www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

no image

Posted by On 01.45

Apakah bisnis yang sekarang akan tetap eksis seperti seperti sekarang?  Begitulah  kata berulang yang kerap kita atau Anda dan siapa saja yang akan terjun sebagai calon pebisnis, pebisnis, investor, pembaca majalah ekonomi atau pengamat ekonomi. Kata-kata di atas bukan sebagai nada kekhawatiran atau pesimistis. Namun, sebuah ungkapan bijak untuk mengetahui apa yang bakal terjadi di dunia bisnis di tahun-tahun mendatang.

Tahun 2008 kondisi makro ekonomi di Tanah Air diperkirakan sangat kondusif. Begitu ramalan para pakar ekonomi, bank dunia, yang dipresentasikan pada pertengahan tahun ini. Pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6,8%, lebih tinggi ketimbang tahun lalu yang hanya 6,3%.  Bila ramalan itu benar, kondisi makro dan mikro ekonomi akan bagus. Kebijakan baru yang menyangkut reformasi di sektor mikro akan muncul akibat dari membaiknya sektor makro. Dan, ini, menurut kami,  akan menumbuhkan peluang-peluang dan gairah yang besar dari para pebisnis.

Kami berharap prediksi itu tidak meleset. Gairah berbisnis dari para pengusaha yang kami temui di lapangan sangat besar. Mereka optimistis. Beberapa di antara mereka tengah menyiapkan  rencana untuk membangun sebuah bisnis baru.  Adler Haymans Manurung, salah satu pengamat bisnis UKM mengatakan, tanda-tanda akan membaiknya  bisnis sudah kelihatan. Bahkan dalam dua atau tiga tahun ke depan. Hanya, menurut dia, bisnis yang akan berkibar adalah yang berorientasi ekspor meski skalanya kecil atau UKM.

Kami sependapat dengan Adler.  Dari lapangan, kami telah membuktikannya.  Bisnis distro (distribusi outlet), misalnya, perlahan-lahan terkerek naik dan kini melesat ke depan. Bisnis yang dulu hanya berkutat di pasar domestik kini telah menancapkan kukunya di pasar mancanegara. Ide dan kreatifitas yang dipadukan dengan semangat untuk maju dari pengelolanya—rata-rata kawula muda—mampu menarik minat konsumen di beberapa negara untuk memakai produk Indonesia. Produk distro & clothing disini telah diekspor ke negara pemesan. 

Bisnis lain, yang tak kalah menariknya adalah  di sektor otomotif. Jasa bengkel modifikasi motor, misalnya lahir dari jawaban permintaan para bikers akan model tunggangannya. Begitu juga toko aksesoris  motor, adalah upaya memenuhi permintaan para bikers yang modis. Motor berbeda dengan yang lain, modis, adalah bagian perilaku bikers yang tidak menggangap lagi motor sebagai alat fungsional belaka, namun sebagai sarana aktualisasi dan gaya.  Bisnis ini akan tumbuh dan berbanding lurus dengan tumbuhnya pasar sepeda motor di Tanah Air.

Agribisnis pada tahun mendatang diperkirakan akan mendulang fulus yang besar. Beberapa komoditas ekspor agribisnis telah membuktikannya. Bisnis Ikan Arwana ekspor terus berkibar hingga kini. Lalu, beberapa species ikan tawar lainnya, seperti  ikan patin juga latis manis di mancanegara. Lalu, yang lagi ngetren kali ini adalah tanaman gelombang cinta atau anthurium yang banyak peminatnya. Tunggu beberapa bulan, langsung dijual dan hasilnya miliaran rupiah.  Cara menanmny cukup mudah. Yang sulit ialah bagaimana mencari pembeli yang betul-betul sreg. Karena, tanaman jenis ini termasuk barang collectible bond  yang harganya mahal kalau pembeli suka.

Gencarnya penggunaan enerji alternatif untuk bahan bakar minyak (BBM), melahirkan peluang bisnis biodiesel dari berbagai bahan nabati. Salah satunya adalah minyak jelantah, sisa minyak goreng yang tidak dipakai lagi. Bahan ini kemudian bisa diproses dan menjadi bahan bakar untuk kendaraan diesel.  Biaya produksinya rendah.  Begitu juga dengan investasinya. Dan, yang lebih menarik lagi, kebutuhan akan bahan bakar ini akan tinggi. Karena, pihak Pertamina berani membeli dengan harga Rp 7 ribu per liternya.

Sektor makanan, adalah bisnis yang tak lekang dan tak lapuk dalam kondisi apapaun. Meski sifatnya seasonal, namun kreatifitas makanan dan citarasa yang diciptakan oleh pebisnisnya mampu menyedot ribuan orang untuk mencicipinya.  Bisnis makanan cepat saji, misalnya, selalu saja muncul hal-hal baru dan inovatif.  Jual burger atau hotdog di SPBU (Stasiun Pompa Bensin Umum), misalnya, kini tumbuh pesat. Beno, pemilik jasa Pesan & Delivery menciptakan Hot Dog Both sebuah makanan cepat saji yang dijual di SPBU strategis.

Bisnis makanan yang juga tidak kalah menarik adalah resto yang menjual makanan tradisional, tapi disajikan dengan cara moderen. Dulu, kita kenal warung khas Makassar, Sop Konro, Mamink Daeng Tata. Kini, di Jakarta kita kenal Bumbu Desa, Rawon Setan, Surabaya, yang pembelinya tak kalah ramai dengan sop konro.   Makanan khas Indonesia memiliki nilai jual tinggi. Bila dikelola dengan professional bisa jadi menjadi komoditas yang bisa dijual tidak hanya di pasar domestik, tapi di mancanegara.

Bisnis-bisnis di sektor jasa juga akan tumbuh pada 2008.  Jasa Tour & Travel akan tetap saja booming, khususnya jasa-jasa layanan haji dan umroh. Sekarang, layanan itu berkembang lagi dengan jasa Holy Tour sebagai meningkatnya kesadaran kalangan kristiani untuk berwisata ziarah ke Jerusalem, Vatikan atau Lourdes. Menurut sebuah sumber tiap tahun puluhan ribu umat kristiani berkunjung ke tempat-tempat tersebut.

Bisnis jasa lainnya yang bakal tumbuh dengan pesat adalah  jasa arsitek, desain visual, percetakan (publishing), software & computer, periklanan dan beberapa lagi lainnya. Bisnis yang tergolong dalam new economy ini semuanya dalam lingkup industri kreatif.  Untuk jasa periklanan misalnya, belanja iklan terus merangkak naik dan mendekati angka Rp 37,2 triliun.  Begitu juga dengan jasa desain visual yang menurut sebuah majalah ekonomi terbitan Jakarta, pasarnya senilai Rp5 triliun.  Peluang masih terbuka bagi pemain baru yang ingin terjun ke bisnis.

Industri craft, atau jasa kerajinan yang berorientasi ekspor diprediksikan juga bakal tumbuh pesat. Sebuah produsen puzzle  di Jogyakarta, misalnya, pasarnya sudah meramabah ke beberapa negara di dunia. Desain yang cantik serta kualitas produk yang dihasilkan ternyata mampu mentraik minat konsumen di beberapa negara seperti mislanya : Belanda, Inggris, Jerman dan Amerika Serikat. Di bisnis ini kuncinya adalah mampu menciptakan produk yang unik, ngetren dan ramah lingkungan. Dan, satu lagi, adalah pasar di mancanegara. Apresiasi seni dari masyarakat di sini yang rendah, kurang mendukung bila produk kerajinan dipasarkan di dalam negeri.

