Grid Style

GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

Bisnis Terkini:

latest

Cerdaskan Otak Kanan & Kiri

Jika Anda ingin menjadi pengusaha sukses? Pendidikan tidak usah tinggi-tinggi. Contohnya, di Indonesia banyak pengusaha sukses yang tidak tamat sarjana apalagi doktor!  Demikianlah, kata-kata persuasif yang acapkali diucapkan ol…

Jika Anda ingin menjadi pengusaha sukses? Pendidikan tidak usah tinggi-tinggi. Contohnya, di Indonesia banyak pengusaha sukses yang tidak tamat sarjana apalagi doktor!  Demikianlah, kata-kata persuasif yang acapkali diucapkan oleh seorang mentor dalam sebuah seminar entrepreneurship.  Sang mentor yang juga pengusaha sukses di bidang pendidikan itu, selalu menonjolkan bahwa pengusaha yang basis pendidikannya rendah atau dunia akademiknya tidak begitu tinggi, justru lebih berhasil dalam berbisnis ketimbang mereka yang berpendidikan tinggi. Mengapa? Karena otak kanan mereka lebih menonjol ketimbang otak kirinya.
Otak kanan, sering diasumsikan dengan kemunculan gagasan, ide, gairah, keberanian, emosi dan sebagainya. Sementara otak kiri berhubungan dengan hal-hal yang kuantitatif, berpikir teoritis, intelektual, logis, linier dan rasional. 

Ada beberapa pandangan--termasuk salah satu mentor entrepreneur terkenal—bahwa berbisnis dengan menggunakan otak kanan dijamin sukses. Dengan berpikir memakai otak kiri yang serba rasional, orang akan cenderung ragu untuk melangkah dan tidak berani mengambil keputusan untuk memulai berbisnis. “Wong nggak ada duitnya kok sudah dipikir titik impas, cash flow. Kalau ada uangnya, nah itu baru dipikir.” Demikian, kata-kata itu yang dipakai untuk memotivasi peserta seminar atau workshop tentang entrepreneurship.  Oleh karena itu, kalangan perguruan tinggi jarang memulai atau meng create sebuah bisnis.  

Majalah ini tidak seratus persen merekomendasi bahwa Anda—jika mau berbisnis—harus menggunakan otak kanan. Dan, juga, kami juga menyanggah kalau banyak menggunakan otak kiri tidak selamanya gagal.  Banyak kami temui bahwa para intelektual dan akademisi, professional yang sukses dalam berbisnis. Padahal, menurut sang motivator tadi, umumnya mereka lebih banyak berpikir dengan otak kiri. 
Dokter Syarief, seorang ahli rehabilitasi medik, berhasil membangun beberapa klinik dan memproduksi alat bantu kesehatan (Larissa) untuk pasiennya. Nuryana, Kepala Sekolah SMA Terpadu Krida Nusantara, Bandung, berhasil membangun bisnis biro perjalanan CV Gema Nuansa. Dandan Irawan dan Shofwan Azhar Solihin, keduanya dosen Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Inkopin) juga berhasil membangun bisnis konveksi dan kursus bahasa Inggris di Bandung. Rektor Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, memiliki beragam bisnis mulai dari SPBU (Stasiun Pompa Bensin Umum), Bank Perkreditan Rakyat (BPR), kolam pembibitan dan pembesaran ikan dan beberapa lagi lainnya. 

Benarkah mereka menggunakan otak kiri dalam berbisnis?  Jawabannya beragam. Maklumlah seorang intelektual. Dia bisa menyampaikannya dalam berbagai bentuk, karena melihat dari sisi yang berbeda. Tapi, hakikatnya, mereka melakukan bisnis dengan menyeimbangkan antara otak kiri dan kanan. Pengusaan teori—otak kiri—sangat mendukung dalam berbisnis. Bisnis tidak hanya dilakukan dengan motivasi atau komitmen kuat untuk majau. Bisnis tidak hanya bermodal keberanian. Teori memang bagus untuk mendukung bisnis. Tapi, hal tersebut tidak akan berhasil kalau tidak dipraktekkan.  Nah, untuk mempraktekkannya itu, kadangkala harus menggunakan sebuah tekad dan keberanian.  

Jadi,  kesimpulannya, jika Anda memulai berbisnis menjadi seorang entrepreneur, harus mengoptimalkan keduanya. Otak kiri bagus. Otak kanan, apalagi. Otak kanan harus dicerdaskan. Bila otak kanan cerdas, otomatis otak kiri akan mengikuti. Sebaliknya, otak kiri cerdas, tanpa diikuti oleh otak kanan yang cerdas tidak ada artinya.  Rian S.

Tidak ada komentar