Peluang Usaha

Bisnis “Cinderella” Terus Menggurita

Ira Maya Sopha yang tersohor penyanyi cilik di era 70-80-an, kini memiliki sejumlah bisnis yang sangat eksis. Russanti Lubis

Pada sekitar tahun 1970an–1980an, Ira Maya Sopha dikenal sebagai penyanyi cilik, seangkatan dengan Chicha Koeswoyo dan Adi Bing Slamet. Selain itu, ia juga populer sebagai bintang film dengan film-film yang laris manis serta pemain operet yang pergelarannya selalu dibanjiri penonton. Kini, gadis kecil nan montok yang selalu ceria itu, telah menjelma menjadi ibu dari empat anak dan tak terlalu aktif lagi di dunia entertainment. Bukan cuma itu, kelahiran Jakarta, 39 tahun silam ini, juga telah membuktikan dirinya layak disebut sebagai pebisnis tangguh. Buktinya, bisnis di bidang public relations dan marketing consultant, corporate media, design dan printing, serta multimedia yang dibangunnya sekitar awal tahun 1990an, masih eksis sampai sekarang.

“Selain karena goodwill yang saya miliki dan latar belakang pendidikan saya di bidang business management dan public relations, saya terjun dalam dunia bisnis karena ingin memanfaatkan kesempatan yang ada, seperti usaha yang berhubungan dengan multimedia dan entertainment ini. Bisnis semacam ini hingga sekarang, bisa dikatakan, cukup baik peluangnya,” kata perempuan, yang baru-baru ini turut membintangi film Berbagi Suami. Sedangkan untuk pemilihan bisnisnya, penghobi bowling, main piano, dan melawak ini merasa sudah cukup “intim” dan enjoy dengan bidang usaha tersebut. “Lebih dari itu, tentu saja, mencari keuntungan semaksimal mungkin, dengan menerapkan ilmu ekonomi dalam pengelolaannya,” lanjutnya.

Agar bisnis-bisnisnya dapat terus bertahan dan bahkan berkembang, Ira yang berbisnis untuk pertama kalinya pada tahun 1988 ini, berpegang pada pengalaman yang telah dihimpunnya dan terus mempelajari kebutuhan pasar. “Kami mencoba untuk membumi dalam menjalankan bisnis-bisnis kami. Dalam arti, tidak hanya memasarkan produk yang ada, tapi ‘kemasan’ produk itu juga harus kami kenali dengan baik. Sehingga, pelayanan kepada klien pun dapat tercipta, sejalan dengan kebutuhan kedua belah pihak,” ujar wanita, yang bersama sahabatnya juga membentuk event organizer (EO) dalam lingkup kecil yang dinamai PT IMS Production. Selain itu, mereka juga mendirikan PT Cyber Global Centre Asia yang bergerak dalam bidang corporate marketing, multimedia, design dan printing, serta EO.

Untuk itu, peraih penghargaan Penyanyi Cilik Terbaik dan Terfavorit untuk album Cinderella ini, tanpa segan terjun langsung mulai dari membuat konsep/ide di awal produksi, pelaksanaan, hingga paska produksi suatu acara. Termasuk juga menjalin dan menjaga hubungan baik dengan klien dalam segala aspeknya, tanpa mengotak-kotakan status klien tersebut. “Dengan sistem ‘tailor made’ dan memberikan pelayanan yang maksimal kepada klien, kami mencoba memasuki persaingan pasar,” jelas produser Plasma Band ini.

Untuk promosinya, pelantun tembang Sepatu Kaca ini, melihat pada bidang usahanya. Dalam arti, sebelum berpromosi harus mempertimbangkan banyak hal, di antaranya faktor untung ruginya dalam mengeluarkan biaya promosi dan apa yang bisa didapatkan secara nyata dari usaha promo tersebut. “Bisa juga cukup dengan cara mouth to mouth,” ucapnya. Sedangkan untuk mengatasi persaingan, Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI dalam film Ira Maya si Anak Tiri ini, menggunakan strategi pemasaran yang baik dan terarah, meningkatan mutu pelayanan, menggunakan manajemen terbuka untuk mencapai win-win solution dan situation, serta mempelajari segala kelebihan dan kekurangan para pesaing. “Tanpa mengecilkan keberadaan mereka, kami yakin bisa tetap eksis dalam bidang usaha yang kami tekuni, selama faktor-faktor tadi bisa kami kombinasikan dengan baik untuk hasil optimal,” imbuhnya.

Laiknya pebisnis, Ira pun pernah gagal. Hal itu terjadi ketika salon kecantikan, bisnisnya yang pertama, cuma bertahan sekitar tiga tahun. “Awalnya, saya merasa down menghadapi kegagalan ini. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu dan makin banyaknya pengalaman, serta tempaan dalam berbisnis, saya dan tim saya dapat menerima kegagalan itu serta menjadikannya sebagai langkah yang lebih baik di masa depan,” katanya. Di samping itu, kini dalam menghadapi kendala bisnis yang menghadang, Ira yang pendanaan bisnisnya datang dari berbagai sumber ini, berusaha menelaahnya satu persatu. Selanjutnya, mencari solusinya, memilah-pilah mana yang urgent dan mana yang important, sehingga tidak terjadi mata rantai yang putus.

Kini, “Cinderella” ini tinggal ongkang-ongkang menuai jerih payahnya. “Selain materi, ‘pengakuan’ dari masyarakat merupakan perolehan yang paling berharga dalam hidup saya,” pungkas Ira, yang dalam waktu dekat ini dapat kita jumpai lagi kiprahnya di layar putih.

Tidak ada komentar