Ciamiknya Album Foto Natural!

Ciamiknya Album Foto Natural!

Minggu, 09 Juni 2019, 14.13
Ciamiknya Album Foto Natural!
Dengan kreatifitasnya Yuli Armadi  membuat foto album berbahan baku alami. Para turis manca negara pun kesengsem (jatuh cinta) dibuatnya. 

Mendengar kata album foto, mungkin orang tidak akan terkesan. Tapi, apa jadinya jika album foto itu disulap sehingga tampil menawan dengan berbagai disain sampul yang menggoda? Jawabnya : lihat saja album foto bikinan  Yuli Armadi yang begitu unik, sehingga menggelitik pelancong asal Dominika!
Seorang Yuli Armadi memang piawai dalam bekerja.  Tidak hanya pandai mengatur urusan rumah tangga, dalam berbisnis pun, wanita berparas menarik itu juga tergolong piawai.  Hasilnya, berbagai usaha yang meliputi kerajinan, garmen dan car accessories mulus melenggang nyaris tanpa hambatan berarti. Termasuk ketika menggeluti  bidang usaha pembuatan album foto.

Yuli mengisahkan, semua kegiatan yang dilakukan, tentu saja dengan bekerja sama dengan Yanes Armadi, suaminya. Tentang album foto, sebenarnya ia dan suaminya tidak merencanakan sejak awal untuk menekuninya. Namun karena ada tamu asing yang memesan, keduanya akhirnya bereksperimen sendiri sampai akhirnya terciptalah album foto yang sesuai dengan keinginan si pemesan.
“Sejak dulu kami khusus membuat berbagai macam kendang Afrika. Kemudian ada konsumen yang bertanya, bisa tidak bila memesan album foto. Akhirnya  kami terpacu belajar sendiri sampai akhirnya bisa. Berhubung kemudian order album mengalir lancar, kami mulai serius menanganinya sehingga membuat toko khusus album foto di Jalan Andong, Ubud. Belum satu bulan jalan sih,” urai Yuli mengawali cerita.
Dibukanya toko khusus album foto bernama Armadi Raya itu, ternyata berdampak positif terhadap omzet karena Ubud memang menjadi tempat berlalu-lalangnya turis asing setiap hari. Tanpa promosi berlebihan pun, sudah ada turis yang tertarik membeli jika kebetulan lewat untuk menikmati keindahan panorama Ubud.
Album Foto Natural
Selain menggunakan kertas, album foto itu dibuat dari bahan-bahan alam, seperti ranting kelapa, tikar, pelepah pisang, bagor (sejenis tikar) dan daun-daunan. Alhasil, tampilan album foto menjadi  natural dan unik. Apalagi sampulnya dimodifikasi dengan berbagai hiasan seperti kupu-kupu, cicak, kura-kura, bunga dan masih banyak lagi. Perpaduan antara sampul cantik dengan bahan alami ini yang menjadi ciri khas produk album foto made in Armadi Raya.  
Wanita berputri satu ini menambahkan, untuk membuat album foto, ia dibantu 15 orang karyawan. Sistem penggajiannya secara borongan. Jika  album foto berukuran S (18X22 cm) = Rp. 1.500, M (24X25 cm)  = Rp. 2000 – Rp. 2.500 dan L (31X38 cm) = Rp. 3.500. Dalam sehari, seorang karyawan bisa mengerjakan sampai 20 pieces. Kebanyakan karyawan bekerja di rumahnya yang terletak di Jl Pulau Ayu, Denpasar. Hanya tiga orang yang bertugas menjaga toko sekaligus sambil membuat album foto.

Ketika memulai usaha tahun 2005 silam, Yuli bermodalkan Rp 25 juta untuk pembelian bahan baku. Kebetulan ia sudah mempunyai  beberapa mesin pembuat barang kerajinan. Bahan baku yang dibutuhkan pun tergolong gampang diperoleh di kawasan Ubud. Akhirnya, bermula dari coba-coba,  terciptalah ide kreatif untuk membuat album foto yang tampil lain.
“Syukurlah, album foto ini bisa diterima tamu asing. Ini berarti karya kami bisa memenuhi selera turis. Khususnya turis Eropa lho, karena memang produk kerajinan yang serba alami ini lebih disukai mereka. Jika ada rombongan turis yang biasanya datang per grup, omzet bisa naik drastis. Kalau standar sih, rata-rata mendapatkan untung bersih 50 juta per bulan,” ungkap Yuli sumringah. 

Untuk order rutin, wanita asal Jawa namun lahir dan besar di Denpasar ini menjelaskan, ada seorang pelanggan dari Dominika yang rutin memesan dua kontainer per bulan. Satu kontainer berisi antara 350-400 boks (satu boks = 40 pieces). Kalau tamu lokal, seperti dari Jakarta, masih terhitung sedikit. Meski demikian, Yuli memaklumi karena memang yang  lebih suka produk back to nature adalah masyarakat luar negeri. Namun ia menolak jika dikatakan lebih mengutamakan orang asing ketimbang bangsa sendiri. 
“Sama sekali saya tidak setuju jika dibilang lebih mementingkan tamu asing. Bukan seperti itu. Cuman memang produk yang saya bikin ini lebih mengandalkan bahan alami sehingga daya serap pasar condongnya ke orang luar. Saya justru malah senang sekali jika orang kita juga bisa menerima album foto buatan saya,” tegas wanita yang berprinsip learning by doing dalam berbisnis ini.

Menyinggung soal kendala, hanya pada soal cuaca. Soalnya, setelah selesai dikerjakan, album foto harus dijemur sampai benar-benar kering. Paling tidak selama 24 jam agar tidak sampai timbul jamur saat pengepakan. Karena ketika masa pengiriman sampai ke tempat tujuan pemesan, bisa makan waktu sampai sebulan di kapal. Jika kondisi album tidak kering, otomatis akan rusak dengan timbulnya bintik-bintik jamur sehingga berakibat ditolaknya produk oleh konsumen.
Sebelum mengakhiri pembicaraan,  Yuli mengutarakan harapan agar di masa-masa mendatang situasi Bali akan aman sehingga turis tidak khawatir untuk datang. Seandainya saja   turis kembali berbondong-bondong ke Bali seperti dahulu, seperti saat Bali belum terkena bom yang meledak di Kuta dan Jimbaran beberapa tahun silam, tentu masyarakat kembali menikmati masa keemasan pariwisata. Khususnya, bagi pelaku bisnis pariwisata. Semoga saja harapan itu segera terwujud. (Tri Vivi Suryani)

TerPopuler