www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

no image

Posted by On 02.46

Ini bukannya berbicara tentang bisnis money game yang beberapa saat lalu santer dengan nama Kanan-Kiri Seimbang, tapi berbicara tentang keseimbangan otak kanan dan otak kiri. Memang santer sekali kata-kata otak kanan digunakan terutama oleh pendiri Entrepreneur University, yang juga salah satu mentor saya, Purdie E. Chandra. Secara struktural memang otak kita dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kanan dan bagian kiri. Namun secara fungsional atau sistem kerjanya, kedua bagian otak kita bekerja bersamaan saling membantu. Contoh sederhana, saat saya menulis naskah ini, saya sedang mengetik dengan kedua tangan saya, yang artinya otak kanan sedang memerintahkan tangan kiri untuk bekerja, sebaliknya otak kiri memerintahkan tangan kanan. Secara bersamaan (atau nyaris hampir bersamaan), otak saya bagian kiri sedang mengingat (kerja otak kiri) materi yang pernah dikatakan oleh Pak Purdi, sembari saya berimaginasi (kerja otak kanan) membayangkan adanya aliran arus listrik dari otak kiri saya ke otak kanan saya dan sebaliknya.

Wow, memang luar biasa potensi otak kita ini, tidak sesederhana seperti apa yang kita pikirkan. Namun hal sering digunakannya istilah otak kiri dan otak kanan sebenarnya lebih tepat sebagai analogi logika vs imaginasi, teori vs praktek, perhitungan vs keberanian, linier vs lateral.

Mengkanankan Otak Kiri
Kenapa banyak para mentor wirausaha memprovokasi untuk lebih sering menggunakan otak kanan saat akan mulai usaha? Sejenak saya termenung sambil memukul kepala saya bagian kiri seolah mendorong bagian otak kiri untuk pergi ke kanan atau saya sedang berusaha dengan keras untuk hanya mengijinkan otak kanan bekerja. Bukan seperti itu tentu maksudnya, otak kanan yang dimaksud adalah ACTION oriented, bukan sekedar teori saja.

Memang tidak mudah mengajak orang yang sudah telanjur dominan“kiri” (baca:teoritis) beralih ke  “kanan” (baca:praktis). Maka dari itu biasanya pula, para mentor mengupas iming-iming menjadi pengusaha dan memaparkan kemudahan-kemudahannya. Misalnya,”Kalau mau usaha, jangan dipikir, dimulai aja”, atau “Dibuka dulu usahanya, nanti pasti menghitung. Kalau dihitung dulu, nggak buka-buka!”. Apa sih maksudnya? Sebenarnya sang mentor hanya ingin menarik kita untuk jadi pengusaha sekarang juga, bukan besok apalagi kapan-kapan. Karena kalau sang mentor bilang,”… lha mbok dihitung yang cermat dulu untung ruginya, jangan sampe nanti rugi!”. Yah, kapan mulainya?!

Otak Kanan Saja Cukup?
Banyak juga si penggemar otak kanan yang “kebablasan”, sampai-sampai gak pakai otak lagi alias ngawur. Jaman dulu menjalankan usaha dengan sangat konservatif masih bisa. Lain hal dengan jaman internet dan franchise sekarang ini. Dunia sudah semakin kompetitif dan tren bisnis bergerak sangat cepat. Saat mulai, memang harus pake otak kanan, namun setelah mulai, dibutuhkan otak kiri yang dominan untuk menganalisa hasil yang kita peroleh dan meng-adjust strategi kita berikutnya. Kalo asal trial error aja khan namanya konyol. Wong sudah ada orang yang jatuh di lubang yang sama, kok kita nyemplung ke situ juga.

Contohnya, orang membeli barang bukan karena fungsinya saja, tapi juga karena 'lifestyle', suasana belanja yang nyaman, sekaligus kepastian harga murah, tanpa harus menawar. Bahkan banyak usaha yang tidak berfikir untung besar (margin) lagi, yang penting omset besar, karena keuntungan yang lain diperoleh dari propertinya. Kalau kita masih menggunakan strategi yang lama, ya sudah kuno. Jika dulu inovasi di bidang teknologi, sekarang bergeser ke desain yang unik dan menarik. Dan sebentar lagi tren itupun akan bergeser ke tren yang lain. Yang perlu digarisbawahi...., belajar itu tidak hanya di bangku kuliah saja. Karena saat kuliah, jurusan yang saya ambil (elektro) sangat jauh berbeda dengan dunia usaha saya, yang banyak berkecimpung di perdagangan dan marketing, maka saya memilih belajar dari buku, majalah, seminar dan training. Biaya trial error sangatlah mahal!

Kebo vs Ferari
Duluan mana sampenya? Tergantung! Kalo kebonya jalan, ferarinya diam aja, ya menang kebonya. Kalo sama-sama jalannya, ferari lebih cepat. Gimana kalo Ferari lawan Ferari juga dan sama-sama jalan? Tergantung juga, yang nyetir siapa dulu? Artinya, orang pinter kalau nggak berani action, ya nggak menang sama orang biasa tapi berani mencoba. Kalau sama-sama beraninya, yang punya ilmu ibarat punya petanya, bisa sampai lebih cepat karena paham jalannya. Gimana kalo nggak bisa naik ferari, bisa nggak nyampe sama-sama? Bisa aja, asalkan satu mobil. Artinya, kita bisa cari tim (partner atau karyawan) yang lebih pinter. Intinya, si ‘pelaksana’ bisnis haruslah orang-orang yang paham seluk beluk bisnis itu.

Jadi, untuk berhasil ada ilmunya, bukan asal jalan aja. Hanya saja kalau mau belajar, ya jangan ditelan mentah-mentah, dipilah dan diolah dulu, jangan-jangan ilmunya udah gak berlaku lagi di jaman sekarang.

