www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

no image

Posted by On 03.34

Produk yang menyasar pasar bayi tidak pernah mati. Namun perlu suatu strategi dan inovasi untuk merebut ceruk ini, di antaranya memproduksi perlengkapan bayi dengan beberapa fungsi. Wiyono

Saat akan menyambut kehadiran si buah hati, perlengkapan bayi selalu menjadi salah satu daftar wajib di antara pengisi keranjang belanja.  Sekarang ini produk-produk perlengkapan bayi bukan hanya beragam jenisnya, modelnya juga dibuat menarik serta lucu-lucu. Mulai dari pemberian hiasan atau motif-motif khas anak-anak, sampai kepada variasi model yang multifungsi, praktis dan unik.

Memang, bila dilihat dari sisi pengusaha,  bagi produsen atau pun pedagang, pasar untuk produk ini selalu memikat. Betapa tidak, di atas kertas untuk pasar lokal saja, besarnya jumlah penduduk serta tingginya tingkat pertumbuhan sudah menjanjikan ceruk pasar yang tidak akan pernah habis.

Selain itu dari sisi urgensi, produk-produk perlengkapan bayi bukan termasuk barang-barang yang pemenuhannya bisa ditunda, sehingga ini merupakan pasar yang menggiurkan bagi para pemain yang terjun ke dalamnya.

Alasan di atas membuat Johan, 31 tahun, ikut melirik peluang pasar yang menurutnya sangat bagus, sebab produk perlengkapan bayi senantiasa bersifat terus-menerus dan merupakan kebutuhan pokok bagi keluarga yang punya momongan “Kami berproduksi  perlengkapan bayi mulai Juli 2006. Perusahaan atau lebih tepatnya home industry ini sebenarnya adalah pengembangan dari produk-produk kami yang sebelumnya lebih ke arah produk fancy, antara lain tempat HP, tempat kosmetik dan berbagai macam tas untuk souvenir,” ujar pria asal Klaten, Jawa Tengah tersebut.

Thacia BabyKini UD Thacia,  nama bendera usaha lulusan Magister Management Universitas Atmajaya Jogyakarta itu, di samping menjadi produsen boks atau aneka kotak hias serta perusahaan mineral makanan ternak dan bangunan juga dikenal oleh masyarakat sekitar memiliki diversifikasi usaha berupa produk-produk perlengkapan bayi dan anak-anak. Namun yang membuat sedikit berbeda, Johan tidak mau memproduksi jenis pakaian bayi berupa popok, gurita, atau yang lain seperti pengusaha yang bergerak di bidang perlengkapan bayi kebanyakan melainkan hanya fokus ke perlengkapannya seperti gendongan, selimut, topi selimut untuk bepergian, tas perlengkapan bayi, bantal-guling, perlak (alas), bedong, dan lain sebagainya.

Menariknya lagi, Johan mengembangkan kreasi produk perlengkapan bayinya dengan beberapa sentuhan inovasi. Seperti misalnya, tas perlengkapan dikombinasi dengan alas tidur bayi sehingga mampu berfungsi ganda. Hampir serupa, terdapat pula tas dengan serut, atau yang lain, misalnya ia membuat bantal peyang khusus untuk bayi baru lahir. “Jenis produk diperoleh dari pengembangan produk-produk yang telah ada maupun menjiplak disain yang telah ada. Kita hanya mengefisienkan ukuran dalam pemotongan pola sehingga diperoleh biaya produksi yang minimal, sehingga harganya bisa bersaing,” ungkapnya.

Thacia BabyUsaha bermodal awal sekitar Rp 25 juta tersebut melibatkan kira-kira sepuluh orang penjahit dengan sistem borongan. Artinya produksi dilakukan secara makloon, dengan begitu Johan tinggal melakukan kontrol kualitas dan fokus pada pemasaran sebab produksi dilakukan kontinyu dengan sistem stok.

Sejak awal usaha hingga tahun pertama, Johan mengatakan, prospek produk perlengkapan bayi sejatinya sangat bagus. Meskipun konsumen baru meliputi Jawa Tengah dan DIY, penjualan tiap item produk perbulan minimal mencapai 200 pcs. “Sekarang ini saya baru fokus ke kapasitas produksinya, setelah kapasitas produksi kami benar-benar sip, maka kami berencana melakukan intensif marketing,” akunya sembari menjelaskan, karena saat ini masih terdapat kendala produksi, maka pemasaran baru sebatas melalui internet serta beberapa baby shop yang dibuka saudara-saudaranya.

no image

Posted by On 01.45

Apakah bisnis yang sekarang akan tetap eksis seperti seperti sekarang?  Begitulah  kata berulang yang kerap kita atau Anda dan siapa saja yang akan terjun sebagai calon pebisnis, pebisnis, investor, pembaca majalah ekonomi atau pengamat ekonomi. Kata-kata di atas bukan sebagai nada kekhawatiran atau pesimistis. Namun, sebuah ungkapan bijak untuk mengetahui apa yang bakal terjadi di dunia bisnis di tahun-tahun mendatang.

Tahun 2008 kondisi makro ekonomi di Tanah Air diperkirakan sangat kondusif. Begitu ramalan para pakar ekonomi, bank dunia, yang dipresentasikan pada pertengahan tahun ini. Pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6,8%, lebih tinggi ketimbang tahun lalu yang hanya 6,3%.  Bila ramalan itu benar, kondisi makro dan mikro ekonomi akan bagus. Kebijakan baru yang menyangkut reformasi di sektor mikro akan muncul akibat dari membaiknya sektor makro. Dan, ini, menurut kami,  akan menumbuhkan peluang-peluang dan gairah yang besar dari para pebisnis.

Kami berharap prediksi itu tidak meleset. Gairah berbisnis dari para pengusaha yang kami temui di lapangan sangat besar. Mereka optimistis. Beberapa di antara mereka tengah menyiapkan  rencana untuk membangun sebuah bisnis baru.  Adler Haymans Manurung, salah satu pengamat bisnis UKM mengatakan, tanda-tanda akan membaiknya  bisnis sudah kelihatan. Bahkan dalam dua atau tiga tahun ke depan. Hanya, menurut dia, bisnis yang akan berkibar adalah yang berorientasi ekspor meski skalanya kecil atau UKM.

Kami sependapat dengan Adler.  Dari lapangan, kami telah membuktikannya.  Bisnis distro (distribusi outlet), misalnya, perlahan-lahan terkerek naik dan kini melesat ke depan. Bisnis yang dulu hanya berkutat di pasar domestik kini telah menancapkan kukunya di pasar mancanegara. Ide dan kreatifitas yang dipadukan dengan semangat untuk maju dari pengelolanya—rata-rata kawula muda—mampu menarik minat konsumen di beberapa negara untuk memakai produk Indonesia. Produk distro & clothing disini telah diekspor ke negara pemesan. 

Bisnis lain, yang tak kalah menariknya adalah  di sektor otomotif. Jasa bengkel modifikasi motor, misalnya lahir dari jawaban permintaan para bikers akan model tunggangannya. Begitu juga toko aksesoris  motor, adalah upaya memenuhi permintaan para bikers yang modis. Motor berbeda dengan yang lain, modis, adalah bagian perilaku bikers yang tidak menggangap lagi motor sebagai alat fungsional belaka, namun sebagai sarana aktualisasi dan gaya.  Bisnis ini akan tumbuh dan berbanding lurus dengan tumbuhnya pasar sepeda motor di Tanah Air.

Agribisnis pada tahun mendatang diperkirakan akan mendulang fulus yang besar. Beberapa komoditas ekspor agribisnis telah membuktikannya. Bisnis Ikan Arwana ekspor terus berkibar hingga kini. Lalu, beberapa species ikan tawar lainnya, seperti  ikan patin juga latis manis di mancanegara. Lalu, yang lagi ngetren kali ini adalah tanaman gelombang cinta atau anthurium yang banyak peminatnya. Tunggu beberapa bulan, langsung dijual dan hasilnya miliaran rupiah.  Cara menanmny cukup mudah. Yang sulit ialah bagaimana mencari pembeli yang betul-betul sreg. Karena, tanaman jenis ini termasuk barang collectible bond  yang harganya mahal kalau pembeli suka.

Gencarnya penggunaan enerji alternatif untuk bahan bakar minyak (BBM), melahirkan peluang bisnis biodiesel dari berbagai bahan nabati. Salah satunya adalah minyak jelantah, sisa minyak goreng yang tidak dipakai lagi. Bahan ini kemudian bisa diproses dan menjadi bahan bakar untuk kendaraan diesel.  Biaya produksinya rendah.  Begitu juga dengan investasinya. Dan, yang lebih menarik lagi, kebutuhan akan bahan bakar ini akan tinggi. Karena, pihak Pertamina berani membeli dengan harga Rp 7 ribu per liternya.

Sektor makanan, adalah bisnis yang tak lekang dan tak lapuk dalam kondisi apapaun. Meski sifatnya seasonal, namun kreatifitas makanan dan citarasa yang diciptakan oleh pebisnisnya mampu menyedot ribuan orang untuk mencicipinya.  Bisnis makanan cepat saji, misalnya, selalu saja muncul hal-hal baru dan inovatif.  Jual burger atau hotdog di SPBU (Stasiun Pompa Bensin Umum), misalnya, kini tumbuh pesat. Beno, pemilik jasa Pesan & Delivery menciptakan Hot Dog Both sebuah makanan cepat saji yang dijual di SPBU strategis.

Bisnis makanan yang juga tidak kalah menarik adalah resto yang menjual makanan tradisional, tapi disajikan dengan cara moderen. Dulu, kita kenal warung khas Makassar, Sop Konro, Mamink Daeng Tata. Kini, di Jakarta kita kenal Bumbu Desa, Rawon Setan, Surabaya, yang pembelinya tak kalah ramai dengan sop konro.   Makanan khas Indonesia memiliki nilai jual tinggi. Bila dikelola dengan professional bisa jadi menjadi komoditas yang bisa dijual tidak hanya di pasar domestik, tapi di mancanegara.

Bisnis-bisnis di sektor jasa juga akan tumbuh pada 2008.  Jasa Tour & Travel akan tetap saja booming, khususnya jasa-jasa layanan haji dan umroh. Sekarang, layanan itu berkembang lagi dengan jasa Holy Tour sebagai meningkatnya kesadaran kalangan kristiani untuk berwisata ziarah ke Jerusalem, Vatikan atau Lourdes. Menurut sebuah sumber tiap tahun puluhan ribu umat kristiani berkunjung ke tempat-tempat tersebut.

Bisnis jasa lainnya yang bakal tumbuh dengan pesat adalah  jasa arsitek, desain visual, percetakan (publishing), software & computer, periklanan dan beberapa lagi lainnya. Bisnis yang tergolong dalam new economy ini semuanya dalam lingkup industri kreatif.  Untuk jasa periklanan misalnya, belanja iklan terus merangkak naik dan mendekati angka Rp 37,2 triliun.  Begitu juga dengan jasa desain visual yang menurut sebuah majalah ekonomi terbitan Jakarta, pasarnya senilai Rp5 triliun.  Peluang masih terbuka bagi pemain baru yang ingin terjun ke bisnis.

Industri craft, atau jasa kerajinan yang berorientasi ekspor diprediksikan juga bakal tumbuh pesat. Sebuah produsen puzzle  di Jogyakarta, misalnya, pasarnya sudah meramabah ke beberapa negara di dunia. Desain yang cantik serta kualitas produk yang dihasilkan ternyata mampu mentraik minat konsumen di beberapa negara seperti mislanya : Belanda, Inggris, Jerman dan Amerika Serikat. Di bisnis ini kuncinya adalah mampu menciptakan produk yang unik, ngetren dan ramah lingkungan. Dan, satu lagi, adalah pasar di mancanegara. Apresiasi seni dari masyarakat di sini yang rendah, kurang mendukung bila produk kerajinan dipasarkan di dalam negeri.

Diluar bisnis-bisnis ini, masih banyak lagi yang bakal booming di tahun depan. Majalah ini hanya memberi gambaran peluang bisnis jika Anda berminat terjun ke bisnis. Gambaran keberhasilan yang kami sajikan mungkin bisa dijadikan patokan atau acuan Anda untuk memilih bisnis ini. Namun, sekali lagi kami ingatkan bahwa keberhasilan itu tetap saja ditangan Anda sendiri. Contoh beberapa bisnis yang sukses tersebut  hanya sebagai inspiring bagi Anda.

no image

Posted by On 03.33

Selama ini tak banyak yang bisa menambah added value komoditas kelapa. Padahal ada 1.600 item produk yang bisa dihasilkannya. Wiyono

Anda pernah mendengar sirup air kelapa (sirkel)? Ya, sejatinya sirup hasil pengolahan limbah air kelapa tersebut hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak produk yang bisa dikembangkan dari hasil tanaman kelapa. Menurut Wisnu Gardjito, pengusaha plus aktifis yang menaruh perhatian besar pada komoditas tumbuhan tropis satu ini terdapat 1.600 item produk akhir kelapa, primer maupun skunder. Direktur Improvement Institute yang juga dosen Akademi Pimpinan Perusahaan di bawah Departemen Perindustrian tersebut, dalam tugasnya mengembangkan agroindustri empat komoditas di Kawasan Timur Indonesia (coklat, kelapa, jagung, dan ikan) berkesimpulan, dari empat komoditas di atas maka paling strategis untuk dikembangkan adalah kelapa.

