya di beberapa daerah di Sumatera atau yang lainnya. Di samping itu, fosil kayu dari masing-masing lokasi yang berbeda biasanya juga memiliki sifat-sifat yang sedikit berlainan. Sebagai contoh, bebatuan  dari daerah di Jambi pada umumnya hanya bagian kulit luar yang memiliki corak bagus. Berbeda dengan fosil kayu di Jawa, sampai pada bagian dalam tetap memiliki corak. “Sedangkan tingkat kekerasannya tergantung pada usianya. Semakin muda berarti kontur kayunya makin banyak, jadi semakin tua akan lebih keras tetapi juga lebih rapuh dan gampang pecah, mirip kaca kristal,” jelas Wiwit.

Pertama kali, ayah dua orang putra ini mengenal kerajinan fosil kayu pada tahun 2005 di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Pada waktu itu telah ada beberapa kelompok masyarakat setempat memanfaatkannya menjadi kerajinan abstrak. Dia menjadi tertarik, terlebih melihat proses pengerjaannya mudah dan cukup dengan peralatan sederhana.

Selanjutnya bekerja sama dengan beberapa orang rekan berdirilah Surya Gallery (SG). Saat ini SG telah memiliki workshop di daerah Bogor dengan 5 orang karyawan yang mengerjakan produk, mulai dari memotong, menggerinda, dan mengampelas fosil kayu menjadi bermacam-macam bentuk, bukan hanya seni kerajinan abstrak. Sementara untuk pemasaran terdapat sebuah art shop, sehingga total investasi awal kurang lebih Rp 50 juta. “Saya coba mengembangkan produk-produk yang memiliki nilai seni tinggi dengan membuat jenis lain seperti bentuk buah-buahan, telor, binatang, patung-patung, miniatur, asbak, dan sebagainya,” tuturnya.

 Diungkapkan, dilihat dari nilai jual produk akhir maka kerajinan fosil kayu memiliki nilai tambah cukup signifikan alias menguntungkan. Bahan baku fosil kayu diperoleh dari pemasok seharga Rp 1.000,00/kg, begitu dipoles harganya bertingkat, mulai Rp 20 ribu/kg, Rp 25 ribu/kg, Rp 50 ribu/kg, atau bahkan bisa mencapai Rp 500 ribu/kg. Harga jual berbeda-beda tergantung bobot produk, motif, desain, warna, dan sebagainya. “Ketika masih bahan mentah kita belum tahu seperti apa, dan baru ketahuan setelah digosok, menjadi bermacam-macam,” imbuhnya.

 Soal bahan baku, Wiwit mengaku tidak terlalu risau sebab menurutnya di dalam tanah jumlahnya masih cukup melimpah. Terdapat sekelompok orang yang berpencaharian menjadi penggali sebagai pemasok bahan. Sementara itu kelima orang karyawan yang digaji dengan sistem borongan mampu menghasilkan aneka kreasi berkapasitas produksi sebulan sekitar 40 ton. Dari Bogor, produk-produk tersebut baru dijual melalui art shop terletak di Bali karena orientasi pemasarannya masih cenderung untuk ekspor, yakni ke Amerika, Eropa, juga negara-negara Asia, kebanyakan ke Korea dan Cina. “Karena pemahaman masyarakat lokal tentang produk ini masih kurang sehingga apresiasinya juga masih kecil,” akunya.

 Wiwit mengaku, penjualan di Bali pun sejatinya bersifat musiman. Peningkatan penjualan biasanya terjadi pada bulan-bulan terakhir menjelang awal tahun sebab seiring jumlah turis asing omset penjualan juga bertambah. Selain itu ekspor juga dilakukan melalui kerja sama dengan beberapa perusahaan trading di tanah air. Meskipun nilainya tidak bisa ditentukan, disebutkan, dalam sebulan paling tidak produk yang bisa dipasarkan mencapai 10 ton terdiri ratusan item dengan minimal omset Rp 200 juta-Rp 500 juta.

 Sementara itu agar dapat mendongkrak penjualan di pasar lokal, Wiwit beberapa kali berpromosi melalui pameran walaupun ternyata hasilnya belum seperti yang diharapkan. “Untuk pasar lokal orientasinya adalah pengenalan dulu,” ujarnya tetap optimis akan peluang yang tetap terbuka lebar. Setidak-tidaknya melalui bisnis garapannya tersebut ia berusaha menunjukkan semangatnya memberikan nilai tambah pada produk anugerah alam seperti mottonya, ‘Perified wood, created by God polished by man’.

no image

Posted by On 03.31

CV Nuri Teknik memfokuskan bisnis pada pembuatan alat-alat kedokteran dan rumah sakit. Tak hanya bermain di pasar domestik tapi juga melebarkan sayap hingga ke mancanegara. Fisamawati

Betapa praktisnya tempat tidur rumah sakit. Bagian kepala bisa terangkat, begitu pula bagian badan maupun kaki. Hanya tinggal kayuh saja sisi engkolnya atau hanya menekan tombol elektrik perintah. Tempat tidur khusus pasien tersebut memberikan kemudahan, tanpa harus merepotkan si pasien untuk bangun atau menggeser posisi tubuhnya sendiri. Banyak yang merasakan manfaat dari ranjang khusus tersebut. Namun tak banyak pula yang mengetahui pemain-pemain bisnis alat kedokteran dan rumah sakit, bahkan sekadar tahu siapa pembuat produk tersebut.

