Peluang Usaha

Asian Crabs Shells, Memburu Kelomang Menambang Uang

Di sejumlah negara kelomang yang sering bergonta ganti cangkang lebih populer ketimbang ikan. Suatu peluang mengeruk uang. Wiyono

Coenobita, tidak semua orang tahu nama apakah itu gerangan. Sebaliknya bila disebut kelomang segera semua mafhum akan sejenis binatang unik yang gemar bergonta-ganti cangkang itu. Masih banyak anggapan binatang pesisir ini hanya pantas menjadi mainan anak-anak, padahal asal tahu saja di luar negeri hewan ini sejak puluhan tahun lalu menjadi satu di antara banyak klangenan yakni sebagai penghuni akuarium dalam ruangan.

“Kelomang pertama kali ngetop di Amerika tahun 1953, barangkali karena pemeliharaannya lebih gampang. Kalau kita mau keluar rumah, ditinggal 5-6 hari tidak mati. Media yang dipakai pasir, berbeda dengan ikan, kita harus menguras air dan sebagainya. Kelebihan lainnya dia unik, bisa berubah-ubah warna,” jelas Hany Faroko. “Di Amerika kelomang lebih populer dari pada ikan, saya pernah buka search yahoo kata kuncinya hermit, sampai tiga hari belum habis dibaca,” tukas tokoh yang dikenal sebagai eksportir kelomang lukis itu menambahkan.

Ekspor kelomang lukis telah dilakukan Hany sejak 2003 dengan bendera usaha CV HNS maupun CV Asian Crabs Shells (ACS), rutin hingga beberapa kali seminggu dalam setiap bulannya, melayani pembeli dari USA, Perancis, Korea, dan Jepang. Jumlahnya lumayan besar, pengiriman ke Korea tiap bulan tidak kurang 30.000 ekor. Permintaan tersebut akhir-akhir ini bertambah semenjak ada kebijakan impor kumbang kelapa untuk binatang peliharaan ke Negeri Ginseng itu dinyatakan illegal. Lainnya, sekitar 20.000 ekor dikirim ke benua Amerika dan yang terbesar adalah ke Perancis. Setiap hari Selasa ia mengirimkan kurang lebih 10.000 ekor kelomang lukis dari workshopnya yang terletak di daerah Bekasi-Jawa Barat. Dengan harga USD 2,00-USD 5,00 maka bisa dihitung sendiri berapa omset perbulannya, mencapai USD 180.000,00-USD 450.000,00 USD. Itu pun masih ditambah item lainnya, seperti penjualan cangkang maupun kelomang asli.

Hany Faroko, lulusan sekolah perhotelan, mantan bos dealer mobil, namun ujung-ujungnya berlabuh menjadi pebisnis kelomang lukis. Tahun 1998 ia berbulan madu ke Negeri Paman Sam. Di sanalah kisah awal perkenalannya dengan bisnis binatang hias bernama kelomang yang dilukis berwarna-warni. Sebagai pemilik showroom mobil ia  tahu segala jenis cat, sehingga merasa yakin bisa mengerjakan pula.
Setibanya di tanah air ia segera berburu informasi mengenai seluk-beluk bisnis kelomang, mulai teknik pemeliharaan, eksplorasi habitat untuk memperoleh sumber pasokan, pengecatan, dan sebagainya. Sementara itu bisnis otomotif  tetap dijalani hingga berhenti total pada 2001. Sejak saat itu Hany mulai coba-coba menawarkan produk kepada pembeli di luar negeri.

Meskipun minim kompetitor, namun ayah dua putra ini menyebut, bagi pemain baru ternyata tidak begitu mudah memperoleh pembeli. Ia memberikan gambaran, di bisnis ini transaksi antar penjual dengan calon pembeli dilakukan tanpa bertemu muka secara langsung, lalu sistem pembayarannya dilakukan via bank secara tunai. Padahal dalam sekali order jumlah minimalnya 2000 ekor, berarti besarnya transaksi USD 4.000,00-USD 10.000,00. Pihak pembeli tentu saja tidak akan mau mentransfer uang sebanyak itu kepada orang yang masih dianggap asing, sementara sebagai penjual dirinya pun tidak berani rugi, mengirim barang  tetapi belum ada kepastian pembayaran. “Gap ini pula yang membuat bisnis saya agak lama jalan, startnya yang susah,” ujarnya.

Kenyataannya, pengalaman pahit seperti itu juga pernah sekali dia alami. Waktu itu ia masih baru taraf belajar, memenuhi begitu saja permintaan seorang pembeli kelomang dari Amerika dengan perjanjian konsinyasi. Begitu dikirim, sesampainya di sana dilaporkan semua hewan telah mati. Dia merasa ditipu mentah-mentah dan rugi hampir USD 5.000,00.

