www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

no image

Posted by On 03.20

Dalam melakukan penelitian, kita tidak akan lupa dari apa yang disebut Metodologi Penelitian.  Untuk penelitian waralaba ini hanya dilakukan Penelitian Sekunder saja. Peneliti hanya melakukan riset terhadap hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti lain atau terhadap  tulisan yang pernah dimuat di media cetak atau sumber informasi yang lainnya. Intinya, jawaban terhadap pertanyaan  tidak diperoleh langsung dari narasumber. Keuntungan dari pemanfaatan data yang tersedia adalah bahwa peneliti tidak terlibat lagi dalam mengusahakan dana untuk penelitian lapangan, merekrut dan melatih pewawancara, menentukan sampel dan mengumpulkan data di lapangan yang banyak memakan energi dan waktu. Dan yang lebih penting peneliti tidak beranjak dari nol dan duplikasi data dapat dicegah. 

Tahap I : Penelitian sekunder
      Dalam penelitian masalah waralaba ini urutan penelitian yang dilakukan hanya  Penelitian Sekunder. Pada penelitian sekunder dilakukan pengumpulan semua bahan yang berhubungan dengan waralaba baik yang bersumber dari internet, media cetak, buku, asosiasi waralaba, perusahaan waralaba maupun dari lembaga konsultan waralaba.  Intinya, penelitian sekunder adalah mencari data dan informasi dari seluruh sumber yang memungkinkan agar dapat memperkuat hasil penelitian.
      Setelah semua data dan informasi diperoleh,  dilakukan analisa dan pemetaan data sehingga dapat diketahui “lubang-lubang” yang masih harus diisi.  

Tahap II : Perhitungan nilai total skor
      Dalam melakukan perhitungan adalah dengan cara menskor nilai dari bertumbuhaan oulet berbanding dengan umur waralaba. Perhitungan di sini juga dimasukkan koreksi dan memberi bobot untuk perusahaan yang lebih muda dengan bertumbuhan outletnya lebih cepat mendapat bobot lebih besar dari pada yang sudah berdiri lama dengan pertumbuhan outlet waralaba yang lambat. Di samping itu juga memperhitungkan antara jumlah outlet di bagi lama berdiri sampai tahun 2006.
      Misal ada waralaba A yang sudah berumur 5 tahun dengan total outletnya tahun pertama mempunyai 4 outlet, tahun ke dua mempunyai 7 outlet, tahun ke tiga mempunyai 12 outlet, tahun ke empat mempunyai 18 outlet dan tahun ke lima mempunyai 25 outlet. Sehingga perhitungan skornya = ((4/1)+(7/2)+(12/3)+(18/4)+(25/5))/5 =  (4+3.5+4+4.5+5)/5 = 21/5 = 4,2 . Sedangkan untuk menetapkan Total Skor per sektor  adalah dengan cara membagi nilai skor dengan nilai tertinggi dikelompok sektor tersebut dan dikalikan dengan nilai 10. Persamaannya adalah (Nilai X/Nilai tertinggi di sektor tersebut)*10.
      Hasil dari penelitian adalah yang tersaji dan tengah Saudara nikmati di Majalah Pengusaha ini merupakan hasil dari seluruh tahapan penelitian di atas.  

R. Triyanto Rusbiantoro
Managing Director
PT. Danu Rekso Makmur Sejahtera
E-mail: rtrigan2004@yahoo.com.

no image

Posted by On 03.23

Sekalipun kompetitor terus bermunculan, Alfamart masih tetap berdiri di jajaran terdepan. Fisamawati

Tertarik pada franchise mini market yang saat ini nampaknya menjamur di mana-mana?. Kecenderungan masyarakat yang gandrung (menyukai) berbelanja di toko-toko moderen yang bersih, ber-AC dengan harga yang tak terpaut dengan “pasar becek” membuat peluang mendirikan minimarket selalu terbuka. Hal ini juga mungkin yang bisa menjelaskan mengapa minat franchisee untuk mendirikan minimarket tak pernah menyusut.
Mungkin, Alfamart salah satu pilihan yang patut diperhitungkan sebagai waralaba retail mini market. Toko Waralaba Alfamart adalah salah satu waralaba yang paling diminati saat ini. Waralaba Alfamart juga telah meraih penghargaan Franchise Gold 2006.

Alfamart terbukti telah memberikan keuntungan dan kerjasama yang baik dengan para terwaralaba. Sejak awal berdiri tahun 1999 dan memperkenalkan pola waralaba tahun 2002, Alfamart yang bernaung di bawah bendera Sampurna Grup mampu berkembang hingga sekitar 800 outlet per September 2004 lalu. Dengan mengemban motto “Belanja Puas, Harga Pas”, Alfamart terbukti telah memberikan keuntungan dan kerjasama yang baik dengan para terwaralaba.Kini, Alfamart memberikan investasi awal senilai Rp 250 juta hingga Rp 350 juta untuk membuat perlengkapan dan peralatan toko seperti rak dan AC, serta memasok barang dagangan.

Pengembalian investasi maksimum dilakukan empat tahun, tergantung investasi yang nilainya berdasarkan dari luas toko. Setelah lima tahun, mitra menjadi pewaralaba dan gerai tersebut menjadi milik mitra.Sedangkan untuk pengembalian investasi dilakukan melalui keuntungan bersih yang diperoleh sesuai dengan kesepakatan awal. Jika keuntungan melebihi kesepakatan awal, maka 50 persen dari kelebihan keuntungan juga disetor untuk mengembalikan pinjaman investasi. Karena itu, mitra pengelola akan mendapat honor berkisar Rp 5,5 juta sampai Rp6 juta setiap bulan.

Setelah sukses dengan pola waralaba, Alfamart mengembangkan konsep kedua yaitu Operator Mandiri. Konsep tersebut membantu masyarakat yang ingin berusaha namun tidak memiliki dana untuk investasi awal. Melalui konsep ini, mitra cukup memiliki tempat sebagai modal.Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan Alfamart antara lain, memiliki konsep toko yang bersahabat dengan masyarakat. Contohnya, program kasih keluarga, papan bersama Alfamart, di mana semua orang dapat memasang pengumuman baik lowongan kerja atau pun lainnya.

no image

Posted by On 03.21

Kombinasi pengalaman 40 tahun dan kepionirannya di bidang waralaba travel membuat TX Travel dalam posisi terdepan. Fisamawati

Banyak bisnis travel yang bermunculan mengakibatkan persaingan antar travel semakin ketat saja. Dulu, tak banyak yang terjun menekuni bisnis layanan jasa untuk penumpang ini. 
Meski persaingan semakin menghebat tetapi hal ini tidak menciutkan nyali TX Travel. Selain memiliki pengalaman di bidang pariwisata lebih dari 40 tahun, TX Travel juga perintis travel waralaba di Indonesia. Kombinasi dari pengalaman dan kepioniran TX Travel itulah yang membuat perusahaan yang didirikan Anthonius Thedy dan Rita S. Halim tahun 1991 ini leading dibanding para kompetitornya.
TX Travel
Prestasi yang diukir juga cukup gemilang. Dari sisi outlet, misalnya, perusahaan yang bernaung di bawah payung Jakarta Express Travel ini sudah eksis di 19 kota di 12 provinsi, dengan 75 gerainya. Padahal usia franchisenya sendiri belum genap dua tahun. Suksesnya TX Travel yang mengusung slogan ‘Hadir Untuk Melayani’ ini, tak terlepas dalam menjalankan sistem franchise dan owner operator sehingga ownership di tiap cabang sangat dominan. Kemudian dengan brand image yang kuat memudahkan jaringan dan distribusi di mana-mana. 