Wisnu memiliki sejumlah argumentasi. Area tanaman kelapa di Indonesia tercatat terluas di dunia tersebar di Riau, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, NTT, serta daerah-daerah lain, mengungguli Philipina yang memiliki 3,1 juta hektar disusul India dengan 1,1 juta hektar lahan. Tetapi uniknya, di Indonesia  karakteristik usaha budidaya tanaman kelapa dimiliki oleh rakyat. Sebanyak 96% merupakan perkebunan rakyat yang diusahakan di kebun dan atau di pekarangan, secara monokultur atau kebun campuran. Jumlah petani kelapa lumayan besar, melibatkan sekitar 25 juta warga. Berarti apabila itu dimaksimalkan maka akan menopang hajat hidup sejumlah besar penduduk.

Ironisnya, pada saat ini nilai ekonomi kelapa dihargai sangat murah. Kian merosotnya harga jual kopra, akhirnya menyebabkan kecenderungan masyarakat makin membiarkan tanaman ini dalam kondisi tidak terawat sehingga berdampak makin anjloknya produktifitasnya. Maka Wisnu berpendapat perlu ada upaya sistem pengembangan terpadu melalui usaha-usaha kelompok/ klaster agar tercipta kesempatan nilainya melompat ke tingkat yang jauh lebih tinggi. Sebut saja pengolahan kelapa menjadi produk virgin coconut oil (VCO), misalnya.

Peraih gelar Doktor Teknologi Industri Pertanian IPB cum laude itu menyebutkan, nilai tambah hasil pengolahan aneka produk berbahan dasar kelapa mampu mencapai 8800% dari harga sekarang. Soal teknologi pembuatan segala macam produk juga tidak perlu khawatir, sebab semuanya sudah kita miliki. Apalagi, Wisnu menyebutkan alasan terakhir, pasokan untuk kebutuhan pasar dunia nyaris masih kosong, total hanya sekitar 1,8% yang telah terisi.

Menyadari hal itu, sejak 1999 mulai serius mengembangkan usaha berbasis kelapa. Sejatinya rintisan usaha sudah dilakukan keluarganya sejak 1996, berbendera usaha  Sumber Rejeki dengan produk awal berupa kecap. Kemudian fokusnya mulai diperluas ke produk-produk lain sehingga akhirnya berkembang menjadi perusahaan agri specialist & agri trading. Dan sampai sekarang usaha yang kini dikelola bersama Vipie Gardjito, istrinya, itu telah berkembang sekitar 40 jenis, antara lain sabun, minyak goreng, arang batok, asap cair, body lotion, lotion anti nyamuk, VCO, dan lain-lain semua berbahan dasar kelapa. Terakhir kali, mereka mengenalkan produk sirup berbahan limbah air kelapa.

Karena ketersediaan bahan baku tersebar meliputi wilayah dengan kondisi geografis yang luas, maka industri pengolahan produk kelapa tidak mungkin ditempatkan berpusat di satu titik, sebaliknya ikut menyebar di area sentra produksi kelapa. Secara singkat Wisnu menggambarkan, dari keseluruhan produk, Sumber Rejeki tidak selalu memproduksi langsung melainkan berposisi sebagai penampung sekaligus memperbaiki produk petani sebelum dipasarkan. Di sisi lain, melalui lembaga Improvement Institute yang  ia pimpin, Wisnu giat menggalang dan melakukan pembinaan klaster-klaster di tengah-tengah masyarakat petani kelapa. Pembinaan itu meliputi technology transfer, pendanaan, sekaligus membuat semacam awareness program bagi pasar lokal hingga global. 

“Intinya, desa-desa didesain agar mampu membuat produk-produk yang marketable bagi global market, “ jelasnya mengenai klaster-klaster binaannya tersebut. Produk yang dihasilkan satu klaster bisa berupa produk mentah, atau pun berupa produk jadi dalam kemasan. Klaster berawal dari satu desa kemudian dihimpun dengan yang ada di desa-desa lain di seluruh Indonesia. Tentu saja dengan melibatkan dinas perkebunan, dan asosiasi petani kelapa. Selanjutnya semua disatukan dalam AEC (Agroindustry Export Cluster), suatu badan usaha murni milik rakyat.

Sirup Air KelapaKepada pemerintah pusat, Wisnu bahkan telah menyiapkan proposal pembentukan lembaga BOPAI (Badan Otorita Percepatan Agro Industri), khususnya kelapa. Dalam usulannya lembaga itu semestinya langsung bertanggung jawab kepada Presiden, tetapi tidak masuk dalam kabinet. “Kalau saja ada financial support dari pemerintah sekitar Rp 30 triliun, dalam waktu setahun dana tersebut sudah akan kembali, dan lima tahun sesudahnya, penghasilan bersih dari kelapa sekitar sebesar Rp 700 triliun,” ucapnya yakin.

Sebab, seperti diungkapkan, permintaan dari luar negeri berupa VCO, yang hanya merupakan  salah satu produk derivatif kelapa saja, untuk pengiriman ke UK sebanyak 50 ton/bulan dan 100 ton/bulan ke USA belum sepenuhnya terlayani. “Kalau namanya agro tidak bisa kecil, pasti gede, karena setiap orang pasti butuh. AEC di Kendari pasokan VCO-nya cuma 60 ton sebulan, ordernya 100 ton sebulan,” imbuhnya. Padahal harga pasar dunia untuk VCO bermutu paling rendah sekitar USD 5,00/liter, harga standar USD 20,00/liter atau sekitar Rp 200.000,00/liter.

Di samping itu, ternyata banyak produk limbah kelapa yang masih memiliki nilai ekonomi. Sebagai contoh, tempurung, sabut kelapa, daun, lidi, dan sebagainya, bisa dimanfaatkan untuk bahan industri, kerajinan, dan lain-lain. Telah lama kita mengenal produk nata decoco dari hasil olahan limbah air kelapa, yang ternyata juga bisa dibikin sirup. Sebagai gambaran atas bisnis pembuatan sirkel yang dilakukan Wisnu dan Vipie, air kelapa per liter semula dihargai Rp 400,00. Dengan modal tambahan seperti gula, peralatan, berikut tenaga kerja, setelah diolah menjadi sirup, per liternya bernilai jual Rp 15.000,00. Berarti dari limbah tersebut mampu menghasilkan nilai tambah hampir 20%.

Produksi dilakukan dengan sistem klaster, di tiap daerah padat penduduk dibuatkan instalasi pembuatan sirkel. Dalam kondisi normal tiap satu titik klaster bisa menghasilkan 400 botol per hari. Keuntungan sudah bisa dihitung, kalau diambil keuntungan Rp 4.000/botol, berarti Rp 1,6 juta dari satu titik saja. Dengan adanya 20 titik didiperoleh keuntungan Rp 32 juta sehari.

Lebih jauh, mata rantai penjualan produk hasil olahan kelapa juga membuka peluang usaha baru. Dari harga Rp 15 ribu per botol, sebesar Rp 5 ribu adalah keuntungan buat pedagang. Sebab, selain orientasi ekspor, Wisnu tengah menggagas peluang kerjasama untuk penjualan ritel dengan model stand boat melalui sistem bagi hasil 60:40. Mitra dibekali termos CO2 serupa alat pembuat minuman berkarbonansi. Cukup dengan modal Rp 5 jutaan, disebutkan, sudah dapat beroperasi dua lokasi, dengan perkiraan pendapatan minimal @ Rp 300 ribu/hari, profit margin 300%, balik modal tidak sampai sebulan. Artinya, setiap orang berkesempatan menjadi kaya dari produk-produk berbasis kelapa.

no image

Posted by On 03.32

Memanfaatkan bahan baku clay--semacam tanah liat—Yeny membuat berbagai kerajinan miniatur cantik. Wiyono

Nilai produk seni seringkali tidak dihitung dari besar angka rupiah bahan material saat pembuatannya, namun lebih banyak ditentukan oleh kaca mata estetika yang sulit terukur secara nominal.  Sebuah lukisan bikinan mahasiswa seni lukis yang masih taraf belajar boleh jadi tidak akan laku sampai ratusan ribu, sebaliknya karya seniman yang sudah profesional akan ditawar hingga ratusan juta rupiah.

Ilustrasi di atas sejatinya bukan untuk menonjolkan karya seni yang memiliki nilai jual ‘irasional’ yang biasanya hanya dimiliki pada karya seni murni. Sebab diakui, agak berlebihan apabila karya seni di atas disejajarkan dengan produk kerajinan yang ketika proses pembuatannya masih memperhitungkan prinsip-prinsip ekonomi. Akan tetapi tetap terasa wajar memasukkan nilai estetik sebagai salah satu faktor harga dalam produk seni kerajinan tangan yang jelas-jelas membutuhkan keahlian, ketrampilan, ketelitian, dan rasa estetis pada saat pengerjaannya. Sama halnya dengan produk miniatur berbahan clay. Sebagai produk handmade,  di pasaran kerajinan ini memiliki kisaran harga mulai dari lima ribu hingga mencapai jutaan rupiah. “Harga jual juga ditentukan oleh besaran, detil, dan tingkat kerumitan,” ungkap Yeny, pemilik Hanycraft.

Yeny mengenal kerajinan berbahan sejenis tanah liat ini sejak 2003. Dari semula sebatas hobi,  ternyata banyak saudara dan teman-temannya tertarik melihat hasilnya. Kemudian berawal dari melayani pesanan kerabat dekat itulah, setahun kemudian ia mencoba merintis bisnis pembuatan barang miniatur khusus dengan bahan clay secara lebih serius. “Saat itu masih jarang tempat yang menjual hasil kerajinan, dan terutama yang memberikan kursus cara pembuatan dan kreasi menggunakan clay ini,” tuturnya.

Kecuali menjual produk dan bahan kerajinan clay maupun aneka jenis kerajinan keramik mini, wanita 29 tahun tersebut sekaligus juga megadakan kursus pembuatan clay di rumahnya, di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Kursus yang diajarkan dibagi dalam dua kelas, yaitu kelas pembuatan makanan dan kelas pembuatan bunga dengan lama masing-masing kelas sekitar 5 jam.

Sedangkan nama Hanycraft itu sendiri, seperti dijelaskan, dikarenakan bisnis tersebut dijalankan bersama suaminya, Harry. “Pertama, merupakan kepanjangan dari nama suami saya (Harry) dan nama saya sendiri yaitu Yeny. Dan karena berhubungan dengan craft maka kami menggunakan nama Hanycraft. Alasan kedua, kata hany kalau dibaca sama dengan kata ‘honey’ yang berarti ‘sayang’. Artinya craft yang kami hasilkan tersebut bisa diberikan kepada orang yang disayangi,” ungkapnya.

Produk ClayProduk miniatur yang telah dihasilkan Yeny cukup banyak macamnya, antara lain ada yang berbentuk seperti makanan, misalnya kue, sushi, bakery, nasi tumpeng, steak, set breakfast, buah-buahan, tart, es krim, serta isi dari gerobak dorong makanan lengkap. Selain itu juga terdapat beraneka bunga-bungaan seperti mawar dan berbagai jenis-jenis anggrek, mulai anggrek bulan, dendrobium, anggrek kantong, vanda, cattleya, maupun ponne, di samping tulip, lily, teratai, lotus, gerbera, bunga matahari dan lainnya. Sedangkan kreasi miniatur berbentuk binatang, di antaranya kolam ikan koi, pigsty, gajah, kelinci, ayam, dan sebagainya.

Sampai saat ini produksi secara kontinyu, terutama dilakukan dengan mencoba menghasilkan kreasi-kreasi baru. Sementara itu, dengan dibantu dua orang karyawan ia juga menerima pesanan khusus dari pelanggan. Misalnya mengerjakan pesanan pembuatan sushi untuk dijadikan hiasan kalung dan bando. Tetapi, tidak jarang sebagian order juga diberikan kepada para mantan peserta kursus dengan sistem bagi hasil. “Kami juga bekerja sama dengan pengrajin dari luar khususnya untuk keramik-keramik kecil seperti aneka piring, mangkok, cangkir, tea set, dan binatang,” imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakan, sampai saat ini usaha bermodal awal sekitar Rp 20 juta itu perkembangannya cukup menjanjikan. Meskipun diakui, masih terdapat tantangan yang dihadapi, seperti misalnya bahan clay masih impor ,sehingga sangat terpengaruh oleh nilai kurs rupiah. Walaupun pernah mencoba menggunakan clay lokal, namun menurutnya hasilnya tidaklah maksimal dan kurang memuaskan.

Saat ini, dikatakan, pembeli meliputi area Jawa, Sumatera dan Kalimantan, dan bahkan ia pernah juga mendapatkan pesanan dari Singapura dan Australia. “Kapasitas produksi tidak tetap. Namun rata-rata mencapai ratusan buah tergantung ukuran dan tingkat kesulitan dari pembuatannya,” ucapnya. Sayang ia enggan menyebut nominal omsetnya.

