www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

no image

Posted by On 03.37

Mahalnya harga alat permainan edukatif yang rata-rata masih impor, mengilhami ASC untuk menciptakan produk dengan harga yang relatif murah. Wiyono

Bayangkan, suatu saat selagi buah hati kecil tengah asyik bermain-main. Mainan adalah sesuatu hal yang tidak terpisahkan dari diri anak. Namun orang tua yang bijak perlu memahami alat bermain bukan sekadar obyek untuk bersenang-senang, melainkan juga untuk melatih kecerdasan otak si kecil. Tidak harus mahal, sebab yang utama dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan otak si kecil menjadi optimal.  Untuk balita, mainan yang paling baik adalah yang dapat merangsang semua panca indera yang dimilikinya. Semakin banyak panca indera yang aktif, maka sel-sel otak anak akan lebih berkembang, baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitasnya.

Cukup banyak sarana bermain yang tergolong alat permainan edukatif tersedia di pasaran. Selain menyenangkan, model dan kemasannya pun menarik. Sayang harganya rata-rata terbilang lumayan, lebih-lebih kebanyakan memang merupakan produk impor. Salah satu produsen alat permainan pendidikan lokal yakni PT. Anugrah Selaras Cipta (ASC). Perusahaan yang berlokasi di daerah Cimanggis, Depok, Jawa Barat, ini mulai bergerak di bidang industri mainan pendidikan anak-anak sejak awal 2007.
Adalah Yana Herdiana dan Dwi Ratna Yulia yang mengaku mulai melirik usaha ini sejak November 2006. Mereka awalnya mengenal produk mainan semacam ini dari luar negeri Lalu keduanya memproduksi sendiri dengan sedikit perubahan untuk memperbaiki fungsinya sehingga memperkuat kesan yang timbul sebagai alat pendidikan.

Singkatnya, selama hampir setahun ASC telah mengembangkan produk yang dinamakan alat permainan pendidikan 3-D (Edu Toys Figure 3-D). Mainan ini dimaksudkan sebagai alat bantu stimulasi untuk membangkitkan daya kreatifitas anak balita yang mampu merangsang daya pikir anak, termasuk di antaranya meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dan memecahkan masalah.
“Saya melihat celah pasar yang bagus dari produk luar yang saya lirik tersebut. Dan berdasarkan research market juga ternyata produk mainan pendidikan belum terekspose, maka saya pikir ini merupakan celah pasar yang bagus asal ditambah dengan inovasi produk yang baik,” aku Yana yang sejak awal sudah menyukai seni dan tertarik dengan design grafis.

Saat ini produk yang sudah dikenalkan di tengah masyarakat yaitu Jungle Friend Series dan Fruity Family, terdiri dari karakter tokoh yang diambil dari para penghuni hutan.  Ada lima karakter utama di dalam produk Jungle Friend Series, yaitu Ryo, Macco (macan), Gimbo (gajah), Croco (buaya), dan Kero (kera). Tetapi di samping itu, menurut Yana, setiap tiga bulan akan dibuat seri-seri yang lain.

Mengenai desain produk yang dibuat selanjutnya, ditambahkan, akan dibikin didasarkan dengan melihat keinginan pasar. Bahan dasar yang paling banyak digunakan yaitu resin, di mana secara garis besar, desain yang semula berbentuk gambar dua dimensi dibentuk menjadi 3 D dengan cara dibuatkan moulding atau dicetak sehingga berbentuk patung atau boneka. “Produksi dilakukan secara kontinyu tetapi jumlah produksinya belum banyak karena pasar dan pendukung pemasaran belum tersedia karena terbentur modal,” ungkap bapak dua putera tersebut.

Nilai modal usaha yang diinvestasikan, diungkapkan, kurang lebih Rp 50 juta. Untuk menangani usahanya, Yana dibantu seorang orang desainer, ditambah karyawan di bagian produksi, termasuk capture design  dan orang-orang packing serta pemasaran, total berjumlah 8 orang. Kapasitas produksi dalam sebulan dapat selesai sebanyak 5000 pcs patung. Harga jual per set Rp 40 ribu untuk produk Jungle Friend Series, dan Rp 35 ribu untuk Fruity Family. “Satu set terdiri dari 3 patung dan satu set cat warna,” jelasnya.
Adanya perlengkapan cat air tersebut menjadi menarik, pasalnya selain bentuk mainannya itu sendiri, anak-anak sekaligus belajar tentang warna dan teknik pewarnaan. Jadi di samping bermain, secara tidak langsung mereka mengembangkan kemampuan dasar seperti mengenal rupa, warna, melatih motorik halus, ketekunan dan ketelitian, mengembangkan kemampuan berbahasa, serta merangsang kreatifitas yang sangat berguna sampai pada usia dewasa.
“Banyak kasus, dimana anak-anak yang sering bermain fisik dan terlalu sering menonton teve, di usia sekolahnya kurang bisa berkonsentrasi, kurang telaten, tidak tekun, dan mudah menyerah, karena mereka tidak terbiasa untuk duduk tenang dan tekun,” tukas bapak dua orang anak yang saat ini masih berstatus karyawan sebuah perusahaan minuman dan juga melayani jasa konsultan ini.

Lebih lanjut soal pemasaran produk, hingga sekarang baru meliputi area di Jakarta dan sekitarnya. Strategi awal ditempuh melalui upaya edukasi kepada masyarakat terlebih dahulu, terutama dengan cara sering mengikuti pameran di sekolah-sekolah. Sedangkan konsumen yang dibidik, sesuai dengan tingkat daya belinya yaitu segmentasi pasar menengah dan atas.
Apabila dilihat dari manfaat alat permainan pendidikan tersebut, Yana optimis produknya bakal memiliki prospek bagus namun dibutuhkan pengelolaan pemasaran yang baik. Langkah paling efektif menurutnya melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan sehingga perlu pendekatan yang baik dengan sekolah-sekolah.

Sementara itu, mengingat adanya kendala permodalan dan operasional, Yana mengatakan, membuka kerja sama dengan perusahaan lain, misalnya yang ingin membuat icon perusahaan bersama dengan produk permainan pendidikan 3-D tersebut sebagai media promosi. Demikian pula kerja sama dalam hal pemasaran dan juga permodalan. “Untuk bentuk kerja samanya dapat dibicarakan kemudian,” tandasnya.

no image

Posted by On 03.52

Plastik merupakan barang multiguna. Namun masih jarang orang yang mengkreasikannya menjadi berbagai macam tas cantik, seperti yang dilakukan Robby dan istrinya. Wiyono

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Pepatah itu pun berlaku di dunia bisnis. Keturunan seorang pengusaha, walau dengan alasan beragam, tetapi pada umumnya lebih menyukai jalan hidup sebagai usahawan pula.
Deden Robby Firman Abadi, kelahiran Bandung 1977 mulai belajar berbisnis pada tahun 2000 saat mengurusi pemasaran CV. DePrima, yakni perusahaan orang tuanya yang bergerak dalam bidang produsen eksportir produk-produk kerajinan, khususnya wooden craft. Lalu seiring berjalannya waktu timbul keinginan memiliki usaha sendiri. “Kebetulan saya melihat adanya peluang bisnis industri pembuatan tas, khususnya tas yang berbahan baku plastik,” kisahnya.
Robby mengaku tertarik dikarenakan pada saat awal merintis usaha pada 2004 bisnis ini belum banyak dilirik. Produsen tas yang concern dengan berbahan baku plastik masih jarang sehingga peluangnya yang cukup terbuka. Tambahan pula ia banyak memperoleh dukungan dari Evi Soviati, yang kini menjadi istrinya dan memberikan seorang putri bernama Kayla. Walau cuma belajar secara otodidak, Evi mahir mendesain aneka tas untuk diproduksi dengan memakai merek dagang Eview. Jenis-jenis produk hasil kreasinya meliputi bermacam-macam tas, ransel (back pack), tempat kosmetik (beauty case), tempat pensil, dompet, tempat koin, dan sarung hand phone. “Selain itu saya juga memproduksi berbagai macam tas dengan model sesuai permintaan atau pesanan,” ungkap Robby.