Diluar bisnis-bisnis ini, masih banyak lagi yang bakal booming di tahun depan. Majalah ini hanya memberi gambaran peluang bisnis jika Anda berminat terjun ke bisnis. Gambaran keberhasilan yang kami sajikan mungkin bisa dijadikan patokan atau acuan Anda untuk memilih bisnis ini. Namun, sekali lagi kami ingatkan bahwa keberhasilan itu tetap saja ditangan Anda sendiri. Contoh beberapa bisnis yang sukses tersebut  hanya sebagai inspiring bagi Anda.

no image

Posted by On 02.51

Benarkah otak kiri sebagai ‘biang keladi’ yang menghambat kemampuan seseorang untuk memulai dan menjalankan bisnis seperti yang dituduhkan sejumlah orang selama ini?Sukatna

Banyak pebisnis yang sukses namun gagal dalam pendidikannya. Secara statistik jumlahnya cukup signifikan. Kemudian orang mencoba mengaitkannya dengan keberadaan otak kiri dan otak kanan. Konon otak kiri banyak bertanggung jawab atas aktivitas yang melibatkan kemampuan analisis, matematis dan detil (ciri-ciri yang dimiliki para akademisi, pemikir, maupun orang-orang berpendidikan tinggi), sedangkan otak kanan terkait dengan intuisi, kreatifitas dan berpikir secara makro.
Kata sejumlah orang, menonjolnya kemampuan otak kiri membuat seseorang lebih banyak berpikir, berhitung matematis sehingga menciptakan bayang-bayang ketakutan ketika akan memulai berbisnis: takut gagal, takut risiko. Mungkin pendapat ini ada benarnya, tetapi benarkah otak kiri sedemikian “jahat” bagi orang yang akan memulai dan menjalankan bisnis. Kalau pendapat ini mutlak benar maka kita berarti mengabaikan suatu fakta tentang banyaknya pengusaha yang sukses sekaligus berpendidikan tinggi.
Agaknya kita membutuhkan “jalan perdamaian” antara otak kanan dan otak kiri. Mulailah bisnis dengan otak kanan, dan kembangkan bisnis dengan perpaduan otak kanan dan kiri. Kita analogikan saja sebagai sebuah kombinasi antara gas dan rem dalam mobil. Sukseskah kita sampai ke tujuan ketika mobil kita tanpa rem?

Dalam wacanatama kali ini kita menampilkan orang-orang yang mampu memanfaatkan otak kanan sebagai gas dan otak kiri sebagai rem dan pengendali dalam menjalankan bisnis sekaligus sebagai akademisi.
Sebut saja Asep Budiman, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Di tengah kesibukannya mengurusi semua aktivitas mahasiswa, Asep memiliki beberapa bisnis, seperti oli bekas, vulkanisir ban bekas, bordir, counter Hp dan jasa cuci bis. Menyiasati kesibukannya sebagai pejabat teras di Unsil, Asep selalu menggandeng mitra atau bekerja sama dengan keluarganya.
Asep mengaku keterlibatannya secara fisik di dalam bisnis memang jauh berkurang dibandingkan kurun waktu sebelum tahun 2000. Bisnis yang digelutinya lebih banyak berkaitan dengan pikiran dan ide, sedangkan eksekusinya diserahkan kepada orang lain atau karyawan. “Bisnis saya lebih banyak di pikiran, seperti menjadi konsultan dan membuat business plan. Selain dari sisi fisik tidak terlalu menguras tenaga, hasilnya juga lebih gede,” ujarnya sembari tertawa.
Jiwa kewirausahaannya inipun ia tularkan kepada para mahasiswanya . Sewaktu masih menjadi Ketua Jurusan Manajemen Unsil ia sering mengundang dosen tamu yang terdiri dari para pengusaha sukses maupun yang gagal untuk sharing dengan para mahasiswa. Setelah itu mahasiswa disuruh mengamati peluang di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Kemudian mereka disuruh berpresentasi, dan didorong untuk mendirikan usaha. “Yang berhasil mendirikan usaha, meski kecil langsung mendapatkan nilai A,” kiatnya dalam menularkan entrepreneurship seraya mengimbuhkan ada beberapa bisnis yang didirikan mahasiswanya masih eksis, bahkan berkembang sampai sekarang, di antaranya usaha poultry shop di Kuningan.

Segendang sepenarian dengan Asep, Nuryana Saepudin juga tidak serta merta meninggalkan dunia bisnis ketika dipercaya menjadi Kepala Sekolah Menengah Atas Terpadu (SMAT) Krida Nusantara, Bandung.
Setelah ia memegang tampuk pimpinan di sekolah boarding berstandar internasional ini, dalam berbisnis Nuryana lebih banyak menggunakan kecerdasan otak kirinya. Larangan secara tidak langsung dari pihak yayasan agar guru SMAT Krida Nusantara tidak melakukan aktivitas bisnis, disiasatinya secara arif dengan menyerahkan operasional CV Gema Nuansa ke mitranya. “Saya merancang Tour of Operation sedang mitra saya bertugas mencari klien,” tuturnya.
Menurut Nuryana, bisnis tidak harus moving, tetapi cukup memanfaatkan teknologi komunikasi seperti telepon seluler, telepon dan fax. Ditegaskannya, dalam berbisnis yang penting justru memberdayakan pikiran, dan eksekusinya bisa diserahkan kepada orang lain. “Yang penting bagaimana caranya membangun sistem,” tandas Master Pemerintahan Universitas Langlang Buana ini.

Pentingnya dukungan otak kiri dalam mengembangkan bisnis juga diungkapkan Shofwan Azhar Solihin, Dosen Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin). Menurut pengalamannya, sebagai akademisi maupun pebisnis, penguasaan teori itu dapat mendukung bisnis. Teori bisa memberikan arah sehingga pada tingkat prakteknya benar-benar bisa dihayati. “Dengan kata lain, rohnya akan terasa lebih lengkap jika teori diikuti praktik,” kata Direktur LBPP-LIA cabang Buah Batu, Bandung, yang juga Master Economic Agricultural Science, Landbouw Watenschapen, Belgia, ini.
Suatu strategi yang terbukti ampuh, berdasarkan teori (itu sebabnya tidak perlu alergi terhadap teori) adalah pemilihan lokasi usaha. “Secara ekstrem dikatakan bahwa keberhasilan suatu usaha itu tergantung pada empat hal yaitu lokasi, lokasi, lokasi, dan lokasi. Karena, lokasi yang strategis akan menutup kelemahan berbagai strategi bisnis yang lain,” ucapnya.