Disebutkan, sistem pemasaran yang ditempuh bisnis suami-istri ini dibagi dua cara, sistem penjualan langsung dan sistem reseller. Sistem yang pertama biasanya berupa pesanan khusus dari para langganan. Untuk itu telah disediakan situs penjualan lengkap dengan daftar harga barang berikut dengan gambar produk, dan pemesanan bisa dilakukan melalui email, pesan pendek (SMS) atau pun telpon.
Sedangkan sistem yang kedua adalah penjualan melalui bisnis partner. Yeny mengatakan, peluang kerja sama selalu ditawarkan, dan terbuka dengan pihak manapun dengan prinsip kemitraan yang saling menguntungkan. Misalnya, sebagai contoh apabila terdapat kreasi baru yang dibuat atas pesanan rekanan bisnis, maka untuk selanjutnya kreasi tersebut akan menjadi semacam ‘paten’ dari bisnis partner yang bersangkutan. “Apabila ada permintaan dari pelanggan atau customer, maka kami akan meminta mereka menghubungi bisnis partner kami itu secara langsung. Sehingga nantinya transaksi penjualan terjadi antara customer dengan bisnis partner kami,” jelas Yeny yang kini tengah mempersiapkan rencana pengembangan usaha, salah satunya dengan melakukan ekspansi, bekerja-sama dengan sebuah boutique di Cikarang, Jawa Barat.

no image

Posted by On 22.30

SPBU merupakan salah satu tempat “keramaian” yang pasti dikunjungi orang. Celah peluang ini dibaca dengan jeli oleh Benno dengan mendirikan Hotdog Booth

 * Fisamawati

 ImageBisnis makanan dipercaya merupakan salah satu dari sekian banyak bisnis yang tidak terlalu terkena imbas pergantian tahun. Sebabnya, semua orang butuh makanan, sehingga otomatis pasti dicari orang. Sekarang tinggal bagaimana mengemas bisnis tersebut, sehingga mampu dijual. Yang jelas, faktor paling mendasar adalah rasa (taste) dari makanan yang dijual. Setelah itu untuk dapat sukses diperlukan strategi yang fokus dan komitmen penuh. Tiga hal tersebut mutlak dilakukan oleh bisnis makanan yang dikelola, baik secara mandiri atau dengan menganut sistem franchise.

Salah satu pemain yang melihat celah bisnis makanan siap saji adalah Benno Pranata. Lulusan Master Northeastern University ini, tak memerlukan teori bisnis yang rumit untuk melihat terbukanya peluang di bisnis makanan tersebut. “Yang penting dari bisnis adalah memulainya. Karena dengan memulai bisnis sekecil apa pun, akan diketahui peluang lainnya,” ucapnya.

Prinsip sederhana. Alhasil brand Hotdog Booth miliknya berkibar hingga sekarang. Menurutnya, alasan memilih bisnis makanan siap saji dilandasi pemikiran, bahwa jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya bertambah, dan bukan berkurang. Menganut pertimbangan setiap orang butuh makan untuk bertahan hidup, maka selama itu pula bisnis makanan tetap bisa mendatangkan keuntungan, apa pun kondisinya,” imbuhnya yang juga terjun ke bisnis Pesan Delivery ini.

Awalnya, saat menjalankan bisnis delivery service, ada beberapa data base yang memantau permintaan pelanggan terhadap produk. “Banyak pelanggan yang mencari makanan hotdog, dan saya kesulitan untuk mencarinya karena belum banyak yang menjualnya. Akhirnya saya putuskan untuk terjn ke bisnis ini, terlebih dahulu dengan melakukan survey sampai ke konsep bisnisnya,” jelasnya yang mengeluarkan modal awal sekitar Rp 160 juta.

Informasi tambahan Hotdog Booth adalah merek dagang yang telah dipatenkan di bawah hak pengelola PT Mutu Karya Perkasa sebagai franchisor yang menjual produk makanan fast food Hotdog. Sejak beroperasi tanggal 5 Januari 2004 lalu, Hotdog Booth telah menjadi salah satu produk brand favorit masyarakat di Jakarta dan mulai membuka cabang di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

“Dalam pengembangan bisnisnya, Hotdog Booth ditawarkan dalam bentuk franchise yang dapat menjadi salah satu alternatif usaha dan investasi. Franchise yang saya kembangkan berupa booth dan cafe. Pertimbangannya, pengelolaan booth lebih simpel, dan tidak membutuhkan lahan yang luas, serta bisa menggunakan SDM yang minimal,” kata pria kelahiran 5 Mei 1974 ini.

 Memiliki cafe Hotdog Booth di dalam SPBU Simatupang dan Petronas Lenteng Agung, Benno yakin dengan keunggulan hotdog-nya. Ia mengklaim produk burger Hotdog Booth memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh kompetitornya. Selain menyajikan menu utama hotdog, varian menu lainnya pun disediakan seperti sushi dog.

            Ke depannya, Benno berharap bisnisnya dapat berkembang baik di tahun mendatang maupun tahun-tahun berikutnya. “Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat Asean. Mutu franchise lokal tidak kalah dibandingkan franchise yang berasal dari negara tetangga,” ungkapnya optimis menyambut tahun 2008 nanti.

no image

Posted by On 03.31

Fosil kayu sempat “disia-siakan” dengan mengekspornya dalam bentuk mentah. Padahal dengan sentuhan seni, fosil kayu ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi.Wiyono

“Kalau di Amerika sudah dicagarkan, sementara di Indonesia masih disia-siakan,” ujar Wiwit Sudarsono mengenai fosil kayu, kerajinan yang digeluti di sela-sela kesibukannya sebagai pengelola biro jasa perjalanan umroh dan haji serta jasa pengiriman TKI ke Korea Selatan. Ia menyayangkan, jika komoditas yang mestinya merupakan barang langka itu ternyata di pasaran hanya menjadi produk bernilai rendah. Ia bahkan menyaksikan beberapa tahun yang lalu sempat terjadi jor-joran ekspor komoditas ini dalam wujud asli dan belum diolah sama sekali. Dan hal itu terjadi, menurutnya dikarenakan masyarakat awam kurang tahu kalau hasil alam tersebut bisa dijadikan produk kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi.

Untunglah, praktek seperti itu kini sudah tidak terjadi lagi. Pasalnya sekarang telah ada pelarangan ekspor fosil kayu kecuali telah menjadi produk kerajinan yang bernilai tambah oleh pemerintah.  “Karena kalau digarap dengan bagus bisa menjadi produk hiasan, baik interior maupun eksterior, seperti cenderamata dan home decoration yang menarik,” sambungnya.

 Pertified wood, istilah asing fosil kayu, sejatinya merupakan produk alam setelah mengalami proses selama jutaan tahun. Di Indonesia pada umumnya terjadi sejak jaman miosen sampai dengan pliocane atau sekitar 25 juta sampai 2 juta tahun SM. Sampai diketemukan, kayu-kayu yang berasal dari pepohonan hutan tropis itu sebelumnya telah terkubur di dalam tanah, yakni di bawah lapisan sedimen air yang banyak mengandung mineral dan mengalami proses permineralisasi. Molekul-molekul lignin dan selulosa pembentuk batang yang membusuk secara perlahan-lahan tidak lantas hancur, melainkan tergantikan oleh mineral, biasanya silikat, yang bersifat keras.

 Akhirnya, peristiwa fisika dan kimia dalam jangka waktu teramat panjang itu telah mengubah semua bahan organiknya, namun struktur kayunya tetap terjaga. Malah sering kali, pada saat penggalian masih dijumpai bentuk batang pohon yang utuh hingga sepanjang empat meter atau lebih.

 ImageDi pulau Jawa, dikatakan Wiwit, kayu yang telah membatu tersebut banyak terdapat di daerah pesisir selatan. Tetapi di daerah lain pun dapat pula dijumpai, seperti misalnya di beberapa daerah di Sumatera atau yang lainnya. Di samping itu, fosil kayu dari masing-masing lokasi yang berbeda biasanya juga memiliki sifat-sifat yang sedikit berlainan. Sebagai contoh, bebatuan  dari daerah di Jambi pada umumnya hanya bagian kulit luar yang memiliki corak bagus. Berbeda dengan fosil kayu di Jawa, sampai pada bagian dalam tetap memiliki corak. “Sedangkan tingkat kekerasannya tergantung pada usianya. Semakin muda berarti kontur kayunya makin banyak, jadi semakin tua akan lebih keras tetapi juga lebih rapuh dan gampang pecah, mirip kaca kristal,” jelas Wiwit.

Pertama kali, ayah dua orang putra ini mengenal kerajinan fosil kayu pada tahun 2005 di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Pada waktu itu telah ada beberapa kelompok masyarakat setempat memanfaatkannya menjadi kerajinan abstrak. Dia menjadi tertarik, terlebih melihat proses pengerjaannya mudah dan cukup dengan peralatan sederhana.

Selanjutnya bekerja sama dengan beberapa orang rekan berdirilah Surya Gallery (SG). Saat ini SG telah memiliki workshop di daerah Bogor dengan 5 orang karyawan yang mengerjakan produk, mulai dari memotong, menggerinda, dan mengampelas fosil kayu menjadi bermacam-macam bentuk, bukan hanya seni kerajinan abstrak. Sementara untuk pemasaran terdapat sebuah art shop, sehingga total investasi awal kurang lebih Rp 50 juta. “Saya coba mengembangkan produk-produk yang memiliki nilai seni tinggi dengan membuat jenis lain seperti bentuk buah-buahan, telor, binatang, patung-patung, miniatur, asbak, dan sebagainya,” tuturnya.

 Diungkapkan, dilihat dari nilai jual produk akhir maka kerajinan fosil kayu memiliki nilai tambah cukup signifikan alias menguntungkan. Bahan baku fosil kayu diperoleh dari pemasok seharga Rp 1.000,00/kg, begitu dipoles harganya bertingkat, mulai Rp 20 ribu/kg, Rp 25 ribu/kg, Rp 50 ribu/kg, atau bahkan bisa mencapai Rp 500 ribu/kg. Harga jual berbeda-beda tergantung bobot produk, motif, desain, warna, dan sebagainya. “Ketika masih bahan mentah kita belum tahu seperti apa, dan baru ketahuan setelah digosok, menjadi bermacam-macam,” imbuhnya.

 Soal bahan baku, Wiwit mengaku tidak terlalu risau sebab menurutnya di dalam tanah jumlahnya masih cukup melimpah. Terdapat sekelompok orang yang berpencaharian menjadi penggali sebagai pemasok bahan. Sementara itu kelima orang karyawan yang digaji dengan sistem borongan mampu menghasilkan aneka kreasi berkapasitas produksi sebulan sekitar 40 ton. Dari Bogor, produk-produk tersebut baru dijual melalui art shop terletak di Bali karena orientasi pemasarannya masih cenderung untuk ekspor, yakni ke Amerika, Eropa, juga negara-negara Asia, kebanyakan ke Korea dan Cina. “Karena pemahaman masyarakat lokal tentang produk ini masih kurang sehingga apresiasinya juga masih kecil,” akunya.

 Wiwit mengaku, penjualan di Bali pun sejatinya bersifat musiman. Peningkatan penjualan biasanya terjadi pada bulan-bulan terakhir menjelang awal tahun sebab seiring jumlah turis asing omset penjualan juga bertambah. Selain itu ekspor juga dilakukan melalui kerja sama dengan beberapa perusahaan trading di tanah air. Meskipun nilainya tidak bisa ditentukan, disebutkan, dalam sebulan paling tidak produk yang bisa dipasarkan mencapai 10 ton terdiri ratusan item dengan minimal omset Rp 200 juta-Rp 500 juta.

 Sementara itu agar dapat mendongkrak penjualan di pasar lokal, Wiwit beberapa kali berpromosi melalui pameran walaupun ternyata hasilnya belum seperti yang diharapkan. “Untuk pasar lokal orientasinya adalah pengenalan dulu,” ujarnya tetap optimis akan peluang yang tetap terbuka lebar. Setidak-tidaknya melalui bisnis garapannya tersebut ia berusaha menunjukkan semangatnya memberikan nilai tambah pada produk anugerah alam seperti mottonya, ‘Perified wood, created by God polished by man’.

no image

Posted by On 03.31

CV Nuri Teknik memfokuskan bisnis pada pembuatan alat-alat kedokteran dan rumah sakit. Tak hanya bermain di pasar domestik tapi juga melebarkan sayap hingga ke mancanegara. Fisamawati

Betapa praktisnya tempat tidur rumah sakit. Bagian kepala bisa terangkat, begitu pula bagian badan maupun kaki. Hanya tinggal kayuh saja sisi engkolnya atau hanya menekan tombol elektrik perintah. Tempat tidur khusus pasien tersebut memberikan kemudahan, tanpa harus merepotkan si pasien untuk bangun atau menggeser posisi tubuhnya sendiri. Banyak yang merasakan manfaat dari ranjang khusus tersebut. Namun tak banyak pula yang mengetahui pemain-pemain bisnis alat kedokteran dan rumah sakit, bahkan sekadar tahu siapa pembuat produk tersebut.

Di Indonesia sendiri, pemain lokal di bisnis tersebut tak banyak. Tentu saja ‘lahan kosong’ ini patut menjadi rebutan beberapa perusahaan lokal khusus pembuat alat kedokteran dan rumah sakit, CV Nuri Teknik- salah satunya. Perusahaan yang didirikan Ahmad Syarifudin pada September 1991 bahkan sudah melabarkan sayap hingga di tahun 1998, ia pun menegakkan perusahaan PT Sarandi Karya Nugraha.
“Dengan perlengkapan dan modal terbatas, saya memulai usaha pembuatan alat-alat dan perlengkapan rumah sakit. Saat itu, saya hanya mempunyai modal Rp 500 ribu rupiah ditambah satu gergaji tangan dan satu mesin bor tangan,” kata Ahmad yang membuat trolley USG sebagai produk perdananya.