Lulusan Teknik Informatika itu menyebutkan modal awal yang digunakan untuk menjalankan usaha tidak terlalu besar, hanya Rp 1 juta. Ternyata perkembangan usahanya lumayan bagus. Hingga saat ini aset perusahaan sudah menjadi Rp 150.000.000,00 dengan omset berkisar Rp 125.000.000,00 per bulan. Jumlah total karyawan produksi sebanyak 30 orang, sementara istrinya dengan posisi sebagai product designer serta dibantu oleh saudara adik laki-lakinya, menjadi manager di workshop miliknya.
Tas PlastikSedangkan kapasitas produksi keseluruhan sekitar 10.000 pcs setiap bulan terdiri dari berbagai item. Produksi tidak dilakukan secara kontinyu melainkan dikerjakan berdasarkan permintaan atau by order. Model atau desainnya dibuat sesuai katalog yang telah disediakan dan  costumer tinggal menentukan pilihan yang cocok untuk dipasarkan oleh mereka. Penawaran harga antara lain, tempat koin rata–rata Rp 2.500,00, tempat kosmetik Rp 8.000,00-Rp 11.000,00, dompet Rp 10.000,00-Rp 13.000,00, tas Rp 15.000,00-Rp 20.000,00, tempat pensil Rp 5.000-Rp 10.000,00, back pack Rp 30.000,00, dan sarung hand phone Rp 5.000,00-Rp 7.500,00.

Untuk strategi pemasaran Robby mengaku lebih senang concern pada soal produksi saja. Sehingga ia membuka pintu jikalau terdapat mitra yang ingin bekerjasama untuk membantu pemasaran produk. Meskipun produk baru meliputi pasar lokal, selain Jawa, produk tas berbahan plastik Robby sudah masuk terutama kota-kota besar di Sumatera, Bali dan Sulawesi. “Mengenai bentuk kerjasamanya sendiri seperti apa bisa dibicarakan nanti,” ujarnya.
Selain kemudahan memperoleh pasar , duet Robby dengan istrinya tersebut bahkan tidak menemui kendala berarti baik mengenai perolehan bahan baku maupun produksi. Bahan baku plastik berjenis khusus diperoleh dari supplier. Selanjutnya begitu sebuah model jadi dibuat langsung masuk ke bagian pola, cutting, dan penjahit. Artinya kendala yang dialami saat ini hanyalah kendala-kendala normal yang biasa ditemui dalam bisnis manufaktur. Seperti misalnya satu kekurangan yang dialami dikarenakan sampai sekarang ia belum memiliki workshop yang representatif. “Padahal saya berniat untuk melakukan ekspansi pasar tidak hanya di pasar nasional tapi juga ke pasar internasional,” tukasnya.

Kendala yang dia rasakan justru datang ketika pihak berwenang yang terkait masih memandang sebelah mata terhadap produknya. “Salah satu contohnya adalah produk saya ini belum pernah diberi fasilitasi promosi oleh Dinas Teknis tempat bisnis saya ini berdomisili. Sampai saat ini Pemda setempat hanya memberikan fasilitasi kepada produk-produk lain yang sebetulnya dari segi prospek bisnis maupun daya serap tenaga kerjanya jauh lebih sedikit dari produk saya ini,” sesalnya.       

Ini terjadi, menurutnya karena produk tas dengan bahan baku plastik belum sepopuler produk-produk lain seperti produk fashion pada umumnya. Sehingga kalaupun produk saya ini diberi kesempatan untuk tampil dalam sebuah event pameran posisinya tidak lebih hanya sebagai supporting product untuk mengisi sela-sela rak yang kosong di dalam booth. Padahal kalau boleh jujur sebenarnya prospek pasar yang dimiliki tidak kalah.

no image

Posted by On 03.55

Pasar kap lampu unik masih terbuka luas. Padahal bahan bakunya murah dan mudah didapat sehingga untungnya berlipat-lipat Wiyono

Banyak benda di sekitar kita yang semula wujudnya sederhana tak terlalu bernilai ekonomis bisa dijadikan barang komoditi yang laku jual di pasaran dengan harga berlipat-lipat ganda. So keuntungannya mungkin bisa di atas 100%. Semua itu tergantung dari kemampuan kita mengembangkan imajinasi atau daya kreatif pada saat mengolahnya.
Pasir, mika, enceng gondok, keramik, kayu, dan bahan-bahan natural lain di tangan yang tepat seperti Eko Widagdo, hasilnya berupa produk kap lampu yang sangat laku hingga ke manca negara. Mika dibuat berbentuk kap lampu, dilem, lalu ditempeli pasir putih hingga jadilah sebuah kap lampu unik dan menarik.
Itu hanya contoh salah satu produk kap lampu dari bahan sederhana hasil kreatifitas jebolan Fakultas Hukum UGM itu. Ada produk yang terbuat dari kulit kayu, akar kayu, serbuk batu paras, kain, atau enceng gondok. Bahan untuk dudukan lampu juga beragam, misalnya gerabah, kayu mahoni, keramik dan sebagainya.  “Bahan baku relatif murah dan bisa mudah didapatkan,” ujarnya.

Usaha pembuatan kap lampu dirintis Eko sejak 1993. Ia mengaku waktu itu menjadi perajin disebabkan kepepet keadaan karena ia merasa kesempatan kerja yang ada semakin sempit. “Saya tidak terlalu idealis harus mengikuti rel akademik yang saya pelajari di bangku kuliah, namun sebaliknya dengan itu membuka wawasan untuk berkarya,” tandasnya. 
Sebuah pilihan yang disyukuri apalagi setelah kini menjadi pengusaha sukses. Eko terlahir sebagai anak petani di Ponorogo, namun ayahnya memiliki jiwa seni yang diturunkan kepadanya. Sedangkan jiwa dagang terasah karena ia bersekolah sambil bekerja di toko, membantu usaha milik keluarga dekatnya. Sebagai piatu sejak usia 6 tahun ia pernah dititipkan pada keluarga dekatnya itu. Dikatakannya, modal awal usahanya hanya Rp 15 ribu, yaitu untuk membeli kramik dan plastik. Berkat ketekunan dan kecintaan untuk mengembangkan produk sekarang aset dan modal telah mencapai Rp 1,5 miliar. Ia juga telah memiliki galeri sebagai showroom penjualan di pusat kota Yogyakarta dengan diberi nama Maheswari. 

