www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

no image

Posted by On 01.05

Kabar baik bagi para pebisnis usaha kecil dan menengah (UKM). Dalam waktu dekat, jika tidak ada aral melintang, Pemerintah bakal mendiriakan bank khusus yang menangani UKM. Instansi perbankan ini berasl dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) yang ditingkatkan menjadi bank yang khusus menangani usaha mikro kecil dan menengah. “LPDB akan berfungsi sebagai bank namun berbeda peraturannya dengan bank yang sudah ada,” kata Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Suryadharma Ali, dalam sebuah seminar.  Selama ini, tambah Mennegkop, model pembiayaan bank yang ada sekarang, sangat menyulitkan pebisnis UKM, khususnya dalam mengajukan modal karena menyangkut persyaratan yang rinci dan akurat. Banyak UKM tak sanggup memenuhi permintaan tersebut. Sumber dana LDPB nantinya berasal dari dana bergulir yang disalurkan oleh Kemenkop dan UKM. Namun, tidak menutup kemungkinan dana itu berasal dari instansi lain. Sejak 2000 lalu, pemerintah telah menyalurkan dana bergulir ini sebanyak Rp2,5 triliun.

no image

Posted by On 03.15

Bisnis yang diniatkan sebagai sumber penghasilan tambahan setelah sang suami pensiun, UD Sumber Rejeki yang didirikan oleh Mami Suyatmi terus berekspansi. Sukatna

Sebuah botol gelap berisi cairan hitam dililit label kertas dengan dominasi warnah merah. Di pojok label terpampang foto wanita sepuh (tua) dengan tatapan mata tajam tetapi sekaligus teduh. Itulah tatapan mata Mami Suyatmi, wanita yang kini usianya sudah menginjak 70 tahun. Tatapan mata tajam itu menunjukkan bahwa semangat Mami Suyatmi tetap menyala meski di usia senja. Sedangkan tatapan teduh menunjukkan sifat mengayomi.
Filosofi itulah yang diterjemahkan Mami Suyatmi ke dalam produk kecapnya, Kecap Cap Ibu. “Saya ingin mendapatkan hasil tambahan, tetapi tetap memperhatikan sisi kesehatan. Maka lahirlah Kecap Cap Ibu,” kata Mami Suyatmi yang menjamin produk kecapnya diolah dari bahan-bahan alami tanpa bahan pengawet kimia.

Bisnis UD Sumber Rejeki dimulai Mami setelah sang suami Soetomo Tjipto Soedarmo pensiun dari Dinas Kesehatan. Pada waktu itu Mami masih bingung menentukan jenis bisnis yang akan digelutinya, meski ia memiliki puluhan ketrampilan mengolah makanan yang didapatkan ketika masih remaja. Akhirnya, pilihannya jatuh untuk membuat kecap. Selain, karena hampir semua keluarga membutuhkannya selama ini masih jarang kecap yang diolah tanpa melibatkan bahan kimia. “Bagi saya konsumen itu adalah anak-anak saya. Maka penting bagi saya memperhatikan aspek kesehatan sebagaimana saya memperhatikan kesehatan anak-anak saya sendiri,” kata Mami yang memproduksi kecap di rumahnya,  Permata Duta Blok E4/6 Sukmajaya, Depok.

Lantaran Kecap Cap Ibu diolah dari bahan-bahan alami maka harganya relatif premium dibandingkan dengan yang ada di pasaran. Keberadaannya pun jarang ditemukan di pasaran, lantaran kecap ini didistribusikan di kalangan orang-orang yang sudah kenal dan memiliki komitmen terhadap makanan yang sehat. “Formulanya pernah mau dibeli sebuah perusahaan dengan harga Rp 1 miliar. Tetapi saya tidak tertarik,” ungkap Mami.
Seturut waktu, payung bisnis Kecap Cap Ibu UD Sumber Rejeki melakukan diversifikasi usaha. Namun karena usianya merambat tua, tongkat kepemimpinannya beralih ke sang menantu Vipie. UD Sumber Rejeki kini sudah memproduksi dan memasarkan kecap, VCO, minyak goreng anti-tengik, aneka sabun herbal dan arang batok kelapa. Tiap tahun, UD Sumber Rejeki selalu melakukan inovasi produk. Untuk itulah Vipie bekerjasama dengan sang suami, Wisnu Gardjito, orang nomor satu di Improvement Institute sebagai konsultannya.
Dan uniknya, mereka yang pernah menolak menjual formula produknya seharga Rp 1 miliar ini dengan sukarela menularkan ilmunya kepada sejumlah keluarga yang tergabung ke dalam suatu cluster di seluruh Indonesia. “Kami memiliki saham 20 persen di setiap usaha yang kami bentuk. Prinsipnya kami bisa membuka peluang kerja bagi banyak orang. Dan saya anti-kapitalis,” ujar Wisnu, lulusan sebuah universitas di Amerika Serikat dan Jepang ini.