Ia mengungkapkan, bisnis tersebut diilhami oleh Isep- adiknya yang bekerja di sebuah perusahaan supplier alat-alat kesehatan. Barang-barang hasil produksi perusahaan tersebut ternyata banyak produk impor. “Lantas, saya pun bertanya-tanya, ‘mengapa harus impor?’. Saya pun memberanikan diri mengajukan penawaran ke perusahaan tempat adik saya bekerja, saya meyakinkan perusahaan tersebut bahwa saya bisa membuat produk-produk yang mereka butuhkan,” imbuhnya.

Di atas areal seluas 10.000 meter persegi, Ahmad mengerjakan perlengkapan rumah sakit. Produk-produk buatannya pun diterima, bahkan di tahun 1992, ia mendapat tawaran khusus untuk mendesain dan membuat produk timbangan bayi. Dari hasil order 8000 unit timbangan bayi tersebut, ia meraup keuntungan yang cukup menggiurkan. Berikutnya order terus berlanjut berupa permintaan 28.000 unit lampu periksa, setelah itu susul menyusul pekerjaan datang ke tempat usaha yang berlokasi di Jalan Raya Sadamaya, Cibeber, Cianjur ini.
Perlengkapan Rumah Sakit“Hasil keuntungan tersebut saya belikan berbagai jenis mesin bekas sebanyak dua truk. Diantaranya, mesin bubut, mesin frais (untuk membuat pola, red), mesin scrapt, bor dan lainnya. Meskipun mesin-mesin yang dibeli buatan Eropa namun tak satu pun yang berfungsi, alias rongsokan,” ungkap peraih penghargaan Upakarti dan Perusahaan Kecil Menengah Terbaik Jawa Barat.

Ahmad yang dibantu 75 orang karyawan dan ratusan tenaga kerja lepas, mampu membuat beragam produk. Mulai dari jenis tempat tidur, meja operasi elektrik, ginecolog electric, meja periksa, trolley makan dan lampu periksa. Total produksinya pun berkisar hingga tiga ratus item dengan kapasitas produksi belasan ribu unit pertahun. “Untuk beberapa item tertentu sifatnya pesan baru diproduksi. Namun ada pula yang ready,” tangkasnya seraya mengupayakan peningkatan kapasitas dan kualitas produksinya.

Target pasar yang dilirik Ahmad tak hanya skala nasional tetapi juga ekspor, di antaranya ke Timur Tengah dan Swedia. Produk yang diekspor pun kebanyakan alat-alat kebidanan dan kursi ruang tunggu pasien. Sedangkan untuk pemasarannya sendiri dilakukan melalui supplier-supplier yang tersebar. Ahmad pun mengungkapkan, dirinya tak siap jika harus terjun langsung karena adanya faktor birokrasi, meskipun untuk konsumen lokal masih disanggupinya.
“Saya serius terjun ke dunia alat-alat kesehatan karena merasa bidang ini punya banyak tantangan. Setiap saat selalu muncul produk-produk baru dengan desain yang terus berkembang. Alhamdulillah, dapat memasuki dan bersaing di bidang ini. Selain itu, peluang di bidang ini cukup besar karena sedikitnya pemain yang mendalaminya,” paparnya yang mampu meraup omset milyaran rupiah per tahunnya.

Bersaing dengan pemain asing seperti Jerman dan China, tak menyiutkan nyali Ahmad untuk mendesain produk-produk bergaya moderen, praktis dan elegan. Salah satunya inspirasi membuat produk didapat dari kunjungan beberapa pameran baik dalam maupun luar negeri. Negara yang menjadi referensi pengembangan produknya adalah Jerman dan Singapura. Dan tak jarang pula browsing dari internet yang kemudian didesain sesuai keinginannya. “Saya tidak akan menampilkan produk dengan desain yang monoton,” tegasnya yang ‘rajin hunting’ ke Jerman satu tahun sekali.

Dari inspirasi ditambah referensi, ia pun mendesain sesuai permintaan pasar. Sementara untuk pengerjaannya, komponen-komponen pendukung dipisahkan dan dibagi kebeberapa sub di beberapa bengkel di Cianjur. Berbekal pendidikan di jurusan mesin Sekolah Teknik Mesin yang dimilikinya ternyata membantunya. Dari komponen yang terpisah, ia gabungkan dan jadilah produk-produk berfungsi guna.
“Pernah dari beberapa sub bengkel mencoba untuk menggabungkan menjadi produk seperti yang saya buat tetapi tidak bisa. Mungkin itulah kelebihan saya dalam memadu padankan komponen yang ada menjadi memiliki nilai jual,” ucap Ahmad yang memasang harga puluhan juta rupiah untuk produk ciptaannya.

no image

Posted by On 02.28

Melihat animo masyarakat yang tertarik akan  trik sulap, Adri Manan pun menangkap peluang bisnis membuat pernak-pernik sulap bahkan memasarkannya di pesawat. Fisamawati

Dunia memang benar-benar dinamis. Terbukti, para pesulap yang dulu tak ubahnya dipandang seperti badut – penghibur di acara ulang tahun anak-anak – sekarang naik kelas. Saksikanlah di televisi, mereka menjadi tokoh yang kerap dinanti pemirsa dengan bayaran lumayan. Adri Manan, Deddy Corbuzier, dan Damien mereguk puluhan juta rupiah hanya dengan bermain sulap selama 30 menit. Tak heran, tak sedikit orang ingin seperti mereka. Dan melihat tingginya minat masyarakat yang ingin seperti mereka, beberapa pesulap menangkapnya jadi peluang bisnis.

Seperti yang dilakukan Adri Manan, tak hanya menekuni bisnis pembuatan kaca anti peluru selama lima tahun silam hingga sekarang, ia pun merambah bisnis lain. Kali ini, ia memproduksi aneka perlengkapan sulap, tak jauh-jauh dari bidang profesinya. “Iya, saya buka warung sulap. Seseorang bisa memperagakan sulapnya hanya belajar dalam hitungan waktu lima menit saja,” promosi suami sekaligus manager penyanyi mandarin- Meliana Pancarani.

Ketika disinggung keterkaitannya dengan memasyarakatkan sulap, Adri pun membantah. Ia mengaku hanya mensosialisasikan sulap, dimana seseorang yang tertarik dan belajar tentang sulap maka akan mempengaruhi kreatifitas orang tersebut. Tak hanya itu, tujuan lain adalah membuat seseorang tertarik akan sulap. Menurutnya, khususnya di Indonesia sendiri sulit untuk mendapatkan perlengkapan sulap, kalau pun ada biasanya dari luar negeri dan harga yang ditawarkan pun cukup tinggi pula.

“Tetapi saya menawarkan harga yang relatif terjangkau. Dengan kisaran harga dimulai dari Rp. 25 ribu hingga ratusan ribu, cukup murah kan?. Ditambah di dalamnya diajarkan cara pengoperasiannya, jadi sekalian dapat rahasia triknya,” katanya sambil menunjukkan atraksi sulapnya.

Memang jika dilihat dari segi modal, Adri pun mengaku tak banyak mengeluarkan uang untuk per item-nya. Seperti, boneka berbahan pelepah pisang yang diperagakannya. Untuk ukuran boneka yang tak lebih dari jari kelingking orang dewasa ini, Adri memasang harga Rp 100 ribu lengkap dengan kotak eksklusif. Begitu juga dengan item lainnya yaitu permainan kalung, tali temali dan lainnya.

Untuk kreatifitas setiap item perlengkapan sulapnya, Adri pun membuat desain sendiri dengan ide murni maupun referensi dari Amerika dan negara lain. Bisnis tersebut pun tak dilakoni seorang diri, sosialisasi lingkungan pun diterapkannya dengan membuat lapangan pekerjaan bagi lingkungan sekitar. Hal ini dilakukan dalam memproduksi, ia mempercayakan masyarakat sekitar wilayah Sentul, Bogor untuk pengerjaannya- sifatnya home industry.

Sekarang ini, jenis perlengkapan sulap ciptaan Adri berjumlah 25 buah dengan sifat bahan yang beragam seperti kain, logam, kertas, pelepah pisang bahkan besi. Lantas, apa ia tidak takut profesi sulapnya tersaingi? “Tidak. Karena saya sekarang ini memiliki kurang lebih 8000 item sulap. Sedangkan untuk perkembangannya sendiri, setiap minggunya rata-rata muncul item baru berkisar ratusan. Jadi dengan jumlah yang masih saya pegang rasanya tak mungkin,” katanya optimis. Tak hanya itu, sifat permainan sulap pun rentan kadaluarsa. Jika satu permainan tidak dilempar ke masyarakat maka akan ketinggalan baik dari segi trik maupun teknologi. “Perkembangan sulap sangat cepat,” celetuknya.

Beroperasi kurang lebih 2 tahun, Adri pun telah memiliki 5 outlet yang tersebar di Medan, Gelanggang Samudera, Dufan, Mall Taman Anggrek dan Cibubur Junction. Di outlet tersebut, Adri khusus mendatangkan demonstrator untuk memberikan trik kepada para pengunjung, sehingga target waktu lima menit bisa tercapai. “Biasanya saya menempatkan demonstrator selama satu bulan, kemudian dikembangkan oleh pemilik outlet. Jadi sistemnya saya hanya mensuplier perlengkapan sulap. Tetapi sampai sekarang ini, semua masih milik saya sendiri,” imbuh Adri yang diwawancarai di MU Café, Sarinah Thamrin.

Tak puas dengan omset per outlet Rp 300 sampai Rp 500 ribu per hari, Adri pun berekspansi menjual perlengkapan sulapnya di pesawat terbang. Merambahnya target wilayah penjualan tersebut sudah berlangsung enam bulan yang lalu. “Jadi ketika ada seorang ayah yang pergi ke luar negeri dan bingung memberikan oleh-oleh bagi anak-anaknya, perlengkapan sulap bisa menjadi alternatif pilihan. Pastinya, bukan hanya benda yang diperoleh tapi juga kejutan bahwa sang ayah bisa bermain sulap- jadi suatu kebanggaan baru tentunya. Sang ayah bisa belajar di dalam pesawat selama penerbangan, karena target penguasaan sulap hanya hitungan menit,” papar yang melabelkan ‘Magic On The Sky’ untuk bisnisnya ini.

Pria yang juga dinobatkan menjadi Duta Media Against Drugs ini menambahkan, untuk penjualan per outlet mencapai 1000 item per bulannya, tetapi jika di pesawat bisa mencapai 5000 item per bulan atau bahkan lebih. Tetapi ia pun memperhitungkan sistem yang berbeda untuk keduanya. Jika pendapatan di outlet meningkat hingga batas minimal Rp 7 juta, maka ia memberikan bonus 5 persen bagi karyawannya.
Lantas bagaimana dengan kompetitor? “Saya tidak risau. Karena basic-nya saya adalah selebriti magic berbeda dengan pesulap lainnya. Lagi pula, saya sudah menguasai bidang ini, jadi sudah dapat memprediksikan semuanya. Ke depannya, saya ingin membuat ‘Selebriti Magic’ bekerjasama dengan beberapa artis yang menyukai sulap,” katanya yang belum berencana untuk mem-franchise-kan bisnisnya karena beberapa hal. “Padahal sudah banyak yang minta tapi saya tolak. Nanti saja-lah,” katanya mengakhiri.

no image

Posted by On 01.22

Hitungan, detil dan ketelitian ternyata sangat penting dalam seni kaligrafi. Inilah alasan NIC tetap mengandalkan teknologi manual untuk pengerjaan proyeknya. Fisamawati

Di dalam seni rupa Islam, ada istilah kaligrafi. Kaligrafi adalah seni menulis dengan indah dengan pena sebagai hiasan. Biasanya seni ini menyadur dari Al-Quran ataupun ayat-ayat suci lainnya. Jenis bentuk seni kaligrafi pun macam-macam ada yang hanya memberikan paduan hiasan saja, memberikan ornamen warna ataupun memberikan tingkat detail kerumitan tersendiri.
Terlepas dari itu semua, tak banyak yang menyadari kaidah-kaidah dari kaligrafi itu sendiri. Untuk membuat lafal ‘Alif’ saja diperlukan hitungan-hitungan, seperti dibaginya titik-titik untuk proses pembuatannya, belum lagi lafal ‘Shod’ yang harus memperhatikan tingkat kelengkungan dan sebagainya.

Namun, bagi Kurnia Agung Robiansyah dan kawan-kawan hal tersebut bukanlah hal yang sulit. Dengan faktor skill, prestasi serta pengalaman baik secara individu maupun team, mampu memberikan warna baru di seni kaligrafi yaitu membuat desain kaligrafi kubah masjid. Adanya kaligrafi yang mengelilingi diameter kubah masjid diharapkan bisa memberikan nuansa indah di dalam masjid tersebut. “Bermula adanya gagasan dari beberapa kaligrafer muda alumni Lembaga Kaligrafi Alquran (LEMKA) Jakarta, untuk membentuk sebuah badan usaha yang secara khusus bergerak di bidang jasa penulisan kaligrafi Islam,” kata pria yang akrab disapa Agung ini.