Memadukan teori dan praktik akan jauh produktif ketimbang mempersoalkan tidak klopnya teori dan praktik. Hal ini diungkapkan Dandan Irawan, Wakil Rektor I Inkopin, Jatinangor, Sumedang. Ilmu yang didapat di kelas berupa teori-teori pun harus diaplikasikan di lapangan. Sehingga antara ilmu teoritis dan praktisi dapat berjalan selaras dan saling melengkapi.
Pemilik usaha jasa dan garmen ini mengakui pada dasarnya pola pikir akademisi memang bertolak belakang dengan bisnis. Kalau pengusaha langsung terjun dengan menikmati untung atau menderita rugi pada proses akhirnya, sedangkan akademisi menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam suatu bisnis tetapi dengan satu muara: bagaimana mendapat untung. Target akhir inilah yang seringkali menjadi momok sehingga menimbulkan rasa gamang ketika orang akan memulai bisnis. Dan itu sebabnya pula otak kiri seringkali dituduh sebagai ‘biang kerok’ yang menghambat keberanian lulusan pendidikan tinggi memulai usaha.

Namun Rektor Unsil Nu’man Somantri memiliki perspektif yang berbeda melihat belum bergairahnya lulusan pendidikan tinggi terjun menjadi wirausaha. Ia melihat bukan persoalan otak kiri dan otak kanan, tetapi penyebabnya lebih lekat kepada masalah kultur. Selama 350 tahun Belanda mencengkeram Indonesia. Bukan hanya dalam arti mencengkeram secara fisik tetapi juga kultur. Pada zaman Belanda, di Indonesia diciptakan tiga kelas masyarakat, yakni masyarakat Eropa sebagai penguasa, masyarakat Arab dan Cina sebagai pengusaha dan masyarakat Indonesia sebagai pekerja (untuk kelas menengah ke atas sebagai pegawai dan untuk kelas bawah sebagai kuli).
Kultur inipun masih dilanggengkan secara turun temurun. Bahkan Nu’man sendiri mengaku mendapat pesan dari orang tuanya agar memilih karir menjadi pegawai. Padahal orangtua Nu’man termasuk golongan yang memiliki pendidikan tinggi, namun tidak sepenuhnya bisa mengelak dari kultur yang ditanamkan Belanda. “Dari suatu survey yang dilakukan Media Group, lulusan perguruan tinggi masih banyak yang memilih menjadi pegawai,” ungkapnya.

Kendala yang lain adalah belum adanya perguruan tinggi di Indonesia yang bisa mengemban misi sebagai entrepreneur university, sebagaimana di Amerika Serikat atau di Eropa. Alih-alih bisa mendukung lahirnya lulusan-lulusan yang berjiwa entrepreneur, banyak akademisi atau ilmuwan yang melontarkan pertanyaan menohok,”ini mau ilmu atau mau dagang?”
Namun Nu’man bergeming. Maka tekadnya untuk menjadikan Unsil sebagai suatu entrepreneur university sudah bulat. Karena menurutnya, jika berhasil mengemban tugas sebagai entrepreneur university, dampaknya akan jauh lebih hebat ketimbang Revolusi Industri.

Mengubah mindset seperti ini memang tidak gampang. Itu sebabnya Nu’man tidak berani memasang target berdasarkan tenggat waktu. “Yang penting kita telah memulai prosesnya,” tandas Nu’man. Benar Pak. Jarak ribuan mil juga dimulai dari satu langkah

no image

Posted by On 03.03

Ngapain bisnis? Sudah sekolah saja dulu sampai selesai. Cari duitnya nanti!  Menjadi pegawai negeri atau professional di perusahaan top dan BUMN lebih bagus ketimbang menjadi pebisnis! Begitulah, kata-kata bijak dari sebagian orang tua kita dulu kalau mengetahui anaknya sedang membangun sebuah bisnis.  Mereka tidak salah. Mereka pantas khawatir. Membangun sebuah bisnis baru memang tidak mudah. Banyak risiko yang harus dihadapi. Mulai dari ketidakpastian masa depan, gagal, rugi hingga modal ludes. Mereka kerap berpikir bahwa orang dewasa pun kerap gagal dalam memulai bisnis,  apalagi ini remaja yang masih hijau dan tidak memiliki pengalaman sama sekali. Rian S.

Namun sudahlah. Biarkan orang tua kita memiliki mindset yang demikian itu. Zaman sudah berbeda. Kalau dulu orang bangga sebagai profesional atau pegawai negeri, kini kebanggaan itu bertambah lagi jika mereka berhasil sebagai pebisnis yang sukses. Sebuah survey di Amerika Serikat (AS) dengan mengambil responden pelajar SMA menyebutkan bahwa mereka bercita-cita menjadi pemilik bisnis. Mereka ingin menjadi pebisnis sukses layaknya Bill Gates, Donald Trump, Anita Roddick, Ross Perrot dan sebagainya.  Begitu juga, majalah ini ketika menghadiri symposium entrepreneur Asean (1st Asean Young Entrepreneurs Symposium/A-YES) di Kuala Lumpur, Malaysia, beberapa waktu lalu. Dari sini terlihat adanya paradigma baru di kalangan pemuda baik di Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand. Mereka bercita-cita menjadi seorang pebisnis. 

Di Tanah Air pun, minat untuk menjadi pebisnispun besar sekali. Dalam sebuah kunjungan ke Bandung dan sekitarnya, kami menjumpai anak-anak muda masih duduk di bangku SMA, sudah mulai membangun bisnis sendiri. Begitu juga di Jakarta, Surabaya, Jogjakarta dan Batam.  Jika ditanya, jawaban mereka hampir seragam. Sekarang adalah eranya bisnis ! Mereka optimistis bahwa lewat bisnis adalah jalur cepat untuk menuju kesuksesan baik karir maupun materi. Media eksposure—keterbukaan terhadap dunia luar lewat media massa--interaksi dengan pihak lain, kisah sukses para pebisnis mungkin salah satu pemicu dan inspiring mereka memilih jalan sebagai entrepreneur. Dan, uniknya lagi, banyak di antara mereka yang didukung oleh orang tuanya. Jika ini bisa digeneralisasikan, kami berpendapat telah terjadi perubahan mindset di kalangan orang tua disini.  Padahal, bisnis yang dilakukan mereka bukanlah sebuah  spektakuler seperti umumnya dilakukan oleh remaja-remaja di AS atau Eropa.

Pilihan menjadi entrepreneur di usia remaja, ada untung ruginya. Ruginya, kita kehilangan waktu untuk bergaul dengan remaja umumnya, karena harus mengurusi bisnis. Namun dalam jangka panjang, dan apabila kita tetap konsisten di jalur bisnis, keuntungannya akan lebih besar lagi. Pertama, mungkin adalah pengalaman, selanjutnya networking dan mungkin yang terakhir adalah materi.  Banyak sudah contoh dari mereka yang mulai membangun bisnisnya di usia muda. Alexis Bonnell membangun dua bisnis sekaligus sejak di bangku SMA dan mahasiswa. Dua perusahaannya yakni RentReporting.com dan Verbal Advantage, sebuah peryusahaan yang bergerak dibidang jasa penjualan audio telah sukses. Dan, Bonnell mampu membukukan penjualan US$ 12 juta.  Atas keberhasilannya ini, dia pun direkrut menjadi CEO oleh sebuah perusahaan pemasaran produk di AS dalam usia 25 tahun. 