“Itu sebabnya kami menghitung segala sesuatunya berdasarkan equity, bukan uang,” tandas Wisnu yang tinggal menyelesaikan desertasi S3-nya di IPB untuk meraih titel doktor dengan predikat magna cum laude ini.

no image

Posted by On 03.11

Untuk menjadi pebisnis rumah tangga yang sukses kita bisa memanfaatkan rute yang pernah dijalani oleh para pebisnis sebelumnya.  Sukatna

Mulailah Berbisnis Ketika Karir Anda Mentok
Bagi Anda wanita karir, Anda sendirilah yang bisa menilai pada titik mana karir Anda mentok. Biasanya, karir terkait erat dengan kualifikasi pendidikan dan kompetensi. Kalau Anda merasa jabatan yang Anda pegang sekarang adalah jenjang tertinggi sudah saatnya Anda mempertimbangkan untuk memulai bisnis di rumah. Sebelum Anda memutuskan untuk meninggalkan karir Anda, manfaatkanlah untuk membina jaringan. Siapa tahu jaringan ini akan sangat bermanfaat ketika Anda memulai bisnis.

Kenalilah Potensi Diri Anda dan Optimalkan
Andalah yang paling tahu potensi diri sendiri. Mulailah untuk mengoptimalkan potensi diri Anda yang dikaitkan dengan jenis bisnis yang akan digeluti. Misalnya Anda seorang sekretaris yang memiliki kemampuan menjahit tetapi selama ini terabaikan karena rutinitas pekerjaan kantor, sebaiknya Anda memulai lagi mengasah kemampuan menjahit dan mulai melihat-lihat tren mode. Ini akan menjadi data base   ketika Anda benar-benar terjun menjadi pebisnis rumah tangga yang memproduksi busana.

Mintalah Izin Kepada Suami
Mungkin ini kelihatannya sepele. Tetapi jangan diremehkan. Menjalankan bisnis tidak selalu berjalan mulus. Tanpa seizin atau ridho suami alih-alih bisa sukses berbisnis justru di kemudian hari—ketika kendala menghadang—bisa menjadi sumber pertengkaran. Dengan adanya izin suami besar kemungkinan suami akan ikut mencari solusinya ketika bisnis menumbuk masalah.

Manfaatkan Teknologi
Berbisnis dari rumah jelas memiliki keterbatasan dibandingkan kalau kita berbisnis dari kantor di pusat bisnis. Untuk menutupi kelemahan itu, Anda harus memaksimalkan teknologi, terutama teknologi komunikasi. Anda bisa menggunakan telepon untuk menghubungi teman-teman lama yang potensial menjadi pelanggan. Anda juga bisa memanfaatkan teknologi internet sehingga produk Anda bisa diakses dari mana pun, bahkan tak terhalang oleh batasan wilayah negara. 

Disiplin Keuangan
Salah satu kendala yang menggoda adalah masalah keuangan. Jangan pernah mencampuradukkan uang bisnis dengan uang belanja keluarga. Kalaupun terpaksa mengambil uang belanja untuk bisnis harus diperlakukan sebagai utang, demikian juga sebaliknya. Ini sebagai cara untuk memonitor apakah bisnis tersebut menguntungkan atau tidak. Sekalipun untung kalau hasil bisnis terlalu banyak dilarikan ke pos belanja keluarga, perkembangan bisnis akan seret karena untuk ekspansi usaha dibutuhkan modal yang lebih besar.

Banyaklah Beramal
Sepintas anjuran ini kelihatan tidak ada relevansinya dengan bisnis. Tetapi dari beberapa pengusaha sukses yang pernah kita jumpai adalah orang-orang yang suka beramal. Bahkan di Amerika Serikat CEO-CEO dari perusahaan berkinerja terbaik adalah pribadi-pribadi yang suka beramal .
 

no image

Posted by On 03.18

HM Bhakty Kasry sepenuhnya menyadari rejeki yang ia peroleh adalah titipan Allah, maka tak terbersit sedikit pun untuk berlaku kikir.