You can not live with yesterday standard and expect extra ordinary income today!

Jaya Setiabudi
Pendiri Entrepreneur Association
Coach Entrepreneur Camp
Direktur Young Entrepreneur Academy
Komisaris Momentum Group
HP: 0811 777894
Email: masj@fone-mail.com
Web: www.yukbisnis.com

no image

Posted by On 02.47

Meski posisinya sebagai Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Siliwangi, Asep Budiman tidak meninggalkan kepiawiannya sebagai pebisnis. Sukatna

Mencari ilmu sekaligus mencari biayanya merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan Asep Budiman. Sejak duduk di sekolah dasar lulusan pasca sarjana Ekonomi Perusahaan Pertanian Universitas Padjajaran ini sudah belajar berdagang. Bahkan ketika masuk ke jenjang perguruan tinggi ia sudah bisa membiayai sendiri kuliahnya.

Sekarang setelah memegang jabatan sebagai Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Siliwangi Tasikmalaya, tidak serta merta bisnis ditinggalkannya. Hanya saja dengan strategi yang berbeda. Sebelum tahun 2000, Asep lebih banyak menjalankan aktivitas bisnis dengan tenaganya sendiri. “Setelah selesai mengajar di kampus, saya sering mengangkuti barang-barang untuk dijual,” akunya.

Namun kini ia memiliki strategi berbeda. Menurutnya, ia lebih banyak menggunakan pikirannya dalam menjalankan bisnis. Dalam bisnis ban dan oli bekas, ia menggandeng mitra. Aktivitas bisnis tersebut pun dijalankan oleh orang lain. Ia hanya mencari dan memperluas jaringan, baik untuk pembelian oli dan bekas maupun untuk penjualannya.
Ban bekas ia beli dari Jakarta, kemudian divulkanisir dan dijual kembali.

Dalam menjalankan bisnis, selain menggandeng mitra, seringkali ia bekerjasama dengan saudara atau adiknya. Misalnya untuk bisnis counter HP dan jasa pencucian bis di sebuah pool di Jakarta. Dalam posisi ini Asep bertindak sebagai investor saja sedang adiknya yang menjalankan usaha. Pola pembagian hasil antara Asep dan adiknya 40:60.  “Secara fisik saya sudah tidak banyak terlibat. Sekarang ini saya lebih menekuni bisnis yang banyak menggunakan pikiran. Misalnya menjadi konsultan pendirian BPR atau membuat business plan,” tuturnya.

Sebetulnya, kata Asep, antara pendidikan tinggi atau profesi akademisi dengan bisnis tidak kontradiktif. Pendidikan tinggi, menurutnya, justru bisa mendongkrak kemajuan bisnis. “Secara pribadi saya merasakan pendidikan tinggi sangat berguna untuk mendongkrak kemampaun berkomunikasi, memperluas jaringan dan kepercayaan diri, suatu hal yang penting dalam menjalankan bisnis,” katanya memberi alasan.

Cuma, imbuh Asep, pebisnis yang memiliki pendidikan tinggi dan menekuni sebuah profesi, biasanya fokusnya terbagi. Sehingga tingkat kemajuan usahanya tidak sepesat dengan orang-orang yang fokus pada bisnisnya semata. “Hanya persoalan fokus saja. Menurut saya pendidikan tinggi tidak menghalangi seseorang untuk sukses berbisnis,” tandasnya seraya menyebut banyak rekan-rekan seprofesinya yang juga sukses berbisnis, bahkan jauh lebih sukses dari dirinya.

no image

Posted by On 02.51

Benarkah otak kiri sebagai ‘biang keladi’ yang menghambat kemampuan seseorang untuk memulai dan menjalankan bisnis seperti yang dituduhkan sejumlah orang selama ini?Sukatna

Banyak pebisnis yang sukses namun gagal dalam pendidikannya. Secara statistik jumlahnya cukup signifikan. Kemudian orang mencoba mengaitkannya dengan keberadaan otak kiri dan otak kanan. Konon otak kiri banyak bertanggung jawab atas aktivitas yang melibatkan kemampuan analisis, matematis dan detil (ciri-ciri yang dimiliki para akademisi, pemikir, maupun orang-orang berpendidikan tinggi), sedangkan otak kanan terkait dengan intuisi, kreatifitas dan berpikir secara makro.
Kata sejumlah orang, menonjolnya kemampuan otak kiri membuat seseorang lebih banyak berpikir, berhitung matematis sehingga menciptakan bayang-bayang ketakutan ketika akan memulai berbisnis: takut gagal, takut risiko. Mungkin pendapat ini ada benarnya, tetapi benarkah otak kiri sedemikian “jahat” bagi orang yang akan memulai dan menjalankan bisnis. Kalau pendapat ini mutlak benar maka kita berarti mengabaikan suatu fakta tentang banyaknya pengusaha yang sukses sekaligus berpendidikan tinggi.
Agaknya kita membutuhkan “jalan perdamaian” antara otak kanan dan otak kiri. Mulailah bisnis dengan otak kanan, dan kembangkan bisnis dengan perpaduan otak kanan dan kiri. Kita analogikan saja sebagai sebuah kombinasi antara gas dan rem dalam mobil. Sukseskah kita sampai ke tujuan ketika mobil kita tanpa rem?

