Peluang Usaha

Bisnis Peti Jenazah, Melayani Anda di Saat Duka

Ketika mendengar kata peti jenazah, tentulah terpikir akan kematian. Lantas, adakah yang berani menekuni bisnis tersebut? * Fisamawati

Kematian adalah suatu keniscayaan meski tak diketahui kedatangannya. Tanpa mengurangi rasa simpati kepada pihak yang berduka, segala hal yang bersangkutan dengan kematian bisa mendatangkan peluang bisnis. Adalah CV Purnasarana yang terjun menekuni bisnis pembuatan peti jenazah. Bermula dari kejelian H. E. Djunaedi yang saat itu bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Pemakaman. Posisi ini  memudahkannya ‘bergerilya’ untuk memasok peti jenazah. “Di bagian pelayanan pemakaman ada ketentuan, jika mayat ingin diantar keluar kota maka harus menggunakan peti jenazah dan disegel,” ungkap Djunaedi.

“Saat itu angka kematian di DKI Jakarta berjumlah antara 100 jiwa per hari. Katakanlah 50 persen dari jumlah tersebut adalah non muslim. Umumnya, non muslim dalam proses pemakaman menggunakan peti jenazah. Jika dikalkulasikan penyediaan peti jenazah adalah 2 per harinya. Dan waktu itu, pemda DKI menyerahkan pengadaan peti kepada masyarakat. Namun, dari masyarakat tidak ada yang mengelola secara serius maka peluang ini saya limpahkan ke istri saya,” tutur Djunaedi.
Dengan keterbatasan mencari order di luar pekerjaannya sebagai PNS, usaha yang dimulai pada 1982, awalnya hanya menyediakan dua peti jenazah. “Saya menyediakan dalam jumlah sedikit. Tapi lama-lama habis juga. Akhirnya secara bertahap jumlah tersebut meningkat,” timpa Hj. Lies Suryanah-isteri H. E. Djunaedi. Karena prospeknya terus membaik maka pada 1987 usaha keluarga ini diresmikan sebagai badan usaha berbentuk CV.
“Melihat prospek yang cerah serta didukung faktor pemain yang masih sedikit kami memutuskan untuk melengkapi persyaratan yang harus dipenuhi layaknya perusahaan. Alhamdulillah, dari usaha ini bisa membiayai pendidikan anak-anak hingga berhasil bahkan sampai saya dan suami naik haji,” lanjut Lies yang memiliki enam anak ini.

Bermodal niat untuk memberikan kemudahan pemakaman bagi keluarga yang sedang berduka dan tak semata-mata mencari untung, CV Purnasarana menyediakan peti jenazah ke beberapa kategori. “Untuk kelas tiga seharga Rp. 300.000,-, kelas dua seharga Rp. 2.500.000,- dan kelas lux seharga Rp. 5.000.000,-. Biasanya, peti jenazah yang biasa dipesan adalah kelas tiga karena ini merupakan harga standar bagi masyarakat menengah kebawah,” tambah Tedhi Achdiana-putra ketiga sekaligus penerus bisnis kedua orang tuanya.
Perbedaan tingkat harga peti jenazah antara kategori kelas satu, dua dan lux dilihat dari jenis papan yang digunakan serta ukiran-ukiran yang terdapat pada peti jenazah. “Peti jenazah kelas tiga menggunakan papan dari pohon meranti atau duren. Sedangkan kelas lux menggunakan papan dari kayu jati dan diukir,” terang Tedhi.
Djunaedi pun mengambarkan harga pasaran papan ukuran panjang 2 meter dan lebar 25 centimeter rata-rata seharga Rp. 15.000,-. Sedangkan untuk membuat peti jenazah standar berukuran 2 meter dan lebar 60 centimeter dibutuhkan 11 papan. Jadi dengan patokan harga tersebut dirasakan seimbang dengan modal ditambah biaya pekerja dan ongkos transportasi.

