Grid Style

GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

Bisnis Terkini:

latest

Kue Kering, Rejekinya Tak Pernah Kering

Mungkin sudah cukup banyak orang menggeluti bisnis kue kering. Tetapi karena konsumennya juga tidak pernah berkurang, bisnis ini tetap prospektif. Fitra Iskandar

Kue kering merupakan makanan yang mudah dijumpai sebagai makanan k…

Mungkin sudah cukup banyak orang menggeluti bisnis kue kering. Tetapi karena konsumennya juga tidak pernah berkurang, bisnis ini tetap prospektif. Fitra Iskandar

Kue kering merupakan makanan yang mudah dijumpai sebagai makanan kecil yang disediakan di rumah, terutama di hari-hari besar Lebaran dan Natal. Kue seperti kastangel, cornflake, nastar, putri salju, menjadi sajian khusus yang tak terlewatkan.

Desyanna Suryadi pun tetarik menjalankan  bisnis kue kering. Berawal dari keinginannya untuk melakukan bisnis dari rumah. Desy Yang sejak tahun 1999 berhenti dari tempatnya bekerja kembali mengingat –ingat  catatan resep yang pernah diajarkan sang bibi saat ia remaja.  Ia pun mencoba memproduksi kue mulai dari lingkungan rumahnya di Kemanggisan Utama V/28 Slipi Jakarta. Ia pun mendirikan Double Chocolate.
Di luar dugaannya, pekerjaan iseng-iseng ini ternyata berkembang pesat. Pasarnya  tidak lagi sebatas di lingkungan perumahan, tapi semakin luas.  Dibantu 4 orang pegawainya saat ini Desy mampu memproduksi  20 lusin kue kering per hari. Mulai dari kastengel, choco cheese, cornflakes, nastar sampai kripik kentang ebi. 
Selain memproduksi kue–kue yang memang telah dikenal masyarakat. Desy menciptakan kue kreasi baru. Beberapa di antaranya, kastengel coklat, nastar coklat, putri salju asin, strawberry yoghurt sejenis coco chrunch, kue renyah yang diberi aroma strawberry dan yoghurt. 

Untuk menjaring pasar yang lebih luas Desy rajin mengikuti pameran –pameran. Namun ia hanya mengikuti pameran yang diadakan di gedung-gedung perkantoran saja. “Saya hanya mengikuti pameran di gedung perkantoran karena biayanya lebih murah dibanding  pameran di mal. Jika bujet pameran kami besar imbasnya otomatis menambah cost dan mempengaruhi harga kue. Saya meminimalisir bujet pameran agar harga kue saya tetap terjangkau,” ujar pemilik Double Cocolate  yang telah mengantongi sertifikat Depkes RI ini.
Strategi pemasarannya ini terbilang cukup berhasil. Selain merambah konsumen perkantoran, saat ini ia memiliki beberapa mitra yang menjadi agen di antaranya datang dari Bintaro, Pamulang dan Kerawang. Bahkan  Double Chocolate sudah sampai ke Singapura, melalui seorang WNI yang tinggal di Singapura.” Setiap pesanan biasanya lima lusin. Mungkin di Singapura tidak ada kue kering seperti di Indonesia, jadi mereka bawa khusus dari Indonesia,” ungkap Desy merendah.

Tidak ada komentar