Dalam wacanatama kali ini kita menampilkan orang-orang yang mampu memanfaatkan otak kanan sebagai gas dan otak kiri sebagai rem dan pengendali dalam menjalankan bisnis sekaligus sebagai akademisi.
Sebut saja Asep Budiman, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Di tengah kesibukannya mengurusi semua aktivitas mahasiswa, Asep memiliki beberapa bisnis, seperti oli bekas, vulkanisir ban bekas, bordir, counter Hp dan jasa cuci bis. Menyiasati kesibukannya sebagai pejabat teras di Unsil, Asep selalu menggandeng mitra atau bekerja sama dengan keluarganya.
Asep mengaku keterlibatannya secara fisik di dalam bisnis memang jauh berkurang dibandingkan kurun waktu sebelum tahun 2000. Bisnis yang digelutinya lebih banyak berkaitan dengan pikiran dan ide, sedangkan eksekusinya diserahkan kepada orang lain atau karyawan. “Bisnis saya lebih banyak di pikiran, seperti menjadi konsultan dan membuat business plan. Selain dari sisi fisik tidak terlalu menguras tenaga, hasilnya juga lebih gede,” ujarnya sembari tertawa.
Jiwa kewirausahaannya inipun ia tularkan kepada para mahasiswanya . Sewaktu masih menjadi Ketua Jurusan Manajemen Unsil ia sering mengundang dosen tamu yang terdiri dari para pengusaha sukses maupun yang gagal untuk sharing dengan para mahasiswa. Setelah itu mahasiswa disuruh mengamati peluang di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Kemudian mereka disuruh berpresentasi, dan didorong untuk mendirikan usaha. “Yang berhasil mendirikan usaha, meski kecil langsung mendapatkan nilai A,” kiatnya dalam menularkan entrepreneurship seraya mengimbuhkan ada beberapa bisnis yang didirikan mahasiswanya masih eksis, bahkan berkembang sampai sekarang, di antaranya usaha poultry shop di Kuningan.

Segendang sepenarian dengan Asep, Nuryana Saepudin juga tidak serta merta meninggalkan dunia bisnis ketika dipercaya menjadi Kepala Sekolah Menengah Atas Terpadu (SMAT) Krida Nusantara, Bandung.
Setelah ia memegang tampuk pimpinan di sekolah boarding berstandar internasional ini, dalam berbisnis Nuryana lebih banyak menggunakan kecerdasan otak kirinya. Larangan secara tidak langsung dari pihak yayasan agar guru SMAT Krida Nusantara tidak melakukan aktivitas bisnis, disiasatinya secara arif dengan menyerahkan operasional CV Gema Nuansa ke mitranya. “Saya merancang Tour of Operation sedang mitra saya bertugas mencari klien,” tuturnya.
Menurut Nuryana, bisnis tidak harus moving, tetapi cukup memanfaatkan teknologi komunikasi seperti telepon seluler, telepon dan fax. Ditegaskannya, dalam berbisnis yang penting justru memberdayakan pikiran, dan eksekusinya bisa diserahkan kepada orang lain. “Yang penting bagaimana caranya membangun sistem,” tandas Master Pemerintahan Universitas Langlang Buana ini.

Pentingnya dukungan otak kiri dalam mengembangkan bisnis juga diungkapkan Shofwan Azhar Solihin, Dosen Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin). Menurut pengalamannya, sebagai akademisi maupun pebisnis, penguasaan teori itu dapat mendukung bisnis. Teori bisa memberikan arah sehingga pada tingkat prakteknya benar-benar bisa dihayati. “Dengan kata lain, rohnya akan terasa lebih lengkap jika teori diikuti praktik,” kata Direktur LBPP-LIA cabang Buah Batu, Bandung, yang juga Master Economic Agricultural Science, Landbouw Watenschapen, Belgia, ini.
Suatu strategi yang terbukti ampuh, berdasarkan teori (itu sebabnya tidak perlu alergi terhadap teori) adalah pemilihan lokasi usaha. “Secara ekstrem dikatakan bahwa keberhasilan suatu usaha itu tergantung pada empat hal yaitu lokasi, lokasi, lokasi, dan lokasi. Karena, lokasi yang strategis akan menutup kelemahan berbagai strategi bisnis yang lain,” ucapnya.

Memadukan teori dan praktik akan jauh produktif ketimbang mempersoalkan tidak klopnya teori dan praktik. Hal ini diungkapkan Dandan Irawan, Wakil Rektor I Inkopin, Jatinangor, Sumedang. Ilmu yang didapat di kelas berupa teori-teori pun harus diaplikasikan di lapangan. Sehingga antara ilmu teoritis dan praktisi dapat berjalan selaras dan saling melengkapi.
Pemilik usaha jasa dan garmen ini mengakui pada dasarnya pola pikir akademisi memang bertolak belakang dengan bisnis. Kalau pengusaha langsung terjun dengan menikmati untung atau menderita rugi pada proses akhirnya, sedangkan akademisi menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam suatu bisnis tetapi dengan satu muara: bagaimana mendapat untung. Target akhir inilah yang seringkali menjadi momok sehingga menimbulkan rasa gamang ketika orang akan memulai bisnis. Dan itu sebabnya pula otak kiri seringkali dituduh sebagai ‘biang kerok’ yang menghambat keberanian lulusan pendidikan tinggi memulai usaha.

