Grid Style

GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

Bisnis Terkini:

latest

Menanam Waluh, Memanen Emping

Nilai ekonomis suatu makanan bukan terletak pada bahan dasarnya, tetapi terletak pada kreatifitas dalam mengolahnya. C. Titiek Suryati berhasil mengolah waluh menjadi jenang dan emping sehingga bisa mengangkat nilai tambah labu …

Nilai ekonomis suatu makanan bukan terletak pada bahan dasarnya, tetapi terletak pada kreatifitas dalam mengolahnya. C. Titiek Suryati berhasil mengolah waluh menjadi jenang dan emping sehingga bisa mengangkat nilai tambah labu kuning ini. Russanti Lubis

Waluh, begitu orang Jawa menyebut buah yang tergolong sayuran ini. Sebagai sumber pangan, labu, begitu nama lainnya, tidaklah asing bagi masyarakat kita. Kendati pengolahannya masih sebatas itu saja. Padahal, buah dari tanaman merambat ini juga sumber serat kaya manfaat, terutama bagi kesehatan. Jadi, bukan sekadar memberi peragaman menu dapur. Telah banyak bukti diungkap oleh para pakar gizi dan kesehatan tentang manfaat pumpkin, begitu orang bule menyebutnya, bagi kesehatan, seperti mengobati tekanan darah tinggi, arterosklerosis (penyempitan pembuluh darah), jantung koroner, dan diabetes mellitus (kencing manis), menurunkan panas, serta memperlancar pencernaan. Bahkan bisa pula untuk mencegah kanker.

Walau sepintas berasa “dingin”, tapi kandungan gizi buah yang bernama Latin Cucurbita Moschata ini cukup beragam. Dalam setiap 100 gr labu kuning, namanya yang lain lagi, terkandung 34 kalori; 1,1 protein; 0,3 lemak; 0,8 mineral; dan 45 mg kalsium. Di samping juga serat, vitamin C dan vitamin A, serta air. Melihat kandung-an gizinya yang sedemikian rupa, harap maklum bila olahan waluh sa-ngat baik dikonsumsi dari anak-anak hingga orang tua. Apalagi, soal rasa tak perlu diragukan lagi.

Berkaitan dengan itu, sejak 1998, C. Titiek Suryati memproduksi jenang dan emping waluh. Bersama dengan tujuh karyawannya yang dibagi menjadi tenaga masak, pemasaran, dan loper, perempuan yang disapa Titiek ini setiap bulan menghasilkan 300 kg jenang waluh yang dijual dengan harga grosir Rp18 ribu/kg dan harga eceran Rp20 ribu/kg sampai Rp22 ribu/kg.
Sedangkan untuk emping waluh yang berasa bawang, keju, barbeque, balado, dan pizza, setiap bulan ia memproduksi 600 kg, yang ditawarkan dengan harga grosir Rp15 ribu/kg dan harga eceran Rp18 ribu/kg hingga Rp20 ribu/kg. “Saat sedang ramai pembeli, kami mampu memproduksi 500 kg sampai 600 kg jenang waluh/bulan dan 50 kg emping waluh/hari,” katanya. Dengan demikian, dalam sebulan, setidaknya Titiek meraup omset Rp15 juta.

Lantas, apa bedanya jenang dan emping dari waluh ini dengan jenang dari ketan atau gula merah dan em-ping melinjo? “Jenang dan emping waluh kami tidak lengket di gigi ketika disantap dan bergizi. Selain itu, kandungan gula pada waluh, aman bagi penderita diabetes,” jelas Titiek yang melabeli produknya “Serasi”. Namun, untuk menjaga kekentalan jenangnya dan keawetan produknya, dalam pro-ses produksi, ia mencampuri waluh dengan gula pasir kualitas nomor satu, sehingga panganan yang dapat dijumpai di Ungaran dan Semarang ini mampu bertahan empat bulan hingga lima bulan.

“Serasi” yang berada di bawah bendera UD Adhie ini, dibangun dengan modal awal Rp100 ribu yang digunakan untuk membiayai pembelian bahan baku dan bahan tambahan lain. Dengan berjalannya waktu, modal ini membengkak menjadi Rp10 juta dan akhirnya Rp25 juta rupiah. “Soalnya, dulu, harga waluh cuma Rp300,-/kg, sedangkan sekarang sekitar Rp1.000,-/kg. Padahal, kami membutuhkan 10 kg sampai 25 kg setiap kali berproduksi. Untungnya, waluh gampang dijumpai di Semarang,” ujar wanita yang mengaku sering menerima retur dan terpaksa membuang produknya karena terlanjur kadaluarsa.

Pada dasarnya, banyak bahan pangan lokal Indonesia yang mempunyai potensi gizi dan komponen bioaktif yang baik, tapi belum dimanfaatkan dengan optimal. Di duga, salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pengetahuan masyarakat akan manfaat komoditas pangan tersebut. Waluh, termasuk komoditas pangan yang pemanfaatannya masih sangat terbatas.

Tidak ada komentar