Peluang Usaha

Bayar Uang Sekolah Dengan Jualan Voucher Elektrik

Meski dari keluarga berkecukupan trio Bani, Amelia dan Dini yang baru berusia belasan tahun ini rela berjualan voucher untuk membayar uang sekolah mereka. Fisamawati

Maraknya penggunaan telepon seluler atau ponsel di kalangan masyarakat memberi dampak meningkatnya kebutuhan voucher pulsa setiap harinya. Tak heran jika counter dan penjual voucher pulsa pun menjamur di mana-mana. Alasannya sederhana, selain mudah, usaha ini bersifat fleksibel dan bisa dilakukan kapan saja.
Peluang inilah yang dibaca Bani Sya’ban Nur Kholiq, Amelia Fajarwati dan Dini Paramastuti untuk menjual dan memasarkan voucher elektrik di lingkungan kerabat dan saudaranya. Meski lahir di tengah-tengah keluarga berkecukupan, tak membuat ketiga remaja ini terus meminta uang saku dari kedua orang tua.
Semula mereka pun sempat ragu menjalani usaha tersebut, mengingat faktor usia yang masih hitungan belasan ditambah minimnya pengetahuan bisnis. Namun, dengan berbekal seminar dan pelatihan yang didapat dari salah satu lembaga pendidikan entrepreneur di Jatinangor keyakinan itu pun muncul.
“Tiga bulan lalu, salah satu anggota Klub Pengusaha Remaja menawarkan usaha bisnis voucher kepada saya. Tawaran itu pun saya diskusikan ke orang tua dan disetujui. Kemudian, saya mengajak Amel dan Dini untuk ikut memasarkan penjualan voucher tersebut,” kata Bani yang berusia 17 tahun.

Lantas apa yang memotivasi mereka untuk menggeluti usaha?. Sekadar informasi, ketiga  ayah mereka tidak berlatar belakang pebisnis, seperti ayah Amelia dan Dini yang merupakan dosen perguruan tinggi di Bandung. “Keinginan awal adalah untuk menambah uang saku, tetapi dengan keinginan kuat akhirnya bisa membiayai iuran sekolah sendiri,” aku Bani yang diamini Amel dan Dini.

Menjalankan usaha di usia dini pastilah mengalami kendala-kendala, sama seperti halnya Bani dkk. Umumnya, faktor kendala yang dihadapi adalah sistem jaringan pembeli. Selain itu, menjalankan usaha bertiga memiliki risiko tinggi terjadinya kesalahpahaman. “Biasanya beda pendapat karena ketidakcocokan dalam pemasaran. Ada yang ingin begini tapi ada juga yang ingin begitu,” celetuk Dini kelahiran 6 Desember 1991.
Pada akhirnya, pemasaran yang diterapkan ketiga sahabat ini adalah menggunakan sistem berantai yang dimotori Bani kemudian ke Amel dan Dini. Bani mengatakan, modal awal yang digunakan berasal dari uang tabungan sendiri dan dibantu kedua orang tuanya dengan nominal Rp. 60.000,-. “Semula Rp. 10.000,- digunakan untuk registrasi, berhubung orangnya baik jadi hanya Rp. 50.000,- saja,” tambah pelajar kelas XI IPA 2 SMUN 1 Cileunyi, Bandung.
Ditegaskan Amel, meski hanya mengambil keuntungan Rp. 1000,- namun dirinya mengaku senang menjalankan usaha penjualan voucher tersebut. “Ketika ada saudara sendiri yang pesan, terkadang dikasih uang lebih,” aku perempuan kelahiran 29 Februari 1992 ini. Begitu juga dengan Bani dan Dini, kekompokkan mereka dalam usaha tersebut mampu meraih omset hingga Rp. 100.000,- per tiga hari.

Bani menambahkan, menggeluti usaha di usia remaja pun memiliki kelebihan lain. Selain bisa menerapkan teori ekonomi secara praktis di lapangan, juga memberikan pengaruh positif untuk mata pelajaran sekolah. “Misalnya pelajaran sejarah, jadi ketika ada presentasi enggak malu lagi,” terang Bani yang merasakan manfaat dari berbisnis tersebut.

Kini ketiga remaja itu pun menambah jam terbangnya, ditemui disela aktifitas sekolahnya, Bani mengaku, sedang membantu pamannya menjual keripik pisang pada hari Minggu saja. Sedangkan Amel dan Dini menjual kue-kue nugget yang dititipkan di koperasi Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Sumedang.

Tidak ada komentar