Selain konsumen lokal, Eko juga banyak melayani pembeli dari luar negeri. Produk  kap lampu hias biasanya banyak dipakai untuk kamar hotel, apartemen, rumah mewah, maupun taman. Pelanggan tetap adalah hotel berbintang di Indonesia serta beberapa rekanan yang bergerak di bidang interior furniture. Pasaran lokal kebanyakan adalah Bali, Surabaya, dan Jakarta. Sedangkan pasaran luar Kap Lampu
negeri sebagian besar Italia, Spanyol, Amerika, dan beberapa negara lain di Eropa dan Asia. “Pasar kami kebanyakan untuk buyer luar negeri. Mereka datang dan mengurus pengirimannya sendiri, saya tinggal buat barang seperti pesanan. Sistem pembayarannya langsung,” ungkapnya. 

Untuk produksi saat ini Eko dibantu oleh 16 orang karyawan tetap dan dengan kapasitas produksi 1000 pcs sebulan dengan satu buah model, beromset rata-rata Rp 75 juta. Sistemnya, pembelian bahan baku diolah sendiri dengan cara manual, dibuat sesuai dengan ukuran standar atau yang sesuai pesanan. Beberapa proses juga mempergunakan peralatan mesin untuk membantu mempercepat proses produksi. Harga jual tergantung ukuran mulai dari harga Rp 50 ribu per unit dan seterusnya, tergantung bahan yang akan digunakan.
Karena tidak mengutamakan produk secara massal, Eko bisa membuatkan kap lampu sesuai permintaan pelanggan. Dan hal ini menjadi keunggulan dari produk milik suami Risna Isvantiani ini. Dengan kata lain, pembeli individu bisa menentukan design yang diinginkan.
Di samping itu ia juga terus mengembangkan model sampai ratusan jumlahnya sebagai pilihan. “Desain tersebut idenya mengalir begitu saja,” ucapnya. Ia juga banyak memperoleh referensi dari internet, majalah serta masukan dari istri dan teman-temannya. “Desain kami cukup beragam, selain asli juga progresif, namun juga fleksibel karena sifatnya merupakan produk hand made, jadi bebas menentukan sesuai dengan permintaan,” tandasnya pula.

Strategi pemasaran dilakukannya dengan above atau pun below the line. Pada awalnya, ia ikut pameran produk dan penyebaran brosur kepada segmen yang menjadi targetnya, seperti hotel, designer, serta buyer, hingga menyediakan situs official di internet. 
Keindahan tata ruang salah satu faktornya ditentukan oleh pencahayaan, termasuk keberadaan kap-kap lampu hias dari bahan alami namun berkesan eksotik. Terbukti konsumen dari luar negeri, khususnya dari Eropa sangat menyukainya. “Peluang pasar menurut saya masih sangat bagus asal kita berani membuat terobosan-terobosan atau inovasi,” ujarnya yakin. 

Maka untuk pengembangan usaha, khususnya pemasaran ia bermaksud menjalin kerja sama dalam pembukaan outlet-outlet atau cabang baru di luar kota. “Rencananya kami ingin mengajak para investor untuk bisa membantu kami dalam hal pemasaran di mana pun berada dengan membuka outlet, showroom, dan sebagainya,” jelasnya. “Bentuk kerja sama mungkin bisa dengan bagi hasil ataupun dengan kesepakatan yang menguntungkan semua pihak,” tambahnya. Sebuah peluang baru yang layak dipertimbangkan, barangkali ada yang tertarik?

no image

Posted by On 03.35

Selain indah, seni tekuk dan lipat kertas bisa menumbuhkan kreatifitas di kalangan anak-anak. Inilah bisnis yang digeluti Antony Putra Wijaya. Wiyono

Dunia anak dunia bermain. Sudah menjadi sifat setiap anak menyukai aneka alat permainan, apa pun bentuknya. Seakan teringat kembali pada masa kecilnya di kota Tarakan, Kalimantan Timur, Antony Putra Wijaya kini mulai menekuni pembuatan paper model. Pria ini berterus-terang, pada masa kecilnya ia pernah menginginkan mainan model impor. Keinginan tersebut sulit terwujud oleh karena harganya yang mahal. Justru karena tidak kesampaian hal itu memacu kreativitasnya untuk membuat model sendiri walau sekadar berbahan kertas yang mudah diperoleh. Secara terus-menerus ia mengasah ketrampilan dan dengan kesabaran sehingga bisa membuat desain model apa saja.

Sebelum memulai bisnis dengan label Antony Production House, pria kelahiran 1980 bernama asli Uy Chi Chian tersebut sempat menjadi penulis buku edutivity di Gramedia Pustaka Utama (2005-2006).  Total terdapat 20 seri dalam 3 kategori buku seni lipat kertas ia karang, 4 seri tentang Aerogami pesawat, 8 seri mengenai Potong Lipat Tempel (PLT)-RumahAdat, dan 8 buah PLT-Dinosaurus.

Pada waktu sekolah dasar, seperti diceritakan, ia sudah mulai membuat miniatur dari kertas. Model yang paling digemari dan sering dibuat, waktu itu pesawat dan kapal. “Di sana tidak ada mainan model pesawat, akhirnya saya buat sendiri aja dari kertas. Ya, yang penting mirip dengan pesawat yang saya lihat di bandara,” ujarnya.
Lalu tepatnya 1997, Antony  masuk sebagai finalis lomba Origami Angkasa dan keluar sebagai pemenang IV kategori pelajar.  Itulah awalnya timbul minat mengembangkan hobi ini menjadi bisnis. Semula semua proses pembuatannya masih manual, mulai dari desain sampai dengan finishing (pengecatan).

Pada pertengahan 2006 bersama beberapa rekannya, sarjana Ekonomi Marketing Universitas Surabaya tersebut mulai mendirikan jasa image editing, video editing, 3D modeling & visual illustration, dan fotografi bernama Antony Production House. “Selanjutnya karena dorongan hobi ini, awal 2007 saya putuskan mulai memproduksi miniatur sesuai standar saya,” kisahnya.

Karena merasa masih baru, Antony melakukan produksi per proyek. Tahap awal penjajakan dibuat sebanyak 3000 pcs sambil mempelajari pasar, target yang tepat dan komposisi produknya. Dengan harga per set Rp12.500,00  produksinya dibatasi 1000 pcs per model dan selanjutnya akan dibuatkan model-model lainnya.
Paper ModelMeski sebenarnya ia lebih menyukai model pesawat, tetapi diakui, memang untuk sementara ia baru menyediakan model miniatur mobil. Sebab menurutnya tingkat kesulitan saat perakitan lebih mudah dan konsumennya lebih majemuk. Pada produksi awal tersebut terdiri atas 3 model mobil sport, Audi TT, Bugatti Veryon, Nissan Fairlady 350Z. Sedangkan pemasarannya melalui toko-toko buku, outlet mainan (open space) di mall. Selain itu juga ditawarkan ke beberapa sekolah.  Sistem penjualan semuanya dengan cara konsinyasi. “Ke depan akan saya usahakan desainnya mudah dirakit anak-anak dan orang awam, tentunya dengan bahan dasar kertas,” ungkapnya.