Berada di bawah bendera Noqtah Islamic Calligraphy yang berdiri tahun 1998, telah memiliki kiprah yang panjang dalam dunia seni kaligrafi Islam Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya karya-karya penulisan kaligrafi yang telah dihasilkan sebut saja Masjid Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Masjid Al-Mizan Kejaksaan Tinggi Gorontalo, Masjid As-Salam Sukabumi Jawa Barat, Masjid Al Ikhlas Polres Jakarta Pusat, Masjid Jami Sumber Sari Rembang Jawa Tengah dan masih banyak lainnya, ditambah dekorasi-dekorasi panggung MTQ, tulisan  naskah  buku-buku Islam, desain grafis, hiasan mushaf Al-Quran, handicraft, prasasti, dan dekorasi interior.
”Biasanya, untuk mengerjakan proyek tersebut dibuat proposal terlebih dahulu untuk kesepakatan antara kedua belah pihak. Sedangkan untuk perencanaan operasional terbagi lagi menjadi survei lokasi, pembuatan konsep desain, kemudian berlanjut pada pelaksanaan kerja,” terangnya yang sekaligus menjabat sebagai sekretaris Noqtah ini.

Untuk pembuatan konsep desain kaligrafi, Noqtah pun mengacu pada ketentuan-ketentuan tertentu. Pertama, landasan etis yang mengandung arti bahwa etika di dalam seni Islam berpedoman kepada Al-Quran dan Al-Hadist. Kedua, landasan filosofi yang mengandung arti bahwa falsafat seni rupa Islam melambangkan kedalaman makna Alquran yang menjadi landasan kehidupan dunia dan akhirat. Terakhir, landasan estetis, yang mengandung arti bahwa Islam selalu identik dengan keindahan sesuai dengan firman Allah SWT.
“Pengerjaannya sendiri sifatnya manual (hand made). Alasan pengerjaan menggunakan sistem manual bertujuan mengedepankan ketelitian dan kerapihan sehingga dapat menghasilkan karya yang berkualitas. Sedangkan untuk konsepnya sendiri sudah diolah menggunakan kecanggihan komputer, tetapi tetap ada perhitungan tersendiri sehingga saat dikerjakan di lapangan tidak terjadi kesalahan,” kata yang menerapkan hitungan skala perbandingan untuk mengaplikasikan konsep dengan kubah agar sesuai saat dikerjakan.

Team yang beranggotakan delapan orang yakni Saefuddin Aziz, Muksin Sudirja, Sholeh, Agus Priatna, Kismanto, Irfan Wahyudi, Saefuddin Aziz dan Agung sendiri, pun memudahkannya dalam mengembangkan bisnis yang berawal dari hobby tersebut. Dengan terbentuknya sebuah team memberikan nilai positif untuk perjalanan bisnisnya kedepan. Seperti yang diungkapkan Agung, untuk permulaan bisnisnya tidak terlalu mempersoalkan modal awal. “Karena sistem waktu itu, jika ada proyek biasanya ada uang muka. Dari uang muka tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan proyek, lalu sisanya dimasukkan ke ‘pos-pos’ yang sudah ada,” tambahnya.
Tetapi dengan jumlah anggota yang minim pun terkadang memiliki kendala dalam memenuhi permintaan klien. “Kadang ketika permintaan proyek sedang banyak-banyaknya bahkan terkadang bentrok, jadi harus diberlakukan waiting list. Bahkan, kami pun harus pecah team yang biasanya dibagi menjadi dua atau me-rekrut teman lain. Biasanya ini untuk proyek skala menengah ke bawah dan pribadi,” ungkapnya yang membidik segmen menengah keatas seperti perusahaan dan lembaga pemerintahan.

Agung yang diwawancarai di basecamp Noktah di kawasan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memaparkan, jika dilihat oleh kalangan awam, karya kaligrafi sepertinya sama saja antara yang satu dengan lainnya. Tetapi, bendera perusahaan Noqtah yang diartikan ‘titik’ ini mempunyai ciri khas tersendiri. “Dikalangan para kaligrafer, karya Noqtah bisa dibedakan dengan karya tangan lainnya. Umumnya, hasil karya Noqtah lebih kaya warna dan menyesuaikan dengan warna dasar dari masjid itu sendiri, jadi ada temanya. Selain itu, hasil karya kaligrafi antara proyek satu dengan proyek lainnya tidak sama, artinya ada nilai orisinil-nya,” promosi Agung yang juga memberi garansi dua tahun pada klien-nya.

Lalu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan kaligrafi kubah masjid? “Ambil gambaran proyek kubah Masjid Al Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kubah tersebut berdiameter 18 meter. Dari ukuran tersebut didesain sehingga kaligrafi yang harus dibuat sepanjang 100 meter. Dengan jumlah anggota team dibantu dengan beberapa teman yang juga seprofesi, proyek tersebut dapat terealisasi selama dua bulan,” katanya yang mematok harga Rp 300 ribu per meter tergantung tingkat kerumitan kaligrafi itu sendiri.

Banyaknya bermunculan masjid dan mushallah baik bersifat umum maupun pribadi, tak serta merta menjadikan bisnis kaligrafi berjalan mulus. Ia pun memberikan pendapat, kaligrafi sifatnya karya seni. “Dan lagi bukan barang konsumtif, jadi hanya kalangan tertentu saja yang memahami kaligrafi, meskipun dewasa ini sudah banyak digunakan untuk kalangan non muslim,” tegasnya.

no image

Posted by On 01.25

Pengalamannya menuntut ilmu di Nagoya, membuat David tertarik menekuni bisnis pembuatan bela diri Jepang made in Ngayogya (Yogyakarta) . Wiyono

Ketika bisnis dilandasi hobi, paling tidak terdapat salah satu di antara dua kepuasan. Pertama adalah kepuasan secara finansiil dan satu lagi kepuasan secara emosionil. Misalkan saja, seorang pecinta olah raga seni bela diri lalu menekuni usaha pembuatan peralatan bela diri atau membuka sebuah perguruan bela diri. Dalam kondisi terburuk, umpama kemakmuran tidak teraih, tetapi setidaknya kepuasan batin bakal diterima. Dan idealnya, kedua-duanya memang tetap harus didapatkan.

Seperti halnya David Cahyanto, kelahiran Jogyakarta 1983 ini begitu tertarik dengan seni bela diri Jepang sampai-sampai mendirikan bisnis pembuatan peralatan bela diri, khususnya khas Jepang. Kebetulan pada tahun 2001 ia menjadi salah seorang siswa dalam pertukaran pelajar ke Nagoya, Jepang. Di situ ia sempat mempelajari martial art Jepang pada beragam sensei. Kuliahnya di  Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Bahasa Jepang UGM malah semakin menumbuhkan ketertarikan terhadap dunia budo atau martial art negeri sakura tersebut. Sampai akhirnya terpikirlah mendirikan usaha sesuai bidang yang diminatinya itu. “Secara kecil-kecilan sudah sejak 2004, tapi mulai serius baru tahun 2005 setelah saya lulus kuliah,” David menuturkan.

Diakui, pada awal usahanya ia tidak melihat peluang pasar secara lebih jauh. Sebaliknya meskipun pasar bela diri di Indonesia masih terbatas, sebagai praktisi bela diri dan pecinta budaya Jepang, ia merasa banyak produk bela diri berharga mahal, bahkan beberapa di antaranya masih berupa barang impor. Kondisi itu mendorong dirinya guna memenuhi kebutuhan praktisi bela diri dan pecinta budaya Jepang di Indonesia dengan produk lokal yang berkualitas, sementara harganya tetap terjangkau.
Nama bendera usaha Musubi juga diambil dari bahasa Jepang, berarti harmoni. “Saya berharap akan tercipta hubungan yang harmoni antara Musubi, sebagai penyedia produk, dengan para konsumen atau klien kami, jadi betul-betul customer satisfaction oriented,” ujarnya sedikit beriklan.

Awalnya, dengan modal usaha sekitar Rp 5 juta, Musubi dijalankan patungan bersama Dian Novietasari, teman kampus David. Instruktur bela diri Samurai Academy System tersebut menerapkan sistem made by order, barang baru dibuat saat ada pemesan. Semakin ke depan bisnis itu makin berkembang, produksi bisa terus bergulir sehingga selalu ada stok produk dan sample. Kini, sebagian besar produk telah dibuat kontinyu, yang berdasar pesanan hanya produk katana (pedang Jepang) dan pakaian tradisional Jepang.
Pertama kali, mereka berdua juga baru memproduksi beberapa jenis barang. Sekarang produk yang dibuat makin beragam. Terdapat bermacam-macam jenis senjata, seperti shinken/ pedang tajam, iaito/ pedang tumpul, pedang rahasia, kunai/ pisau ninja, tanto/ pisau pendek, kama/ sabit ninja, shuko/ cakar ninja, shuriken/ bintang, boken/ pedang kayu, aneka tongkat kayu, pedang kayu kodachi, tanto dan suburito, katanagake/ rak pedang, tachi kake/ rak berdiri, dan tactical knive/ pisau tempa.

MusubiSelain itu, David juga melengkapi produk dengan menerima pesanan pakaian atau seragam bela diri, meliputi yukata (pakaian tradisional Jepang), pakaian samurai, shinobi shozoku atau pakaian ninja, hapi, iai/ kenjutsu gi, hakama, jikatabi (sepatu ninja), baju aikido, baju ninjutsu, baju ken/ iai, cosplay set variatif atau kostum tokoh jepang, bogu/ baju kendo, serta membuat jenis-jenis barang fun craft bernuansa Jepang atau martial art Jepang. Seperti misalnya, gantungan hp, gantungan kunci kunci, bros, mug, pin, gantungan origami, pembatas origami, dan kantung hp. “Selain itu saya juga menjual aksesoris Jepang asli yang saya datangkan melalui teman saya di Jepang, misalnya kipas, gantungan kunci, sapu tangan dan sebagainya,” tambahnya.

Jumlah karyawan tetap Musubi sebanyak 4 orang, sementara lainnya bekerja dengan sistem borongan saat melayani pesanan. Dalam sebulan, rata-rata menghasilkan masing-masing item sekitar 1-50 pcs dengan harga Rp 5.000,00-Rp 1.500.000,00. Selain dari Jogyakarta, konsumen lokal datang dari Jakarta, Semarang, Surabaya, Batam, Balikpapan, dan Bandung. Sedangkan untuk pembeli dari luar negeri, khususnya baru pelanggan dari Singapura.

Setiap produk, dikatakan, dibuat berdasarkan contoh barang asli dari Jepang koleksi pribadi David. Tetapi, dikatakan, itu pun tidak berarti persis sama seratus persen. Kadang kala kreasi desain muncul dari ide sendiri atau pun mendapat masukan pelanggan. “Kalau bisa lebih bagus kenapa tidak,” kilah anggota Genbukan Ninpo Bugei Indonesia yang juga tutor bahasa Jepang di Japan College tersebut.
Kreasi juga perlu dilakukan untuk mengatasi kesulitan memperoleh bahan. Bahan baku sepatu ninja (jikatabi), umpamanya. Di toko tidak tersedia sol sepatu yang belah di bagian jari seperti pada sepatu ninja yang asli. Jika memesan langsung ke pabrik paling tidak sekaligus harus 100 pasang untuk tiap satu ukuran. Karena itu ia mengakalinya dengan memakai karet crepe mentah yang kemudian dipotong sendiri sesuai pola sol jikatabi.

Ternyata David tidak mengalami kendala berarti dalam hal pemasaran produk. Ia mengaku banyak mengandalkan promosi melalui situs internet. Faktanya, sebagian besar konsumen pada awalnya mengenal Musubi lewat website. Selain itu ia memberikan diskon bagi para pelatih yang memiliki anak didik agar merekomendasikan produk-produk miliknya, di samping kerap ikut serta pada acara-acara pameran. Sedangkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, di tokonya ia menjual pula produk bela diri umum, seperti taekwondo, silat, dan lainnya, yang berasal dari produsen berbeda.

Masalah yang ia temui, biasanya terjadi justru pada saat produksi. “Misalnya untuk finishing kayu, kondisi cuaca sangat berpengaruh pada hasil akhir. Kalau terlalu panas hasilnya akan kusam, sementara kalau mendung akan lengket bila dipegang. Untuk mengatasi ini, produksi biasanya dilakukan malam hari. Jadi pagi harinya bisa langsung difinishing memanfaatkan matahari terbit,” tutur David yang kini tengah berencana meningkatkan pelayanan secara online dan berkeinginan membuat one stop shop Musubi. “Di mana dalam satu tempat terdapat tempat latihan bela diri, toko yang menjual alat-alat dan perlengkapannya serta kantin kecil bernuansa Jepang,” imbuhnya mengakhiri.

no image

Posted by On 01.18

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) telah menandatangani kerjasama dengan PT Merpati Airlines (Persero). Kerjasama saling menguntungkan tersebut berdasarkan bahwa posisi HIPMI  sebagai salah satu motor penggerak roda perekonomian nasional, sedangkan arirlines BUMN ini memiliki jaringan rute dari Aceh hingga Papua. Sinergi keduanya diharapkan mampu mempercepat pembangunan yang merata di seluruh Indonesia. Demikian kata Dirut Merpati, Hotasi Nababan.  Dalam kerjasama ini pihak Merpati menambah rute baru, yakni terbang ke-36 kota di Indonesia.  Kerjasama itu, pihak Merpati akan memberi harga khusus bagi anggota HIPMI yang menggunakan airline Merpati. Dan, para anggota HIPMI bisa manruh brosur kegiatan bisnis di armada Merpati. Merpati kini terbang hampir di seluruh Provinsi di Tanah Air dan mengangkut 14 ribu penumpang per harinya.

no image

Posted by On 03.29

Di sejumlah negara kelomang yang sering bergonta ganti cangkang lebih populer ketimbang ikan. Suatu peluang mengeruk uang. Wiyono

Coenobita, tidak semua orang tahu nama apakah itu gerangan. Sebaliknya bila disebut kelomang segera semua mafhum akan sejenis binatang unik yang gemar bergonta-ganti cangkang itu. Masih banyak anggapan binatang pesisir ini hanya pantas menjadi mainan anak-anak, padahal asal tahu saja di luar negeri hewan ini sejak puluhan tahun lalu menjadi satu di antara banyak klangenan yakni sebagai penghuni akuarium dalam ruangan.