Di Tanah Air kita juga kenal Ario Pratomo, Managing Director Unique Cargonize—agen tunggal jasa cargo untuk maskapai Etihad dari UEA, Hendy Setiono dan beberapa lagi lainnya. Usia mereka kini mendekati 25 tahun. Namun—terutama Hendy-- mereka telah membangun bisnisnya sejak usia dibawah 20 tahun. Keduanya kini sukses. Perusahaannya berkembang pesat. Omsetnya cukup besar. Dan, materi yang diraih juga lumayan besar.
Di luar Ario maupun Hendy, kami menemukan Tawang Titan Abe, Bani, Amelia, Dini dan Boris Ngangi. Mereka juga telah mengawali bisnis seperti konveksi dan kaos, jual voucher elektrik, bisnis youghurt dan media massa, bisnis franchise dan beberapa lagi bisnis lainnya. Kami yakin, diluar nama ini masih banyak lagi remaja-remaja yang telah menetapkan pilihannya menjadi seorang pebisnis. Jumlahnya mungkin puluhan, ratusan bahkan ribuan.  Tunas-tunaspun mulai bertumbuh.

no image

Posted by On 02.44

Dalam bisnis limbah biasanya terkandung tiga dimensi sekaligus yakni dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan. Sukatna

Seorang pemilik rumah di sebuah perumahan kebingungan untuk membuang puing-puing bangunan rumahnya yang sedang direnovasi. Solusi instannya, ia menumpuk semua puing itu di taman depan rumahnya. Tak lama kemudian ia mendapat komplain dari para tetangganya, karena tumpukan puing tersebut “merusak mata.”
Seorang pria, sebut saja namanya Mancung, berinisiatif untuk membuang puing tersebut dengan imbalan Rp 20 ribu per tiga gerobak. Kemudian kepada warga lain yang membutuhkan tanah urugan ia menawarkan dengan harga Rp 20 per tiga gerobak. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, demikian akal jeli Mancung.
Aktivitas Mancung di sebuah perumahan tersebut menggambarkan bahwa limbah pada satu sisi membawa suatu masalah tetapi pada sisi lain juga sangat dibutuhkan. Dan fenomena dua sisi mata uang ini hampir mirip untuk semua jenis kategori limbah: limbah dibuang, limbah disayang.

Aktivitas bisnis dengan “komoditi” limbah bukan hal yang baru lagi. Namun seiring waktu, jenis kategori limbah yang bisa dibisniskan juga terus bertambah. Limbah plastik, misalnya, awalnya orang hanya tertarik menekuni bisnis limbah plastik non-film, seperti botol plastik bekas minumandan bekas ember.
Namun belakangan limbah plastik yang semula masuk kategori sampah (seperti bekas plastik kresek dan plastik tipis lainnya) sudah mulai dimanfaatkan dan diolah untuk menjadi bahan baku pembuatan plastik. Salah satu pengusaha yang menekuni bisnis plastik sampah ini adalah Herman Sutirto.

Seperti pada umumnya bisnis limbah, pengolahan limbah sampah plastik milik Herman ini memiliki dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan. Dari sisi ekonomi bisnis ini jelas memiliki added value tinggi. Dari sisi soial, bisnis ini bisa membuka lapangan kerja bagi para pemulung, penampung, bandar sampah plastik, maupun para pemasok yang berhubungan langsung dengan perusahaan daur ulang sampah. Dari sisi lingkungan, bisnis ini bisa mengurangi bahkan memecahkan masalah penumpukan sampah plastik. Padahal jenis sampah ini tidak bisa diuraikan sehingga akan menjadi polutan yang berbahaya bagi tanah.

Untuk menimbulkan efek multiplier yang lebih besar Herman bahkan sudah melangkah lebih jauh lagi dengan menggandeng BE BOSS untuk mewaralabakan bisnisnya. Sehingga dengan semakin banyaknya jenis bisnis ini secara otomatis akan menciptakan duplikasi yang lebih cepat dalam dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan seperti yang telah disebutkan di atas.

Pemanfaatan limbah yang relatif baru adalah limbah alumunium foil. Di tangan Slamet Riyadi limbah alumunium foil bisa disulap menjadi barang kerajinan. Sudah pasti setelah melalui olah kreasi limbah alumunium foil yang berasal dari bekas kemasan makanan atau minuman ringan, tube pasta gigi, pestisida dan sejenisnya ini memiliki added value yang sangat besar. Slamet secara jujur menyebutkan keuntungan menekuni bisnis ini bisa tembus 100%.
Sementara itu jika dilihat dari dimensi sosialnya, usaha yang digeluti Slamet ini bisa membuka lapangan kerja baru bagi para ibu rumah tangga, dan orang-orang lansia di lingkungan sekitar Slamet. Dari sisi lingkungan, dengan adanya bisnis ini kemasan-kemasan makanan dan minuman ringan, kemasan pasta gigi, pestisida, susu dan lain sebagainya tidak akan berserakan lagi. Itu sebabnya, usaha yang didirikan pria kelahiran Cirebon ini juga mendapat dukungan positif dari LSM Lingkungan.

Lain lagi kejelian T. Yustina, pemimpin sekaligus pengajar Lembaga Pendidikan Jaya Beauty School. Ketika ia melihat shuttlecock berserakan di lapangan bulu tangkis timbul idenya untuk mengubahnya menjadi kerajinan ondel-ondel yang eksotik. Sebelum ia mewujudkan idenya ini, hampir-hampir shuttlecock bekas ini tidak memiliki nilai ekonomis.
Karena tertarik dengan ide kreatifnya ini, sejumlah instansi ikut memberikan perhatian dan dukungan terhadap usaha Yustina, di antaranya pemberian stand gratis dari Pemda DKI ketika berlangsung suatu pameran di wilayah ini. Keterampilan mengubah shuttlecock menjadi kerajinan ini juga ia tularkan kepada anak-anak yang tidak mampu secara gratis.

Dalam soal menyulap limbah menjadi karya seni, Erwan dan Nurus tidak mau ketinggalan. Lebih unik lagi, Erwan dan Nurus memanfaatkan daun-daun yang benar-benar tidak memiliki nilai ekonomis. Daun-daun berserakan yang mengotori jalan dan pekarangan ini diubahnya menjadi berbagai kerajinan.
Namun sebagai sebuah karya seni, daun memiliki sifat rapuh sehingga harus dibarengi dengan bahan-bahan tambahan lainnya. Fungsi daun dalam seni yang diciptakan Erwan dan Nurus adalah sebagai hiasan. Kesan antik dan etnik langsung terlihat dalam karya seni Erwan dan Nurus. Lantaran kesan antik dan etnik ini keduanya berencana untuk mengekspor karyanya ke Dubai.

Yang secara ekonomi paling merasa tertolong dalam memanfaatkan barang bekas atau limbah ini adalah Joko Santosa dari Yogyakarta. Sempat bangkrut ketika menggeluti bisnis penggilingan padi, kehidupan Joko sontak berubah setelah mengubah haluan bisnisnya dengan menjadi juragan kertas bekas.
Bukan hanya tungku dapur keluarganya saja yang bisa berdiri tegak dan mengepul tiap hari, 40 tenaga kerjanya pun ikut menikmati manisnya bisnis ini.
Tetapi sebelum mengecap manisnya hasil, Joko memulainya dari bawah. Mula-mula ia bergerilya mencari kertas dari pasar ke pasar. Selain masih sulit mengumpulkan kertas dalam jumlah yang besar, penjualannya pun tidak mudah. Maklum, ketika ia merintis usaha itu pada 1993, belum banyak perusahaan yang mendaur ulang kertas.