Dikatakan, semua desain merupakan ciptaannya sendiri, sementara produksi di-subkan ke percetakan. Pembuatan display untuk toko ia dibantu dua saudara sepupunya. Sayang, ia enggan menyebut angka pasti berapa jumlah modal yang ditanamkan. “Rahasia sih…hehe, ya jutaan lah.  Perkembangan belum bisa saya nilai sekarang, karena masih sangat baru, pasarnya juga masih sangat baru.  Sales masih kecil, namun saya beruntung toko Karisma yang sudah skala nasional bersedia bekerja sama memasarkan produk saya ini,” paparnya sambil berkilah.

Seperti lazimnya kerajinan lipat kertas atau acap disebut paper tole, untuk menikmati keindahannya perlu dirakit terlebih dahulu.  Dalam satu paket miniatur mobil berisi 6 lembar art paper berukuran B5 yang sudah memiliki pola (texture) full color. Setiap pola merupakan bagian-bagian yang akan membentuk model mobil, terkecuali pintu, roda, kaca depan.  Sebelum dirakit harus ditekuk dan dibentuk mengikuti gambar petunjuk yang disediakan, kemudian disambungkan dengan lem dengan bagian-bagian lainnya hingga utuh menjadi sebuah miniatur mobil.

Walaupun saat ini sebagian besar penjualan baru menjangkau wilayah Surabaya, Antony yakin peluang pasti ada. Baginya yang sulit adalah menemukan komposisi yang pas, yakni tingkat kesulitan model desain yang dapat masuk ke semua kalangan. Sejauh ini ia telah mengusahakan pemasaran hingga masuk ke sekolah-sekolah. Dengan harapan agar bisa dijadikan modul ekstra kurikuler atau pelajaran art, terutama di sekolah-sekolah nasional plus. Target konsumennya, dikatakan, adalah anak-anak sekolah SD-SMA, dan tentu orang awam yang punya kegemaran sama.

Karena bukan merupakan produk langsung jadi Antony menyadari diperlukan upaya serius agar target pemasaran lebih optimal. Ia menilai paper model seperti itu bagi orang lain bisa gampang-gampang susah. Sewaktu hendak merakit sebenarnya kelihatan simple, tapi sebenarnya butuh ketelatenan. Seringkali anak-anak atau orang awam ingin cepat-cepat merakit tanpa banyak menekuk dan membentuk potongan-potongan tersebut. Maka hasilnya pun kurang maksimal. Jadi menurutnya perlu dilakukan demo atau edukasi untuk mendukung pemasaran. “Nah ini yang belum dapat saya lakukan, karena perlu tambahan modal dan dukungan pihak lain, ya seperti promotorlah,” akunya.

Sedangkan untuk meningkatkan kualitas ke depan ia berencana memperbaiki desain dan berikut komposisi bahan.  Saat ini bahan bakunya murni masih menggunakan art paper. Untuk mempermudah perakitan maka akan ditambahkan kombinasi art paper dan duplex card.

no image

Posted by On 03.34

Produk yang menyasar pasar bayi tidak pernah mati. Namun perlu suatu strategi dan inovasi untuk merebut ceruk ini, di antaranya memproduksi perlengkapan bayi dengan beberapa fungsi. Wiyono

Saat akan menyambut kehadiran si buah hati, perlengkapan bayi selalu menjadi salah satu daftar wajib di antara pengisi keranjang belanja.  Sekarang ini produk-produk perlengkapan bayi bukan hanya beragam jenisnya, modelnya juga dibuat menarik serta lucu-lucu. Mulai dari pemberian hiasan atau motif-motif khas anak-anak, sampai kepada variasi model yang multifungsi, praktis dan unik.

Memang, bila dilihat dari sisi pengusaha,  bagi produsen atau pun pedagang, pasar untuk produk ini selalu memikat. Betapa tidak, di atas kertas untuk pasar lokal saja, besarnya jumlah penduduk serta tingginya tingkat pertumbuhan sudah menjanjikan ceruk pasar yang tidak akan pernah habis.

Selain itu dari sisi urgensi, produk-produk perlengkapan bayi bukan termasuk barang-barang yang pemenuhannya bisa ditunda, sehingga ini merupakan pasar yang menggiurkan bagi para pemain yang terjun ke dalamnya.

Alasan di atas membuat Johan, 31 tahun, ikut melirik peluang pasar yang menurutnya sangat bagus, sebab produk perlengkapan bayi senantiasa bersifat terus-menerus dan merupakan kebutuhan pokok bagi keluarga yang punya momongan “Kami berproduksi  perlengkapan bayi mulai Juli 2006. Perusahaan atau lebih tepatnya home industry ini sebenarnya adalah pengembangan dari produk-produk kami yang sebelumnya lebih ke arah produk fancy, antara lain tempat HP, tempat kosmetik dan berbagai macam tas untuk souvenir,” ujar pria asal Klaten, Jawa Tengah tersebut.

Thacia BabyKini UD Thacia,  nama bendera usaha lulusan Magister Management Universitas Atmajaya Jogyakarta itu, di samping menjadi produsen boks atau aneka kotak hias serta perusahaan mineral makanan ternak dan bangunan juga dikenal oleh masyarakat sekitar memiliki diversifikasi usaha berupa produk-produk perlengkapan bayi dan anak-anak. Namun yang membuat sedikit berbeda, Johan tidak mau memproduksi jenis pakaian bayi berupa popok, gurita, atau yang lain seperti pengusaha yang bergerak di bidang perlengkapan bayi kebanyakan melainkan hanya fokus ke perlengkapannya seperti gendongan, selimut, topi selimut untuk bepergian, tas perlengkapan bayi, bantal-guling, perlak (alas), bedong, dan lain sebagainya.

Menariknya lagi, Johan mengembangkan kreasi produk perlengkapan bayinya dengan beberapa sentuhan inovasi. Seperti misalnya, tas perlengkapan dikombinasi dengan alas tidur bayi sehingga mampu berfungsi ganda. Hampir serupa, terdapat pula tas dengan serut, atau yang lain, misalnya ia membuat bantal peyang khusus untuk bayi baru lahir. “Jenis produk diperoleh dari pengembangan produk-produk yang telah ada maupun menjiplak disain yang telah ada. Kita hanya mengefisienkan ukuran dalam pemotongan pola sehingga diperoleh biaya produksi yang minimal, sehingga harganya bisa bersaing,” ungkapnya.

Thacia BabyUsaha bermodal awal sekitar Rp 25 juta tersebut melibatkan kira-kira sepuluh orang penjahit dengan sistem borongan. Artinya produksi dilakukan secara makloon, dengan begitu Johan tinggal melakukan kontrol kualitas dan fokus pada pemasaran sebab produksi dilakukan kontinyu dengan sistem stok.