Untuk produk sendiri TX Travel memenuhi fasilitas pelayanannya dengan tiket pesawat, hotel skala nasional maupun internasional, paket tour, group tour, incentive tour, holyland atau wisata ziarah, umrah bersama Aa Gym, asuransi perjalanan, TX kurir untuk dokumen dan barang, shuttle, antar jemput ke/dari airport. Adapun keunggulan TX Travel dibanding travel lain adalah memiliki layanan antar ke 19 kota secara gratis. Anthonius Thedy, Managing Director TX Travel Pusat, mencontohkan, jika ada pelanggan yang ingin memesan tiket pesawat terbang untuk orang tuanya yang bertempat tinggal di Makassar maka ia dapat melakukannya di Jakarta, atau sebaliknya. “Travel lain tidak mempunyai layanan ini,” tegas Anthonius.

Lalu strategi apa yang dilakukan TX Travel menghadapi bisnis serupa? “TX Travel menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan para owner-nya,” ungkapnya. Hal ini dikonkritkan dengan mengadakan pertemuan kontinyu setiap satu bulan sekali. Tujuan dari pertemuan tersebut untuk merancang masa depan bersama. Sedangkan besar investasi yang diperlukan untuk menjadi franchisee TX Travel adalah Rp 400 juta. “Investasi tersebut sudah termasuk supporting fee sebesar Rp 110 juta yang dilakukan sekali seumur hidup,” jelasnya.

Sedangkan royalty fee yang ditawarkan adalah 20 persen dari keuntungan kotor setelah dipotong Rp 10 juta setiap bulannya. Dalam perjalanannya, TX Travel telah meraih beberapa penghargaan antara lain ‘Most Innovative Marketing Effort By Foreign Tour Operator 2004’ sebagai biro perjalanan wisata pertama dan satu-satunya di Indonesia selama 20 tahun ini yang menerima Tourism Award, meraih ‘Best Travel Agency Indonesia 2004’ dari TTG Travel Awards 2004, yang merupakan ajang paling bergengsi se-Asia Pasifik. Dan September 2006 lalu, memecahkan rekor Muri dalam kategori travel dengan cabang terbanyak. “Padahal, saat mendapat penghargaan tersebut baru mencapai 50 cabang,” tambahnya.

Saat disinggung mengenai rencana kedepan, TX Travel ingin menjadi jaringan travel terbaik dengan memberikan kemudahan bagi konsumennya. Dan mampu bersaing dengan travel dari luar. “Kami menginginkan kesiapan untuk menghadapi masa depan,” ucapnya lebih lanjut. Thedy pun menguraikan, dengan keunggulan dan jam terbang yang dimiliki TX Travel dapat dipastikan BEP Operasional dapat kembali dalam jangka waktu 6 bulan. Sedangkan untuk balik modal uang secara keseluruhan berkisar antar 20 hingga 25 bulan ke depan.

no image

Posted by On 01.34

Tempat hang out yang memadukan konsep gymnasium dan resto kesehatan telah hadir di Jakarta. Selain berolah raga, pengunjung bisa menyantap makanan sehat sesuai dosis. Rian S

Men Sana in Corpore Sano (dalam badan yang sehat terletak jiwa yang sehat). Demikianlah slogan lama bahasa latin yang acapkali dipakai untuk menggambarkan tentang kesehatan badan yang berkaitan dengan sehatnya jiwa seseorang. Dan, kata kuno itu, tampaknya menjadi acuan sebagian besar atau hampir seluruh karyawan dan para anggota The BodyfitnesS, sebuah tempat kebugaran  yang terletak di Wisma Geha, Jl Timor 25, Jakarta Pusat.
Tempat itu bukan sekedar tempat berolahraga (gymnasium), namun juga sebuah resto yang menjual menu kesehatan konsumennya.  Pengunjung The  BodyfitnesS, sesudah berlatih kebugaran, bisa langsung menyantap atau memilih makanan/menu sesuai selera sesuai dengan anjuran para personal trainer nya. “Kami tidak saja menjual fasilitas kebugaran, tapi juga tempat konsultasi kesehatan dan makanan bagi mereka yang ingin sehat,” aku KRT Tedjodiningrat Brotoasmoro, pemilik sekaligus pengelola The BodyfitnesS.

Jojo—panggilan akrab Tedjodiningrat—adalah sosok yang mampu melihat peluang ditengah-tengah hiruk pikuk kemacetan lalu lintas di Jakarta.  The BodyfitnesS, gymnasium sekaligus resto, adalah sebuah konsep bisnis yang memadukan antara kesehatan dan gaya hidup. Tempat ini, telah menjelma menjadi sebuah tempat untuk lifestyle bagi para professional dan khalayak awam di Jakarta. “Mereka yang ingin hidup sehat, silahkan datang ke tempat ini,” candanya.
Umumnya, pengunjung--para pekerja kantor—The BodyfitnesS sangat berminat dengan masalah kebugaran. Lelah, lokasi rumah yang jauh dari kantor, kemacetan lalu lintas, adalah rutinitas sehari-hari yang harus dihadapi mereka. Para professional, karyawan kantor ini kebanyakan adalah kaum urban yang berdomisili  di luar Jakarta, seperti Serpong, Cibubur dan beberapa tempat lainnya. Untuk berangkat ke kantor, mereka harus bangun pagi—subuh malah—agar tidak terjebak kemacetan. Begitu juga saat pulang, mereka harus menunggu lengangnya jalan. Nah, disela-sela waktu luang itu, akhirnya mereka mencari tempat  hang out (nongkrong) di luar kafe atau tempat yang sejenisnya. “Yang gemar olah raga atau fitness, akhirnya datang ke tempat kami. Keluar dari tempat kami ditanggung segar, ” ujar Jojo. 

