Peluang Usaha

Kaligrafi Kubah Masjid, Seni yang Detil dan Rumit

Hitungan, detil dan ketelitian ternyata sangat penting dalam seni kaligrafi. Inilah alasan NIC tetap mengandalkan teknologi manual untuk pengerjaan proyeknya. Fisamawati

Di dalam seni rupa Islam, ada istilah kaligrafi. Kaligrafi adalah seni menulis dengan indah dengan pena sebagai hiasan. Biasanya seni ini menyadur dari Al-Quran ataupun ayat-ayat suci lainnya. Jenis bentuk seni kaligrafi pun macam-macam ada yang hanya memberikan paduan hiasan saja, memberikan ornamen warna ataupun memberikan tingkat detail kerumitan tersendiri.
Terlepas dari itu semua, tak banyak yang menyadari kaidah-kaidah dari kaligrafi itu sendiri. Untuk membuat lafal ‘Alif’ saja diperlukan hitungan-hitungan, seperti dibaginya titik-titik untuk proses pembuatannya, belum lagi lafal ‘Shod’ yang harus memperhatikan tingkat kelengkungan dan sebagainya.

Namun, bagi Kurnia Agung Robiansyah dan kawan-kawan hal tersebut bukanlah hal yang sulit. Dengan faktor skill, prestasi serta pengalaman baik secara individu maupun team, mampu memberikan warna baru di seni kaligrafi yaitu membuat desain kaligrafi kubah masjid. Adanya kaligrafi yang mengelilingi diameter kubah masjid diharapkan bisa memberikan nuansa indah di dalam masjid tersebut. “Bermula adanya gagasan dari beberapa kaligrafer muda alumni Lembaga Kaligrafi Alquran (LEMKA) Jakarta, untuk membentuk sebuah badan usaha yang secara khusus bergerak di bidang jasa penulisan kaligrafi Islam,” kata pria yang akrab disapa Agung ini.

Berada di bawah bendera Noqtah Islamic Calligraphy yang berdiri tahun 1998, telah memiliki kiprah yang panjang dalam dunia seni kaligrafi Islam Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya karya-karya penulisan kaligrafi yang telah dihasilkan sebut saja Masjid Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Masjid Al-Mizan Kejaksaan Tinggi Gorontalo, Masjid As-Salam Sukabumi Jawa Barat, Masjid Al Ikhlas Polres Jakarta Pusat, Masjid Jami Sumber Sari Rembang Jawa Tengah dan masih banyak lainnya, ditambah dekorasi-dekorasi panggung MTQ, tulisan  naskah  buku-buku Islam, desain grafis, hiasan mushaf Al-Quran, handicraft, prasasti, dan dekorasi interior.
”Biasanya, untuk mengerjakan proyek tersebut dibuat proposal terlebih dahulu untuk kesepakatan antara kedua belah pihak. Sedangkan untuk perencanaan operasional terbagi lagi menjadi survei lokasi, pembuatan konsep desain, kemudian berlanjut pada pelaksanaan kerja,” terangnya yang sekaligus menjabat sebagai sekretaris Noqtah ini.

Untuk pembuatan konsep desain kaligrafi, Noqtah pun mengacu pada ketentuan-ketentuan tertentu. Pertama, landasan etis yang mengandung arti bahwa etika di dalam seni Islam berpedoman kepada Al-Quran dan Al-Hadist. Kedua, landasan filosofi yang mengandung arti bahwa falsafat seni rupa Islam melambangkan kedalaman makna Alquran yang menjadi landasan kehidupan dunia dan akhirat. Terakhir, landasan estetis, yang mengandung arti bahwa Islam selalu identik dengan keindahan sesuai dengan firman Allah SWT.
“Pengerjaannya sendiri sifatnya manual (hand made). Alasan pengerjaan menggunakan sistem manual bertujuan mengedepankan ketelitian dan kerapihan sehingga dapat menghasilkan karya yang berkualitas. Sedangkan untuk konsepnya sendiri sudah diolah menggunakan kecanggihan komputer, tetapi tetap ada perhitungan tersendiri sehingga saat dikerjakan di lapangan tidak terjadi kesalahan,” kata yang menerapkan hitungan skala perbandingan untuk mengaplikasikan konsep dengan kubah agar sesuai saat dikerjakan.

Team yang beranggotakan delapan orang yakni Saefuddin Aziz, Muksin Sudirja, Sholeh, Agus Priatna, Kismanto, Irfan Wahyudi, Saefuddin Aziz dan Agung sendiri, pun memudahkannya dalam mengembangkan bisnis yang berawal dari hobby tersebut. Dengan terbentuknya sebuah team memberikan nilai positif untuk perjalanan bisnisnya kedepan. Seperti yang diungkapkan Agung, untuk permulaan bisnisnya tidak terlalu mempersoalkan modal awal. “Karena sistem waktu itu, jika ada proyek biasanya ada uang muka. Dari uang muka tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan proyek, lalu sisanya dimasukkan ke ‘pos-pos’ yang sudah ada,” tambahnya.
Tetapi dengan jumlah anggota yang minim pun terkadang memiliki kendala dalam memenuhi permintaan klien. “Kadang ketika permintaan proyek sedang banyak-banyaknya bahkan terkadang bentrok, jadi harus diberlakukan waiting list. Bahkan, kami pun harus pecah team yang biasanya dibagi menjadi dua atau me-rekrut teman lain. Biasanya ini untuk proyek skala menengah ke bawah dan pribadi,” ungkapnya yang membidik segmen menengah keatas seperti perusahaan dan lembaga pemerintahan.

Agung yang diwawancarai di basecamp Noktah di kawasan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memaparkan, jika dilihat oleh kalangan awam, karya kaligrafi sepertinya sama saja antara yang satu dengan lainnya. Tetapi, bendera perusahaan Noqtah yang diartikan ‘titik’ ini mempunyai ciri khas tersendiri. “Dikalangan para kaligrafer, karya Noqtah bisa dibedakan dengan karya tangan lainnya. Umumnya, hasil karya Noqtah lebih kaya warna dan menyesuaikan dengan warna dasar dari masjid itu sendiri, jadi ada temanya. Selain itu, hasil karya kaligrafi antara proyek satu dengan proyek lainnya tidak sama, artinya ada nilai orisinil-nya,” promosi Agung yang juga memberi garansi dua tahun pada klien-nya.

Lalu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan kaligrafi kubah masjid? “Ambil gambaran proyek kubah Masjid Al Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kubah tersebut berdiameter 18 meter. Dari ukuran tersebut didesain sehingga kaligrafi yang harus dibuat sepanjang 100 meter. Dengan jumlah anggota team dibantu dengan beberapa teman yang juga seprofesi, proyek tersebut dapat terealisasi selama dua bulan,” katanya yang mematok harga Rp 300 ribu per meter tergantung tingkat kerumitan kaligrafi itu sendiri.

Banyaknya bermunculan masjid dan mushallah baik bersifat umum maupun pribadi, tak serta merta menjadikan bisnis kaligrafi berjalan mulus. Ia pun memberikan pendapat, kaligrafi sifatnya karya seni. “Dan lagi bukan barang konsumtif, jadi hanya kalangan tertentu saja yang memahami kaligrafi, meskipun dewasa ini sudah banyak digunakan untuk kalangan non muslim,” tegasnya.

Tidak ada komentar