Peluang Usaha

SMAT Krida Nusantara, Kokoh dengan Tiga Pilar

Sekolah boarding berstandar internasional di Bandung ini memadukan tiga pilar utama, akademis, agama dan life skill. Dalam pilar life skill inilah nilai-nilai entrepreneurship dimasukkan di dalamnya
Sukatna

Letak sekolah boarding ini di bilangan Cibiru, suatu daerah yang relatif jauh dari kota Bandung. Tetapi letak yang “terpencil” tak menghalanginya untuk dikenal di seluruh Nusantara. Maklum, sekolah ini memiliki standar internasional. 
Mengusung konsep SMA Terpadu (SMAT), Krida Nusantara memiliki tiga pilar pengajaran, sebagaimana diungkapkan Kepala Sekolah Drs H Nuryana. “Tiga pilar ini terjemahan dari visi yang disampaikan oleh Ibu Try Sutrisno yang disampaikan ke yayasan dan kemudian disampaikan kepada kami,” ujar Nuryana, yang telah lama menggeluti bisnis travel jauh sebelum memangku jabatan sebagai kepala sekolah di SMA elit tersebut.

Tiga pilar tersebut, imbuh Nuryana, meliputi pendidikan akademis, pendidikan agama dan pendidikan life skill dengan komposisi 50:30:20. Lantaran sang kepala sekolah selain memiliki background  pendidik, juga seorang pengusaha maka tak heran kalau ia juga menanamkan nilai-nilai entrepreneurship kepada anak didiknya untuk memberi nilai plus terhadap pilar life skill. “Kalau nilai-nilai entrepreneurship diartikan sebagai sebuah ajaran tentang kemandirian, kami sudah men-setting dari awal,” tuturnya.
Misalnya pada event  Gebyar, siswa kelas II SMAT Krida Nusantara mengundang siswa SMP untuk mengikuti kegiatan kompetisi yang mereka selenggarakan seperti kompetisi Bahasa Inggris, olahraga atau cerdas cermat.  “Selain mereka belajar menyelanggarakan suatu event di antara mereka ada yang berjualan,” sebut Nuryana, mengenai implementasi dari nilai-nilai entrepreneurship. “Tetapi semua kegiatan tersebut hanya dibatasi di lingkungan Krida Nusantara, tidak boleh keluar.”

Nuryana mengakui adanya rasa khawatir implementasi nilai-nilai entrepreneurship kebablasan, karena tugas anak-anak didik adalah belajar akademis, sehingga ada suatu kondisi yang stagnan. “Harus ada inovasi-inovasi entrepreneurship. Saya mencoba untuk membuka wacana itu, karena pernah ada kondisi yang stagnan. Saya mencoba mengubah citra bahwa belajar itu sebuah komunitas pembaharu untuk mengembangkan potensi diri sehingga aksesnya diterima masyarakat. Akses itu mungkin berupa hubungan dan pada akhirnya hubungan itu bisa di akomodir menjadi aset,” paparnya. 

Nuryana yakin siswa-siswinya yang rata-rata berasal dari golongan menengah ke atas tak kesulitan untuk mencerap pendidikan akademis sekaligus nilai-nilai entrepreneurship. Apalagi Krida Nusantara memiliki gedung khusus atau workshop dan fasilitas untuk mempertajam life skill mereka.
Salah satu langkah terbaru yang diambil oleh Nuryana adalah menjajaki kerjasama dengan Be Boss untuk mengajarkan nilai entrepreneurship di SMAT Krida Nusantara. Kalau langkah ini berhasil, setidaknya Nuryana bisa membuktikan bahwa bahwa pengajaran akademis dan nilai-nilai entrepreneurship bisa disandingkan dan tidak perlu saling mengalahkan.

Tidak ada komentar