The BodyfitnesS, muncul tidak semata-mata hanya peluang. Unsur hobi, ternyata jauh lebih dominant. Jojo, memang pehobi berat olah raga kebugaran. Kisah ini dimulai saat perkenalannya dengan bodybuilder, Ade Rai, pada 2000 lalu. Jojo, saat itu usai menamatkan sekolah di Tri Sakti, Jakarta.
Semula, dia adalah demonstran jalanan, termasuk ikut demo menjelang kejatuhan Presiden Soeharto. Perkelahian, gebuk-gebukan dengan petugas adalah makanan sehari-harinya. Oleh Ade Rai disarankan, ketimbang menjadi jagoan jalanan, lebih baik energinya disalurkan dalam arti positif dengan menjadi jagoan yang sebenarnya.  “Raihlah prestasi. Jangan prestasi negative seperti di jalanan.” Demikian kata-kata itu yang selalu berdengung di telinganya. Akhirnya, mulailah dia belajar kebugaran dan membentuk otot di Klub Ade Rai.

Setamat kuliah, pada 2001, Jojo keluar dan bekerja di PT Jaya Hanggada Sakti, sebuah perusahaan produsen dan distributor alat-alat kesehatan dan fitness. Dia kemudian dipercaya sebagai manajer sekaligus instruktur di Fit & Fresh Gym, sebuah tempat kebugaran di Jl. Abdul Muis, Jakarta Pusat. Pada 2003, gymnasium ini diwaralabakan dan telah memiliki tujuh outlet antara lain di : Surabaya, Jakarta, Bandung dan Jogjakarta.  Sayang, usaha yang dirintisnya berantakan karena  adanya friksi internal dan sistem waralaba yang kurang kuat.  Waralaba kebugaran ini stagnan.

Lalu, pada 2006, dia bersama ketiga mitranya mendirikan The BodyfitnesS. Dengan moto Your Place for the Real Fitness, mulailah gudang seluas 400 meter persegi itu disulap menjadi tempat kebugaran lengkap dengan resto kesehatannya. Disini, pengunjung setelah berbugar-ria, bisa menikmati sajian makanan sehat. Menurut Jojo, setelah berolah raga, tubuh butuh kalori yang cukup untuk menggantikan tenaga yang terbuang. Selama ini, banyak orang yang asal menyantap makanan yang dianggap bisa menggantikan tenaga yang terpakai saat berolah raga. “Padahal ini salah,” ujarnya. Makan dan olahraga harus sebanding, tergantung porsi latihannya. Untuk itulah, The BodyfitnesS menyediakan konsultan dan sekaligus personal trainer bagi mereka yang membutuhkan.
Healthilicious, adalah nama resto kesehatan tersebut. Tempatnya, satu lokasi dengan The BodyfitnesS. Di resto ini tak kurang dari 30 jenis menu makanan sehat disajikan yang bahan bakunya dari dalam negeri serta beberapa produk impor dari Jepang, Eropa dan Italia.

Sejak dibuka setahun lalu, The BodyfitnesS memiliki 600 anggota. Masing-masing anggota membayar Rp 250 ribu untuk uang keanggotaan. Selain ini, gymnasium megah ini juga sering dikunjungi oleh individu-individu yang sekadar ingin berolah kebugaran. Dengan 40 orang SDM plus beberapa personal trainer,  The BodyfitnesS belum balik modal. “Pendapatan kami masih belum mencapai titik impas,” tuturnya. Tapi, dia optimistis bahwa gymnasium ini menjadi salah satu profit center, disamping bisnis-bisnis yang lainnya.  Untungnya, investasi di bisnis uini tidak mahal lantaran ada beberapa peralatan yang bisa dibuat sendiri lewat divisi Body Fitness Equipment. “Kalau peralatan kami impor dan membeli di pasaran, investasi kami akan lebih besar lagi,” kata Jojo, yang enggan menyebut berapa nilai investasinya.

Tahun ini The BodyfitnesS menargetkan 1000 anggota. Berbagai upaya terus dilakukan, di antaranya promo langsung ke kantor dan lewat jaringan para anggota. Selain itu, manajemen juga menjajagi kemungkinan untuk membuka cabang baru. Bila hal itu terealisir, maka PT Perkasa Mandiri Sakti, pengelola gymnasium dan resto kesehatan ini makin menancapkan kuku bisnisnya di bidang life style. Selain The BoddyfitnesS, perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh tiga sekawan ini memiliki  Resto Bawang Putih yang terletak di Poin Square, Kafe di Kawasan Pasar Festival, Kuningan,  Workshop peralatan fitness dan resto makanan sehat.

no image

Posted by On 03.49

Dengan mengusung konsep cafe sehat dengan suasana simpel, Beanstoks Coffe & Tea ingin go international. Russanti Lubis

Minuman apa yang paling popular di muka bumi ini, setelah air putih? Kopi! Itulah jawabannya. Karena itu, harap maklum bila bisnis kafe kopi biasanya dapat menembus batas negara, mengingat semua orang di belahan bumi mana pun, boleh dikata, bisa minum kopi. Berbeda dengan bisnis makanan di mana tidak semua orang bule, misalnya, bisa menyantap masakan Sunda atau Padang.

Kondisi itulah yang merupakan salah satu faktor yang memicu Ashari Yusuf Hasibuan, mantan konsultan manajemen, mendirikan Beanstocks Coffee & Tea di Batam pada 14 Mei 2002 atau sekitar tiga minggu sebelum Starbucks, jaringan kedai kopi bertaraf internasional, membuka gerai pertamanya di Indonesia. Di sisi lain, Ashari membuka kafe kopi ini, karena kehilangan tempatnya kongko-kongko setelah coffee shop langganannya berubah menjadi kasino. 
“Saya memutuskan membuka sendiri kafe kopi sebagai tempat kongko-kongko saya dengan teman-teman. Kebetulan, saat itu, teman saya membuka mal dan saya mendapat space satu unit. Kala itu, saya sama sekali tidak memiliki niat mengembangkan usaha ini. Tapi, dua tahun kemudian, setelah mengikuti beberapa seminar dan pameran kopi-kopi dunia, saya melihat betapa dahsyatnya bisnis industri kedai kopi di Eropa dan Amerika. Mulai saat itulah, saya memutuskan untuk fokus membesarkan usaha ini dan meninggalkan karir saya,” jelasnya.

Sebagai pelopor kafe kopi di Batam, Beanstocks Coffee & Tea yang berada di bawah naungan PT Adi Tata Nusindo, sempat menjadi buah bibir para penikmat kopi di wilayah ini, sebab kopi yang ditawarkan (saat itu, red.) merupakan minuman termahal di Batam. “Tapi, setelah kami menjelaskan kepada mereka bahwa semua bahan utama yang kami gunakan mulai dari kopi, teh, sirup, cokelat, madu, gula sachet, hingga tisu diimpor dari Singapura, barulah mereka maklum dan menyeruputnya dengan perasaan bangga,” katanya, tergelak. Penggunaan produk impor tersebut, ia menambahkan, bukan untuk gengsi-gengsian. “Melainkan untuk memperoleh mutu lebih, sehingga didapat rasa yang lebih nikmat pula,” tegasnya.
Mengapa berwujud kafe? “Sudah sejak zaman dulu, dalam setiap acara minum kopi, para raja dan bangsawan Mesir selalu melakukannya bersama-sama. Kalau zaman sekarang istilahnya kongko-kongko. Jadi, yang namanya ngopi itu memang asyiknya beramai-ramai. Nah, tempat yang pas untuk itu ya yang berwujud kafe atau warung,” ujarnya. Tapi, berbeda dengan kafe pada umumnya, Beanstocks Coffee & Tea yang menjadikan anak sekolahan, eksekutif muda, orang tua, dan keluarga sebagai target market-nya ini bebas alkohol, bahkan, bahan bakunya rendah lemak. “Sebab itu, konsep yang kami tawarkan adalah kafe sehat dengan suasana simpel,” jelasnya.

