Grid Style

GRID_STYLE

Post/Page

Bisnis Terkini:

latest

Membangun Bisnis Berdasarkan Ikatan Kekeluargaan

Ketiga kakak beradik, Himawan Edi dan Susi mencoba membangun bisnis bersama  lewat hobi dan persaudaraan. Meski baru berusia muda, perusahaan yang dibangun tersebut melejit dan sukses menggaet customer.
Pernahkah  Anda mengenal …

Membangun Bisnis Berdasarkan Ikatan Kekeluargaan
Ketiga kakak beradik, Himawan Edi dan Susi mencoba membangun bisnis bersama  lewat hobi dan persaudaraan. Meski baru berusia muda, perusahaan yang dibangun tersebut melejit dan sukses menggaet customer.

Pernahkah  Anda mengenal perusahaan jasa angkutan darat AKAS? Saya yakin sebagian besar pembaca majalah ini mengenalnya. Perusahaan bis yang berpusat di Probolinggo, Jatim ini termasuk salah perusahaan otobis terbesar di Tanah Indonesia dengan jumlah armada ribuan bus yang melayani rute dari Jakarta hingga Denpasar. AKAS demikian populernya di Jatim, sehingga  telah menjadi ikon bisnis  kota pantai tersebut. AKAS didirikan oleh empat kakak beradik yang memiliki hobi sama yakni  berbisnis angkutan darat.  Lewat tangan-tangan trampil mereka, bisnis yang telah digeluti puluhan tahun ini tumbuh dan berkembang dengan besar.

Kita tidak membicarakan tentang AKAS.  Perusahaan itu adalah salah satu contoh keberhasilan bisnis yang dilakukan oleh kakak beradik. Selain AKAS, masih banyak contoh keberhasilan yang dibangun berdasarkan ikatan kekerabatan. Namun, banyak perusahaan yang dibangun oleh saudara atau kakak beradik, akhirnya kandas sebelum perusahaan itu berkembang besar.

Himawan, Susi dan Edi Surya Samudra, ketiga pebisnis muda yang mencoba membangun sebuah bisnis berdasarkan ikatan kekeluargaan.  Ketiga kakak beradik tersebut memiliki hobi yang sama yakni traveling. Dari hobi inilah kemudian ketiganya sepakat membuat bisnis agency dan ticketing. Dengan dibantu oleh salah satu adik iparnya, Novi Arie, mereka sepakat membeli TX Travel, salah satu waralaba  travel terkemuka di Tanah Air.

Sebelum terjun ke bisnis agency, baik Himawan, Susi dan Edi telah memiliki bisnis sendiri-sendiri. Susi, memiliki bisnis toko pakaian. Himawan, trading dan  Edi supplier.  Lalu, mereka sepakat membuat bisnis yang sesuai dengan hobi mereka.  Dengan modal patungan, masing-masing memiliki saham yang sama, mereka membeli waralaba TX Travel dan membuka gerai di Plaza Semanggi, Jakarta Selatan.

Edi, mengurusi masalah operasionalisasi perusahaan. Sedangkan Susi di bagian keuangan. Himawan dan Novi bagian marketing.  Novi, yang memiliki jaringan luas dilibatkan dalam bisnis ini. Sebelumnya, dia pernah bekerja sebagai tourist guide.  

TX Travel Plaza Semanggi,  belum berjalan dua tahun. Namun, ditangan ketiga bersaudara ini cukup pesat perkembangannya.  Customernya beragam, mulai  dari karyawan kantor dan professional, mahasiswa hingga ibu-ibu arisan. “Pernah ada sekelompok ibu-ibu yang memesan beberapa tiket untuk kapal pesiar,” kata Novie, yang mewakili ketiga kakak-beradik tersebut.

Sebagai tenaga marketing, baik Novie mapun Himawan tak jarang turun langsung melakukan pendekatan personal  (personal approach). Cara ini lebih efektif ketimbang menggunakan brosur promosi maupun pameran.  Himawan, misalnya, selain melakukan pendekatan  ke para professional, juga mengikuti beberapa kelompok studi yang banyak dilakukan oleh  kaun cendekia.  Sementara Novie, yang pernah bekerja di lingkungan Guruh Soekarnoputra, banyak memiliki jalur dengan para artis dan selebritis. Didukung dengan manajerial yang bagus, akhirnya perusahaan ini telah memiliki dua cabang penjualan—meski masih di Plaza Semanggi.

Ke depan, baik Himawan, Susi, Edi maupun Novie, tidak hanya berkutat pada bisnis agency saja. Bisnis yang lain akan diterjuni juga, dan untuk sementara juga tak jauh dari bisnis perjalanan wisata. “Kami memang baru berkonsentrasi disini. Namun, tak menutup kemungkinan akan terjun ke bisnis yang lain jika memungkinkan,” ujar Novie.

Novie, mengakui memang tidak mudah mengelola bisnis secara bersama-sama, kendati itu bersaudara.  Friksi kecil memang sering terjadi. Tapi tak berkembang kearah yang lebih besar. Segala sesuatunya bisa selesaikan dengan musyawarah. Dan, untungnya lagi, selain saudara, mereka masing-masing  memiliki kemampuan yang bisa memahami kekurangan masing-masing. “Kalau tidak kami sudah bubar dari dulu,” ungkapnya.