Alah bisa karena biasa, lancar kaji karena diulang. Itu juga yang dialami Joko dalam menggelindingkan bisnisnya. Dengan semakin bertambahnya waktu, membuat “penciuman” Joko tajam untuk melihat peluang-peluang bisnis kertas bekas. Joko berpikir, bahwa dirinya tidak secara terus menerus bergerilya dari pasar ke pasar jika ingin bisnis maju.
Ia mulai melirik kertas-kertas bekas di kantor-kantor pemerintah maupun swasta. Kantor jelas merupakan tempat berburu kertas bekas yang ideal. Tetapi ternyata tak mudah untuk mendapatkan kertas-kertas bekas dari kantor, lantaran banyak dokumen-dokumen penting yang tidak bisa sembarangan tersebar ke publik. Inilah tantangan Joko. Namun ia tak menyerah. Ia yakin, sekali berhasil pasti keberhasilan lainnya akan segera menyusul.
Benar saja. Ketika ia berhasil membeli kertas bekas dari kantor Bulog, kantor-kantor yang lain pun dengan mudah diyakinkan untuk menjual kertas bekas kepadanya. Sejak itu, bisnis terus berkibar. Bagaimana tidak, ia membeli dengan harga rendah tetapi menjual dengan harga tinggi sehingga keuntungan yang diperoleh bisa di atas 100%.
Ketika muncul pesaing-pesaing baru pun, bisnis Joko tak tergoyahkan. Namu ia akui, dengan semakin banyak pesaing membuat profitnya tergerus. Hukum ekonomilah yang bekerja, ketika banyak pemasok maka perusahaan daur ulang kertas bekas akan memilih pemasok yang memiliki harga terendah. Maka secara otomatis Joko akan mengurangi profitnya agar bisa tetap kompetitif.

Dari gambaran di atas kita bisa melihat bahwa berbisnis limbah dari hari ke hari akan terus berkembang. Saat ini masih banyak sampah yang kelihatannya tak bernilai, bahkan menimbulkan permasalahan. Namun sejatinya, dengan kejelian sampah-sampah tersebut bisa dimanfaatkan baik sebagai bahan baku sebuah industri maupun sebagai bahan baku barang-barang kerajinan.

Cobalah Anda lihat limbah di sekeliling lingkungan Anda. Barangkali salah satu di antaranya akan menjadi jalan untuk menghantarkan Anda menuju ke tangga kesuksesan seperti mereka-mereka yang telah menggeluti sampah sebagai pintu menggapai rejeki yang berlimpah ruah.

no image

Posted by On 22.30

SPBU merupakan salah satu tempat “keramaian” yang pasti dikunjungi orang. Celah peluang ini dibaca dengan jeli oleh Benno dengan mendirikan Hotdog Booth

 * Fisamawati

 ImageBisnis makanan dipercaya merupakan salah satu dari sekian banyak bisnis yang tidak terlalu terkena imbas pergantian tahun. Sebabnya, semua orang butuh makanan, sehingga otomatis pasti dicari orang. Sekarang tinggal bagaimana mengemas bisnis tersebut, sehingga mampu dijual. Yang jelas, faktor paling mendasar adalah rasa (taste) dari makanan yang dijual. Setelah itu untuk dapat sukses diperlukan strategi yang fokus dan komitmen penuh. Tiga hal tersebut mutlak dilakukan oleh bisnis makanan yang dikelola, baik secara mandiri atau dengan menganut sistem franchise.

Salah satu pemain yang melihat celah bisnis makanan siap saji adalah Benno Pranata. Lulusan Master Northeastern University ini, tak memerlukan teori bisnis yang rumit untuk melihat terbukanya peluang di bisnis makanan tersebut. “Yang penting dari bisnis adalah memulainya. Karena dengan memulai bisnis sekecil apa pun, akan diketahui peluang lainnya,” ucapnya.

Prinsip sederhana. Alhasil brand Hotdog Booth miliknya berkibar hingga sekarang. Menurutnya, alasan memilih bisnis makanan siap saji dilandasi pemikiran, bahwa jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya bertambah, dan bukan berkurang. Menganut pertimbangan setiap orang butuh makan untuk bertahan hidup, maka selama itu pula bisnis makanan tetap bisa mendatangkan keuntungan, apa pun kondisinya,” imbuhnya yang juga terjun ke bisnis Pesan Delivery ini.

Awalnya, saat menjalankan bisnis delivery service, ada beberapa data base yang memantau permintaan pelanggan terhadap produk. “Banyak pelanggan yang mencari makanan hotdog, dan saya kesulitan untuk mencarinya karena belum banyak yang menjualnya. Akhirnya saya putuskan untuk terjn ke bisnis ini, terlebih dahulu dengan melakukan survey sampai ke konsep bisnisnya,” jelasnya yang mengeluarkan modal awal sekitar Rp 160 juta.

Informasi tambahan Hotdog Booth adalah merek dagang yang telah dipatenkan di bawah hak pengelola PT Mutu Karya Perkasa sebagai franchisor yang menjual produk makanan fast food Hotdog. Sejak beroperasi tanggal 5 Januari 2004 lalu, Hotdog Booth telah menjadi salah satu produk brand favorit masyarakat di Jakarta dan mulai membuka cabang di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

“Dalam pengembangan bisnisnya, Hotdog Booth ditawarkan dalam bentuk franchise yang dapat menjadi salah satu alternatif usaha dan investasi. Franchise yang saya kembangkan berupa booth dan cafe. Pertimbangannya, pengelolaan booth lebih simpel, dan tidak membutuhkan lahan yang luas, serta bisa menggunakan SDM yang minimal,” kata pria kelahiran 5 Mei 1974 ini.

 Memiliki cafe Hotdog Booth di dalam SPBU Simatupang dan Petronas Lenteng Agung, Benno yakin dengan keunggulan hotdog-nya. Ia mengklaim produk burger Hotdog Booth memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh kompetitornya. Selain menyajikan menu utama hotdog, varian menu lainnya pun disediakan seperti sushi dog.

            Ke depannya, Benno berharap bisnisnya dapat berkembang baik di tahun mendatang maupun tahun-tahun berikutnya. “Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat Asean. Mutu franchise lokal tidak kalah dibandingkan franchise yang berasal dari negara tetangga,” ungkapnya optimis menyambut tahun 2008 nanti.

no image

Posted by On 02.29

Banyak bisnis selebritis yang kandas di tengah jalan, namun banyak juga yang eksis hingga sekarang. Hanya perlu sedikit kemampuan meramu kelebihan mereka agar bisa menjadi pengusaha yang kaya. Sukatna

Masyarakat luas sempat terperangah ketika media massa mengungkapkan kehidupan beberapa selebritis  (artis, atlet, atau tokoh ternama lainnya) menjalani massa tuanya di sebuah rumah kontrakan dan hidup serba kekurangan. Ada yang mencoba mencukupi kehidupannya dengan menjadi pengojek, ada yang menjadi “satpam.”
Semua profesi adalah mulia, namun kenyataan itu sangat kontras dengan kehidupan dari tokoh-tokoh ternama tersebut pada masa jayanya. Pada zaman kejayaan mereka, penghasilan mereka dalam hitungan jam sudah sama dengan penghasilan mereka sebulan bahkan atau lebih ketika mereka menjadi pengojek atau “satpam.”