Dalam kafe kopi yang bermottokan “kopi-kopi dunia” ini, disajikan berbagai minuman, seperti kopi yang memiliki 15 rasa yang berbeda, cappuccino dengan 16 rasa berlainan, teh dengan berbagai aroma, ice cream, ice blended, dan jus botolan yang semuanya impor. Sedangkan untuk makanannya tersedia cake, nuggets, kentang goreng, dan lain-lain. “Range harganya Rp10 ribu sampai Rp25 ribu,” ucapnya. Dengan jumlah pengunjung sebanyak 70 hingga 100 orang per hari, kafe yang dibangun dengan modal awal Rp195 juta (untuk membiayai renovasi, pembuatan produk awal, dan pembelian peralatan, red.) ini meraup omset Rp1 juta sampai Rp2 juta per hari.

Seperti dikatakan di atas bahwa semula kafe seluas 40 m² hingga 60 m² ini didirikan sekadar sebagai tempat nongkrong pribadi, tetapi dalam perkembangannya Ashari ingin memiliki jaringan kafe kopi bukan cuma dalam skala nasional, melainkan juga sebagai salah satu kafe kopi Indonesian make and owner di mancanegara. “Target saya, suatu hari nanti Beanstocks Coffee & Tea akan berdiri di Milan, Italia. Mengapa Milan? Karena, selain dikenal sebagai kota fesyen internasional, Milan juga dikenal sebagai barometer kafe kopi dunia. Harapan saya, bisa memperkenalkan coffee shop milik anak bangsa ke masyarakat internasional,” kata Ashari, yang akhir Mei ini akan membuka tiga gerai Beanstocks Coffee & Tea lagi di Batam.

Ibarat ungkapan, perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil, sebelum ambisi untuk go international terwujud, Ashari mengawalinya dengan meng-go-national-kan Beanstocks Coffee & Tea yang hingga saat ini masih betah di Batam, dengan menawarkan waralaba ke seluruh penjuru tanah air, tanpa biaya pemakaian merek. “Kami hanya memungut royalty fee sebesar 5% dari total omset per bulan,” jelasnya. Kepada franchisee, Beanstocks Coffee & Tea menjanjikan gross margin 900%! “Untuk kopi seharga Rp120 ribu/kg bisa dihasilkan 120 hingga 130 cangkir espresso. Kami sarankan, per cangkir dijual Rp10 ribu sehingga gross margin-nya 900%,” imbuhnya. Selanjutnya, dengan nilai investasi Rp180 juta (yang digunakan untuk membiayai pembuatan outlet, red.), serta asumsi omset Rp1,5 juta/hari dan biaya sewa tempat sekitar Rp10 juta/bulan, diperkirakan dalam jangka waktu 15 hingga 20 bulan sudah return of investment. Sedangkan syarat yang harus dipenuhi franchisee hanyalah lokasi yang prime.

Di samping waralaba, Ashari yang juga Direktur Zarric Coffee Shop Consulting, perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan usaha kafe kopi, menawarkan paket seharga Rp150 juta sampai Rp450 juta (tergantung luas kafe yang akan dibangun, red.) kepada mereka yang berminat membuka kafe kopi atas nama mereka sendiri. “Dalam paket-paket ini, kami berperan sebagai konsultan dan kontraktor sekaligus supplier atas kafe mereka yang kami buatkan. Sedangkan nama, suasana, dan menu kafe 100% kami serahkan kepada pembeli paket kami,” kata Ashari yang dalam waktu dekat ini akan membuka kantor pusat pemasaran dan distribusi produk di Jakarta.
Di sini, dijual dua konsep kafe kopi yaitu kafe kopi berkonsep western (seperti Starbucks, red.) dan Asian Chinesse (seperti Ya Kun Kaya Toast, red.). Mahal? “Nggaklah! Untuk membeli mesin pembuat kopi paling murah saja harus mengeluarkan dana Rp70 juta, renovasi satu sofa Rp1 juta, dan membeli blender sekitar Rp9 juta,” jelasnya. Berminat?

no image

Posted by On 01.07

Setelah sukses menjual makanan cepat saji di SPBU, Hot Dog Booth memperluas outlet nya di gerai Circle-K. Proyek percontohan yang berada di Kawasan Cikajang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ternyata sukses.  Tidak hanya bagi Hot Dog Booth sendiri, tetapi juga penjulan dari Circle K. Untuk itu, dalam waktu dekat produk makanan cepat saji ini akan mendirikan outlet barunya di gerai Circle K, Bali. Waralaba toko asal AS itu memiliki 70 cabang di Bali. Dan, untuk sementara Hot Dog Booth akan mengisi empat gerai dulu.  Selain Bali, warung yang menjual makanan cepat saji seperti hot dog, burger, chicken dan minuman itu akan membuka gerai barunya—masih berlokasi di Circle K—di Bandung dan Jogyakarta. “Untuk penjualan di SPBU masih kami teruskan. Dalam waktu dekat kami juga akan mengisi convenience store nya Petronas di beberapa kota di Indonesia. MOU nya sudah kami tandatangani,” kata Beno, pemilik Hot Dog Booth.

no image

Posted by On 01.07

Reliance Pacific Berhad (RBP), perusahaan agen perjalanan (travel agent) asal Malaysia menggandeng TX Travel untuk memperluas jaringan pemasarannya. Reliance merupakan salah satu agen perjalanan terkemuka di Asia dan telah bergerak di bisnis ini selama 38 tahun. Perusahaan ini telah masuk bursa Malaysia pada 1993. Reliance memiliki jejaring tersebar di 30 kantor di Malayaisa dan Singapura, 300 distributor di Malaysia 200 agen dan wholesaler di 30 negara di dunia.  Menurut Tan Sin Chong, Managing Director Reliance, kerjasama ini merupakan salah satu strategi untuk memperluas jangkauan. Indonesia adalah negara dengan populasi penduduk yang besar 250 juta jiwa, merupakan potensi yang belum tergarap.  “Dengan kerjasama ini saya berharap dapat meningkatkan volume penjualan sebesar RM 8 – 10 juta hingga akhir Maret 2008. Dan, kami prediksikan akan meningkat 100% pada 2009 nanti,” katanya. TX Travel dipilih lantaran waralaba perjalanan ini tumbuh dengan pesat di Indonesia. TX Travel memiliki jaringan distribusi di seluruh Indonesia.  TX Travel berdiri pada 2004 lalu sebagai bagian divisi ritel dari Jakarta Express yang sudah berdiri sejak 1991 sebagai Travel Wholesale. Perusahaan ini sudah melayani ribuan agen perjalanan di Indonesia dengan kantornya di Jakarta, Surabaya, bandung, Medan, Semarang dan Batam. Menurut Anthonius Teddy, Managing Director PT Jakarta Express Utama—pengelola TX Travel—kerjasama dengan Reliance akan meningkatkan penjualan dan melengkapi produk yang ditawarkan TX Travel seperti : penjualan tiket pesawat, voucher hotel, paket tur pesawat, kapal pesiar dan sebagainya.

