Peluang Usaha

Miliarder: Orang Biasa Sekaligus Luar Biasa

Para miliarder tampak seperti orang pada umumnya. Tampak fisik mereka biasa saja, namun memiliki skill-trust-networking yang luarbiasa. Sukatna

Ketika saya berada di ruangan seorang pendiri sekaligus direktur utama perusahaan ekportir ikan laut di Gresik, Jawa Timur, ketukan pintu terdengar dari luar. Perempuan separuh baya masuk membawa baki, berisi dua piring nasi putih, dua mangkok sop wortel dan kol, dua potong ayam goreng dan dua buah kerupuk, untuk makan siang kami berdua. “Saya makan seperti apa yang dimakan oleh karyawan lain,” kata direktur utama dari sebuah perusahaan yang omsetnya triliunan rupiah itu.

Tak lama kemudian kami shalat Jumat di sebuah masjid tak jauh dari perusahaan tersebut. Sang direktur utama cukup berjalan kaki, dan kemudian duduk di shaf, membaur dengan ribuan karyawan perusahaannya. Ia sangat kelihatan biasa, baik dari pakaiannya, makanannya, dan perilaku lainnya. Ruangan kantornya pun tidak mewah, standar ruangan kantor staf karyawan biasa. Tak ada lukisan, kecuali beberapa sertifikat penghargaan atas prestasinya sebagai eksportir ikan laut nomor wahid di Indonesia. Tetapi ia sangat luar biasa, karena dialah pendiri sekaligus direktur utama dari sebuah perusahaan eksportir ikan laut yang menampung ribuan tenaga kerja serta  beromset triliunan rupiah.

Pada kesempatan yang lain, saya berkesempatan bertemu dengan seorang direktur maskapai penerbangan low cost carrier. Penampilannya sangat sederhana. Ruangan kantornya tak ubahnya ruangan karyawan lain. Bahkan keakrabannya dengan karyawan pun sangat luar biasa. Kalau sebelumnya saya tidak tahu bahwa pria tersebut direktur utama dari maskapai penerbangan, tentu saya mengira dia seorang karyawan biasa.

Miliarder memang orang biasa. Seringkali mereka berpenampilan sangat bersahaja, bermobil biasa, tinggal di perumahan biasa, dan bergaul dengan orang-orang biasa. Miliarder itu barangkali tetangga sebelah kita, namun kita tidak mengetahuinya lantaran “kehidupannya yang biasa.”
Kehidupan yang sangat biasa dari para miliarder ini pernah digambarkan dengan sangat bagusnya oleh Dr Stanley dalam buku The Millionaire Next Door. Para miliarder ini bisa jadi datang dari segala kalangan. Ada yang pebisnis, ada yang olahragawan, ada seniman, dan sebagainya.

Secara fisik penampilan para miliarder ini adalah biasa-biasa saja. Tetapi, biasanya, mereka memiliki kemampuan yang luarbiasa. Seorang komedian dan presenter yang tengah naik daun saat ini, misalnya, wajah, penampilan dan pengetahuannya sangat biasa, bahkan untuk beberapa kategori di bawah standar. Namun ia sukses mengusung acara lantaran kemampuannya menciptakan talkshow yang benar-benar rileks untuk tokoh-tokoh terkenal. Kemampuannya untuk menertawakan diri dan ditertawakan orang lain, merupakan salah satu bumbu sukses dari acara tersebut.
Selain memiliki kemampuan, seorang miliarder biasanya memiliki trust  yang luar biasa juga. Sebuah stasiun televisi mungkin mempunyai daftar komedian maupun presenter yang sangat  panjang, tetapi mengapa stasiun televisi ini menjatuhkan pilihannya kepada seseorang. Karena seseorang tersebut sangat layak dipercaya (trust).