Perjalanan orang lain barangkali bisa menjadi cermin, pengalaman bisa menjadi guru. Ghalib kalau pada tahun-tahun berikutnya setelah “kisah sedih” tersebut diangkat ke permukaan, banyak para selebritis yang mulai memikirkan masa depannya setelah mereka “pensiun.” Banyak artis yang berlomba-lomba terjun menggeluti bisnis. Lantaran begitu banyaknya yang terjun ke arena bisnis, tampak luarnya jadi terkesan latah.
Tak pelak lagi, karena sebagian bisnis para selebritis bersifat latah maka bisnis mereka pun hanya berumur semusim. Bermacam-macam sebabnya; ada yang keliru memilih jenis bisnis, ada yang salah kelola, dan karena fokusnya yang terbelah.
Namun sebagian di antara bisnis selebritis itu eksis dan masih berkibar hingga saat ini. “Dalam berbisnis saya tidak latah. Keseriusan saya terlihat dengan merambah bisnis lain, yakni selain menjadi anggota saya juga ikut berbisnis yang sifatnya Multi Level marketing (MLM),” aku Ebet Kadarusman yang sering disapa sebagai Kang Ebet ini.

Menurut pria yang sering mengucapkan “Its nice to be important, but more important to be nice” saat memandu acara ini, melalui bisnis ia ingin memberikan pemahaman—terutama kepada artis muda—agar bisa memanfaatkan penghasilannya sedini mungkin. Sehingga kelak bisa menikmati penghasilan dan investasinya.
Nasehat itu jelas kentara arifnya. Dunia selebritis, terutama para artis, dunia yang penuh persaingan. Selain membutuhkan talenta dan fokus yang tinggi, faktor penampilan fisik sering tidak bisa diabaikan. Padahal sudah menjadi kodrat, penampilan fisik akan semakin menurun ketika faktor usia terus merambat. Dengan demikian keberadaan seorang artis akan sangat mudah tergantikan dibandingkan dengan profesi yang lain. Salah kelola dana di masa jaya bisa berakhir di “gubug derita” pada massa tua. Istilah Kang Ebet, habis manis sepah dibuang, sedang jayanya diagung-agungkan tetapi lambat laun akan lengser sendirinya.

Namun posisi sebagai orang ternama, seperti para selebritis, dalam bisnis sejatinya membawa berkah sendiri. Faktor kepercayaan (trust)—biasanya terkait dengan merek atau nama---sudah digenggamnya. Langkah berikutnya tinggal bagaimana mengelola faktor keternamaan tersebut menjadi sinergis dengan bisnisnya. Pada produk-produk tertentu, misalnya dalam dunia fesyen, seringkali sang artis bisa menjadi pemilik usaha sekaligus modelnya. Maka tak jarang, baju, sepatu, tas atau atribut fesyen lainnya yang semula diniatkan sang artis untuk dibuat dan dipakai sendiri, ternyata dilirik orang lain. Itu sebabnya, banyak artis, terutama kaum Hawa, yang mendirikan butik pakaian atau fesyen karena dirinya sendiri bisa berperan sebagai model bagi produknya. Contohnya Cut Tiffany, bintang iklan yang membangun bisnis butik,  dan belakangan bersama suaminya Andy Surya merambah ke bisnis kargo.

no image

Posted by On 02.36

Siapa yang menjamin jika karir akan terus abadi? Jadi jangan heran bila sekarang di jagad selebritis dunia atau di Indonesia berlomba-lomba mengembangkan bisnis pribadi selagi sempat dengan kekayaan yang diperolehnya. Banyak di antara mereka yang mengembangkan dunia baru yang tak jauh dari profesinya sekarang atau malah berseberangan sama sekali. Mengapa mereka menjadi seorang selepreneur atawa selebritis entrepreneur?   Jawaban seragam akan dilontarkan bahwa mereka mengamankan kekayaan untuk bekal kelak di hari tua. Hasil yang diperolehnya sekarang diinvestasikan lewat bisnis strategis agar  berbiak untuk jaminan masa depan.

Selepreneur tidak terbatas pada kalangan artis saja. Selepreneur bisa dari berbagai kalangan seperti : atlet, artis musik, artsi film atau sinetron, politisi, profesional, militer dan sipil.  Selebritis adalah kalangan terkenal atawa prominence figure.

Di dunia kita kenal dengan nama selebritis dunia yang terjun sebagai selepreneur.  Penyanyi seksi Jennifer Lopez, Justin Timberlake serta  Beyonce Knowless telah membangun kerajaan fesyen yang kini telah mendunia. Produk-produk pakaian banyak diburu oleh kalangan selebritis, tidak hanya artis film tapi juga kalangan lainnya. Pegolf kondang  Jack Nicklaus, Greg Norman telah mengembangkan bisnis peralatan golf dengan brand namanya sendiri.  Pembalap F1, Giancarlo Fisichela dan  Jarno Trulli telah membangun bisnis sekolah balap dan agrobisnis anggur.

Di Tanah Air, kita mengenal beberapa selepreneur. Sebut saja misalnya mantan pebulu tangkis Liem Swie King, Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma, Cun Cun, binaragawan Ade Ray, dan mantan pesepakbola nasional Aji Santoso. Mereka telah  mengembangkan bisnis alat-alat olah raga, mulai dari sepatu, raket, panti kebugaran hingga sepatu.  Lalu di kalangan artis muncul nama-nama seperti pesulap Adrie Manan dengan sekolah sulapnya,  artis dan presenter Olga Lydia (bisnis biliar), Virnie Ismail (Spa), Venna Melinda (Sekolah Salsa & pusat kebugaran), Tora Sudiro (pijat refleksi), Sultan Djorghie (aksesoris otomotif), Ebet Kadarusman (kaca film anti bom), mantan artis cilik Ira Maya Sofa (event organizer), vokalis Ian Kasela (salon), Solihin GP (agribisnis), AP Batubara (pelumas otomotif) dan beberapa lagi lainnya.

Selepreneur adalah suatu pilihan hidup, seperti halnya kita memilih profesi dokter, konsultan, lawyer atau profesi lainnya. Selepreneur adalah sosok yang membangun bisnis, mulai dari nol atau membeli bisnis yang sudah ada, seperti misalnya franchise. Selepreneur memiliki beberapa modal yang bisa dimanfaatkan untuk mendulang keberhasilan.

Pertama, popularitas dan personal branding yang tinggi. Kedua, modal dan yang ketiga adalah networking. Beberapa di antara mereka sadar hal ini. Potensi itu dimanfaatkan dalam mengembangkan bisnis. Hasilnya? Perlahan-lahan bisnis mereka pun bergerak naik.

Selebritis tetaplah selebritis. Mereka adalah orang yang beruntung karena popular berkat media massa. Jaringan atau networking yang luas sangat membantu dalam membangun bisnis. JLO, misalnya, sebelum produk tersebut sukses dipasar, terpaksa memanfaatkan koleganya untuk pemasaran produk pakaiannya. Dari sinilah, kemudian bisnis itu terangkat. Kini produk fesyen JLO banyak diburu kalangan selebritis tidak hanya terbatas artis film, tapi juga kalangan lainnya.  Hal sama juga dilakukan oleh Kang Ebet. Mantan presenter ini tengah memanfaat jaringannya untuk memasarkan N-Tek, produk kaca film asal Korea Selatan yang diklaim tahan bom.