no image

Posted by On 03.29

Di sejumlah negara kelomang yang sering bergonta ganti cangkang lebih populer ketimbang ikan. Suatu peluang mengeruk uang. Wiyono

Coenobita, tidak semua orang tahu nama apakah itu gerangan. Sebaliknya bila disebut kelomang segera semua mafhum akan sejenis binatang unik yang gemar bergonta-ganti cangkang itu. Masih banyak anggapan binatang pesisir ini hanya pantas menjadi mainan anak-anak, padahal asal tahu saja di luar negeri hewan ini sejak puluhan tahun lalu menjadi satu di antara banyak klangenan yakni sebagai penghuni akuarium dalam ruangan.

“Kelomang pertama kali ngetop di Amerika tahun 1953, barangkali karena pemeliharaannya lebih gampang. Kalau kita mau keluar rumah, ditinggal 5-6 hari tidak mati. Media yang dipakai pasir, berbeda dengan ikan, kita harus menguras air dan sebagainya. Kelebihan lainnya dia unik, bisa berubah-ubah warna,” jelas Hany Faroko. “Di Amerika kelomang lebih populer dari pada ikan, saya pernah buka search yahoo kata kuncinya hermit, sampai tiga hari belum habis dibaca,” tukas tokoh yang dikenal sebagai eksportir kelomang lukis itu menambahkan.

Ekspor kelomang lukis telah dilakukan Hany sejak 2003 dengan bendera usaha CV HNS maupun CV Asian Crabs Shells (ACS), rutin hingga beberapa kali seminggu dalam setiap bulannya, melayani pembeli dari USA, Perancis, Korea, dan Jepang. Jumlahnya lumayan besar, pengiriman ke Korea tiap bulan tidak kurang 30.000 ekor. Permintaan tersebut akhir-akhir ini bertambah semenjak ada kebijakan impor kumbang kelapa untuk binatang peliharaan ke Negeri Ginseng itu dinyatakan illegal. Lainnya, sekitar 20.000 ekor dikirim ke benua Amerika dan yang terbesar adalah ke Perancis. Setiap hari Selasa ia mengirimkan kurang lebih 10.000 ekor kelomang lukis dari workshopnya yang terletak di daerah Bekasi-Jawa Barat. Dengan harga USD 2,00-USD 5,00 maka bisa dihitung sendiri berapa omset perbulannya, mencapai USD 180.000,00-USD 450.000,00 USD. Itu pun masih ditambah item lainnya, seperti penjualan cangkang maupun kelomang asli.

Hany Faroko, lulusan sekolah perhotelan, mantan bos dealer mobil, namun ujung-ujungnya berlabuh menjadi pebisnis kelomang lukis. Tahun 1998 ia berbulan madu ke Negeri Paman Sam. Di sanalah kisah awal perkenalannya dengan bisnis binatang hias bernama kelomang yang dilukis berwarna-warni. Sebagai pemilik showroom mobil ia  tahu segala jenis cat, sehingga merasa yakin bisa mengerjakan pula.
Setibanya di tanah air ia segera berburu informasi mengenai seluk-beluk bisnis kelomang, mulai teknik pemeliharaan, eksplorasi habitat untuk memperoleh sumber pasokan, pengecatan, dan sebagainya. Sementara itu bisnis otomotif  tetap dijalani hingga berhenti total pada 2001. Sejak saat itu Hany mulai coba-coba menawarkan produk kepada pembeli di luar negeri.

Meskipun minim kompetitor, namun ayah dua putra ini menyebut, bagi pemain baru ternyata tidak begitu mudah memperoleh pembeli. Ia memberikan gambaran, di bisnis ini transaksi antar penjual dengan calon pembeli dilakukan tanpa bertemu muka secara langsung, lalu sistem pembayarannya dilakukan via bank secara tunai. Padahal dalam sekali order jumlah minimalnya 2000 ekor, berarti besarnya transaksi USD 4.000,00-USD 10.000,00. Pihak pembeli tentu saja tidak akan mau mentransfer uang sebanyak itu kepada orang yang masih dianggap asing, sementara sebagai penjual dirinya pun tidak berani rugi, mengirim barang  tetapi belum ada kepastian pembayaran. “Gap ini pula yang membuat bisnis saya agak lama jalan, startnya yang susah,” ujarnya.

Kenyataannya, pengalaman pahit seperti itu juga pernah sekali dia alami. Waktu itu ia masih baru taraf belajar, memenuhi begitu saja permintaan seorang pembeli kelomang dari Amerika dengan perjanjian konsinyasi. Begitu dikirim, sesampainya di sana dilaporkan semua hewan telah mati. Dia merasa ditipu mentah-mentah dan rugi hampir USD 5.000,00.

Perlu diketahui pula, jenis kelomang yang hidup didunia dikelompokkan menjadi enam macam, namun tidak semuanya memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Sebagai contoh, coenobita rugosus adalah jenis kelomang yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Kelomang jenis ini memiliki ciri tekstur garis-garis yang tersusun rapi secara vertikal di sisi depan capit besar kiri.  Warnanya bervariasi, putih, krem, pink, orange muda, coklat, biru muda, ungu, hitam, abu-abu sampai merah. Namun sayang, jenis dapat dikatakan tidak laku untuk dijual karena daya tahan tubuhnya lemah.

Sebaliknya coenobita perlatus yang dikenal dengan warna merahnya yang khas, dengan titik titik putih seperti buah strawberry adalah yang paling mahal. Sebaliknya, jenis yang terdapat banyak di Australia ini amat jarang ditemukan di Indonesia. Hany sendiri mesti memburu kelomang jenis ini hingga ke perairan Papua. Belakangan ia sempat memperoleh pasokan jenis strawberry tersebut dari sumatera tetapi tidak banyak. “Mungkin di pulau-pulau kecil sebenarnya masih ada, tetapi para nelayan merasa enggan untuk mengambil karena resikonya tidak sebanding,” ucapnya saat mengeluhkan pasokan yang acap kurang.