Sejak awal usaha hingga tahun pertama, Johan mengatakan, prospek produk perlengkapan bayi sejatinya sangat bagus. Meskipun konsumen baru meliputi Jawa Tengah dan DIY, penjualan tiap item produk perbulan minimal mencapai 200 pcs. “Sekarang ini saya baru fokus ke kapasitas produksinya, setelah kapasitas produksi kami benar-benar sip, maka kami berencana melakukan intensif marketing,” akunya sembari menjelaskan, karena saat ini masih terdapat kendala produksi, maka pemasaran baru sebatas melalui internet serta beberapa baby shop yang dibuka saudara-saudaranya.

no image

Posted by On 02.49

Meski dari keluarga berkecukupan trio Bani, Amelia dan Dini yang baru berusia belasan tahun ini rela berjualan voucher untuk membayar uang sekolah mereka. Fisamawati

Maraknya penggunaan telepon seluler atau ponsel di kalangan masyarakat memberi dampak meningkatnya kebutuhan voucher pulsa setiap harinya. Tak heran jika counter dan penjual voucher pulsa pun menjamur di mana-mana. Alasannya sederhana, selain mudah, usaha ini bersifat fleksibel dan bisa dilakukan kapan saja.
Peluang inilah yang dibaca Bani Sya’ban Nur Kholiq, Amelia Fajarwati dan Dini Paramastuti untuk menjual dan memasarkan voucher elektrik di lingkungan kerabat dan saudaranya. Meski lahir di tengah-tengah keluarga berkecukupan, tak membuat ketiga remaja ini terus meminta uang saku dari kedua orang tua.
Semula mereka pun sempat ragu menjalani usaha tersebut, mengingat faktor usia yang masih hitungan belasan ditambah minimnya pengetahuan bisnis. Namun, dengan berbekal seminar dan pelatihan yang didapat dari salah satu lembaga pendidikan entrepreneur di Jatinangor keyakinan itu pun muncul.
“Tiga bulan lalu, salah satu anggota Klub Pengusaha Remaja menawarkan usaha bisnis voucher kepada saya. Tawaran itu pun saya diskusikan ke orang tua dan disetujui. Kemudian, saya mengajak Amel dan Dini untuk ikut memasarkan penjualan voucher tersebut,” kata Bani yang berusia 17 tahun.

Lantas apa yang memotivasi mereka untuk menggeluti usaha?. Sekadar informasi, ketiga  ayah mereka tidak berlatar belakang pebisnis, seperti ayah Amelia dan Dini yang merupakan dosen perguruan tinggi di Bandung. “Keinginan awal adalah untuk menambah uang saku, tetapi dengan keinginan kuat akhirnya bisa membiayai iuran sekolah sendiri,” aku Bani yang diamini Amel dan Dini.

Menjalankan usaha di usia dini pastilah mengalami kendala-kendala, sama seperti halnya Bani dkk. Umumnya, faktor kendala yang dihadapi adalah sistem jaringan pembeli. Selain itu, menjalankan usaha bertiga memiliki risiko tinggi terjadinya kesalahpahaman. “Biasanya beda pendapat karena ketidakcocokan dalam pemasaran. Ada yang ingin begini tapi ada juga yang ingin begitu,” celetuk Dini kelahiran 6 Desember 1991.
Pada akhirnya, pemasaran yang diterapkan ketiga sahabat ini adalah menggunakan sistem berantai yang dimotori Bani kemudian ke Amel dan Dini. Bani mengatakan, modal awal yang digunakan berasal dari uang tabungan sendiri dan dibantu kedua orang tuanya dengan nominal Rp. 60.000,-. “Semula Rp. 10.000,- digunakan untuk registrasi, berhubung orangnya baik jadi hanya Rp. 50.000,- saja,” tambah pelajar kelas XI IPA 2 SMUN 1 Cileunyi, Bandung.
Ditegaskan Amel, meski hanya mengambil keuntungan Rp. 1000,- namun dirinya mengaku senang menjalankan usaha penjualan voucher tersebut. “Ketika ada saudara sendiri yang pesan, terkadang dikasih uang lebih,” aku perempuan kelahiran 29 Februari 1992 ini. Begitu juga dengan Bani dan Dini, kekompokkan mereka dalam usaha tersebut mampu meraih omset hingga Rp. 100.000,- per tiga hari.

Bani menambahkan, menggeluti usaha di usia remaja pun memiliki kelebihan lain. Selain bisa menerapkan teori ekonomi secara praktis di lapangan, juga memberikan pengaruh positif untuk mata pelajaran sekolah. “Misalnya pelajaran sejarah, jadi ketika ada presentasi enggak malu lagi,” terang Bani yang merasakan manfaat dari berbisnis tersebut.

Kini ketiga remaja itu pun menambah jam terbangnya, ditemui disela aktifitas sekolahnya, Bani mengaku, sedang membantu pamannya menjual keripik pisang pada hari Minggu saja. Sedangkan Amel dan Dini menjual kue-kue nugget yang dititipkan di koperasi Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Sumedang.

no image

Posted by On 03.49

Untuk saat ini, pemanfaatan tertinggi batu kali hanya sebagai fondasi bangunan. Namun Dino bisa mengangkat nilai ekonomis batu kali dengan mengubahnya menjadi benda seni. Wiyono

Sebutir kerikil bagi orang lain mungkin tidak berarti banyak. Tidak demikian bagi Syarifuddin Anwar atau kerap di sapa Dino. Berbekal peralatan sederhana seperti pisau cutter, obeng kaca mata, peniti, ditambah imaginasi, batu koral seukuran genggaman tangan itu kemudian dapat disulap menjadi benda kerajinan yang unik dan bernilai seni.
Bentuknya dapat bermacam-macam sesuai kehendak atau pun menurut pesanan. Di rumahnya, kawasan Cilandak Barat-Jakarta Selatan, yang sekaligus merangkap sebagai workshop dan galeri dipajang berbagai model hasil ketrampilan tangan bapak dua orang putri ini, di antaranya berbagai bentuk bandul kalung, patung wajah, miniatur sepeda motor besar, ular naga, dan sebagainya. Usahanya yang dinamakan Sanggar Batu Kerik itu telah dirintis sejak tahun 1995 dan menghasilkan produk hingga ratusan item. “Dinamakan Batu Kerik karena proses pembuatannya dengan cara dikerik (dikikis-red),” jelasnya.

Diakui, ide kreatif tersebut sebenarnya bukan murni diciptakan oleh Dino sendiri. Pada awalnya penggemar olah raga berpetualang itu mempelajari keahlian itu dari seorang temannya. “Kebetulan ia sering berada di alam bebas dan tangannya kreatif, jadi iseng-iseng membuat benda seni. Ketrampilan itu kemudian tertular kepada teman-teman lainnya termasuk saya,” tuturnya.
Bahan utama berupa batu kali biasa, namun Dino mengaku hingga saat ini ia masih mendatangkan batuan dari Brebes. Hal ini tidak lepas dari kisah awal saat ia hendak merintis usaha. Fotografer profesional ini kebetulan memperoleh tender proyek foto udara di wilayah Brebes dan menjumpai jenis batu kali di tempat itu sifatnya lebih empuk sehingga lebih mudah dibentuk. 
Tetapi menurut Dino, perajin tidak bisa sembarangan memilih jenis bahan baku. Sebab apabila memakai batu yang terlalu lunak, akibatnya hasil barang setelah jadi juga akan lebih rapuh. Maka sebelum dibuat menjadi barang kerajinan, batu kali perlu diseleksi terlebih dahulu. Bahan baku yang yang bagus yaitu batu dengan tingkat kekerasan sedang hingga yang paling keras. “Dari empat kelas, kita pakai bahan tingkat ke-1 atau ke-2, kualitas ke-3 dan ke-4 jarang, paling untuk membuat bentuk-bentuk kerajinan kecil semisal bandul atau gantungan kunci,” ia sedikit membuka rahasia.

