Grid Style

GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

Bisnis Terkini:

latest

The Power of Kepepet

Manusia diberi anugerah akal budi untuk bisa memerankan beberapa fungsi di berbagai kesempatan yang berbeda secara sama baiknya. Tak heran, Nuryana Saepudin bisa menjadi pendidik sekaligus pebisnis yang sukses. Russanti Lubis

Seo…

Manusia diberi anugerah akal budi untuk bisa memerankan beberapa fungsi di berbagai kesempatan yang berbeda secara sama baiknya. Tak heran, Nuryana Saepudin bisa menjadi pendidik sekaligus pebisnis yang sukses. Russanti Lubis

Seorang akademisi selalu berpikir bahwa peluang itu diciptakan. Dan, peluang itu seringkali hanya muncul satu kali. Siapa pun yang dapat menangkap peluang itu, maka dialah yang akan berhasil. Nuryana Saepudin, Kepala Sekolah Menengah Atas Terpadu (SMAT) Krida Nusantara, Bandung, menciptakan dan menangkap peluang itu, ketika sedang kepepet. Saking banyaknya situasi kepepet yang menghampiri, Sarjana Pendidikan Fisika, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Bandung, ini terdorong untuk menjadikannya sebagai suatu kesuksesan.

“Awalnya, saya gagal mendapatkan apa yang menjadi hak saya yaitu gaji rapelan sebesar Rp750 ribu (sekarang sekitar Rp7 juta, red.). Kepepet oleh kondisi ini, saya tertantang untuk kreatif. Hasilnya, bila guru-guru lain mendapat gaji Rp350 ribu/bulan, saya memperoleh pemasukan Rp3,5 juta dalam jangka waktu enam bulan (di luar gaji), yang saya kumpulkan dari berjualan topi, badge OSIS, dan kaus olahraga di luar jadual mengajar saya. Hal ini, menempatkan saya dan keluarga dalam posisi hidup layak sebagai guru,” kata pria yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) sejak Agustus 1981 ini.

Dua tahun setelah menempati posnya yang baru, Master di bidang Ilmu Pemerintahan, Universitas Langlangbuana, Bandung, ini terpilih sebagai wakil kepala sekolah. “Biasanya, untuk bisa menduduki jabatan ini harus sudah memiliki masa kerja hingga 15 tahun. Karena itu, guru-guru lain mengajukan resolusi dan saya diturunkan dari jabatan saya. Kepepet lagi dengan kondisi ini, saya memutuskan untuk menjadi pebisnis tanpa mengganggu jadual mengajar saya. Awal 2003, bersama istri, saya mendirikan CV Gema Nuansa Tours & Travel,” tutur Direktur CV Gema Nuansa ini.

Bisnis ini dipilih, karena ia merasa memiliki pengalaman di bidang tour & travel. “Berdasarakan pengalaman itulah saya mampu merancang Tour of Operation (TO).

Jadi, nggak ribet lagi,” kata mantan tour leader ini. Adanya ketentuan di SMAT Krida Nusantara yang secara tidak langsung melarang para gurunya berbisnis, membuatnya menyerahkan operasional CV Gema Nuansa ke mitranya. “Sekarang saya pure PNS, tetapi akan menjadi mediator bila ada yang akan melakukan perjalanan wisata atau ibadah. Jadi, mitra saya bertugas mencari klien, sedangkan saya yang merancang TO-nya,” tambah motivator pada sebuah lembaga kajian ini.

Dari sini, Nuryana yang juga da’i  ini menyimpulkan bahwa menjalankan bisnis tidak harus moving, cukup dengan menggunakan handphone, telepon, atau fax. “Kita cukup memberdayakan pikiran kita, lalu biarkan orang lain yang menjalankannya, meski hasilnya tidak sebesar bila kita terjun langsung. Tapi, yang penting adalah bagaimana caranya membangun sistem,” jelasnya. Selain itu juga harus komit. “Komit sebagai guru ketika sedang mengajar dan komit sebagai pebisnis saat sedang menjalankan perusahaan. Kita tidak bisa hanya total pada satu bidang, karena akan membuat hidup kita kaku,” ujarnya. Selanjutnya, harus menjaga totalitas mutu, sehingga orang tidak akan mudah melupakan kita. “Kalau setiap tahun kita harus mencari pelanggan itu sulit, tapi menjadi mudah bila kita terus menjaga hubungan dengan pelanggan,” imbuhnya. Di akhir obrolan, Nuryana berpesan bahwa bisnis itu sesuatu yang unik dan indah untuk dimainkan. Jadi, yuk bermain (baca: berbisnis, red.)!

Tidak ada komentar