Pandu Siwi Sentosa (PSS) bukanlah perusahaan yang lahir dengan tumpukan modal. Modalnya adalah patungan kecil-kecilan antara Bhakty dengan beberapa koleganya. Namun setelah dua tahun berjalan (1994), perusahaan ngos-ngosan, seperti kerapu di atas batu. Untuk menyambung nafas perusahaan, Bhakty terpaksa menjual mas kawin milik istrinya. Mobil istrinya pun tak luput ia lego. Rumah dan tanahnya ia relakan sebagai jaminan bank untuk menambah modal. Bhakty benar-benar dalam kondisi titik nadir. Namun setelah melakukan pembenahan PSS dengan pasti terus menggeliat. Kini PSS telah berkembang menjadi beberapa perusahaan dan menjadi salah satu perusahaan jasa kurir terkemuka di tanah air. 

Di sinilah sikap religius Bhakty teruji. Meski pada tahun-tahun awal perusahaan seperti orang limbung, namun sejak tahun kedua perusahaan berdiri Bhakty telah menetapkan pemberangkatan haji karyawan sebagai salah satu programnya. 
Langkah-langkahnya ini berakar dari keyakinannya bahwa rejeki semata-mata berasal dan milik Allah. Oleh karena itu semakin dekat seseorang dengan Allah maka akan semakin mudah untuk menggapai rejeki tersebut. “Semua yang kami miliki ini hanya titipan Allah, kenapa kami harus merasa keberatan kalau kami membelanjakannya di jalan Allah. Saya bersyukur Allah meminjam tangan saya untuk membagi-bagikan rejeki-Nya,” ujar mantan back adik tingkat Iswadi Idris di Indonesia Muda ini.

Pengusaha yang memiliki inner circle para ulama ini menjadikan usahanya sebagai sarana untuk kemaslahatan umat. Dalam membelanjakan harta di jalan Allah, Bhakty sudah tidak berhitung-hitung lagi dengan persentase. Oleh karena ia tidak pernah berhitung maka harta yang ia sumbangkan untuk kemaslahatan umat pun juga sudah tak terhitung. Minggu, 25 Maret 2007, ia bersama sejumlah ulama dan petinggi pemerintahan NTB, meresmikan Mesjid Al Kautsar Mataram yang nilainya miliaran rupiah. Mesjid ini dibangun oleh PSS. Di samping menjadi donatur di sejumlah mesjid, Bhakty juga memiliki program yang unik yakni menggaji orang-orang yang berhak mendapatkan sedekah. “Jadi setiap bulan akan menerima uang seperti karyawan yang gajian,” kata Bhakty.

Nilai kedermawanan ini bukan hanya hak otoritatifnya. Ia berharap semua karyawan PSS juga mempunyai sikap welas asih. Itu sebabnya di semua armada PSS disediakan uang ribuan, sehingga para pengemudi bisa mendermakannya kepada orang-orang yang kurang beruntung, yang biasanya bergerombol di perempatan jalan raya. “Minta uangnya ke perusahaan. Anda harus segera memberikan kepada mereka, tanpa menunggu mereka meminta,” kata Bhakty kepada para karyawannya.
Selain menanamkan nilai-nilai kedermawanan, Bhakty juga menanamkan nilai-nilai Islami kepada para karyawannya. Untuk membiasakan karyawannya Shalat Subhuh berjamaah Bhakty tak segan-segan memberikan uang transportasi dan uang sarapan bagi seluruh karyawannya yang ikut Subhuh berjamaah. Kepada karyawannya yang bersedia berhenti merokok pun Bhakty menghadiahi uang cash masing-masing Rp 1 juta. “Di kantor kami menerapkan zona bebas merokok dan zona berjilbab bagi karyawati,” tuturnya.
Uang yang dikeluarkan Bhakty baik untuk karyawan maupun pihak-pihak lain memang sudah tak terhitung, tetapi tidak dengan sendirinya dana perusahaan terkuras. “Orang tidak akan miskin karena berderma. Justru semakin banyak berderma semakin banyak berkah yang kita dapatkan,” ungkap pengusaha religius ini. (Sukatna)