Perlu diketahui pula, jenis kelomang yang hidup didunia dikelompokkan menjadi enam macam, namun tidak semuanya memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Sebagai contoh, coenobita rugosus adalah jenis kelomang yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Kelomang jenis ini memiliki ciri tekstur garis-garis yang tersusun rapi secara vertikal di sisi depan capit besar kiri.  Warnanya bervariasi, putih, krem, pink, orange muda, coklat, biru muda, ungu, hitam, abu-abu sampai merah. Namun sayang, jenis dapat dikatakan tidak laku untuk dijual karena daya tahan tubuhnya lemah.

Sebaliknya coenobita perlatus yang dikenal dengan warna merahnya yang khas, dengan titik titik putih seperti buah strawberry adalah yang paling mahal. Sebaliknya, jenis yang terdapat banyak di Australia ini amat jarang ditemukan di Indonesia. Hany sendiri mesti memburu kelomang jenis ini hingga ke perairan Papua. Belakangan ia sempat memperoleh pasokan jenis strawberry tersebut dari sumatera tetapi tidak banyak. “Mungkin di pulau-pulau kecil sebenarnya masih ada, tetapi para nelayan merasa enggan untuk mengambil karena resikonya tidak sebanding,” ucapnya saat mengeluhkan pasokan yang acap kurang.

Kelomang LukisDi bengkel kerjanya, Hany dibantu karyawan tetap 10 orang, empat orang di antaranya telah dipercayakan sebagai tenaga ahli pemecah cangkang kelomang yang asli. Sedangkan sisanya mengerjakan pengecatan serta melukis cangkang-cangkang baru yang telah dipersiapkan. Setiap tiga bulan penggemar motor besar itu selalu menciptakan desain lukisan baru agar tidak gampang ditiru. Pada masa-masa awal usaha dia masih memakai model lukis biasa, berikutnya telah dikembangkan jenis lukisan timbul. Bahkan untuk model yang terbaru ia sekarang membuat desain yang bakal sulit dijiplak. Anda mungkin akan terkejut atau  tersenyum kecut melihat cangkang menyerupai topeng, monster lengkap dengan gigi taring, vampir, dan sebagainya. Cangkang-cangkang yang dilukis itu sendiri awalnya berasal dari rumah keong macan, keong mas, atau bekicot. Maklum, cangkang kelomang beneran tidak dipakai karena lebih tebal dan berat.

Sementara itu, dijelaskan, demi memenuhi standar keamanan dan kesehatan cat yang dipakai untuk pewarnaan dipilih dari bahan non toxic seperti biasa dipakai untuk mengecat produk-produk peralatan untuk bayi. “Harganya memang agak mahal, tetapi ini sudah resiko agar tahan lama,” kilahnya. Malah untuk memperoleh hasil maksimal finishingnya menggunakan bahan furnish berkadar glows 98%. “Sebagai perbandingan furnish mobil paling mahal Rp 70 ribu/liter, produk yang saya gunakan harganya Rp 325 ribu/liter. Maka hasilnya betul-betul mengkilap dan tahan gores,” imbuhnya sedikit berbangga, sebab dari sisi kualitas ia berani bersaing dengan eksportir kelomang terbesar di dunia yang sudah puluhan tahun, Sal’s Marine asal India.

Lebih lanjut, saking serius berorientasi pasar ekspor dan itu pun masih merasa kewalahan, Hany justru tidak sempat menggarap pasar lokal yang akhir-akhir ini juga mulai marak. Sebaliknya untuk mengejar target pengiriman ia mengadakan sub bersama dua orang saudaranya dan dua orang lainnya, masih di wilayah Jakarta. “Itu sebabnya biar pun saya tidak mengurusi pasar lokal tetapi 95% pasokan di sini berasal dari saya,” akunya.
Malah atas inisiatif Rolly Handoko, kakaknya, ACS saat ini membuka kesempatan waralaba bagi pengusaha lokal yang tertarik pada bisnis kelomang lukis tersebut. “Kakak saya sekarang merintis sistem franchise, ada paket mulai, Rp 5juta, Rp 10 juta, Rp 20 juta dan seterusnya. Kita sediakan lengkap, mulai dari binatangnya, akuarium, dan aksesorisnya,” lanjutnya dan diamini pula oleh Rolly.

Ditambahkan, asalkan ditekuni serius sejatinya pasar lokal punya prospek cukup bagus, penggemar kelomang lukis mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Sejauh ini Rolly sudah merambah wilayah Jakarta dan sekitarnya serta selalu hadir di setiap pameran flora dan fauna. Terlebih, di sini harga jual juga terbilang bagus. Kelomang lukis dengan desain baru, mulai dari yang terkecil dihargai Rp 30 ribu, Rp 50 ribu, dan Rp 75 ribu setiap ekor. Sedangkan yang memakai lukisan timbul harganya Rp 20 ribu-Rp 50 ribu/ekor. Jadi kelomang lukis, ternyata baik produk maupun bisnisnya, semua menggiurkan.

Tidak ada komentar