Namun, ketiga hal itu tidaklah cukup. Kerja keras adalah kuncinya.  Kurang apa Jennifer Lopez? Siapaun tahu kalau dia cantik dan artis yang hebat.  Namun, dalam membangun bisnisnya dia juga pernah bangkrut, bangkit dan kerja keras. Kini produknya telah menjadi trendsetter dunia. Para selepreneur kita juga telah sukses meski terbatas pada tingkat local. Kita masih menunggu, apakah selepreneur disini bisa sukses mendunia? Atau tetap hanya sebagai pemain local saja. Rian S.

no image

Posted by On 01.41

Menjaga ikatan pribadi dan emosional dengan konsumen merupakan strategi Amadeus untuk tetap bertahan dan berkembang di tengah sengitnya persaingan. Wiyono

Terdapat sebuah hadits nabi yang bermakna, barang siapa ingin lapang rejekinya dan panjang umurnya hendaklah menyambung tali silaturahmi. Menariknya, terdapat sebuah bisnis studio foto khusus bayi dan anak bertahan kurang-lebih dengan konsep hampir sama. Untuk berfoto di tempat ini biasanya tidak bisa dilakukan instan. Artinya, sebelum datang mesti ada janji terlebih dahulu. Sebab apabila tidak, apalagi memiliki waktu terbatas sudah pasti tidak dilayani.

“Sebab bagaimana saya bisa ngobrol kalau sedikit-sedikit lihat jam,” ucap Nathal Ajie, pemiliknya. “Selama lima tahun yang dijalankan Amadeus seperti itu. Sebab saya punya keyakinan bisnis ini akan langgeng kalau dengan costumer terjalin ikatan secara pribadi atau emosional. Kalau hubungannya pertemanan maka ibaratnya memiliki tabungan. Bukan seperti di mall, sekali transaksi selesai sudah habis,” tuturnya melanjutkan.

Bisnis studio foto, khususnya studio foto bayi dan anak-anak sejak sekitar lima tahun lalu sempat booming. Salah satu pionirnya, Amadeus yang terletak di bilangan Tebet Dalam, Jakarta Selatan masih tetap eksis hingga saat ini. Foto studio anak asal dikemas dengan bisnis beneran bisa memiliki prospek bagus, kata Nathal. Namun ia tidak menampik fakta, beberapa studio foto lain yang mengikuti bisnis Amadeus ternyata malah tidak bisa bertahan lama.
“Kalau kita omong foto anak, bisnis studio anak pasti menarik. Masalahnya bagaimana caranya agar bertahan. Banyak yang berhenti karena sifatnya hanya sekadar bisnis musiman. Bisnis ini bukan kebutuhan primer. Bila foto-foto yang dibuat hanya untuk kebutuhan fun, bukannya sejarah, maka ketika mulai jenuh, lalu ada studio foto lain yang lebih bagus, otomatis konsumen akan berpindah,” tukas Nathal.

Maka mantan penabuh drum yang sempat pula mendirikan sekolah musik ini sedikit membuka kartu bahwa sejak didirikan 2003 Amadeus mempunyai konsep menjadikan foto yang bersifat kebutuhan alias bisa dianggap sebagai pencatat sejarah. “Saya tidak mau bikin foto instan yang kelihatan bagus, tetapi sekali dua kali lihat orang langsung bosan,” tandasnya.
Kurang lebih setahun setelah buka, foto studio yang memiliki target pasar khusus ini sudah menarik perhatian masyarakat, baik dari kalangan orang biasa, artis, bahkan pejabat. Foto-foto bayi dan anak-anak dengan kostum lucu-lucu seperti buah, telur besar, dan macam-macam mulai dikenal dan digemari. Seiring waktu pula, para produsen produk anak dan bayi, termasuk rumah-rumah sakit juga mulai melirik untuk kerja sama atau order pembuatan iklan. Demikian pula dalam lomba foto anak tingkat nasional, Nathal Ajie selalu ambil bagian dalam penjurian serta aksesoris.

Sesuai sifat pasar, begitu mencium peluang akhirnya banyak pula foto studio lain mulai ikut-ikutan. Dan bisa ditebak bisnis ini boleh dibilang menjamur di mana-mana hingga ke mall-mall, malah dijual dengan paket murah. “Lama-lama kok jadi kampungan,” pikir Nathal waktu itu.
Di samping itu, sesuatu hal terasa mengganjal bagi bapak tiga putra ini yaitu munculnya fenomena eksploitasi terhadap anak yang terkait dengan fotografi sudah sedemikian berkembang. Aneka perlombaan fotografi anak dengan iming-iming hadiah serta popularitas sebagai bintang iklan cilik menyebabkan munculnya komunitas pemburu hadiah. Ia mensinyalir terdapat sejumlah balita yang sampai diikutkan lebih dari sepuluh agensi. Hal yang sangat  ia sayangkan, demi memenuhi ambisi orang dewasa sehingga setiap hari anak dijejali jadwal casting foto, dengan diberi kostum macam-macam, tanpa memperhatikan tumbuh kembang anak secara lebih sehat.

Akhirnya setelah dua tahun menjalankan bisnis PT Amadeus Pilar Harmony studio foto bayi dan anak, bersama istrinya, Fanda, Nathal terfikir untuk tidak semata-mata mengikuti arus pasar yang dirasa kurang sehat. Apa yang mereka bangun seolah-olah akhirnya ditentang sendiri.

Nathal Ajie berprinsip seorang fotografer layaknya seniman lukis yang melukis dengan memanfaatkan cahaya. Ia tidak mungkin melakukan pekerjaan yang dianggap karya seni secara asal jadi. Sekadar informasi, tarif studio foto kelas menengah ke atas seperti Amadeus tidak bisa dianggap murah seperti studio foto kebanyakan. Harga cetak bisa mencapai antara puluhan ribu hingga jutaan rupiah.
Sehingga orang hanya mau foto anak setelah merasa puas melihat hasilnya yang bagus. Seterusnya, seiring pertumbuhan anak semakin membesar, konsumen tidak kapok datang secara rutin. Berjalan selama lima tahun, diakuinya, sebanyak 60% yang datang adalah konsumen lama. Demikianlah, meskipun tetap menjalankan bisnis menurut perhitungan komersiil tetapi pria berkacamata tebal ini tetap melakukan berdasarkan konsep serta karakter yang ia miliki sendiri, dan bukan karya pesanan.