Hal lain yang melekat pada diri seorang miliarder adalah networking. Biasanya, mereka memiliki jaringan yang cukup kuat dan besar. Perpaduan antara kemampuan, kepercayaan dan relasi inilah yang membuat seseorang bisa menjadi miliarder.
Hal ini dibenarkan oleh Direktur Utama PT Trend Valasindo Agus Widodo. Pengalaman pribadinya dalam membesarkan perusahaan money changer tersebut memang terkait dengan tiga hal di atas, perpaduan dari kemampuan-trust-networking.  Skill ia peroleh ketika bekerja di sebuah perusahaan money changer.  Dan trust bekerja saat ia mendirikan Trend Valasindo, karena tanpa kepercayaan mana mungkin seorang investor merelakan dananya dibenamkan di perusahaan itu. Sementara networking ia manfaatkan ketika memperluas konsumen maupun ketika mengembangkan cabang-cabang Trend Valasindo yang sampai bulan depan mencapai 8 cabang.

“Networking memperluas peluang-peluang yang mendukung bisnis kami, trust membuat peluang-peluang tersebut jatuh kepada kami, dan skill  memastikan bahwa peluang tersebut dapat kami tangani dengan baik,” ucapnya seraya mengatakan sudah ada perusahaan dan perorangan yang tertarik untuk membeli saham Trend Valasindo. Ini membuktikan bahwa trust yang dimiliki perusahaannya cukup besar.
Kepercayaan yang diberikan pihak lain, baik berupa proyek maupun dana untuk dikelola, tentu akan menjadi sebuah energi tambahan bagi seseorang untuk mewujudkan dirinya sebagai miliarder.

Sebab, ternyata untuk menjadi seorang miliarder, kita tak ubahnya seperti elektron yang terus bergerak dari orbit terendah menuju orbit yang lebih tinggi, seperti teorinya Niels Bohr. Karena ini hukum alam, secara teoritis rejeki kita juga bisa mengikuti hukum tersebut. Artinya ketika kita memiliki energi tambahan (gabungan skill-trust-nertworking) rejeki kita bisa meloncat ke orbit berikutnya, seperti yang terjadi pada elektron ketika mendapat energi tambahan sehingga bisa meloncat ke orbit yang lebih tinggi, atau orang sering menyebutnya sebagai kuantum.

Mengenai skill, pada miliarder biasanya memiliki skill dalam suatu bidang tertentu yang berada di atas rata-rata orang. Misalnya saja, David Beckham memiliki tendangan mematikan dari bola-bola mati atau memiliki tendangan yang terukur ketika memberikan umpan kepada kawannya. Pada masa jaya-jayanya Beckham di Manchester United, siapa pun bisa keluar masuk lapangan, tetapi Bechamlah yang akan menjadi algojo bola-bola mati sehingga posisinya sulit tergantikan.

Bisa jadi seorang miliarder bukanlah seorang lulusan perguruan tinggi, bahkan mungkin hanya lulusan sekolah dasar, namun ini tidak terkait dengan skill-nya. Cerita teman saya,” banyak pengusaha barang-barang bekas yang tidak lulus SD, tetapi penghasilannya miliaran. Jangankan mereka suruh menghitung keuntungan dari barang-barang yang kelihatan mata, disuruh menaksir harga  kapal yang tenggelam di dasar laut saja bisa. Skill ini mungkin tidak dimiliki oleh lulusan teknik perkapalan sekalipun.”

Hal-hal lain yang tampak menonjol dalam seorang miliarder adalah kemampuannya dalam menyeimbangkan beberapa kecerdasan. Misalnya antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasaran spiritual (dalam teori Howard Gardner terdapat 8 kecerdasan pada diri manusia). Itu sebabnya,  para miliarder memiliki sifat-sifat utama yang mencerminkan keseimbangan dari beberapa kecerdasan tadi misalnya pintar membaca peluang, komunikatif, rendah hati, jujur dan sekaligus dermawan. 
Siapa pun Anda, mempunyai kesempatan menjadi miliarder, asalkan kita memiliki syarat-syaratnya skill-trust-network. Para miliarder kebanyakan bermula dari orang-orang biasa, bahkan sampai sekarang pun masih seperti orang biasa. Hanya saja, biasanya mereka memiliki skill-trust-network yang luar biasa. 

Tidak ada komentar