Dijelaskan, apabila bahan yang diperlukan sudah diperoleh, proses selanjutnya membuat sket dasar dengan menggoreskan mata pisau untuk membuat bentuk kasar. Lalu untuk detilnya yang yang dikerjakan adalah bagian yang paling sulit dahulu dengan cara dikerik semakin dalam hingga jadi. Proses finishing cukup dengan cara digosok dan dibersihkan debu-debunnya, dan kalau diperlukan juga sekalian dibuatkan dudukannya yang berfungsi sebagai pemberat bagi patung tersebut.

Untuk mengerjakan setiap pesanan waktu yang dibutuhkan amat bervariasi tergantung pada kerumitan desain atau detilnya. Sebagai contoh, sebuah miniatur motor kecil yang sangat detil sampai pada wujud mesin dan sebagainya Dino membutuhkan tempo 1-2 bulan. Tetapi untuk patung-patung yang lebih sederhana cukup memerlukan waktu 1-2 minggu selesai. Sedangkan bandul kalung, pin atau logo-logo perusahaan, serta bentuk bentuk kecil yang standar lainnya tidak sampai memakan waktu lama. Dalam sehari ia dapat menyelesaikan sampai 10 buah. Sehingga harga barangnya pun sangat relatif, dipengaruhi oleh tingkat kesulitan detil serta kualitas bahannya. Sedangkan besar-kecilnya justru kurang berpengaruh. Harga sebuah bandul berkisar Rp 20 ribu-Rp 80 ribu, sementara patung bisa mencapai Rp 100 ribu-Rp 3 juta. Kecuali bagi pemesanan dalam jumlah besar maka Dino dapat memberikan harga di bawah Rp 20 ribu. 

Saat ini pria berpendidikan komputer dan ekonomi ini dibantu 6 orang teman yang bergabung di sanggarnya. Total biaya investasi yang dikeluarkan terhitung kecil, di bawah Rp 5 juta. Dalam sebulan mereka dapat menyelesaikan sekitar 180 buah bandul dan kurang lebih 18 buah patung. Namun Dino mengakui, pemasaran batu kerik masih terbatas. Konsumen kebanyakan pembeli lokal, biasanya untuk dijadikan souvenir atau dijual. Salah satu konsumen kerajinan ini adalah kalangan penggemar motor besar yang mengoleksi batu kerik berbentuk miniatur motor. Namun tidak tertutup kemungkinan dipasarkan ke berbagai perusahaan dalam bentuk logo atau sebagai cenderamata.

 “Untuk sementara pembeli baru kenal lewat mulut ke mulut, namun ada juga beberapa item barang yang dititipkan di pusat kerajinan di pusat-pusat perbelanjaan,” ujar Dino yang mengaku masih mengalami kendala utama segi permodalan. Cara lainnya ditempuh melalui bantuan tenaga pemasaran secara freelance, biasanya dengan sistem bagi hasil, 5%-10% dari nilai nominal untuk penjual. Meskipun kurang dikenalnya kerajinan batu kerik terbentur minimnya promosi tetapi Dino tetap optimistis prospek usaha yang dirintisnya ini ke depan akan berjalan bagus. Sebab selain harganya terjangkau, ia memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Tertarik? Silahkan mencoba!

Analisa Usaha Kerajinan Batu Kali: Perkiraan biaya bahan dan peralatan                               Rp. 100.000,-
Perkiraan biaya operasional dan tenaga kerja                   Rp. 700.000,- +
Total modal usaha                                                         Rp  800.000,-
Dalam sebulan dapat menghasilkan 300 buah bandul @ Rp 20 ribu-Rp 80 ribu.Penghasilan mencapai Rp 6.000.000,- sampai Rp 24.000.000,-

no image

Posted by On 03.59

Cina dan Jepang merupakan negeri asal kerajinan lampion. Tetapi Tiang Jaler berusaha mendesain lampion khas Indonesia. Peluangnya masih terbuka. Wiyono

Saat mengamati dekorasi interior ruangan pesta atau barangkali panggung hiburan di layar kaca, mata kita kerap tertumbuk pada hiasan lampu yang digantung atau diletakkan di tempat tertentu sebagai pemanis, misalnya sudut-sudut ruangan. Ada yang berbentuk bulat seperti bola, berbentuk hati, bentuk-bentuk binatang tertentu dan lain-lain. Lebih tepatnya lampu dengan hiasan berwarna-warni rupa atau bentuknya yang menarik itu lazim dinamakan lampion.
Khusus bagi masyarakat Tionghoa lampion bukan barang baru. Memang awalnya kerajinan lampion itu berasal dari Cina dan Jepang. Di Cina biasanya lampion digunakan pada acara ritual keagamaan, sedangkan di Jepang selain untuk ritual keagamaan sudah digunakan sebagai penerangan dalam ruangan. Ciri-ciri lampion Jepang cenderung menggunakan rice paper sebagai bahan dasarnya.

Seperti keterangan Imran Makmur, salah satu pemilik Tiang Jaler, sebuah usaha dengan kategori handicraft atau bergerak di bidang kerajinan tangan. Lebih lanjut dijelaskan, produk yang dihasilkan usaha yang berlokasi di kota kembang itu berupa lampion/ paper lamp yang terdiri atas beberapa jenis yaitu lampu gantung, lampu meja, lampu standing souvenir, dan lampu pesta/ party lamp. Imran menjalankan bisnis tersebut bersama dengan Aris Wibowo Dwi A. Jika Aris lebih menangani bagian produksi, maka lulusan fakultas Ekonomi Manajemen Unpad ini kebagian mengurus soal-soal keuangan. “Untuk pemasaran kami tangani bersama,” ungkap Imran.
Imran mengaku tertarik dengan usaha kerajinan lampion ini dikarenakan keindahan bentuk lampion itu sendiri. Desainnya yang dinamis membuat lampion dapat dikembangkan menjadi bermacam-macam bentuk. Sejak awal merencanakan usaha Aris maupun Imran bahkan sudah memutuskan agar lampion karya mereka bisa meninggalkan nuansa Jepang dan China, tetapi lebih bersifat Indonesia. Hasilnya, kini lebih dari 80 macam desain lampion baru yang mereka ciptakan. Bentuknya beraneka rupa, ada yang seperti kerucut bersegi segitiga, bentuk-bentuk simetris, serta ada pula berbagai bentuk binatang dan bunga.

Investasi usaha, dikatakan, tidak terlalu besar dan nilainya di bawah nilai Rp 50juta. Antara lain digunakan untuk membeli peralatan serta bahan, yaitu rotan, kertas khusus serta bahan pewarna. Sebagian besar produk dikerjakan berdasarkan adanya order terlebih dahulu, biasanya dengan sistem jual putus. Selain itu kadang-kadang terdapat pula produk untuk persiapan pameran atau pun saat melayani permintaan konsinyasi. Dengan jumlah karyawan tetap sebanyak 6 orang sebulan Tiang Jaler mampu memproduksi sekitar 500 buah.  Pada akhir tahun sampai dengan awal tahun biasanya jumlah penjualan meningkat, sehingga bengkel ini bisa memproduksi hingga ribuan lampion dan tentunya memerlukan tambahan beberapa tenaga perajin.