Namun Rektor Unsil Nu’man Somantri memiliki perspektif yang berbeda melihat belum bergairahnya lulusan pendidikan tinggi terjun menjadi wirausaha. Ia melihat bukan persoalan otak kiri dan otak kanan, tetapi penyebabnya lebih lekat kepada masalah kultur. Selama 350 tahun Belanda mencengkeram Indonesia. Bukan hanya dalam arti mencengkeram secara fisik tetapi juga kultur. Pada zaman Belanda, di Indonesia diciptakan tiga kelas masyarakat, yakni masyarakat Eropa sebagai penguasa, masyarakat Arab dan Cina sebagai pengusaha dan masyarakat Indonesia sebagai pekerja (untuk kelas menengah ke atas sebagai pegawai dan untuk kelas bawah sebagai kuli).
Kultur inipun masih dilanggengkan secara turun temurun. Bahkan Nu’man sendiri mengaku mendapat pesan dari orang tuanya agar memilih karir menjadi pegawai. Padahal orangtua Nu’man termasuk golongan yang memiliki pendidikan tinggi, namun tidak sepenuhnya bisa mengelak dari kultur yang ditanamkan Belanda. “Dari suatu survey yang dilakukan Media Group, lulusan perguruan tinggi masih banyak yang memilih menjadi pegawai,” ungkapnya.

Kendala yang lain adalah belum adanya perguruan tinggi di Indonesia yang bisa mengemban misi sebagai entrepreneur university, sebagaimana di Amerika Serikat atau di Eropa. Alih-alih bisa mendukung lahirnya lulusan-lulusan yang berjiwa entrepreneur, banyak akademisi atau ilmuwan yang melontarkan pertanyaan menohok,”ini mau ilmu atau mau dagang?”
Namun Nu’man bergeming. Maka tekadnya untuk menjadikan Unsil sebagai suatu entrepreneur university sudah bulat. Karena menurutnya, jika berhasil mengemban tugas sebagai entrepreneur university, dampaknya akan jauh lebih hebat ketimbang Revolusi Industri.

Mengubah mindset seperti ini memang tidak gampang. Itu sebabnya Nu’man tidak berani memasang target berdasarkan tenggat waktu. “Yang penting kita telah memulai prosesnya,” tandas Nu’man. Benar Pak. Jarak ribuan mil juga dimulai dari satu langkah

no image

Posted by On 04.01

Bukan hanya di kota metropolitan  keamanan terasa mahal. Di kota lain pun demikian. Perlu pihak lain untuk memperoleh rasa aman dan nyaman. Inilah peluang yang ditangkap Purna Wira Bhakti. Russanti Lubis

Dijamin tidak akan ada yang menggelengkan kepala, tanda tak setuju, ketika dikatakan bahwa merasa aman merupakan hak azasi setiap individu. Jadi, harap maklum bila setiap orang berupaya menjaga keamanan diri mereka sendiri, sehingga dapat hidup nyaman dan segala aktivitas berjalan lancar. Tapi, dalam perkembangannya, hal itu tidak dapat dilakukan sendiri lagi, tetapi juga membutuhkan bantuan banyak pihak, di antaranya jasa pengamanan. Di sisi lain, meningkatnya kerawanan keamanan bukan lagi monopoli kota-kota besar, melainkan juga kota-kota kecil yang sedang berkembang, seperti Batam misalnya.

Peluang ini ditangkap dengan manis oleh Dwifung Wirajaya Saputra, mantan taruna Akademi Militer, dengan mendirikan jasa pengamanan di bawah naungan Organisasi Purna Wira Bhakti (PWB), pada 7 Januari 2004. Sekadar informasi, organisasi ini merupakan organisasi resmi di bawah Kodim 0316 Batam. Lalu, seiring dengan maju dan berkembangnya usaha tersebut, agar lebih profesional PWB berganti nama menjadi PT Purna Wira Perkasa (PWP) pada 24 Oktober 2005.
“Modal mendirikan perusahaan ini tidak besar, cuma Rp30 juta yang dikumpulkan dari delapan perintisnya. Dan, itu lebih banyak diperuntukkan mengurus perizinan, dalam hal ini Mabes Polri sebagai Badan Usaha Jasa Penyedia Pengamanan. Di sisi lain, melalui PWP, saya mencoba membantu rekan-rekan senasib (para mantan anggota TNI/Polri yang mengadu untung di Batam, red.) yang pada dasarnya masih memiliki potensi luar biasa, untuk dikembangkan ke arah kebaikan,” kata Ipung, demikian sapaan akrabnya.

PWP yang merekrut para anggotanya melalui tiga tahapan yaitu tahap penerimaan, tahap penyeleksian, dan tahap pendidikan dasar, kini memiliki 158 anggota (30 orang di antaranya perempuan, red.), yang difungsikan untuk melayani tenaga pengamanan di sektor pengerjaan proyek pembangunan gedung, perumahan, perkantoran, pusat perbelanjaan, pertokoan, rumah sakit, kawasan industri, pabrik, bank, dan private security guard. Saat ini, perusahaan yang bermarkas besar di Balo Persero, Batam, ini telah menempatkan para personilnya di 14 perusahaan di Kepulauan Riau, di samping  menangani beberapa event besar. 
“Perusahaan kami baru beroperasi di Kepulauan Riau saja. Kami belum melebarkan sayap ke negara tetangga, Singapura misalnya. Karena, kami merasa masih harus belajar lagi untuk bisa maju di masa depan. Untuk saat ini, kami hanya ingin menjadi salah satu perusahaan jasa pengamanan terbaik di Indonesia, seperti semboyan kami Your Security Is Our Priority,” ucapnya. Tapi, ia tak memungkiri bahwa bisnis jasa pengamanan sangat prospektif. Karena itu, PWP yang setiap bulan rata-rata meraup omset Rp50 juta hingga Rp60 juta ini berencana melebarkan sayap ke Riau atau Medan. “Kami cenderung menggunakan strategi perang kota yaitu menyusuri setiap pinggiran wilayah secara perlahan, mengepungnya, lantas menyergap ke tengah. Kalau, kami langsung ‘menghajar’ Jakarta, bisa dipastikan kami kalah dengan perusahaan jasa pengamanan yang sudah malang melintang di kota tersebut,” lanjutnya.