Di Indonesia sendiri, pemain lokal di bisnis tersebut tak banyak. Tentu saja ‘lahan kosong’ ini patut menjadi rebutan beberapa perusahaan lokal khusus pembuat alat kedokteran dan rumah sakit, CV Nuri Teknik- salah satunya. Perusahaan yang didirikan Ahmad Syarifudin pada September 1991 bahkan sudah melabarkan sayap hingga di tahun 1998, ia pun menegakkan perusahaan PT Sarandi Karya Nugraha.
“Dengan perlengkapan dan modal terbatas, saya memulai usaha pembuatan alat-alat dan perlengkapan rumah sakit. Saat itu, saya hanya mempunyai modal Rp 500 ribu rupiah ditambah satu gergaji tangan dan satu mesin bor tangan,” kata Ahmad yang membuat trolley USG sebagai produk perdananya.

Ia mengungkapkan, bisnis tersebut diilhami oleh Isep- adiknya yang bekerja di sebuah perusahaan supplier alat-alat kesehatan. Barang-barang hasil produksi perusahaan tersebut ternyata banyak produk impor. “Lantas, saya pun bertanya-tanya, ‘mengapa harus impor?’. Saya pun memberanikan diri mengajukan penawaran ke perusahaan tempat adik saya bekerja, saya meyakinkan perusahaan tersebut bahwa saya bisa membuat produk-produk yang mereka butuhkan,” imbuhnya.

Di atas areal seluas 10.000 meter persegi, Ahmad mengerjakan perlengkapan rumah sakit. Produk-produk buatannya pun diterima, bahkan di tahun 1992, ia mendapat tawaran khusus untuk mendesain dan membuat produk timbangan bayi. Dari hasil order 8000 unit timbangan bayi tersebut, ia meraup keuntungan yang cukup menggiurkan. Berikutnya order terus berlanjut berupa permintaan 28.000 unit lampu periksa, setelah itu susul menyusul pekerjaan datang ke tempat usaha yang berlokasi di Jalan Raya Sadamaya, Cibeber, Cianjur ini.
Perlengkapan Rumah Sakit“Hasil keuntungan tersebut saya belikan berbagai jenis mesin bekas sebanyak dua truk. Diantaranya, mesin bubut, mesin frais (untuk membuat pola, red), mesin scrapt, bor dan lainnya. Meskipun mesin-mesin yang dibeli buatan Eropa namun tak satu pun yang berfungsi, alias rongsokan,” ungkap peraih penghargaan Upakarti dan Perusahaan Kecil Menengah Terbaik Jawa Barat.

Ahmad yang dibantu 75 orang karyawan dan ratusan tenaga kerja lepas, mampu membuat beragam produk. Mulai dari jenis tempat tidur, meja operasi elektrik, ginecolog electric, meja periksa, trolley makan dan lampu periksa. Total produksinya pun berkisar hingga tiga ratus item dengan kapasitas produksi belasan ribu unit pertahun. “Untuk beberapa item tertentu sifatnya pesan baru diproduksi. Namun ada pula yang ready,” tangkasnya seraya mengupayakan peningkatan kapasitas dan kualitas produksinya.

Target pasar yang dilirik Ahmad tak hanya skala nasional tetapi juga ekspor, di antaranya ke Timur Tengah dan Swedia. Produk yang diekspor pun kebanyakan alat-alat kebidanan dan kursi ruang tunggu pasien. Sedangkan untuk pemasarannya sendiri dilakukan melalui supplier-supplier yang tersebar. Ahmad pun mengungkapkan, dirinya tak siap jika harus terjun langsung karena adanya faktor birokrasi, meskipun untuk konsumen lokal masih disanggupinya.
“Saya serius terjun ke dunia alat-alat kesehatan karena merasa bidang ini punya banyak tantangan. Setiap saat selalu muncul produk-produk baru dengan desain yang terus berkembang. Alhamdulillah, dapat memasuki dan bersaing di bidang ini. Selain itu, peluang di bidang ini cukup besar karena sedikitnya pemain yang mendalaminya,” paparnya yang mampu meraup omset milyaran rupiah per tahunnya.

Bersaing dengan pemain asing seperti Jerman dan China, tak menyiutkan nyali Ahmad untuk mendesain produk-produk bergaya moderen, praktis dan elegan. Salah satunya inspirasi membuat produk didapat dari kunjungan beberapa pameran baik dalam maupun luar negeri. Negara yang menjadi referensi pengembangan produknya adalah Jerman dan Singapura. Dan tak jarang pula browsing dari internet yang kemudian didesain sesuai keinginannya. “Saya tidak akan menampilkan produk dengan desain yang monoton,” tegasnya yang ‘rajin hunting’ ke Jerman satu tahun sekali.

Dari inspirasi ditambah referensi, ia pun mendesain sesuai permintaan pasar. Sementara untuk pengerjaannya, komponen-komponen pendukung dipisahkan dan dibagi kebeberapa sub di beberapa bengkel di Cianjur. Berbekal pendidikan di jurusan mesin Sekolah Teknik Mesin yang dimilikinya ternyata membantunya. Dari komponen yang terpisah, ia gabungkan dan jadilah produk-produk berfungsi guna.
“Pernah dari beberapa sub bengkel mencoba untuk menggabungkan menjadi produk seperti yang saya buat tetapi tidak bisa. Mungkin itulah kelebihan saya dalam memadu padankan komponen yang ada menjadi memiliki nilai jual,” ucap Ahmad yang memasang harga puluhan juta rupiah untuk produk ciptaannya.