“Kelomang pertama kali ngetop di Amerika tahun 1953, barangkali karena pemeliharaannya lebih gampang. Kalau kita mau keluar rumah, ditinggal 5-6 hari tidak mati. Media yang dipakai pasir, berbeda dengan ikan, kita harus menguras air dan sebagainya. Kelebihan lainnya dia unik, bisa berubah-ubah warna,” jelas Hany Faroko. “Di Amerika kelomang lebih populer dari pada ikan, saya pernah buka search yahoo kata kuncinya hermit, sampai tiga hari belum habis dibaca,” tukas tokoh yang dikenal sebagai eksportir kelomang lukis itu menambahkan.

Ekspor kelomang lukis telah dilakukan Hany sejak 2003 dengan bendera usaha CV HNS maupun CV Asian Crabs Shells (ACS), rutin hingga beberapa kali seminggu dalam setiap bulannya, melayani pembeli dari USA, Perancis, Korea, dan Jepang. Jumlahnya lumayan besar, pengiriman ke Korea tiap bulan tidak kurang 30.000 ekor. Permintaan tersebut akhir-akhir ini bertambah semenjak ada kebijakan impor kumbang kelapa untuk binatang peliharaan ke Negeri Ginseng itu dinyatakan illegal. Lainnya, sekitar 20.000 ekor dikirim ke benua Amerika dan yang terbesar adalah ke Perancis. Setiap hari Selasa ia mengirimkan kurang lebih 10.000 ekor kelomang lukis dari workshopnya yang terletak di daerah Bekasi-Jawa Barat. Dengan harga USD 2,00-USD 5,00 maka bisa dihitung sendiri berapa omset perbulannya, mencapai USD 180.000,00-USD 450.000,00 USD. Itu pun masih ditambah item lainnya, seperti penjualan cangkang maupun kelomang asli.

Hany Faroko, lulusan sekolah perhotelan, mantan bos dealer mobil, namun ujung-ujungnya berlabuh menjadi pebisnis kelomang lukis. Tahun 1998 ia berbulan madu ke Negeri Paman Sam. Di sanalah kisah awal perkenalannya dengan bisnis binatang hias bernama kelomang yang dilukis berwarna-warni. Sebagai pemilik showroom mobil ia  tahu segala jenis cat, sehingga merasa yakin bisa mengerjakan pula.
Setibanya di tanah air ia segera berburu informasi mengenai seluk-beluk bisnis kelomang, mulai teknik pemeliharaan, eksplorasi habitat untuk memperoleh sumber pasokan, pengecatan, dan sebagainya. Sementara itu bisnis otomotif  tetap dijalani hingga berhenti total pada 2001. Sejak saat itu Hany mulai coba-coba menawarkan produk kepada pembeli di luar negeri.

Meskipun minim kompetitor, namun ayah dua putra ini menyebut, bagi pemain baru ternyata tidak begitu mudah memperoleh pembeli. Ia memberikan gambaran, di bisnis ini transaksi antar penjual dengan calon pembeli dilakukan tanpa bertemu muka secara langsung, lalu sistem pembayarannya dilakukan via bank secara tunai. Padahal dalam sekali order jumlah minimalnya 2000 ekor, berarti besarnya transaksi USD 4.000,00-USD 10.000,00. Pihak pembeli tentu saja tidak akan mau mentransfer uang sebanyak itu kepada orang yang masih dianggap asing, sementara sebagai penjual dirinya pun tidak berani rugi, mengirim barang  tetapi belum ada kepastian pembayaran. “Gap ini pula yang membuat bisnis saya agak lama jalan, startnya yang susah,” ujarnya.

Kenyataannya, pengalaman pahit seperti itu juga pernah sekali dia alami. Waktu itu ia masih baru taraf belajar, memenuhi begitu saja permintaan seorang pembeli kelomang dari Amerika dengan perjanjian konsinyasi. Begitu dikirim, sesampainya di sana dilaporkan semua hewan telah mati. Dia merasa ditipu mentah-mentah dan rugi hampir USD 5.000,00.

Perlu diketahui pula, jenis kelomang yang hidup didunia dikelompokkan menjadi enam macam, namun tidak semuanya memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Sebagai contoh, coenobita rugosus adalah jenis kelomang yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Kelomang jenis ini memiliki ciri tekstur garis-garis yang tersusun rapi secara vertikal di sisi depan capit besar kiri.  Warnanya bervariasi, putih, krem, pink, orange muda, coklat, biru muda, ungu, hitam, abu-abu sampai merah. Namun sayang, jenis dapat dikatakan tidak laku untuk dijual karena daya tahan tubuhnya lemah.

Sebaliknya coenobita perlatus yang dikenal dengan warna merahnya yang khas, dengan titik titik putih seperti buah strawberry adalah yang paling mahal. Sebaliknya, jenis yang terdapat banyak di Australia ini amat jarang ditemukan di Indonesia. Hany sendiri mesti memburu kelomang jenis ini hingga ke perairan Papua. Belakangan ia sempat memperoleh pasokan jenis strawberry tersebut dari sumatera tetapi tidak banyak. “Mungkin di pulau-pulau kecil sebenarnya masih ada, tetapi para nelayan merasa enggan untuk mengambil karena resikonya tidak sebanding,” ucapnya saat mengeluhkan pasokan yang acap kurang.

Kelomang LukisDi bengkel kerjanya, Hany dibantu karyawan tetap 10 orang, empat orang di antaranya telah dipercayakan sebagai tenaga ahli pemecah cangkang kelomang yang asli. Sedangkan sisanya mengerjakan pengecatan serta melukis cangkang-cangkang baru yang telah dipersiapkan. Setiap tiga bulan penggemar motor besar itu selalu menciptakan desain lukisan baru agar tidak gampang ditiru. Pada masa-masa awal usaha dia masih memakai model lukis biasa, berikutnya telah dikembangkan jenis lukisan timbul. Bahkan untuk model yang terbaru ia sekarang membuat desain yang bakal sulit dijiplak. Anda mungkin akan terkejut atau  tersenyum kecut melihat cangkang menyerupai topeng, monster lengkap dengan gigi taring, vampir, dan sebagainya. Cangkang-cangkang yang dilukis itu sendiri awalnya berasal dari rumah keong macan, keong mas, atau bekicot. Maklum, cangkang kelomang beneran tidak dipakai karena lebih tebal dan berat.

Sementara itu, dijelaskan, demi memenuhi standar keamanan dan kesehatan cat yang dipakai untuk pewarnaan dipilih dari bahan non toxic seperti biasa dipakai untuk mengecat produk-produk peralatan untuk bayi. “Harganya memang agak mahal, tetapi ini sudah resiko agar tahan lama,” kilahnya. Malah untuk memperoleh hasil maksimal finishingnya menggunakan bahan furnish berkadar glows 98%. “Sebagai perbandingan furnish mobil paling mahal Rp 70 ribu/liter, produk yang saya gunakan harganya Rp 325 ribu/liter. Maka hasilnya betul-betul mengkilap dan tahan gores,” imbuhnya sedikit berbangga, sebab dari sisi kualitas ia berani bersaing dengan eksportir kelomang terbesar di dunia yang sudah puluhan tahun, Sal’s Marine asal India.

Lebih lanjut, saking serius berorientasi pasar ekspor dan itu pun masih merasa kewalahan, Hany justru tidak sempat menggarap pasar lokal yang akhir-akhir ini juga mulai marak. Sebaliknya untuk mengejar target pengiriman ia mengadakan sub bersama dua orang saudaranya dan dua orang lainnya, masih di wilayah Jakarta. “Itu sebabnya biar pun saya tidak mengurusi pasar lokal tetapi 95% pasokan di sini berasal dari saya,” akunya.
Malah atas inisiatif Rolly Handoko, kakaknya, ACS saat ini membuka kesempatan waralaba bagi pengusaha lokal yang tertarik pada bisnis kelomang lukis tersebut. “Kakak saya sekarang merintis sistem franchise, ada paket mulai, Rp 5juta, Rp 10 juta, Rp 20 juta dan seterusnya. Kita sediakan lengkap, mulai dari binatangnya, akuarium, dan aksesorisnya,” lanjutnya dan diamini pula oleh Rolly.

Ditambahkan, asalkan ditekuni serius sejatinya pasar lokal punya prospek cukup bagus, penggemar kelomang lukis mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Sejauh ini Rolly sudah merambah wilayah Jakarta dan sekitarnya serta selalu hadir di setiap pameran flora dan fauna. Terlebih, di sini harga jual juga terbilang bagus. Kelomang lukis dengan desain baru, mulai dari yang terkecil dihargai Rp 30 ribu, Rp 50 ribu, dan Rp 75 ribu setiap ekor. Sedangkan yang memakai lukisan timbul harganya Rp 20 ribu-Rp 50 ribu/ekor. Jadi kelomang lukis, ternyata baik produk maupun bisnisnya, semua menggiurkan.

no image

Posted by On 01.27

Di sejumlah negara kelomang yang sering bergonta ganti cangkang lebih populer ketimbang ikan. Suatu peluang mengeruk uang. Wiyono

Coenobita, tidak semua orang tahu nama apakah itu gerangan. Sebaliknya bila disebut kelomang segera semua mafhum akan sejenis binatang unik yang gemar bergonta-ganti cangkang itu. Masih banyak anggapan binatang pesisir ini hanya pantas menjadi mainan anak-anak, padahal asal tahu saja di luar negeri hewan ini sejak puluhan tahun lalu menjadi satu di antara banyak klangenan yakni sebagai penghuni akuarium dalam ruangan.

“Kelomang pertama kali ngetop di Amerika tahun 1953, barangkali karena pemeliharaannya lebih gampang. Kalau kita mau keluar rumah, ditinggal 5-6 hari tidak mati. Media yang dipakai pasir, berbeda dengan ikan, kita harus menguras air dan sebagainya. Kelebihan lainnya dia unik, bisa berubah-ubah warna,” jelas Hany Faroko. “Di Amerika kelomang lebih populer dari pada ikan, saya pernah buka search yahoo kata kuncinya hermit, sampai tiga hari belum habis dibaca,” tukas tokoh yang dikenal sebagai eksportir kelomang lukis itu menambahkan.

Ekspor kelomang lukis telah dilakukan Hany sejak 2003 dengan bendera usaha CV HNS maupun CV Asian Crabs Shells (ACS), rutin hingga beberapa kali seminggu dalam setiap bulannya, melayani pembeli dari USA, Perancis, Korea, dan Jepang. Jumlahnya lumayan besar, pengiriman ke Korea tiap bulan tidak kurang 30.000 ekor. Permintaan tersebut akhir-akhir ini bertambah semenjak ada kebijakan impor kumbang kelapa untuk binatang peliharaan ke Negeri Ginseng itu dinyatakan illegal. Lainnya, sekitar 20.000 ekor dikirim ke benua Amerika dan yang terbesar adalah ke Perancis. Setiap hari Selasa ia mengirimkan kurang lebih 10.000 ekor kelomang lukis dari workshopnya yang terletak di daerah Bekasi-Jawa Barat. Dengan harga USD 2,00-USD 5,00 maka bisa dihitung sendiri berapa omset perbulannya, mencapai USD 180.000,00-USD 450.000,00 USD. Itu pun masih ditambah item lainnya, seperti penjualan cangkang maupun kelomang asli.

Hany Faroko, lulusan sekolah perhotelan, mantan bos dealer mobil, namun ujung-ujungnya berlabuh menjadi pebisnis kelomang lukis. Tahun 1998 ia berbulan madu ke Negeri Paman Sam. Di sanalah kisah awal perkenalannya dengan bisnis binatang hias bernama kelomang yang dilukis berwarna-warni. Sebagai pemilik showroom mobil ia  tahu segala jenis cat, sehingga merasa yakin bisa mengerjakan pula.
Setibanya di tanah air ia segera berburu informasi mengenai seluk-beluk bisnis kelomang, mulai teknik pemeliharaan, eksplorasi habitat untuk memperoleh sumber pasokan, pengecatan, dan sebagainya. Sementara itu bisnis otomotif  tetap dijalani hingga berhenti total pada 2001. Sejak saat itu Hany mulai coba-coba menawarkan produk kepada pembeli di luar negeri.

Meskipun minim kompetitor, namun ayah dua putra ini menyebut, bagi pemain baru ternyata tidak begitu mudah memperoleh pembeli. Ia memberikan gambaran, di bisnis ini transaksi antar penjual dengan calon pembeli dilakukan tanpa bertemu muka secara langsung, lalu sistem pembayarannya dilakukan via bank secara tunai. Padahal dalam sekali order jumlah minimalnya 2000 ekor, berarti besarnya transaksi USD 4.000,00-USD 10.000,00. Pihak pembeli tentu saja tidak akan mau mentransfer uang sebanyak itu kepada orang yang masih dianggap asing, sementara sebagai penjual dirinya pun tidak berani rugi, mengirim barang  tetapi belum ada kepastian pembayaran. “Gap ini pula yang membuat bisnis saya agak lama jalan, startnya yang susah,” ujarnya.