Untuk mendukung strategi tersebut, PWP menciptakan diferensiasi seperti selalu meningkatkan kemampuan para anggotanya dengan melakukan drill lapangan setiap bulan, pola pembinaan yang kontinyu dan terintegrasi sehingga tercipta satu pola pengamanan yang tersinergi, serta pola rotasi antarsatuan untuk mencegah efek jenuh dalam pelaksanaan tugas. Di samping itu, juga terus menciptakan sumber daya manusia yang tanggap, tanggon, dan trengginas, serta memiliki kepribadian yang baik sesuai dengan harapan konsumen. 

Berapa tarifnya? “Dalam istilah militer, besar kecilnya tarif tergantung cuaca, medan, dan musuhnya (cumemu, red.). Jadi, ya tergantung dari apa yang diamankan, di mana lokasinya, bagaimana tingkat kerawanan lingkungan tersebut, berapa jumlah personil yang akan ditempatkan, berapa lama kontraknya, dan beberapa faktor lain. Harga yang harus dibayar konsumen sudah termasuk dengan perlengkapan pendukung pelaksanaan tugas pengamanan, seperti seragam, pentungan, borgol, senter, senter pengatur lalu lintas, metal detector, mirror detector, handy talky, dan jas hujan. Singkat kata, untuk tarif bersifat kontrak berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta, sedangkan untuk yang bersifat temporary antara Rp200 ribu sampai Rp400 ribu per orang. Tarif ini masih dapat dinegosiasikan,” jelas General Manager PWP ini.
Margin keuntungan dari total biaya keseluruhan yang dikeluarkan perusahaan, ia menambahkan, berkisar 5% sampai 20%, tergantung dari besar kecilnya lingkup klien yang menggunakan. Merasa aman itu mahal, merasa tidak aman itu lebih mahal lagi, begitu bukan?

Cek dan Ricek Bisnis Pengamanan
Jika Anda berminat menggunakan jasa pengamanan, tip tentang memilih perusahaan jasa pengamanan yang baik berikut ini sebaiknya Anda simak.
§          Cek perizinannya, apakah mengantungi surat izin dari Mabes Polri atau tidak.
§          Cek apakah memiliki Standard Operasional Prosedur yang baku untuk pengamanan atau tidak. §          Mintalah referensi siapa konsumen yang pernah menggunakan jasa mereka.
§          Cek apa saja fasilitas pendukung yang diberikan.

no image

Posted by On 03.22

Track record bukan hanya ampuh untuk menjejaki karir di dunia politik, tetapi juga merupakan salah satu kunci sukses dalam mengembangkan bisnis. Sukatna

Salah satu nasehat yang diajarkan sejak dini dalam kultur kebudayaan Jawa adalah “goleko jeneng dhisik sawise kuwi lagi jenang (ukirlah prestasi atau reputasi terlebih dahaulu barulah materi akan mengikuti.”

Sepintas nasehat itu hanya bisa hidup di dunia moral, bukan dunia bisnis. Tetapi bagi Gideon
Hartono, pendiri Apotek Jaringan K-24, nasehat yang dituturkan ulang dari generasi ke generasi berikutnya itu benar adanya. “Reputasi pribadi itu penting di dalam mengembangkan bisnis,” tegasnya. “Setidaknya demikian pengalaman pribadi saya dalam mengelola usaha.”Gideon, menuturkan, salah satu calon franchisee-nya adalah adik teman sekelasnya sewaktu di SMA Collese De Britto, Jogjakarta. Begitu mengetahui, sang kakak langsung memberikan dukungan rekomendasi, karena dia tahu persis tentang reputasi Gideon di sekolah dulu. Ternyata yang bergabung bukan hanya adik teman sekelasnya dulu, teman-teman mereka pun juga ikut bergabung. “Akhirnya empat orang bergabung dengan kami,” ungkap Gideon.

Pak Gid, demikian para karyawannya menyapa, menegaskan justru track record inilah yang banyak membantunya dalam mengembangkan Apotek Jaringan K-24. Banyak franchisee  yang justru bertindak sebagai marketer dengan cara memberikan rekomendasi kepada calon franchisee yang ingin bergabung. Istilahnya getok tular  atau dalam ilmu marketing disebut word of mouth atau efek buah bibir.

“Tetapi selain itu, kami juga menggunakan media untuk menyebarluaskan informasi,” imbuh pria yang menggondol predikat juara ketika sekolah di Collese De Britto ini.Strategi lainnya adalah tidak menjadikan bisnis sebagai bisnis an sich, tetapi bisnis juga bisa dijadikan ladang kehidupan sosial. “Benar memang bisnis itu mencari untung. Tetapi dalam hidup ada nilai-nilai keutamaan yang dikejar, di antaranya nilai ingin memberikan sesuatu kepada sesama,” tuturnya.
Ternyata nilai-nilai yang dijadikan fondasi perusahaan ini tak bertepuk sebelah tangan. Bahkan salah satu franchisee-nya yang akan buka di BSD mengungkapkan kepada Gideon,”saya tidak untung tidak apa-apa asalkan bisnis ini bisa memberikan lapangan pekerjaan dan bisa membuat kehidupan karyawan jadi lebih baik.”Sentuhan-sentuhan nilai inilah, imbuh Gideon, yang justru membuat Apotek Jaringan K-24 cepat berkembang. “Layanilah para franchisee dengan hati yang ikhlas dan tulus,” itulah yang selalu diwanti-wanti Gideon kepada para stafnya.