Meski bahan dasarnya simpel, yakni kertas dan rotan, tetapi menurut Imran yang susah justru terletak pada proses pembuatannya. Sebuah model yang bagus harus dibuatkan cetakannya daan diproses hati-hati supaya hasilnya sempurna. Maka pada saat melayani pesanan baru, faktor kesulitan pada waktu proses pembuatan akan menentukan harga jual. Sehingga harga bervariasi mulai puluhan ribu sampai dengan ratusan ribu. Di samping itu banyak-sedikitnya jumlah pesanan juga mempengaruhi harga satuan. Sedangkan saat ini omzet penjualannya sekitar Rp 18 juta-Rp 20 juta per bulan.

Diungkapkan pula pada masa-masa awal usaha tahun 2002  strategi penjualan produk lebih banyak dilakukan dengan cara mengikuti pameran hingga beberapa kali dalam setahun mengambil lokasi di beberapa kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta dan Semarang. Sedangkan cara lain dengan mengandalkan relasi yang sudah menjadi pelanggan tetap, khususnya yang tinggal di kota-kota besar di luar pulau Jawa seperti Makasar dan Balikpapan. “Saat ini selain tetap mengikuti pameran, kami lebih cenderung mengandalkan pemasaran lewat referensi pelanggan-pelanggan setia kami dan melalui website di www.tiangjaler.com,” ungkap Imran.

Imran yakin usaha ini masih memiliki peluang sangat besar mengingat kecenderungan desain interior pada saat ini lebih mengarah kepada desain modern minimalis sehingga produk lampion sangat cocok digunakan untuk aplikasi tersebut. Walaupun begitu ia tidak menampik adanya masalah yang bisa menjadikan batu sandungan. “Sama seperti yang dialami banyak pengrajin lainnya, kendala terbesar kami adalah pengrajin yang dapat memproduksi dengan kualitas baik serta loyal,” akunya. Tetapi ditambahkan hal itu tetap tidak menyurutkan optimisme mereka. Karena SDM dapat diperoleh melalui pemberdayaan anak-anak muda di sekitar tempat usaha yang memiliki kreativitas yang tinggi serta banyaknya sumber seni dan desain seperti dari mahasiswa seni rupa dan desain ITB.

Sementara itu agar produk semakin diterima oleh pasar, seperti dikatakan, ditempuh dengan upaya terus melakukan inovasi dalam hal desain produk yang mencirikan Tiang Jaler memiliki produk-produk yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Target pasar yang dibidik cukup luas, meliputi bidang entertainment misalnya sebagai latar/ setting program televisi, wedding party, interior cafe, live show (panggung musik) dan banyak lagi. Sedangkan agar pasarnya semakin bertambah luas, disamping membuat produk-produk untuk dekorasi mereka juga akan mulai mengembangkan ke arah retail dan berencana dapat membuka outlet di Jakarta pada tahun 2007.

“Saat ini selain produk lampion kami juga mengembangkan produk lampu yang cocok untuk interior café atau restoran,” tutur lajang kelahiran Medan ini. “Ke depannya kami ingin lebih memperkenalkan lampion kepada masyarakat sebagai alternatif dekorasi yang tidak kalah bagusnya dengan dekorasi yang saat ini lebih cenderung menggunakan bunga dan kain,” tambahnya. Membuat lampion untuk penerangan rumah-rumah tinggal? Sepertinya sebuah garapan bagus yang pantas dijadikan peluang. Selamat mencoba!

nalisa Usaha Pembuatan Lampion
Biaya Bahan Baku
- Kertas khusus (kertas singkong atau rice paper)  Rp.    600.000,- 
- Rotan Rp.    300.000,-
- Bahan Pewarna Rp.    100.000,- +
 Total
 Rp. 1.000.000,-
 Penjualan Produk 
 *1000 x Rp. 10.000,- = Rp. 10.000.000,- 
 Keuntungan Kotor 
 Rp. 10.000.000,- - Rp. 1.000.000,- = Rp. 9.000.000,-
*Catatan Jumlah hasil akhir produksi tergantung pada tiap desain. Diasumsikan produk
 dihasilkan sebanyak 1000 buah lampion kecil dengan harga @Rp. 10.000,-.
 Lampion adalah termasuk kategori hasil seni sehinggga harga dapat bersifat subyektif. Contoh di pasaran harga berkisar antara Rp. 10.000,- - Rp. 300.000,-

no image

Posted by On 03.40

Ketika mendengar kata peti jenazah, tentulah terpikir akan kematian. Lantas, adakah yang berani menekuni bisnis tersebut? * Fisamawati

Kematian adalah suatu keniscayaan meski tak diketahui kedatangannya. Tanpa mengurangi rasa simpati kepada pihak yang berduka, segala hal yang bersangkutan dengan kematian bisa mendatangkan peluang bisnis. Adalah CV Purnasarana yang terjun menekuni bisnis pembuatan peti jenazah. Bermula dari kejelian H. E. Djunaedi yang saat itu bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Pemakaman. Posisi ini  memudahkannya ‘bergerilya’ untuk memasok peti jenazah. “Di bagian pelayanan pemakaman ada ketentuan, jika mayat ingin diantar keluar kota maka harus menggunakan peti jenazah dan disegel,” ungkap Djunaedi.

“Saat itu angka kematian di DKI Jakarta berjumlah antara 100 jiwa per hari. Katakanlah 50 persen dari jumlah tersebut adalah non muslim. Umumnya, non muslim dalam proses pemakaman menggunakan peti jenazah. Jika dikalkulasikan penyediaan peti jenazah adalah 2 per harinya. Dan waktu itu, pemda DKI menyerahkan pengadaan peti kepada masyarakat. Namun, dari masyarakat tidak ada yang mengelola secara serius maka peluang ini saya limpahkan ke istri saya,” tutur Djunaedi.
Dengan keterbatasan mencari order di luar pekerjaannya sebagai PNS, usaha yang dimulai pada 1982, awalnya hanya menyediakan dua peti jenazah. “Saya menyediakan dalam jumlah sedikit. Tapi lama-lama habis juga. Akhirnya secara bertahap jumlah tersebut meningkat,” timpa Hj. Lies Suryanah-isteri H. E. Djunaedi. Karena prospeknya terus membaik maka pada 1987 usaha keluarga ini diresmikan sebagai badan usaha berbentuk CV.
“Melihat prospek yang cerah serta didukung faktor pemain yang masih sedikit kami memutuskan untuk melengkapi persyaratan yang harus dipenuhi layaknya perusahaan. Alhamdulillah, dari usaha ini bisa membiayai pendidikan anak-anak hingga berhasil bahkan sampai saya dan suami naik haji,” lanjut Lies yang memiliki enam anak ini.

