Syarief Hasan Lutfie - Larissa, Produk Alat Bantu Dr. Syarief

Syarief Hasan Lutfie - Larissa, Produk Alat Bantu Dr. Syarief

Minggu, 09 Juni 2019, 11.23
Syarief Hasan Lutfie - Larissa, Produk Alat Bantu Dr. Syarief
Profesi sebagai ahli terapi dan konsultan medik tak menyurutkan langkahnya untuk berbisnis. Justru dari sinilah nama dan bisnisnya berkibar. Produk hasil kreatifitasnya telah diterima masyarakat.

Rehabilitasi medik. Demikianlah profesi yang sekarang digeluti oleh Syarief Hasan Lutfie, dokter yang juga dosen di Faklutas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Profesi medis yang mengatur atau merehabilitasi anggota badan untuk kesehatan ini memang belum popular di Indonesia. Namun, untuk kota-kota besar dimana aktivitas bisnis atau dunia kerja yang makin dinamis, profesi ini sangat dibutuhkan. Bagaimana mengatasi rasa lelah saat bekerja, bagaimana mengatur posisi duduk para hakim yang betah berjam-jam ketika bersidang, atau bagaimana mengatur posisi tubuh karyawan yang tengah bekerja di bagian produksi, “semuanya ini butuh ahli rehabilitasi medik. Dan, saya diminta bantuan oleh mereka yang acapkali menderita sakit leher, punggung dan beberapa anggota tubuh yang  lainnya,” ujarnya.
Dari profesi dokter inilah, Syarief  menemukan lahan bisnis baru, yakni memproduksi alat-alat bantu, seperti korset, pelindung leher, pelindung lutut dan beberapa alat bantu lagi lainnya.

Kilas balik perjalanan bisnis Syarief, dimulai pada tahun 1997 lalu. Setamat mengambil jurusan rehabilitasi medik di Faklutas Kedokteran Universitas Indonesia, pria asli Betawi ini membuka praktek di Kawasan Cianjur, Jawa Barat. Pertama kali, memang tidak banyak pasien. Apalagi, rehabilitasi medik di kota kecil, tidaklah begitu dikenal.  Namun dengan kesabaran, lama kelamaan, jumlah pasien yang berkunjung ke ruang prakteknya meningkat. “Rata-rata sehari mencapai 15 orang,” katanya.
Dari sini, lalu timbul niat bisnisnya.  Semula memang agak ragu. Mengingat harga peralatan yang semuanya impor itu sangat mahal.  Lantas dengan sedikit ‘nekat’ dia mulai mendirikan klinik sendiri. Modalnya? Rp 90 juta, hasil menjual Corolla kesayangannya. Dia membuka klinik pertama kalinya di RS Bekasi. Modal itu seluruhnya dibelikan peralatan dari Jerman untuk penunjang prakteknya. Langkahnya ternyata tidak sia-sia. Lingkungan klinik yang penuh dengan kegiatan industri, ternyata menjadi ladang subur bagi usaha Syarief. Seiring dengan perjalanan praktek profesi kedokterannya, dia mulai membeli peralatan yang lain. “Keuntungan  dari praktek ini saya belikan peralatan lagi,” tuturnya.

Dr. Syarief Hasan LutfieSetahun kemudian, ayah tiga anak ini mendirikan klinik barunya di Jatimulya. Menyusul kemudian Klinik Amanda, Karya Medika, Lippo Cikarang, Tambak, Cibubur dan Kranggan. Total semuanya, klinik-klinik kecil itu berjumlah sembilan buah. “Saya mendirikan klinik-klinik ini lantaran adanya permintaan pasar,” imbuhnya.
Semua klinik-klinik itu dia dirikan bekerjasama dengan beberapa rumah sakit yang saling menguntungkan. 25% dari penghasilannya untuk rumah sakit, sedangkan 75% nya masuk ke kocek pribadinya.  Syarief  mematok tariff antara Rp 80 – 150 ribu.   

Selain itu, dia juga melayani konsultasi dari instansi-instansi yang membutuhkan. Banyak BUMN, perusahaan swasta, departemen-departemen, di antaranya Departemen Kehakiman, Mahkamah Konstitusi yang menggunakan jasanya. Saking banyaknya permintaan, Syarief pun melibatkan istrinya, khususnya untuk administrasi.  “Rata-rata pasien saya 800 orang per bulan,” tambahnya.

Tidak semua pasien hanya disembuhkan lewat terapi saja. Tapi juga menggunakan alat bantu.  Nah, disini naluri bisnisnya timbul. Ketimbang memakai produk luar yang harganya mahal, Syarief pun mulai mendesain alat Bantu sendiri.  Alat ini dibuat di workshop tak jauh dari rumahnya di Kawasan Pulogebang. Bersama 4 orang karyawannya—dua di antaranya adalah penjahit—dia mulai menjual produk alat bantu merek Larissa—akronim dari nama ketiga anaknya Larissa, Rasyid dan Sasha--tersebut ke pasien.  Brand ini tengah dipatenkan dan sebentar lagi akan dijual secara komersial.

Syarief menambahkan, sebenarnya banyak sekali item produk yang bisa dibuat. Sayangnya,  baru dua yang saat ini banyak dibutuhkan oleh pasien, yakni korset untuk punggung dan pelindung leher. Selain dipakai sendiri, alat bantu yang berharga antara Rp 250 – 300 ribu ini dijual lewat jaringan rumah sakit. “Kami baru memproduksi rata-rata 1000 pieces per bulannya. Kami akan menambah bila ada permintaan pasar,” ungkapnya. Rencananya, dalam waktu dekat Larissa akan dijual di rumah sakit di luar Jawa dan  Malaysia.

Intuisi bisnisnya terus berjalan. Sebagai ahli rehabiltasi medik, dia juga melayani konsultasi untuk pembangunan gymnasium terpadu. Tempat kebugaran yang lengkap mulai dari aerobik, peralatan, hingga terapinya tengah Syarief siapkan. Tempat itu, dia yakini berbeda dengan gymnasium pada umumnya. Konsep dan desain tempat tengah dia siapkan. Yang jelas, tambah dia, tempat itu diperuntukkan untuk kalangan menengah atas.
Selain itu, Syarief juga tengah meriset membuat alas kaki untuk para jemaah haji Indonesia. Menurutnya, para jemaah yang tengah menunaikan ibadah di Tanah Suci, kerap dihinggapi kelelahan. “Nah saya coba membuat desain sepatu atau alas kaki yang cocok dipakai saat menunaikan ibadah haji,” jelasnya.

Sebagai seorang dokter, Syarief bercita-cita memiliki rumah sakit sendiri. Dan, tampaknya, hal itu bakal kesampaian lantaran investor mau diajak kerjsama untuk pendirian rumah saki yang khusus untuk melayani pasien terapi rehabilitasi medik ini. Klinik-klinik kecil yang dia bangun lewat kerjasama dengan beberapa rumah sakit itu adalah pilot proyeknya. Lahan sekitar 2 hektare tengah dipersiapkan di daerah Bekasi, dengan total investasi sekitar Rp 60 miliar. “Insyaallah, dalam waktu dekat akan terwujud,” katanya optimistis.

TerPopuler