Dengan strategi ini Apotek Jaringan K-24 tumbuh dengan pesat. Bahkan dalam satu kesempatan K-24 pernah membuka 7 outlet secara bersamaan di tiga kota, sehingga dicatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Bahkan dalam waktu dekat ini, belasan outlet akan dibuka secara bersamaan oleh Apotek Jaringan K-24, dan menggenapi 26 outlet yang kini dimiliki apotek yang berkantor pusat di Jogjakarta ini.

thumbnail

Posted by On 22.20

Industri Ritel Modern Lesu, Matahari Tambah Gerai Baru

Industri Ritel Modern Lesu, Matahari Tambah Gerai Baru - JPNN.COM

Matahari Department Store. FOTO: Jawa Pos.Com/JPNN

jpnn.com, SURABAYA - Tren industri ritel modern yang terus melemah membuat PT Matahari Department Store Tbk menyiapkan berbagai strategi untuk menggenjot penjualan.

Toko ritel tersebut berkolaborasi dengan The Walt Disney Company South Asia untuk penjualan produk-produk pakaian, aksesori, mainan, hingga perlengkapan rumah tangga.

Head of Marketing and Loyalty Matahari Department Store A Eng menyatakan, secara umum, pasar ritel mengalami pelemahan.

Kondisi tersebut tidak lepas dari era transisi dalam bisnis ri tel yang mengarah ke digitalisasi.

”Matahari sendiri cukup kompetitif,” katanya di sela-sela temu-sapa dengan Minnie Mouse di Tunjungan Plaza 3, Jumat (27/10).

Matahari ditunjang dengan multisaluran. Tidak hanya mengandalkan penjualan secara luring, tetapi Matahari juga memanfaatkan jalur daring untuk memasarkan produknya.

Hingga sekarang, Matahari memiliki 154 gerai fisik di 71 kota dan menawarkan produknya melalui MatahariStore.com.

Bahkan, pada November 2017, akan dibuka dua gerai baru di Sumatera. Yaitu, di Lahat dan Baturaja.

  • 1
  • 2
  • 3
  • Next
Sumber: JPNN

thumbnail

Posted by On 05.30

Gagas LYKE, Agnez Mo Makin Eksis di Industri Fashion

Gagas LYKE, Agnez Mo Makin Eksis di Industri Fashion - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA - Agnes Monica melebarkan sayapnya ke industri fashion.

Bekerja sama dengan Bastian Purrer, artis yang karib disapa Agnez Mo itu membangun Lyke.

Lyke merupakan penggubah tren dan platform penemuan fashion terlengkap dalam satu aplikasi nan cerdas serta mudah.

Agnez tercatat sebagai co-founder dan chief creative officer (CCO) sejak pertengahan 2016 lalu.

Dia membantu mengembangkan ide kreatif yang berkaitan dengan identitas brand, konten, dan strategi.

Agnez Mo dan Bastian memiliki visi yang sama, yakni membangun dan membesarkan sebuah platform fesyen dengan dukungan teknologi terkini untuk sem ua orang.

Setahun berlalu, Agnez Mo dan Bastian bekerja begitu keras membangun sebuah tim yang saling menginspirasi dan mahir di bidang fashion dan teknologi.

LYKE dirancang khusus menjadi sebuah aplikasi platform fashion dan kecantikan yang berbeda dari yang lain.

  • 1
  • 2
  • 3
  • Next
Sumber: JPNN

no image

Posted by On 03.34

Produk yang menyasar pasar bayi tidak pernah mati. Namun perlu suatu strategi dan inovasi untuk merebut ceruk ini, di antaranya memproduksi perlengkapan bayi dengan beberapa fungsi. Wiyono

Saat akan menyambut kehadiran si buah hati, perlengkapan bayi selalu menjadi salah satu daftar wajib di antara pengisi keranjang belanja.  Sekarang ini produk-produk perlengkapan bayi bukan hanya beragam jenisnya, modelnya juga dibuat menarik serta lucu-lucu. Mulai dari pemberian hiasan atau motif-motif khas anak-anak, sampai kepada variasi model yang multifungsi, praktis dan unik.

Memang, bila dilihat dari sisi pengusaha,  bagi produsen atau pun pedagang, pasar untuk produk ini selalu memikat. Betapa tidak, di atas kertas untuk pasar lokal saja, besarnya jumlah penduduk serta tingginya tingkat pertumbuhan sudah menjanjikan ceruk pasar yang tidak akan pernah habis.

Selain itu dari sisi urgensi, produk-produk perlengkapan bayi bukan termasuk barang-barang yang pemenuhannya bisa ditunda, sehingga ini merupakan pasar yang menggiurkan bagi para pemain yang terjun ke dalamnya.

Alasan di atas membuat Johan, 31 tahun, ikut melirik peluang pasar yang menurutnya sangat bagus, sebab produk perlengkapan bayi senantiasa bersifat terus-menerus dan merupakan kebutuhan pokok bagi keluarga yang punya momongan “Kami berproduksi  perlengkapan bayi mulai Juli 2006. Perusahaan atau lebih tepatnya home industry ini sebenarnya adalah pengembangan dari produk-produk kami yang sebelumnya lebih ke arah produk fancy, antara lain tempat HP, tempat kosmetik dan berbagai macam tas untuk souvenir,” ujar pria asal Klaten, Jawa Tengah tersebut.

Thacia BabyKini UD Thacia,  nama bendera usaha lulusan Magister Management Universitas Atmajaya Jogyakarta itu, di samping menjadi produsen boks atau aneka kotak hias serta perusahaan mineral makanan ternak dan bangunan juga dikenal oleh masyarakat sekitar memiliki diversifikasi usaha berupa produk-produk perlengkapan bayi dan anak-anak. Namun yang membuat sedikit berbeda, Johan tidak mau memproduksi jenis pakaian bayi berupa popok, gurita, atau yang lain seperti pengusaha yang bergerak di bidang perlengkapan bayi kebanyakan melainkan hanya fokus ke perlengkapannya seperti gendongan, selimut, topi selimut untuk bepergian, tas perlengkapan bayi, bantal-guling, perlak (alas), bedong, dan lain sebagainya.