Kenyataannya, pengalaman pahit seperti itu juga pernah sekali dia alami. Waktu itu ia masih baru taraf belajar, memenuhi begitu saja permintaan seorang pembeli kelomang dari Amerika dengan perjanjian konsinyasi. Begitu dikirim, sesampainya di sana dilaporkan semua hewan telah mati. Dia merasa ditipu mentah-mentah dan rugi hampir USD 5.000,00.

Perlu diketahui pula, jenis kelomang yang hidup didunia dikelompokkan menjadi enam macam, namun tidak semuanya memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Sebagai contoh, coenobita rugosus adalah jenis kelomang yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Kelomang jenis ini memiliki ciri tekstur garis-garis yang tersusun rapi secara vertikal di sisi depan capit besar kiri.  Warnanya bervariasi, putih, krem, pink, orange muda, coklat, biru muda, ungu, hitam, abu-abu sampai merah. Namun sayang, jenis dapat dikatakan tidak laku untuk dijual karena daya tahan tubuhnya lemah.

Sebaliknya coenobita perlatus yang dikenal dengan warna merahnya yang khas, dengan titik titik putih seperti buah strawberry adalah yang paling mahal. Sebaliknya, jenis yang terdapat banyak di Australia ini amat jarang ditemukan di Indonesia. Hany sendiri mesti memburu kelomang jenis ini hingga ke perairan Papua. Belakangan ia sempat memperoleh pasokan jenis strawberry tersebut dari sumatera tetapi tidak banyak. “Mungkin di pulau-pulau kecil sebenarnya masih ada, tetapi para nelayan merasa enggan untuk mengambil karena resikonya tidak sebanding,” ucapnya saat mengeluhkan pasokan yang acap kurang.

Kelomang LukisDi bengkel kerjanya, Hany dibantu karyawan tetap 10 orang, empat orang di antaranya telah dipercayakan sebagai tenaga ahli pemecah cangkang kelomang yang asli. Sedangkan sisanya mengerjakan pengecatan serta melukis cangkang-cangkang baru yang telah dipersiapkan. Setiap tiga bulan penggemar motor besar itu selalu menciptakan desain lukisan baru agar tidak gampang ditiru. Pada masa-masa awal usaha dia masih memakai model lukis biasa, berikutnya telah dikembangkan jenis lukisan timbul. Bahkan untuk model yang terbaru ia sekarang membuat desain yang bakal sulit dijiplak. Anda mungkin akan terkejut atau  tersenyum kecut melihat cangkang menyerupai topeng, monster lengkap dengan gigi taring, vampir, dan sebagainya. Cangkang-cangkang yang dilukis itu sendiri awalnya berasal dari rumah keong macan, keong mas, atau bekicot. Maklum, cangkang kelomang beneran tidak dipakai karena lebih tebal dan berat.

Sementara itu, dijelaskan, demi memenuhi standar keamanan dan kesehatan cat yang dipakai untuk pewarnaan dipilih dari bahan non toxic seperti biasa dipakai untuk mengecat produk-produk peralatan untuk bayi. “Harganya memang agak mahal, tetapi ini sudah resiko agar tahan lama,” kilahnya. Malah untuk memperoleh hasil maksimal finishingnya menggunakan bahan furnish berkadar glows 98%. “Sebagai perbandingan furnish mobil paling mahal Rp 70 ribu/liter, produk yang saya gunakan harganya Rp 325 ribu/liter. Maka hasilnya betul-betul mengkilap dan tahan gores,” imbuhnya sedikit berbangga, sebab dari sisi kualitas ia berani bersaing dengan eksportir kelomang terbesar di dunia yang sudah puluhan tahun, Sal’s Marine asal India.

Lebih lanjut, saking serius berorientasi pasar ekspor dan itu pun masih merasa kewalahan, Hany justru tidak sempat menggarap pasar lokal yang akhir-akhir ini juga mulai marak. Sebaliknya untuk mengejar target pengiriman ia mengadakan sub bersama dua orang saudaranya dan dua orang lainnya, masih di wilayah Jakarta. “Itu sebabnya biar pun saya tidak mengurusi pasar lokal tetapi 95% pasokan di sini berasal dari saya,” akunya.
Malah atas inisiatif Rolly Handoko, kakaknya, ACS saat ini membuka kesempatan waralaba bagi pengusaha lokal yang tertarik pada bisnis kelomang lukis tersebut. “Kakak saya sekarang merintis sistem franchise, ada paket mulai, Rp 5juta, Rp 10 juta, Rp 20 juta dan seterusnya. Kita sediakan lengkap, mulai dari binatangnya, akuarium, dan aksesorisnya,” lanjutnya dan diamini pula oleh Rolly.

Ditambahkan, asalkan ditekuni serius sejatinya pasar lokal punya prospek cukup bagus, penggemar kelomang lukis mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Sejauh ini Rolly sudah merambah wilayah Jakarta dan sekitarnya serta selalu hadir di setiap pameran flora dan fauna. Terlebih, di sini harga jual juga terbilang bagus. Kelomang lukis dengan desain baru, mulai dari yang terkecil dihargai Rp 30 ribu, Rp 50 ribu, dan Rp 75 ribu setiap ekor. Sedangkan yang memakai lukisan timbul harganya Rp 20 ribu-Rp 50 ribu/ekor. Jadi kelomang lukis, ternyata baik produk maupun bisnisnya, semua menggiurkan.

no image

Posted by On 01.36

Singkong secara umum adalah tanaman yang dipandang sebelah mata. Tetapi karena bisa diubah menjadi bio etanol, pamor singkong kembali menggeliat. Russanti Lubis

Selama ini kita mengenal ubi kayu sebagai tanaman yang mudah didapat bibitnya dan gampang dibudidayakan (dapat ditanam di lahan yang kurang subur sekali pun, risiko gagal panen 5%, dan tidak memiliki banyak hama, red.). Di sisi lain, dibandingkan tanaman pangan pada umumnya yang rata-rata hanya berumur empat bulan, sumber energi yang kaya karbohidrat tapi miskin protein ini, umurnya lebih panjang yaitu tujuh hingga 12 bulan. Selain itu, harga jualnya terbilang rendah dan dianggap sebagai tanaman yang menguruskan tanah, karena boros mengambil unsur hara. Padahal, kondisi ini sangat tergantung kepada kesuburan tanah, produktivitas, dan pemupukan.

Sisi baik dan buruk yang dimiliki umbi atau akar pohon yang bernama lain singkong ini, menjadikannya dipandang sebelah mata oleh banyak pihak, bahkan oleh petaninya. Saking disepelekannya, tanaman yang dianggap tanaman marjinal karena biasanya tumbuh di lahan marjinal ini, tahun lalu secara nasional hanya mampu berproduksi 20,05 juta ton dengan luas panen 1,24 juta ha. Ini berarti tingkat produktivitasnya hanya 16,2 ton/ha. Sementara produksi singkong di Thailand sebanyak 21,44 juta ton yang didapat dari lahan seluas 1,06 juta ha atau dengan tingkat produktivitas 20,28 ton/ha.

“Tingkat produksi tersebut memang terbilang rendah. Karena, sebenarnya masih bisa ditingkatkan menjadi 25 juta ton hingga 40 juta ton,” kata Zonda Sani, Kepala Sub Direktorat Ubi Kayu, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Departemen Pertanian. Hal ini terjadi, sebab petani menanam ketela pohon secara apa adanya, dalam arti, begitu ditanam langsung ditinggalkan begitu saja. Pemupukan pun dilakukan sekadarnya, misalnya menggunakan sisa pupuk tanaman jagung yang ditanam sebelumnya di lahan yang sama. Di sisi lain, situasi ini harus dimaklumi mengingat para petani ubi kayu pada umumnya berpenghasilan rendah, sehingga tidak mampu membeli pupuk yang harganya dari waktu ke waktu semakin mahal. “Jadi ya pintar-pintarnya mereka melakukan pemupukan,” lanjutnya.

Memang tidak pernah diketahui, berapa sebenarnya kebutuhan negara ini akan ubi kayu. Setiap tahun, para petani ubi kayu hanya diarahkan untuk memenuhi target yang telah ditetapkan. Misalnya, untuk tahun ini, ditargetkan 20,6 juta ton. Tapi, sejauh ini baru berhasil diproduksi sebanyak 19,5 juta ton. “Jadi, ya memang harus terus ditingkatkan mengingat kebutuhan akan singkong itu sebenarnya sangat besar, baik untuk bahan pangan, industri farmasi, kimia, bahan bangunan, kertas, maupun yang sedang marak saat ini yaitu industri biofuel (baca: bio-etanol, red.). Bahkan, turunan-turunannya pun masih berguna, misalnya untuk pakan ternak, saus, dan sebagainya,” jelas Zonda.

Berkaitan dengan bio-etanol, energi alternatif pengganti bahan bakar minyak untuk kendaraan ini merupakan etanol atau bahan alkohol hasil proses fermentasi singkong. Studi terhadap bio-etanol di Indonesia sudah dilakukan sejak 1983, bertepatan dengan produksi singkong di Lampung yang ketika itu melimpah ruah. “Brasil menggunakan tebu sebagai bahan baku etanol, sedangkan Amerika Serikat memakai jagung. Indonesia masih menggunakan campuran antara singkong (8%), pepes tebu (1%), dan sorgum (1%). Tapi, nantinya hanya akan menggunakan singkong. Nah, kalau produksi singkong kita bisa mencapai 25 juta ton/ha dan harga per kilonya Rp350,-, tentu terjadi peningkatan pendapatan yang sangat besar bagi petani, meski sudah dikurangi biaya produksi. Di sisi lain, pihak industri akan dapat terus beroperasi karena bahan bakunya terpenuhi sepanjang musim,” ungkapnya. Sekadar informasi, Lampung sebagai sentra ketela pohon, tahun lalu menyumbang produksi ubi kayu sebanyak 5,5 juta ton dari luas panen 2,8 ribu ha.

Lalu, ubi kayu yang bagaimana yang bagus untuk bio-etanol? “Pada dasarnya, ubi kayu mempunyai banyak varietas, tapi baru 10 yang berhasil diteliti di Indonesia. Nantinya, akan dilepaskan lagi beberapa varietas sehubungan dengan industri bio-etanol. Berbeda dengan yang dikonsumsi manusia, singkong untuk bio-etanol harus memiliki kadar pati yang tinggi yaitu 25% sampai 45%. Dan, biasanya itu ubi kayu yang berasa pahit (melalui proses pencucian yang benar, ketela pohon ini pun dapat dimakan manusia, red.),” jelasnya. Sekadar informasi, menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi cq Balai Besar Teknologi Pati Lampung Maret 2006, dari 6,5 kg ubi kayu segar dapat dihasilkan 1 liter etanol berkadar 95%, dengan harga jual Rp3.500,-/liter. Bila diperhitungkan dengan ongkos tenaga kerja, transpor, dan sebagainya maka harga jualnya akan menjadi Rp4.350,-/liter.

“Singkong sebagai bahan baku utama bio-etanol, mungkin merupakan tanda kebangkitan ketiga itu telah datang, setelah kebangkitan pertama singkong diubah menjadi gaplek dalam kaitannya dengan sumber bahan pangan alternatif dan kebangkitan kedua atau ketika singkong diolah menjadi tapioka,” tegas Zonda. Nah, tidakkah Anda berminat pula membudidayakan lumbung pangan alternatif ini?

Analisa Usaha Tani Ubi Kayu
(per hektar)

A. Total biaya tenaga kerja                                                    Rp1.685.000,-           
B. Sarana produksi                                                                                                    

       Bibit (10.000 stek @ Rp30,-)                                                 Rp     300.000,-
       Pupuk kandang                                                                   Rp       ---
       Pupuk buatan                                                                      Rp     495.000,-
       Pestisida                                                                             Rp       ---
       Lain-lain pengeluaran                                                           Rp     540.000.-  +               
Total biaya (A + B) = Rp3.020.000,-                                       Rp1.335.000,-

C. Hasil penjualan (tingkat petani)
     (
25.000 kg @ Rp300,-)                                                          Rp7.500.000,-
Pendapatan bersih (hasil penjualan – total biaya) = Rp4.480.000,-           
R/C (hasil penjualan : total biaya) = 2,48

Catatan: Analisa usaha ini dilakukan tahun lalu, dengan demikian telah terjadi beberapa perubahan baik di biaya tenaga kerja, biaya sarana produksi, maupun hasil penjualan. Harga jual singkong untuk setiap propinsi juga berbeda-beda, misalnya di Lampung Rp350,-/kg sedangkan di Jawa Rp600,-/kg.

no image

Posted by On 03.30

Kreatif menciptakan replika gitar dari sejumlah gitaris legendaris, Kadir Ngamino sukses mengangkat Music Miniature. Wiyono

Gitar mini. Jangan berpikiran benda mungil bikinan Music Miniature, bengkel milik Kadir Ngamino, pengusaha dari Bantul - Jogyakarta ini bisa untuk bermusik ria. Sepintas bentuk dan detilnya sangat mirip dengan gitar beneran tetapi fungsinya memang sekadar barang pajangan. Menjadi sangat istimewa karena desainnya merupakan replika gitar-gitar koleksi para artis musik papan atas dunia. Penggemar fanatik boleh pilih, ada gitar ala Michael Wong, Paul McCartney, Axel Rose, Steve Vai, Yngwie Malmsten, Dean, George Harrison, Jimmy Hendrix, Erwin, Jhon Mayal, The Kiss, Eric Clapton, Van Halen, dan sebagainya.

