Peluang Usaha

Bisnis Security Berbasis Perang Kota

Bukan hanya di kota metropolitan  keamanan terasa mahal. Di kota lain pun demikian. Perlu pihak lain untuk memperoleh rasa aman dan nyaman. Inilah peluang yang ditangkap Purna Wira Bhakti. Russanti Lubis

Dijamin tidak akan ada yang menggelengkan kepala, tanda tak setuju, ketika dikatakan bahwa merasa aman merupakan hak azasi setiap individu. Jadi, harap maklum bila setiap orang berupaya menjaga keamanan diri mereka sendiri, sehingga dapat hidup nyaman dan segala aktivitas berjalan lancar. Tapi, dalam perkembangannya, hal itu tidak dapat dilakukan sendiri lagi, tetapi juga membutuhkan bantuan banyak pihak, di antaranya jasa pengamanan. Di sisi lain, meningkatnya kerawanan keamanan bukan lagi monopoli kota-kota besar, melainkan juga kota-kota kecil yang sedang berkembang, seperti Batam misalnya.

Peluang ini ditangkap dengan manis oleh Dwifung Wirajaya Saputra, mantan taruna Akademi Militer, dengan mendirikan jasa pengamanan di bawah naungan Organisasi Purna Wira Bhakti (PWB), pada 7 Januari 2004. Sekadar informasi, organisasi ini merupakan organisasi resmi di bawah Kodim 0316 Batam. Lalu, seiring dengan maju dan berkembangnya usaha tersebut, agar lebih profesional PWB berganti nama menjadi PT Purna Wira Perkasa (PWP) pada 24 Oktober 2005.
“Modal mendirikan perusahaan ini tidak besar, cuma Rp30 juta yang dikumpulkan dari delapan perintisnya. Dan, itu lebih banyak diperuntukkan mengurus perizinan, dalam hal ini Mabes Polri sebagai Badan Usaha Jasa Penyedia Pengamanan. Di sisi lain, melalui PWP, saya mencoba membantu rekan-rekan senasib (para mantan anggota TNI/Polri yang mengadu untung di Batam, red.) yang pada dasarnya masih memiliki potensi luar biasa, untuk dikembangkan ke arah kebaikan,” kata Ipung, demikian sapaan akrabnya.

PWP yang merekrut para anggotanya melalui tiga tahapan yaitu tahap penerimaan, tahap penyeleksian, dan tahap pendidikan dasar, kini memiliki 158 anggota (30 orang di antaranya perempuan, red.), yang difungsikan untuk melayani tenaga pengamanan di sektor pengerjaan proyek pembangunan gedung, perumahan, perkantoran, pusat perbelanjaan, pertokoan, rumah sakit, kawasan industri, pabrik, bank, dan private security guard. Saat ini, perusahaan yang bermarkas besar di Balo Persero, Batam, ini telah menempatkan para personilnya di 14 perusahaan di Kepulauan Riau, di samping  menangani beberapa event besar. 
“Perusahaan kami baru beroperasi di Kepulauan Riau saja. Kami belum melebarkan sayap ke negara tetangga, Singapura misalnya. Karena, kami merasa masih harus belajar lagi untuk bisa maju di masa depan. Untuk saat ini, kami hanya ingin menjadi salah satu perusahaan jasa pengamanan terbaik di Indonesia, seperti semboyan kami Your Security Is Our Priority,” ucapnya. Tapi, ia tak memungkiri bahwa bisnis jasa pengamanan sangat prospektif. Karena itu, PWP yang setiap bulan rata-rata meraup omset Rp50 juta hingga Rp60 juta ini berencana melebarkan sayap ke Riau atau Medan. “Kami cenderung menggunakan strategi perang kota yaitu menyusuri setiap pinggiran wilayah secara perlahan, mengepungnya, lantas menyergap ke tengah. Kalau, kami langsung ‘menghajar’ Jakarta, bisa dipastikan kami kalah dengan perusahaan jasa pengamanan yang sudah malang melintang di kota tersebut,” lanjutnya.

Untuk mendukung strategi tersebut, PWP menciptakan diferensiasi seperti selalu meningkatkan kemampuan para anggotanya dengan melakukan drill lapangan setiap bulan, pola pembinaan yang kontinyu dan terintegrasi sehingga tercipta satu pola pengamanan yang tersinergi, serta pola rotasi antarsatuan untuk mencegah efek jenuh dalam pelaksanaan tugas. Di samping itu, juga terus menciptakan sumber daya manusia yang tanggap, tanggon, dan trengginas, serta memiliki kepribadian yang baik sesuai dengan harapan konsumen. 

Berapa tarifnya? “Dalam istilah militer, besar kecilnya tarif tergantung cuaca, medan, dan musuhnya (cumemu, red.). Jadi, ya tergantung dari apa yang diamankan, di mana lokasinya, bagaimana tingkat kerawanan lingkungan tersebut, berapa jumlah personil yang akan ditempatkan, berapa lama kontraknya, dan beberapa faktor lain. Harga yang harus dibayar konsumen sudah termasuk dengan perlengkapan pendukung pelaksanaan tugas pengamanan, seperti seragam, pentungan, borgol, senter, senter pengatur lalu lintas, metal detector, mirror detector, handy talky, dan jas hujan. Singkat kata, untuk tarif bersifat kontrak berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta, sedangkan untuk yang bersifat temporary antara Rp200 ribu sampai Rp400 ribu per orang. Tarif ini masih dapat dinegosiasikan,” jelas General Manager PWP ini.
Margin keuntungan dari total biaya keseluruhan yang dikeluarkan perusahaan, ia menambahkan, berkisar 5% sampai 20%, tergantung dari besar kecilnya lingkup klien yang menggunakan. Merasa aman itu mahal, merasa tidak aman itu lebih mahal lagi, begitu bukan?

Cek dan Ricek Bisnis Pengamanan
Jika Anda berminat menggunakan jasa pengamanan, tip tentang memilih perusahaan jasa pengamanan yang baik berikut ini sebaiknya Anda simak.
§          Cek perizinannya, apakah mengantungi surat izin dari Mabes Polri atau tidak.
§          Cek apakah memiliki Standard Operasional Prosedur yang baku untuk pengamanan atau tidak. §          Mintalah referensi siapa konsumen yang pernah menggunakan jasa mereka.
§          Cek apa saja fasilitas pendukung yang diberikan.

Tidak ada komentar