Bermodal niat untuk memberikan kemudahan pemakaman bagi keluarga yang sedang berduka dan tak semata-mata mencari untung, CV Purnasarana menyediakan peti jenazah ke beberapa kategori. “Untuk kelas tiga seharga Rp. 300.000,-, kelas dua seharga Rp. 2.500.000,- dan kelas lux seharga Rp. 5.000.000,-. Biasanya, peti jenazah yang biasa dipesan adalah kelas tiga karena ini merupakan harga standar bagi masyarakat menengah kebawah,” tambah Tedhi Achdiana-putra ketiga sekaligus penerus bisnis kedua orang tuanya.
Perbedaan tingkat harga peti jenazah antara kategori kelas satu, dua dan lux dilihat dari jenis papan yang digunakan serta ukiran-ukiran yang terdapat pada peti jenazah. “Peti jenazah kelas tiga menggunakan papan dari pohon meranti atau duren. Sedangkan kelas lux menggunakan papan dari kayu jati dan diukir,” terang Tedhi.
Djunaedi pun mengambarkan harga pasaran papan ukuran panjang 2 meter dan lebar 25 centimeter rata-rata seharga Rp. 15.000,-. Sedangkan untuk membuat peti jenazah standar berukuran 2 meter dan lebar 60 centimeter dibutuhkan 11 papan. Jadi dengan patokan harga tersebut dirasakan seimbang dengan modal ditambah biaya pekerja dan ongkos transportasi.

Ia pun menambahkan, bahan baku peti jenazah dipasok dari Sukabumi dan Jepara. Untuk meminimkan biaya pembelian papan maka sistem yang dilakukan adalah membeli pohon kemudian memperkirakan ukuran dan diameter yang dibutuhkan untuk pembuatan peti jenazah. Dengan adanya showroom di Sukabumi dan Jepara, Djunaedi beserta keluarga tak pernah takut kehabisan stok peti jenazah. Bahkan, siap melayani dalam kurun waktu 24 jam setiap harinya.
“Setiap harinya mampu memproduksi enam peti jenazah yang dikerjakan oleh tiga orang pekerja. Dalam sebulan kami mempunyai stok 100 peti jenazah,” terang Djunaedi yang kini berusia 59 tahun. Pengadaan stok ini dimaksudkan untuk mengantisipasi membludaknya pemesanan peti jenazah akibat peristiwa tak terduga, seperti bencana alam ataupun musibah massal. 
“Kadang ada kejadian kecelakaan yang mengakibatkan banyak korban yang meninggal maka pihak terkait langsung menghubungi kami,” Tedhi mencontohkan tenggelamnya Kapal Levina I beberapa waktu lalu.

Untuk pemasarannya sendiri, semula hanya dari mulut ke mulut dan sekarang memanfaatkan layanan internet. “Inilah sulitnya memasarkan bisnis peti mati. Bila secara kasat mata, sama halnya mengharapkan orang meninggal hingga peti jenazah laku dan mendongkrak bisnis. Tapi sebenarnya tidak seperti itu, kami ingin membantu dalam memenuhi kebutuhan pemakaman. Bahkan, jika ada keluarga yang butuh tapi tidak mampu membeli, maka kami bisa menyesuaikan harganya. Tak semata-mata keuntungan tapi juga perlu ditanamkan nilai sosial ke sesama,” ungkap Lies.

Ketidakmudahan dalam pemasaran peti jenazah di kalangan masyarakat tak menyurutkan CV Purnasarana untuk berekspansi. Dengan mengusahakan memasok peti jenazah ke beberapa rumah sakit, yayasan, masjid dan gereja nilai penjualan bisa meningkat. Meski peti jenazah tidak dapat dipajang seperti produk lain yang bertujuan untuk menarik minat pembeli tapi bisnis ini sudah menguasai pasar di wilayah Jakarta Timur dan Bekasi. “Peti jenazah sudah sampai ke Subang, Sukabumi, Kuningan dan beberapa daerah. Biasanya keluarga duka menginginkan jenazah dimakamkan di tempat kelahiran,” lanjutnya.

Kini, bisnis yang beralamat di Lembah Aren III Blok K 12 No. 20, Pondok Kelapa ini mampu menjual 30 sampai 40 peti jenazah per harinya. Tak hanya itu, CV Purnasarana juga menyediakan perlengkapan kematian untuk kaum muslim/muslimah seperti kain kafan 15 meter, tikar, kapas 500 gr, gayung, air mawar, rempah-rempah berupa sabun mandi, kapur barus, cendana, cuttonbuds, bedak, minyak wangi, setanggi, benang, jarum dan sisir. Untuk satu paket perlengkapan tersebut dijual seharga Rp. 250.000,-. “Saya berniat memasarkan paket ini ke beberapa supermarket dengan mengubah sedikit tampilan luarnya agar tidak terlalu seram,” kata Tedhi ketika ditanya langkah pemasaran selanjutnya.

Diakhir pembicaraan, Lies pun membagi cerita menariknya selama menjalankan peti jenazah, “Waktu itu, salah satu keluarga ada yang bingung menentukan ukuran peti jenazah bagi mayat tersebut. Karena takut salah maka mayat itu langsung dibawa untuk diukur,” kenang Lies. Iiih serem?    

Analisis Bisnis Peti Jenazah selama 1 bulan 
Produksi 1 peti jenazah membutuhkan 11 papan
Harga 1 papan ukuran 2 meter x 25 centimeter = Rp.15.000,-Maka 11 papan x Rp. 15.000,- = Rp. 165.000,-Produksi peti jenazah adalah 6 peti/hari x 30 hari = 180 peti
A.      Biaya produksi           180 peti x Rp. 165.000,-                                   Rp. 29.700.000,-       
      Biaya pekerja            3 orang x @ Rp. 500.000,-                                Rp.   1.500.000,-
     
     
Total modal                                                                                      Rp. 31.200.000,-

B.      Harga jual 1 peti jenazah kelas III adalah Rp. 300.000,-     
     
Jumlah penjualan      40 peti per bulan
     
     
Total penghasilan  40 peti x Rp. 300.000,-                                           Rp. 12.000.000,-

Jangka waktu balik modal (A : B)Rp. 31.200.000,- : Rp. 12.000.000,- = 2,6 ( 3 bulan)
Ket : Biaya operasional tambahan produksi tidak dihitung.    

thumbnail

Posted by On 22.20

Honda Civic Type R, Cepat Tapi Hemat

Honda Civic Type R, Cepat Tapi Hemat - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA - Pengiriman Honda Civic Type R kepada seluruh konsumen di Indonesia dimulai.

Hal itu ditandai dengan serah terima yang dilakukan PT Honda Prospect Motor kepada sepuluh konsumen pertamanya di Indonesia.

Generasi terbaru Civic Type R pertama kali diluncurkan di Indonesia pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show 2017.

Hingga saat ini, sudah ada 65 konsumen yang memesan mobil sport legendaris itu.

''Sebanyak 50 unit Civic Type R sudah siap dikirimkan secara bertahap kepada konsumen di seluruh Indonesia. Pengiriman b erikutnya dijadwalkan pada awal tahun depan,” ujar Direktur Pemasaran dan Purnajual HPM Jonfis Fandy beberapa waktu lalu.

Jonfis menjelaskan, Civic Type R yang diluncurkan di Indonesia merupakan pengembangan dari generasi kesepuluh Honda Civic.

Varian itu memegang rekor sebagai mobil penggerak roda depan tercepat di sirkuit Nürburgring, Jerman, setelah mencatat waktu tujuh menit 43,8 detik.

Harga yang ditawarkan Honda untuk mobil ini Rp 995 juta untuk on-the-road di Jabodetabek.

  • 1
  • 2
  • Next
Sumber: JPNN