Kelomang LukisDi bengkel kerjanya, Hany dibantu karyawan tetap 10 orang, empat orang di antaranya telah dipercayakan sebagai tenaga ahli pemecah cangkang kelomang yang asli. Sedangkan sisanya mengerjakan pengecatan serta melukis cangkang-cangkang baru yang telah dipersiapkan. Setiap tiga bulan penggemar motor besar itu selalu menciptakan desain lukisan baru agar tidak gampang ditiru. Pada masa-masa awal usaha dia masih memakai model lukis biasa, berikutnya telah dikembangkan jenis lukisan timbul. Bahkan untuk model yang terbaru ia sekarang membuat desain yang bakal sulit dijiplak. Anda mungkin akan terkejut atau  tersenyum kecut melihat cangkang menyerupai topeng, monster lengkap dengan gigi taring, vampir, dan sebagainya. Cangkang-cangkang yang dilukis itu sendiri awalnya berasal dari rumah keong macan, keong mas, atau bekicot. Maklum, cangkang kelomang beneran tidak dipakai karena lebih tebal dan berat.

Sementara itu, dijelaskan, demi memenuhi standar keamanan dan kesehatan cat yang dipakai untuk pewarnaan dipilih dari bahan non toxic seperti biasa dipakai untuk mengecat produk-produk peralatan untuk bayi. “Harganya memang agak mahal, tetapi ini sudah resiko agar tahan lama,” kilahnya. Malah untuk memperoleh hasil maksimal finishingnya menggunakan bahan furnish berkadar glows 98%. “Sebagai perbandingan furnish mobil paling mahal Rp 70 ribu/liter, produk yang saya gunakan harganya Rp 325 ribu/liter. Maka hasilnya betul-betul mengkilap dan tahan gores,” imbuhnya sedikit berbangga, sebab dari sisi kualitas ia berani bersaing dengan eksportir kelomang terbesar di dunia yang sudah puluhan tahun, Sal’s Marine asal India.

Lebih lanjut, saking serius berorientasi pasar ekspor dan itu pun masih merasa kewalahan, Hany justru tidak sempat menggarap pasar lokal yang akhir-akhir ini juga mulai marak. Sebaliknya untuk mengejar target pengiriman ia mengadakan sub bersama dua orang saudaranya dan dua orang lainnya, masih di wilayah Jakarta. “Itu sebabnya biar pun saya tidak mengurusi pasar lokal tetapi 95% pasokan di sini berasal dari saya,” akunya.
Malah atas inisiatif Rolly Handoko, kakaknya, ACS saat ini membuka kesempatan waralaba bagi pengusaha lokal yang tertarik pada bisnis kelomang lukis tersebut. “Kakak saya sekarang merintis sistem franchise, ada paket mulai, Rp 5juta, Rp 10 juta, Rp 20 juta dan seterusnya. Kita sediakan lengkap, mulai dari binatangnya, akuarium, dan aksesorisnya,” lanjutnya dan diamini pula oleh Rolly.

Ditambahkan, asalkan ditekuni serius sejatinya pasar lokal punya prospek cukup bagus, penggemar kelomang lukis mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Sejauh ini Rolly sudah merambah wilayah Jakarta dan sekitarnya serta selalu hadir di setiap pameran flora dan fauna. Terlebih, di sini harga jual juga terbilang bagus. Kelomang lukis dengan desain baru, mulai dari yang terkecil dihargai Rp 30 ribu, Rp 50 ribu, dan Rp 75 ribu setiap ekor. Sedangkan yang memakai lukisan timbul harganya Rp 20 ribu-Rp 50 ribu/ekor. Jadi kelomang lukis, ternyata baik produk maupun bisnisnya, semua menggiurkan.

no image

Posted by On 01.27

Di sejumlah negara kelomang yang sering bergonta ganti cangkang lebih populer ketimbang ikan. Suatu peluang mengeruk uang. Wiyono

Coenobita, tidak semua orang tahu nama apakah itu gerangan. Sebaliknya bila disebut kelomang segera semua mafhum akan sejenis binatang unik yang gemar bergonta-ganti cangkang itu. Masih banyak anggapan binatang pesisir ini hanya pantas menjadi mainan anak-anak, padahal asal tahu saja di luar negeri hewan ini sejak puluhan tahun lalu menjadi satu di antara banyak klangenan yakni sebagai penghuni akuarium dalam ruangan.

“Kelomang pertama kali ngetop di Amerika tahun 1953, barangkali karena pemeliharaannya lebih gampang. Kalau kita mau keluar rumah, ditinggal 5-6 hari tidak mati. Media yang dipakai pasir, berbeda dengan ikan, kita harus menguras air dan sebagainya. Kelebihan lainnya dia unik, bisa berubah-ubah warna,” jelas Hany Faroko. “Di Amerika kelomang lebih populer dari pada ikan, saya pernah buka search yahoo kata kuncinya hermit, sampai tiga hari belum habis dibaca,” tukas tokoh yang dikenal sebagai eksportir kelomang lukis itu menambahkan.

Ekspor kelomang lukis telah dilakukan Hany sejak 2003 dengan bendera usaha CV HNS maupun CV Asian Crabs Shells (ACS), rutin hingga beberapa kali seminggu dalam setiap bulannya, melayani pembeli dari USA, Perancis, Korea, dan Jepang. Jumlahnya lumayan besar, pengiriman ke Korea tiap bulan tidak kurang 30.000 ekor. Permintaan tersebut akhir-akhir ini bertambah semenjak ada kebijakan impor kumbang kelapa untuk binatang peliharaan ke Negeri Ginseng itu dinyatakan illegal. Lainnya, sekitar 20.000 ekor dikirim ke benua Amerika dan yang terbesar adalah ke Perancis. Setiap hari Selasa ia mengirimkan kurang lebih 10.000 ekor kelomang lukis dari workshopnya yang terletak di daerah Bekasi-Jawa Barat. Dengan harga USD 2,00-USD 5,00 maka bisa dihitung sendiri berapa omset perbulannya, mencapai USD 180.000,00-USD 450.000,00 USD. Itu pun masih ditambah item lainnya, seperti penjualan cangkang maupun kelomang asli.

Hany Faroko, lulusan sekolah perhotelan, mantan bos dealer mobil, namun ujung-ujungnya berlabuh menjadi pebisnis kelomang lukis. Tahun 1998 ia berbulan madu ke Negeri Paman Sam. Di sanalah kisah awal perkenalannya dengan bisnis binatang hias bernama kelomang yang dilukis berwarna-warni. Sebagai pemilik showroom mobil ia  tahu segala jenis cat, sehingga merasa yakin bisa mengerjakan pula.
Setibanya di tanah air ia segera berburu informasi mengenai seluk-beluk bisnis kelomang, mulai teknik pemeliharaan, eksplorasi habitat untuk memperoleh sumber pasokan, pengecatan, dan sebagainya. Sementara itu bisnis otomotif  tetap dijalani hingga berhenti total pada 2001. Sejak saat itu Hany mulai coba-coba menawarkan produk kepada pembeli di luar negeri.