“Saya juga masih fanatik dengan film hitam putih, saya garap dengan gaya dan pendalaman karakter saya,” ungkapnya. Pendiriannya tentang bisnis dan seni harus berjalan beriringan menyebabkan ia tidak takut dianggap menentang aturan fotografi yang dipahami masyarakat umum.  Seperti misalnya, tidak jarang obyek foto yang diambil dibuat kecil, kurang dari 2/3 bidang foto atau distorsi pada hasil foto ia biarkan begitu saja karena dianggap lebih natural.
Sementara itu, terhadap konsumen yang datang Nathal juga tidak menganggap mereka itu sebagai orang lain yang minta dilayani semata-mata. Sebaliknya mereka diperlakukan selayaknya tamu yang datang ke rumahnya. Setiap kali sebelum sesi pemotretan ia akan banyak berbicara bersama kostumer demi menggali informasi mengenai obyek yang akan difoto tersebut. Sebab menurutnya konsumen boleh membawa konsep dan menyampaikan apa keinginannya, tetapi pada akhirnya foto yang akan diambil tetap yang menggambarkan anak ini seperti ia lihat apa adanya.

no image

Posted by On 03.11

Untuk menjadi pebisnis rumah tangga yang sukses kita bisa memanfaatkan rute yang pernah dijalani oleh para pebisnis sebelumnya.  Sukatna

Mulailah Berbisnis Ketika Karir Anda Mentok
Bagi Anda wanita karir, Anda sendirilah yang bisa menilai pada titik mana karir Anda mentok. Biasanya, karir terkait erat dengan kualifikasi pendidikan dan kompetensi. Kalau Anda merasa jabatan yang Anda pegang sekarang adalah jenjang tertinggi sudah saatnya Anda mempertimbangkan untuk memulai bisnis di rumah. Sebelum Anda memutuskan untuk meninggalkan karir Anda, manfaatkanlah untuk membina jaringan. Siapa tahu jaringan ini akan sangat bermanfaat ketika Anda memulai bisnis.

Kenalilah Potensi Diri Anda dan Optimalkan
Andalah yang paling tahu potensi diri sendiri. Mulailah untuk mengoptimalkan potensi diri Anda yang dikaitkan dengan jenis bisnis yang akan digeluti. Misalnya Anda seorang sekretaris yang memiliki kemampuan menjahit tetapi selama ini terabaikan karena rutinitas pekerjaan kantor, sebaiknya Anda memulai lagi mengasah kemampuan menjahit dan mulai melihat-lihat tren mode. Ini akan menjadi data base   ketika Anda benar-benar terjun menjadi pebisnis rumah tangga yang memproduksi busana.

Mintalah Izin Kepada Suami
Mungkin ini kelihatannya sepele. Tetapi jangan diremehkan. Menjalankan bisnis tidak selalu berjalan mulus. Tanpa seizin atau ridho suami alih-alih bisa sukses berbisnis justru di kemudian hari—ketika kendala menghadang—bisa menjadi sumber pertengkaran. Dengan adanya izin suami besar kemungkinan suami akan ikut mencari solusinya ketika bisnis menumbuk masalah.

Manfaatkan Teknologi
Berbisnis dari rumah jelas memiliki keterbatasan dibandingkan kalau kita berbisnis dari kantor di pusat bisnis. Untuk menutupi kelemahan itu, Anda harus memaksimalkan teknologi, terutama teknologi komunikasi. Anda bisa menggunakan telepon untuk menghubungi teman-teman lama yang potensial menjadi pelanggan. Anda juga bisa memanfaatkan teknologi internet sehingga produk Anda bisa diakses dari mana pun, bahkan tak terhalang oleh batasan wilayah negara. 

Disiplin Keuangan
Salah satu kendala yang menggoda adalah masalah keuangan. Jangan pernah mencampuradukkan uang bisnis dengan uang belanja keluarga. Kalaupun terpaksa mengambil uang belanja untuk bisnis harus diperlakukan sebagai utang, demikian juga sebaliknya. Ini sebagai cara untuk memonitor apakah bisnis tersebut menguntungkan atau tidak. Sekalipun untung kalau hasil bisnis terlalu banyak dilarikan ke pos belanja keluarga, perkembangan bisnis akan seret karena untuk ekspansi usaha dibutuhkan modal yang lebih besar.

Banyaklah Beramal
Sepintas anjuran ini kelihatan tidak ada relevansinya dengan bisnis. Tetapi dari beberapa pengusaha sukses yang pernah kita jumpai adalah orang-orang yang suka beramal. Bahkan di Amerika Serikat CEO-CEO dari perusahaan berkinerja terbaik adalah pribadi-pribadi yang suka beramal .
 

no image

Posted by On 02.47

Meski posisinya sebagai Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Siliwangi, Asep Budiman tidak meninggalkan kepiawiannya sebagai pebisnis. Sukatna

Mencari ilmu sekaligus mencari biayanya merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan Asep Budiman. Sejak duduk di sekolah dasar lulusan pasca sarjana Ekonomi Perusahaan Pertanian Universitas Padjajaran ini sudah belajar berdagang. Bahkan ketika masuk ke jenjang perguruan tinggi ia sudah bisa membiayai sendiri kuliahnya.

Sekarang setelah memegang jabatan sebagai Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Siliwangi Tasikmalaya, tidak serta merta bisnis ditinggalkannya. Hanya saja dengan strategi yang berbeda. Sebelum tahun 2000, Asep lebih banyak menjalankan aktivitas bisnis dengan tenaganya sendiri. “Setelah selesai mengajar di kampus, saya sering mengangkuti barang-barang untuk dijual,” akunya.

Namun kini ia memiliki strategi berbeda. Menurutnya, ia lebih banyak menggunakan pikirannya dalam menjalankan bisnis. Dalam bisnis ban dan oli bekas, ia menggandeng mitra. Aktivitas bisnis tersebut pun dijalankan oleh orang lain. Ia hanya mencari dan memperluas jaringan, baik untuk pembelian oli dan bekas maupun untuk penjualannya.
Ban bekas ia beli dari Jakarta, kemudian divulkanisir dan dijual kembali.

Dalam menjalankan bisnis, selain menggandeng mitra, seringkali ia bekerjasama dengan saudara atau adiknya. Misalnya untuk bisnis counter HP dan jasa pencucian bis di sebuah pool di Jakarta. Dalam posisi ini Asep bertindak sebagai investor saja sedang adiknya yang menjalankan usaha. Pola pembagian hasil antara Asep dan adiknya 40:60.  “Secara fisik saya sudah tidak banyak terlibat. Sekarang ini saya lebih menekuni bisnis yang banyak menggunakan pikiran. Misalnya menjadi konsultan pendirian BPR atau membuat business plan,” tuturnya.

Sebetulnya, kata Asep, antara pendidikan tinggi atau profesi akademisi dengan bisnis tidak kontradiktif. Pendidikan tinggi, menurutnya, justru bisa mendongkrak kemajuan bisnis. “Secara pribadi saya merasakan pendidikan tinggi sangat berguna untuk mendongkrak kemampaun berkomunikasi, memperluas jaringan dan kepercayaan diri, suatu hal yang penting dalam menjalankan bisnis,” katanya memberi alasan.

Cuma, imbuh Asep, pebisnis yang memiliki pendidikan tinggi dan menekuni sebuah profesi, biasanya fokusnya terbagi. Sehingga tingkat kemajuan usahanya tidak sepesat dengan orang-orang yang fokus pada bisnisnya semata. “Hanya persoalan fokus saja. Menurut saya pendidikan tinggi tidak menghalangi seseorang untuk sukses berbisnis,” tandasnya seraya menyebut banyak rekan-rekan seprofesinya yang juga sukses berbisnis, bahkan jauh lebih sukses dari dirinya.