Menariknya lagi, Johan mengembangkan kreasi produk perlengkapan bayinya dengan beberapa sentuhan inovasi. Seperti misalnya, tas perlengkapan dikombinasi dengan alas tidur bayi sehingga mampu berfungsi ganda. Hampir serupa, terdapat pula tas dengan serut, atau yang lain, misalnya ia membuat bantal peyang khusus untuk bayi baru lahir. “Jenis produk diperoleh dari pengembangan produk-produk yang telah ada maupun menjiplak disain yang telah ada. Kita hanya mengefisienkan ukuran dalam pemotongan pola sehingga diperoleh biaya produksi yang minimal, sehingga harganya bisa bersaing,” ungkapnya.

Thacia BabyUsaha bermodal awal sekitar Rp 25 juta tersebut melibatkan kira-kira sepuluh orang penjahit dengan sistem borongan. Artinya produksi dilakukan secara makloon, dengan begitu Johan tinggal melakukan kontrol kualitas dan fokus pada pemasaran sebab produksi dilakukan kontinyu dengan sistem stok.

Sejak awal usaha hingga tahun pertama, Johan mengatakan, prospek produk perlengkapan bayi sejatinya sangat bagus. Meskipun konsumen baru meliputi Jawa Tengah dan DIY, penjualan tiap item produk perbulan minimal mencapai 200 pcs. “Sekarang ini saya baru fokus ke kapasitas produksinya, setelah kapasitas produksi kami benar-benar sip, maka kami berencana melakukan intensif marketing,” akunya sembari menjelaskan, karena saat ini masih terdapat kendala produksi, maka pemasaran baru sebatas melalui internet serta beberapa baby shop yang dibuka saudara-saudaranya.

no image

Posted by On 01.46

Ira Maya Sopha yang tersohor penyanyi cilik di era 70-80-an, kini memiliki sejumlah bisnis yang sangat eksis. Russanti Lubis

Pada sekitar tahun 1970an–1980an, Ira Maya Sopha dikenal sebagai penyanyi cilik, seangkatan dengan Chicha Koeswoyo dan Adi Bing Slamet. Selain itu, ia juga populer sebagai bintang film dengan film-film yang laris manis serta pemain operet yang pergelarannya selalu dibanjiri penonton. Kini, gadis kecil nan montok yang selalu ceria itu, telah menjelma menjadi ibu dari empat anak dan tak terlalu aktif lagi di dunia entertainment. Bukan cuma itu, kelahiran Jakarta, 39 tahun silam ini, juga telah membuktikan dirinya layak disebut sebagai pebisnis tangguh. Buktinya, bisnis di bidang public relations dan marketing consultant, corporate media, design dan printing, serta multimedia yang dibangunnya sekitar awal tahun 1990an, masih eksis sampai sekarang.

“Selain karena goodwill yang saya miliki dan latar belakang pendidikan saya di bidang business management dan public relations, saya terjun dalam dunia bisnis karena ingin memanfaatkan kesempatan yang ada, seperti usaha yang berhubungan dengan multimedia dan entertainment ini. Bisnis semacam ini hingga sekarang, bisa dikatakan, cukup baik peluangnya,” kata perempuan, yang baru-baru ini turut membintangi film Berbagi Suami. Sedangkan untuk pemilihan bisnisnya, penghobi bowling, main piano, dan melawak ini merasa sudah cukup “intim” dan enjoy dengan bidang usaha tersebut. “Lebih dari itu, tentu saja, mencari keuntungan semaksimal mungkin, dengan menerapkan ilmu ekonomi dalam pengelolaannya,” lanjutnya.

Agar bisnis-bisnisnya dapat terus bertahan dan bahkan berkembang, Ira yang berbisnis untuk pertama kalinya pada tahun 1988 ini, berpegang pada pengalaman yang telah dihimpunnya dan terus mempelajari kebutuhan pasar. “Kami mencoba untuk membumi dalam menjalankan bisnis-bisnis kami. Dalam arti, tidak hanya memasarkan produk yang ada, tapi ‘kemasan’ produk itu juga harus kami kenali dengan baik. Sehingga, pelayanan kepada klien pun dapat tercipta, sejalan dengan kebutuhan kedua belah pihak,” ujar wanita, yang bersama sahabatnya juga membentuk event organizer (EO) dalam lingkup kecil yang dinamai PT IMS Production. Selain itu, mereka juga mendirikan PT Cyber Global Centre Asia yang bergerak dalam bidang corporate marketing, multimedia, design dan printing, serta EO.

Untuk itu, peraih penghargaan Penyanyi Cilik Terbaik dan Terfavorit untuk album Cinderella ini, tanpa segan terjun langsung mulai dari membuat konsep/ide di awal produksi, pelaksanaan, hingga paska produksi suatu acara. Termasuk juga menjalin dan menjaga hubungan baik dengan klien dalam segala aspeknya, tanpa mengotak-kotakan status klien tersebut. “Dengan sistem ‘tailor made’ dan memberikan pelayanan yang maksimal kepada klien, kami mencoba memasuki persaingan pasar,” jelas produser Plasma Band ini.