Tidak salah, gitar atau instrumen musik dengan cara dipetik ini paling populer dibanding jenis lain. Dengan atau tanpa ditemani iringan alat musik lainnya gitar mampu mengiringi lirik lagu, dari irama syahdu mendayu atau pun irama rancak nan hangar-bingar. Maka tidak salah Kadir Ngamino sejak 1997 merasa pasti dengan melakoni usaha pembuatan gitar mini suatu ketika ia bakal memetik sukses. Keyakinannya didasarkan pada pemikiran bahwa setiap orang menyukai musik, dan dengan begitu juga akan menyukai alat musiknya. Terlebih jika itu menjadi milik seorang penyanyi atau bintang dari group band ternama yang melegenda. Apabila tidak dapat memiliki yang asli, sekadar replikanya pun jadi, begitulah kira-kira.

Kenyataannya bisnis dengan modal awal hanya sekitar Rp 1,5 juta rupiah itu sampai sekarang tidak pernah berhenti mendapatkan pesanan. Gitar Miniature terdapat 3 buah workshop terletak di tempat terpisah. Dua buah workshop dipakai untuk berproduksi, dan satu lagi dikhususkan untuk mempersiapkan bahan mentah. Dengan dibantu sekitar 40 orang pekerja, kapasitas produksi per bulan paling banyak 5000 pcs. Padahal menurut Kadir kalau seluruh pesanan diterima, sebulan rata-rata jumlahnya bisa mencapai 10.000 lebih. Sementara itu minimal pemesanan telah ditentukan paling tidak 1000 pcs. “Jadi kalau yang tidak kontinyu pesanannya harus antri,” ujarnya.

Di setiap tempat produksinya, Kadir membatasi 15-20 orang pekerja dengan tujuan agar lebih gampang menilai dan mengetahui karyawan yang bisa berkembang. “Promosi akan kami berikan dengan mempercayakan sebuah workshop untuk pengembangan dirinya dan meningkatkan penghasil dari karyawn tersebut,” ujar ayah dari Fata Akbar dan Aisyah Munif yang jauh-jauh hari telah memikirkan pengembangan usaha, semisal waralaba. “Usaha saya pernah ditawar beberapa buyer  Rp 1 miliar, terakhir bahkan hampir mencapai Rp 10 miliar, tetapi saya belum mau lepas karena setelah dihitung-hitung dalam jangka waktu 2 tahun mereka sudah bisa break event,” ungkapnya.

Sukses Kadir jelas bukan barang dadakan. Sebelum menggeluti usaha kerajinan gitar mini keturunan Dayak Cina ini pernah malang-melintang sebagai marketing dan marketing trainer komputer, suku
Gitar Minicadang mobil, oli sampai batu hias. Terakhir, pria kelahiran 28 Januari 1961 ini membuka sebuah stand busana muslim di Batam tetapi gagal sehingga habis modal. Dengan modal minim yang tersisa ia merantau ke Jogyakarta dan membuka usaha kerajinan hingga seperti sekarang ini.

Semula gitar mini hasil buatannya hanya dipasarkan di wilayah lokal, seperti candi Borobudur, Prambanan, Malioboro dan objek-objek wisata sekitar Yogya. Tetapi ia kecewa karena ternyata hasilnya kurang bagus. Dari penawaran jual seharga Rp 12.000,00 pembeli hanya berani Rp 7.500,00. Diakui, perajin gitar mini sejatinya bukan dirinya yang  pertama kali. Bedanya, apabila yang lain bersedia menjual murah, ia justru pantang banting harga. Untuk itu ia mulai mencoba masuk pasar ekspor melalui situs internet.
Respon awal yang didapat pun kurang memuaskan, oleh para broker asing produknya dipandang sebelah mata. Namun, ia tetap tidak putus asa dan memegang prinsip dasar manajemen pasar atau hukum permintaan, intinya yaitu jangan sekali-kali obral harga. “Saya berpikiran simple saja, para buyer itu punya uang dan cari untung. Kalau mereka tidak mendapatkan barang kami mereka nggak akan mendapatkan untung, jadi bukan kami butuh mereka, tapi mereka butuh kami,” tuturnya.

Kadir mengaku punya strategi agar para buyer selalu punya rasa ketergantungan yakni dengan membuat beberapa spesifikasi dan kekhasan produk. Oleh karena itu segmen market yang ia tuju khususnya segmen atas yang mengutamakan mutu. Bila dulunya miniatur alat musik ini hanya terdapat beberapa model, selanjutnya terus dikembangkan menjadi lebih dari 2500 jenis. “Tiap bulan kami berusaha mengembangkan sebanyak 30-50 jenis baru,” akunya.
Benar, perlahan tapi pasti usaha yang dijalankan bersama  Nur Farida Nugraheni, wanita asal Klaten yang dinikahi sejak 1997 itu pun terus berkembang. Pemesan berasal dari lebih dari 10 negara, tetapi disebutkan, konsentrasi pemasaran yang paling utama adalah USA karena di sana sebagai surga bagi pemusik dunia dan terdapat banyak sekali penggemar fanatik sehingga memiliki market amat besar. Harga jualnya beragam, tergantung dari tingkat kesulitan modelnya, berkisar dari USD 6,00–USD 12,00. Artinya omset yang diterima setiap bulan bisa mencapai USD 30.000,00-USD 60.000,00.

Meskipun hanya dipakai sebagai produk pajangan namun menurut Kadir kerajinan miniatur gitar membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Proses pembuatannya melewati lebih dari 40 tahap, di mulai dari bahan baku kayu mahoni sampai bentuk gitar sesuai dengan wujud asli yang ingin ditiru. Maka, dikatakan, setiap proses butuh sentuhan lembut pada benda keras. Sementara itu desain biasanya diperoleh dari internet atau kadang-kadang dari pembeli yang mengirimkan gambar.

“Dan disini dibutuhkan sebuah feeling business, karena kita harus jeli menentukan model gitar mana yang laku dipasaran dan kurang laku. Selain itu juga harus tahu, setiap negara bagian di USA berbeda-beda jenis musik yang disukai, misalnya Texas tentu acoustic guitar akan lebih laku karena musik country musik idaman mereka,” jelasnya. Sedangkan produk lain yang dia buat antara lain miniatur drum set, piano, dan lain-lain, termasuk gantungan kunci gitar dan ornament miniature guitar yang bisa digantungkan pada mobil atau pada pohon natal. Siapa sangka jika produk-produk cendera mata nan laris-manis di negeri manca ini berasal dari limbah kayu, tetapi telah dipoles begitu indah.

no image

Posted by On 03.38

Sepeda motor matik mulai naik populasinya. Suatu peluang bagi bengkel maupun produsen asesoris yang fokus di pasar matik. Wiyono

Populasi sepeda motor di tanah air telah sedemikian fantastis, menembus angka 30 juta lebih. Wajar di kota-kota besar terutama pada jam-jam kerja, sepeda motor selalu menyemut di sebagian ruas-ruas jalan atau menyelip di antara jajaran kendaraan roda empat. Tetapi hal yang acap menjadi pemicu problem lalu-lintas itu di lain pihak menjadi lahan bisnis menggiurkan untuk sebagian masyarakat. Tengoklah penangguk rejeki di sepanjang pinggiran jalan, mulai penyedia jasa tambal ban, penjual aksesoris kendaraan, hingga bengkel penyedia jasa servis lengkap, meliputi ganti oli, tune-up, variasi, dan sebagainya. Jumlahnya menjamur, namun semua pasti mengaku laris-manis.

Salah satunya yakni bengkel dan toko aksesoris sepeda motor RC Speed yang terletak di pertigaan Mabad, dekat kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.  Pemiliknya, K. Bayu Kertadi atau kerap disapa Teddy, sebelumnya adalah eksportir furniture antik yang sukses merambah pasar benua Amerika dan Eropa. Namun ketika harga bahan baku produk olahan kayu melambung, apalagi saat ini pasaran dirasakan mulai jenuh, Teddy mulai tertarik beralih menjadi distributor aksesoris sepeda motor.

Pada awalnya, bisnis ini tidak beda seperti bengkel servis dan aksesoris pada umumnya, termasuk menyediakan beraneka onderdil untuk semua jenis motor. Tetapi setelah belajar dari pengalaman pasar kelahiran Surabaya 1964 itu segera menyadari, untuk satu merek kendaraan saja ia sudah berbelanja banyak sekali sparepart. Belum lagi ketika harus bersaing dengan bengkel-bengkel lain yang sudah ada, sehingga ia mesti memutar otak mencari celah pasar yang berbeda.
Gayung pun bersambut saat pada akhir-akhir ini keluar kendaraan roda dua berjenis mesin otomatis. Begitu melihat peluang, Teddy seolah tidak mau ketinggalan start. Semua barang-barang di tokonya segera ditukarkan sehingga sekarang usahanya hanya khusus menyediakan aksesoris motor matik. Itu pun tidak semua item, tetapi hanya jenis yang sekiranya banyak diminati. Keyakinannya cukup besar karena ia belum menjumpai pemain serupa, sementara dari bocoran yang dia peroleh, secara bertahap importir sepeda motor bakal mengurangi pasokan kendaraan jenis bebek dan digantikan model scootic. “Pertama keluar, saya dengar onderdilnya masih sulit,” imbuhnya beralasan.

Langkah berikutnya agar berbeda dengan bengkel kebanyakan, lulusan Trisakti  jurusan Product Design tersebut tidak mau melayani servis rutin, seperti ganti oli dan sebagainya. Sebaliknya RC Speed hanya dikhususkan menyediakan penjualan pernak-pernik kostum, aksesoris, dan jasa tune up mesin untuk meningkatkan akselerasi dan kecepatan kendaraan, maupun memperbaiki performa, seperti mengatasi masalah suspensi pada kendaraan matik. Mengaku bermitra dengan Adi Sutisna, seorang ahli mesin otomotif dan pemilik workshop, berdua mereka merancang inovasi produk-produk bikinan sendiri. “Kita punya program tidak hanya membeli dan memasang barang yang sudah jadi di pasaran,” tandasnya pula.

RC SpeedDicontohkan, di satu sisi sepeda motor matik lebih praktis karena pengendara tidak perlu menginjak gigi setiap hendak mengganti kecepatan, namun model ini kerap dianggap lemot terutama pada waktu tarikan awal. Untuk  membuat tarikan enteng biasanya bengkel lain menyiasati dengan mengganti roller mesin dengan produk berbahan lebih ringan (produk racing impor asal Thailand) sehingga Teddy berpendapat itu malahan berakibat riskan. Produk yang bukan standard tidak akan awet sebab memang bukan diperuntukkan daily using. Di samping itu konsumen juga merugi sebab dengan penggantian spare part otomatis garansi kendaraan ikut hangus. Maka ia mengaku memiliki treatment khusus untuk membuat tarikan motor sesuai dengan keinginan kita tetapi tanpa perlu penggantian spare part.

Namun lebih jauh ia mengingatkan bahwa mesin sepeda motor matik tidak mengenal pengereman oleh mesin (engine brake). Ironisnya pada umumnya sistem pengaman pada jetmatic belum ada yang menggunakan rem cakram. Dengan kemampuan kecepatan yang cukup tinggi jelas bisa berakibat fatal. Memikirkan hal itu Teddy dan Adi sengaja merancang disk brake motor matik yang bisa ditempatkan  di bagaian roda belakang di sebelah kiri. “Disk brake produk Thailand dipasang pada sisi kanan roda belakang sehingga perlu mengganti tuas rem yang dijual dalam satu paket,” jelasnya. “Dan kepala babi juga ada di bawah, itu khan, riskan,” tambahnya.

Masih ada beberapa lagi jenis produk hasil rancangan mereka berdua, di antaranya yaitu booster lampu. Apabila rem cakram, karena mengingat ongkos produksi yang cukup tinggi jadi hanya dibuat berdasarkan permintaan, alat bantu penerangan bisa dibuat lebih banyak. Adi mengungkapkan, dengan dibantu 5 orang pegawai ia mampu mengahsilkan lebih dari 1000 biji. Merek yang dipakai untuk semua produk adalah RC Speed Inovations. Harga jual disk brake Rp 2,5 juta, sedangkan booster lampu terdiri dua model, Rp 225 ribu untuk 2 lampu, dan Rp 200 ribu untuk satu lampu. Dari hasil penjualan dan jasa dalam satu bulan RC Speed mampu mengumpulkan omset Rp 30 juta-Rp 35 juta.

Kendala utama yang masih menghadang, seperti diakui, tidak lain adalah ketersediaan dana yang terbatas. Sementara biaya pengembangan yang dibutuhkan tiap-tiap jenis produk bisa mencapai Rp 100 juta hingga Rp 500 juta lebih. Bahkan dikarenakan permodalan sampai saat ini permintaan produk dari luar kota sama sekali belum bisa mereka dipenuhi. Sejauh ini konsumen hanya dilayani dengan model pasang di tempat.
Oleh karenanya Teddy mengharapkan adanya mitra kerja sama lain untuk mendapatkan suntikan modal atau pun investor yang bersedia membeli hak paten dengan imbalan royalti. “Permodalan, kalau sendirian kita cukup kesulitan,” Adi ikut mengamini. Apabila itu terlaksana barangkali suatu saat kita dapat menyaksikan hasil-hasil inovasi lainnya, seperti jaket dan helm berpendingin komponen elektronik, atau trail matik dengan monoshock breaker ditaruh di tengah seperti yang telah mereka janjikan.