Ia pun menambahkan, bahan baku peti jenazah dipasok dari Sukabumi dan Jepara. Untuk meminimkan biaya pembelian papan maka sistem yang dilakukan adalah membeli pohon kemudian memperkirakan ukuran dan diameter yang dibutuhkan untuk pembuatan peti jenazah. Dengan adanya showroom di Sukabumi dan Jepara, Djunaedi beserta keluarga tak pernah takut kehabisan stok peti jenazah. Bahkan, siap melayani dalam kurun waktu 24 jam setiap harinya.
“Setiap harinya mampu memproduksi enam peti jenazah yang dikerjakan oleh tiga orang pekerja. Dalam sebulan kami mempunyai stok 100 peti jenazah,” terang Djunaedi yang kini berusia 59 tahun. Pengadaan stok ini dimaksudkan untuk mengantisipasi membludaknya pemesanan peti jenazah akibat peristiwa tak terduga, seperti bencana alam ataupun musibah massal. 
“Kadang ada kejadian kecelakaan yang mengakibatkan banyak korban yang meninggal maka pihak terkait langsung menghubungi kami,” Tedhi mencontohkan tenggelamnya Kapal Levina I beberapa waktu lalu.

Untuk pemasarannya sendiri, semula hanya dari mulut ke mulut dan sekarang memanfaatkan layanan internet. “Inilah sulitnya memasarkan bisnis peti mati. Bila secara kasat mata, sama halnya mengharapkan orang meninggal hingga peti jenazah laku dan mendongkrak bisnis. Tapi sebenarnya tidak seperti itu, kami ingin membantu dalam memenuhi kebutuhan pemakaman. Bahkan, jika ada keluarga yang butuh tapi tidak mampu membeli, maka kami bisa menyesuaikan harganya. Tak semata-mata keuntungan tapi juga perlu ditanamkan nilai sosial ke sesama,” ungkap Lies.

Ketidakmudahan dalam pemasaran peti jenazah di kalangan masyarakat tak menyurutkan CV Purnasarana untuk berekspansi. Dengan mengusahakan memasok peti jenazah ke beberapa rumah sakit, yayasan, masjid dan gereja nilai penjualan bisa meningkat. Meski peti jenazah tidak dapat dipajang seperti produk lain yang bertujuan untuk menarik minat pembeli tapi bisnis ini sudah menguasai pasar di wilayah Jakarta Timur dan Bekasi. “Peti jenazah sudah sampai ke Subang, Sukabumi, Kuningan dan beberapa daerah. Biasanya keluarga duka menginginkan jenazah dimakamkan di tempat kelahiran,” lanjutnya.

Kini, bisnis yang beralamat di Lembah Aren III Blok K 12 No. 20, Pondok Kelapa ini mampu menjual 30 sampai 40 peti jenazah per harinya. Tak hanya itu, CV Purnasarana juga menyediakan perlengkapan kematian untuk kaum muslim/muslimah seperti kain kafan 15 meter, tikar, kapas 500 gr, gayung, air mawar, rempah-rempah berupa sabun mandi, kapur barus, cendana, cuttonbuds, bedak, minyak wangi, setanggi, benang, jarum dan sisir. Untuk satu paket perlengkapan tersebut dijual seharga Rp. 250.000,-. “Saya berniat memasarkan paket ini ke beberapa supermarket dengan mengubah sedikit tampilan luarnya agar tidak terlalu seram,” kata Tedhi ketika ditanya langkah pemasaran selanjutnya.

Diakhir pembicaraan, Lies pun membagi cerita menariknya selama menjalankan peti jenazah, “Waktu itu, salah satu keluarga ada yang bingung menentukan ukuran peti jenazah bagi mayat tersebut. Karena takut salah maka mayat itu langsung dibawa untuk diukur,” kenang Lies. Iiih serem?    

Analisis Bisnis Peti Jenazah selama 1 bulan 
Produksi 1 peti jenazah membutuhkan 11 papan
Harga 1 papan ukuran 2 meter x 25 centimeter = Rp.15.000,-Maka 11 papan x Rp. 15.000,- = Rp. 165.000,-Produksi peti jenazah adalah 6 peti/hari x 30 hari = 180 peti
A.      Biaya produksi           180 peti x Rp. 165.000,-                                   Rp. 29.700.000,-       
      Biaya pekerja            3 orang x @ Rp. 500.000,-                                Rp.   1.500.000,-
     
     
Total modal                                                                                      Rp. 31.200.000,-

B.      Harga jual 1 peti jenazah kelas III adalah Rp. 300.000,-     
     
Jumlah penjualan      40 peti per bulan
     
     
Total penghasilan  40 peti x Rp. 300.000,-                                           Rp. 12.000.000,-

Jangka waktu balik modal (A : B)Rp. 31.200.000,- : Rp. 12.000.000,- = 2,6 ( 3 bulan)
Ket : Biaya operasional tambahan produksi tidak dihitung.    

Tidak ada komentar