Peluang Usaha

Asah Kecerdasan Lewat Permainan

Mahalnya harga alat permainan edukatif yang rata-rata masih impor, mengilhami ASC untuk menciptakan produk dengan harga yang relatif murah. Wiyono

Bayangkan, suatu saat selagi buah hati kecil tengah asyik bermain-main. Mainan adalah sesuatu hal yang tidak terpisahkan dari diri anak. Namun orang tua yang bijak perlu memahami alat bermain bukan sekadar obyek untuk bersenang-senang, melainkan juga untuk melatih kecerdasan otak si kecil. Tidak harus mahal, sebab yang utama dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan otak si kecil menjadi optimal.  Untuk balita, mainan yang paling baik adalah yang dapat merangsang semua panca indera yang dimilikinya. Semakin banyak panca indera yang aktif, maka sel-sel otak anak akan lebih berkembang, baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitasnya.

Cukup banyak sarana bermain yang tergolong alat permainan edukatif tersedia di pasaran. Selain menyenangkan, model dan kemasannya pun menarik. Sayang harganya rata-rata terbilang lumayan, lebih-lebih kebanyakan memang merupakan produk impor. Salah satu produsen alat permainan pendidikan lokal yakni PT. Anugrah Selaras Cipta (ASC). Perusahaan yang berlokasi di daerah Cimanggis, Depok, Jawa Barat, ini mulai bergerak di bidang industri mainan pendidikan anak-anak sejak awal 2007.
Adalah Yana Herdiana dan Dwi Ratna Yulia yang mengaku mulai melirik usaha ini sejak November 2006. Mereka awalnya mengenal produk mainan semacam ini dari luar negeri Lalu keduanya memproduksi sendiri dengan sedikit perubahan untuk memperbaiki fungsinya sehingga memperkuat kesan yang timbul sebagai alat pendidikan.

Singkatnya, selama hampir setahun ASC telah mengembangkan produk yang dinamakan alat permainan pendidikan 3-D (Edu Toys Figure 3-D). Mainan ini dimaksudkan sebagai alat bantu stimulasi untuk membangkitkan daya kreatifitas anak balita yang mampu merangsang daya pikir anak, termasuk di antaranya meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dan memecahkan masalah.
“Saya melihat celah pasar yang bagus dari produk luar yang saya lirik tersebut. Dan berdasarkan research market juga ternyata produk mainan pendidikan belum terekspose, maka saya pikir ini merupakan celah pasar yang bagus asal ditambah dengan inovasi produk yang baik,” aku Yana yang sejak awal sudah menyukai seni dan tertarik dengan design grafis.

Saat ini produk yang sudah dikenalkan di tengah masyarakat yaitu Jungle Friend Series dan Fruity Family, terdiri dari karakter tokoh yang diambil dari para penghuni hutan.  Ada lima karakter utama di dalam produk Jungle Friend Series, yaitu Ryo, Macco (macan), Gimbo (gajah), Croco (buaya), dan Kero (kera). Tetapi di samping itu, menurut Yana, setiap tiga bulan akan dibuat seri-seri yang lain.

Mengenai desain produk yang dibuat selanjutnya, ditambahkan, akan dibikin didasarkan dengan melihat keinginan pasar. Bahan dasar yang paling banyak digunakan yaitu resin, di mana secara garis besar, desain yang semula berbentuk gambar dua dimensi dibentuk menjadi 3 D dengan cara dibuatkan moulding atau dicetak sehingga berbentuk patung atau boneka. “Produksi dilakukan secara kontinyu tetapi jumlah produksinya belum banyak karena pasar dan pendukung pemasaran belum tersedia karena terbentur modal,” ungkap bapak dua putera tersebut.

Nilai modal usaha yang diinvestasikan, diungkapkan, kurang lebih Rp 50 juta. Untuk menangani usahanya, Yana dibantu seorang orang desainer, ditambah karyawan di bagian produksi, termasuk capture design  dan orang-orang packing serta pemasaran, total berjumlah 8 orang. Kapasitas produksi dalam sebulan dapat selesai sebanyak 5000 pcs patung. Harga jual per set Rp 40 ribu untuk produk Jungle Friend Series, dan Rp 35 ribu untuk Fruity Family. “Satu set terdiri dari 3 patung dan satu set cat warna,” jelasnya.
Adanya perlengkapan cat air tersebut menjadi menarik, pasalnya selain bentuk mainannya itu sendiri, anak-anak sekaligus belajar tentang warna dan teknik pewarnaan. Jadi di samping bermain, secara tidak langsung mereka mengembangkan kemampuan dasar seperti mengenal rupa, warna, melatih motorik halus, ketekunan dan ketelitian, mengembangkan kemampuan berbahasa, serta merangsang kreatifitas yang sangat berguna sampai pada usia dewasa.
“Banyak kasus, dimana anak-anak yang sering bermain fisik dan terlalu sering menonton teve, di usia sekolahnya kurang bisa berkonsentrasi, kurang telaten, tidak tekun, dan mudah menyerah, karena mereka tidak terbiasa untuk duduk tenang dan tekun,” tukas bapak dua orang anak yang saat ini masih berstatus karyawan sebuah perusahaan minuman dan juga melayani jasa konsultan ini.

Lebih lanjut soal pemasaran produk, hingga sekarang baru meliputi area di Jakarta dan sekitarnya. Strategi awal ditempuh melalui upaya edukasi kepada masyarakat terlebih dahulu, terutama dengan cara sering mengikuti pameran di sekolah-sekolah. Sedangkan konsumen yang dibidik, sesuai dengan tingkat daya belinya yaitu segmentasi pasar menengah dan atas.
Apabila dilihat dari manfaat alat permainan pendidikan tersebut, Yana optimis produknya bakal memiliki prospek bagus namun dibutuhkan pengelolaan pemasaran yang baik. Langkah paling efektif menurutnya melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan sehingga perlu pendekatan yang baik dengan sekolah-sekolah.

Sementara itu, mengingat adanya kendala permodalan dan operasional, Yana mengatakan, membuka kerja sama dengan perusahaan lain, misalnya yang ingin membuat icon perusahaan bersama dengan produk permainan pendidikan 3-D tersebut sebagai media promosi. Demikian pula kerja sama dalam hal pemasaran dan juga permodalan. “Untuk bentuk kerja samanya dapat dibicarakan kemudian,” tandasnya.

Tidak ada komentar