Untuk promosinya, pelantun tembang Sepatu Kaca ini, melihat pada bidang usahanya. Dalam arti, sebelum berpromosi harus mempertimbangkan banyak hal, di antaranya faktor untung ruginya dalam mengeluarkan biaya promosi dan apa yang bisa didapatkan secara nyata dari usaha promo tersebut. “Bisa juga cukup dengan cara mouth to mouth,” ucapnya. Sedangkan untuk mengatasi persaingan, Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI dalam film Ira Maya si Anak Tiri ini, menggunakan strategi pemasaran yang baik dan terarah, meningkatan mutu pelayanan, menggunakan manajemen terbuka untuk mencapai win-win solution dan situation, serta mempelajari segala kelebihan dan kekurangan para pesaing. “Tanpa mengecilkan keberadaan mereka, kami yakin bisa tetap eksis dalam bidang usaha yang kami tekuni, selama faktor-faktor tadi bisa kami kombinasikan dengan baik untuk hasil optimal,” imbuhnya.

Laiknya pebisnis, Ira pun pernah gagal. Hal itu terjadi ketika salon kecantikan, bisnisnya yang pertama, cuma bertahan sekitar tiga tahun. “Awalnya, saya merasa down menghadapi kegagalan ini. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu dan makin banyaknya pengalaman, serta tempaan dalam berbisnis, saya dan tim saya dapat menerima kegagalan itu serta menjadikannya sebagai langkah yang lebih baik di masa depan,” katanya. Di samping itu, kini dalam menghadapi kendala bisnis yang menghadang, Ira yang pendanaan bisnisnya datang dari berbagai sumber ini, berusaha menelaahnya satu persatu. Selanjutnya, mencari solusinya, memilah-pilah mana yang urgent dan mana yang important, sehingga tidak terjadi mata rantai yang putus.

Kini, “Cinderella” ini tinggal ongkang-ongkang menuai jerih payahnya. “Selain materi, ‘pengakuan’ dari masyarakat merupakan perolehan yang paling berharga dalam hidup saya,” pungkas Ira, yang dalam waktu dekat ini dapat kita jumpai lagi kiprahnya di layar putih.

no image

Posted by On 22.30

SPBU merupakan salah satu tempat “keramaian” yang pasti dikunjungi orang. Celah peluang ini dibaca dengan jeli oleh Benno dengan mendirikan Hotdog Booth

 * Fisamawati

 ImageBisnis makanan dipercaya merupakan salah satu dari sekian banyak bisnis yang tidak terlalu terkena imbas pergantian tahun. Sebabnya, semua orang butuh makanan, sehingga otomatis pasti dicari orang. Sekarang tinggal bagaimana mengemas bisnis tersebut, sehingga mampu dijual. Yang jelas, faktor paling mendasar adalah rasa (taste) dari makanan yang dijual. Setelah itu untuk dapat sukses diperlukan strategi yang fokus dan komitmen penuh. Tiga hal tersebut mutlak dilakukan oleh bisnis makanan yang dikelola, baik secara mandiri atau dengan menganut sistem franchise.

Salah satu pemain yang melihat celah bisnis makanan siap saji adalah Benno Pranata. Lulusan Master Northeastern University ini, tak memerlukan teori bisnis yang rumit untuk melihat terbukanya peluang di bisnis makanan tersebut. “Yang penting dari bisnis adalah memulainya. Karena dengan memulai bisnis sekecil apa pun, akan diketahui peluang lainnya,” ucapnya.

Prinsip sederhana. Alhasil brand Hotdog Booth miliknya berkibar hingga sekarang. Menurutnya, alasan memilih bisnis makanan siap saji dilandasi pemikiran, bahwa jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya bertambah, dan bukan berkurang. Menganut pertimbangan setiap orang butuh makan untuk bertahan hidup, maka selama itu pula bisnis makanan tetap bisa mendatangkan keuntungan, apa pun kondisinya,” imbuhnya yang juga terjun ke bisnis Pesan Delivery ini.

Awalnya, saat menjalankan bisnis delivery service, ada beberapa data base yang memantau permintaan pelanggan terhadap produk. “Banyak pelanggan yang mencari makanan hotdog, dan saya kesulitan untuk mencarinya karena belum banyak yang menjualnya. Akhirnya saya putuskan untuk terjn ke bisnis ini, terlebih dahulu dengan melakukan survey sampai ke konsep bisnisnya,” jelasnya yang mengeluarkan modal awal sekitar Rp 160 juta.

Informasi tambahan Hotdog Booth adalah merek dagang yang telah dipatenkan di bawah hak pengelola PT Mutu Karya Perkasa sebagai franchisor yang menjual produk makanan fast food Hotdog. Sejak beroperasi tanggal 5 Januari 2004 lalu, Hotdog Booth telah menjadi salah satu produk brand favorit masyarakat di Jakarta dan mulai membuka cabang di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

“Dalam pengembangan bisnisnya, Hotdog Booth ditawarkan dalam bentuk franchise yang dapat menjadi salah satu alternatif usaha dan investasi. Franchise yang saya kembangkan berupa booth dan cafe. Pertimbangannya, pengelolaan booth lebih simpel, dan tidak membutuhkan lahan yang luas, serta bisa menggunakan SDM yang minimal,” kata pria kelahiran 5 Mei 1974 ini.

 Memiliki cafe Hotdog Booth di dalam SPBU Simatupang dan Petronas Lenteng Agung, Benno yakin dengan keunggulan hotdog-nya. Ia mengklaim produk burger Hotdog Booth memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh kompetitornya. Selain menyajikan menu utama hotdog, varian menu lainnya pun disediakan seperti sushi dog.

            Ke depannya, Benno berharap bisnisnya dapat berkembang baik di tahun mendatang maupun tahun-tahun berikutnya. “Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat Asean. Mutu franchise lokal tidak kalah dibandingkan franchise yang berasal dari negara tetangga,” ungkapnya optimis menyambut tahun 2008 nanti.