Meskipun minim kompetitor, namun ayah dua putra ini menyebut, bagi pemain baru ternyata tidak begitu mudah memperoleh pembeli. Ia memberikan gambaran, di bisnis ini transaksi antar penjual dengan calon pembeli dilakukan tanpa bertemu muka secara langsung, lalu sistem pembayarannya dilakukan via bank secara tunai. Padahal dalam sekali order jumlah minimalnya 2000 ekor, berarti besarnya transaksi USD 4.000,00-USD 10.000,00. Pihak pembeli tentu saja tidak akan mau mentransfer uang sebanyak itu kepada orang yang masih dianggap asing, sementara sebagai penjual dirinya pun tidak berani rugi, mengirim barang  tetapi belum ada kepastian pembayaran. “Gap ini pula yang membuat bisnis saya agak lama jalan, startnya yang susah,” ujarnya.

Kenyataannya, pengalaman pahit seperti itu juga pernah sekali dia alami. Waktu itu ia masih baru taraf belajar, memenuhi begitu saja permintaan seorang pembeli kelomang dari Amerika dengan perjanjian konsinyasi. Begitu dikirim, sesampainya di sana dilaporkan semua hewan telah mati. Dia merasa ditipu mentah-mentah dan rugi hampir USD 5.000,00.

Perlu diketahui pula, jenis kelomang yang hidup didunia dikelompokkan menjadi enam macam, namun tidak semuanya memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Sebagai contoh, coenobita rugosus adalah jenis kelomang yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Kelomang jenis ini memiliki ciri tekstur garis-garis yang tersusun rapi secara vertikal di sisi depan capit besar kiri.  Warnanya bervariasi, putih, krem, pink, orange muda, coklat, biru muda, ungu, hitam, abu-abu sampai merah. Namun sayang, jenis dapat dikatakan tidak laku untuk dijual karena daya tahan tubuhnya lemah.

Sebaliknya coenobita perlatus yang dikenal dengan warna merahnya yang khas, dengan titik titik putih seperti buah strawberry adalah yang paling mahal. Sebaliknya, jenis yang terdapat banyak di Australia ini amat jarang ditemukan di Indonesia. Hany sendiri mesti memburu kelomang jenis ini hingga ke perairan Papua. Belakangan ia sempat memperoleh pasokan jenis strawberry tersebut dari sumatera tetapi tidak banyak. “Mungkin di pulau-pulau kecil sebenarnya masih ada, tetapi para nelayan merasa enggan untuk mengambil karena resikonya tidak sebanding,” ucapnya saat mengeluhkan pasokan yang acap kurang.

Kelomang LukisDi bengkel kerjanya, Hany dibantu karyawan tetap 10 orang, empat orang di antaranya telah dipercayakan sebagai tenaga ahli pemecah cangkang kelomang yang asli. Sedangkan sisanya mengerjakan pengecatan serta melukis cangkang-cangkang baru yang telah dipersiapkan. Setiap tiga bulan penggemar motor besar itu selalu menciptakan desain lukisan baru agar tidak gampang ditiru. Pada masa-masa awal usaha dia masih memakai model lukis biasa, berikutnya telah dikembangkan jenis lukisan timbul. Bahkan untuk model yang terbaru ia sekarang membuat desain yang bakal sulit dijiplak. Anda mungkin akan terkejut atau  tersenyum kecut melihat cangkang menyerupai topeng, monster lengkap dengan gigi taring, vampir, dan sebagainya. Cangkang-cangkang yang dilukis itu sendiri awalnya berasal dari rumah keong macan, keong mas, atau bekicot. Maklum, cangkang kelomang beneran tidak dipakai karena lebih tebal dan berat.

Sementara itu, dijelaskan, demi memenuhi standar keamanan dan kesehatan cat yang dipakai untuk pewarnaan dipilih dari bahan non toxic seperti biasa dipakai untuk mengecat produk-produk peralatan untuk bayi. “Harganya memang agak mahal, tetapi ini sudah resiko agar tahan lama,” kilahnya. Malah untuk memperoleh hasil maksimal finishingnya menggunakan bahan furnish berkadar glows 98%. “Sebagai perbandingan furnish mobil paling mahal Rp 70 ribu/liter, produk yang saya gunakan harganya Rp 325 ribu/liter. Maka hasilnya betul-betul mengkilap dan tahan gores,” imbuhnya sedikit berbangga, sebab dari sisi kualitas ia berani bersaing dengan eksportir kelomang terbesar di dunia yang sudah puluhan tahun, Sal’s Marine asal India.

Lebih lanjut, saking serius berorientasi pasar ekspor dan itu pun masih merasa kewalahan, Hany justru tidak sempat menggarap pasar lokal yang akhir-akhir ini juga mulai marak. Sebaliknya untuk mengejar target pengiriman ia mengadakan sub bersama dua orang saudaranya dan dua orang lainnya, masih di wilayah Jakarta. “Itu sebabnya biar pun saya tidak mengurusi pasar lokal tetapi 95% pasokan di sini berasal dari saya,” akunya.
Malah atas inisiatif Rolly Handoko, kakaknya, ACS saat ini membuka kesempatan waralaba bagi pengusaha lokal yang tertarik pada bisnis kelomang lukis tersebut. “Kakak saya sekarang merintis sistem franchise, ada paket mulai, Rp 5juta, Rp 10 juta, Rp 20 juta dan seterusnya. Kita sediakan lengkap, mulai dari binatangnya, akuarium, dan aksesorisnya,” lanjutnya dan diamini pula oleh Rolly.

Ditambahkan, asalkan ditekuni serius sejatinya pasar lokal punya prospek cukup bagus, penggemar kelomang lukis mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Sejauh ini Rolly sudah merambah wilayah Jakarta dan sekitarnya serta selalu hadir di setiap pameran flora dan fauna. Terlebih, di sini harga jual juga terbilang bagus. Kelomang lukis dengan desain baru, mulai dari yang terkecil dihargai Rp 30 ribu, Rp 50 ribu, dan Rp 75 ribu setiap ekor. Sedangkan yang memakai lukisan timbul harganya Rp 20 ribu-Rp 50 ribu/ekor. Jadi kelomang lukis, ternyata baik produk maupun bisnisnya, semua menggiurkan.

no image

Posted by On 03.30

Kreatif menciptakan replika gitar dari sejumlah gitaris legendaris, Kadir Ngamino sukses mengangkat Music Miniature. Wiyono

Gitar mini. Jangan berpikiran benda mungil bikinan Music Miniature, bengkel milik Kadir Ngamino, pengusaha dari Bantul - Jogyakarta ini bisa untuk bermusik ria. Sepintas bentuk dan detilnya sangat mirip dengan gitar beneran tetapi fungsinya memang sekadar barang pajangan. Menjadi sangat istimewa karena desainnya merupakan replika gitar-gitar koleksi para artis musik papan atas dunia. Penggemar fanatik boleh pilih, ada gitar ala Michael Wong, Paul McCartney, Axel Rose, Steve Vai, Yngwie Malmsten, Dean, George Harrison, Jimmy Hendrix, Erwin, Jhon Mayal, The Kiss, Eric Clapton, Van Halen, dan sebagainya.

Tidak salah, gitar atau instrumen musik dengan cara dipetik ini paling populer dibanding jenis lain. Dengan atau tanpa ditemani iringan alat musik lainnya gitar mampu mengiringi lirik lagu, dari irama syahdu mendayu atau pun irama rancak nan hangar-bingar. Maka tidak salah Kadir Ngamino sejak 1997 merasa pasti dengan melakoni usaha pembuatan gitar mini suatu ketika ia bakal memetik sukses. Keyakinannya didasarkan pada pemikiran bahwa setiap orang menyukai musik, dan dengan begitu juga akan menyukai alat musiknya. Terlebih jika itu menjadi milik seorang penyanyi atau bintang dari group band ternama yang melegenda. Apabila tidak dapat memiliki yang asli, sekadar replikanya pun jadi, begitulah kira-kira.

Kenyataannya bisnis dengan modal awal hanya sekitar Rp 1,5 juta rupiah itu sampai sekarang tidak pernah berhenti mendapatkan pesanan. Gitar Miniature terdapat 3 buah workshop terletak di tempat terpisah. Dua buah workshop dipakai untuk berproduksi, dan satu lagi dikhususkan untuk mempersiapkan bahan mentah. Dengan dibantu sekitar 40 orang pekerja, kapasitas produksi per bulan paling banyak 5000 pcs. Padahal menurut Kadir kalau seluruh pesanan diterima, sebulan rata-rata jumlahnya bisa mencapai 10.000 lebih. Sementara itu minimal pemesanan telah ditentukan paling tidak 1000 pcs. “Jadi kalau yang tidak kontinyu pesanannya harus antri,” ujarnya.

Di setiap tempat produksinya, Kadir membatasi 15-20 orang pekerja dengan tujuan agar lebih gampang menilai dan mengetahui karyawan yang bisa berkembang. “Promosi akan kami berikan dengan mempercayakan sebuah workshop untuk pengembangan dirinya dan meningkatkan penghasil dari karyawn tersebut,” ujar ayah dari Fata Akbar dan Aisyah Munif yang jauh-jauh hari telah memikirkan pengembangan usaha, semisal waralaba. “Usaha saya pernah ditawar beberapa buyer  Rp 1 miliar, terakhir bahkan hampir mencapai Rp 10 miliar, tetapi saya belum mau lepas karena setelah dihitung-hitung dalam jangka waktu 2 tahun mereka sudah bisa break event,” ungkapnya.

Sukses Kadir jelas bukan barang dadakan. Sebelum menggeluti usaha kerajinan gitar mini keturunan Dayak Cina ini pernah malang-melintang sebagai marketing dan marketing trainer komputer, suku
Gitar Minicadang mobil, oli sampai batu hias. Terakhir, pria kelahiran 28 Januari 1961 ini membuka sebuah stand busana muslim di Batam tetapi gagal sehingga habis modal. Dengan modal minim yang tersisa ia merantau ke Jogyakarta dan membuka usaha kerajinan hingga seperti sekarang ini.

Semula gitar mini hasil buatannya hanya dipasarkan di wilayah lokal, seperti candi Borobudur, Prambanan, Malioboro dan objek-objek wisata sekitar Yogya. Tetapi ia kecewa karena ternyata hasilnya kurang bagus. Dari penawaran jual seharga Rp 12.000,00 pembeli hanya berani Rp 7.500,00. Diakui, perajin gitar mini sejatinya bukan dirinya yang  pertama kali. Bedanya, apabila yang lain bersedia menjual murah, ia justru pantang banting harga. Untuk itu ia mulai mencoba masuk pasar ekspor melalui situs internet.
Respon awal yang didapat pun kurang memuaskan, oleh para broker asing produknya dipandang sebelah mata. Namun, ia tetap tidak putus asa dan memegang prinsip dasar manajemen pasar atau hukum permintaan, intinya yaitu jangan sekali-kali obral harga. “Saya berpikiran simple saja, para buyer itu punya uang dan cari untung. Kalau mereka tidak mendapatkan barang kami mereka nggak akan mendapatkan untung, jadi bukan kami butuh mereka, tapi mereka butuh kami,” tuturnya.

Kadir mengaku punya strategi agar para buyer selalu punya rasa ketergantungan yakni dengan membuat beberapa spesifikasi dan kekhasan produk. Oleh karena itu segmen market yang ia tuju khususnya segmen atas yang mengutamakan mutu. Bila dulunya miniatur alat musik ini hanya terdapat beberapa model, selanjutnya terus dikembangkan menjadi lebih dari 2500 jenis. “Tiap bulan kami berusaha mengembangkan sebanyak 30-50 jenis baru,” akunya.
Benar, perlahan tapi pasti usaha yang dijalankan bersama  Nur Farida Nugraheni, wanita asal Klaten yang dinikahi sejak 1997 itu pun terus berkembang. Pemesan berasal dari lebih dari 10 negara, tetapi disebutkan, konsentrasi pemasaran yang paling utama adalah USA karena di sana sebagai surga bagi pemusik dunia dan terdapat banyak sekali penggemar fanatik sehingga memiliki market amat besar. Harga jualnya beragam, tergantung dari tingkat kesulitan modelnya, berkisar dari USD 6,00–USD 12,00. Artinya omset yang diterima setiap bulan bisa mencapai USD 30.000,00-USD 60.000,00.

Meskipun hanya dipakai sebagai produk pajangan namun menurut Kadir kerajinan miniatur gitar membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Proses pembuatannya melewati lebih dari 40 tahap, di mulai dari bahan baku kayu mahoni sampai bentuk gitar sesuai dengan wujud asli yang ingin ditiru. Maka, dikatakan, setiap proses butuh sentuhan lembut pada benda keras. Sementara itu desain biasanya diperoleh dari internet atau kadang-kadang dari pembeli yang mengirimkan gambar.

“Dan disini dibutuhkan sebuah feeling business, karena kita harus jeli menentukan model gitar mana yang laku dipasaran dan kurang laku. Selain itu juga harus tahu, setiap negara bagian di USA berbeda-beda jenis musik yang disukai, misalnya Texas tentu acoustic guitar akan lebih laku karena musik country musik idaman mereka,” jelasnya. Sedangkan produk lain yang dia buat antara lain miniatur drum set, piano, dan lain-lain, termasuk gantungan kunci gitar dan ornament miniature guitar yang bisa digantungkan pada mobil atau pada pohon natal. Siapa sangka jika produk-produk cendera mata nan laris-manis di negeri manca ini berasal dari limbah kayu, tetapi telah dipoles begitu indah.