www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

no image

Posted by On 03.09

Apakah Anda tahu nilai lebih sebuah rumah? Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah juga memiliki kelebihan yang bila Anda jeli bisa menghasilkan uang. Yang kami maksud bukan Anda jual atau kemudian membuat tempat usaha kos-kosan, namun rumah yang bisa dimanfaatkan untuk tempat usaha, tanpa mengurangi kenyamanan penghuninya. Anda bisa menyulap rumah sebagai tempat kursus, tempat wisata, showroom, resto atau tempat lainnya. Dalam dunia properti Anda tentu sudah faham dengan konsep ruko (rumah toko) atau rukan (rumah kantor). Yang akan kami utarakan lebih dari itu. Rumah yang mempunyai nilai ekonomis tinggi tapi tidak seperti konsep ruko ataupun rukan.  

Sejatinya, memanfaatkan rumah untuk aktivitas ekonomi bukanlah sesuatu yang baru. Di kampung-kampung atau pedesaan, sudah banyak masyarakat memanfaatkan rumah dengan fungsi ganda. Yakni sebagai tempat tinggal sekaligus tempat usaha. Mereka mendirikan warung makan, toko kelontong, showroom sekaligus workshop produk handycraft. 
Ada beberapa alasan mengapa mereka menyulap rumah untuk tempat usaha. Yang utama adalah efisiensi. Ya, memang, memulai sebuah usaha haruslah pintar berhemat. Apalagi bisnis yang ditekuni adalah bisnis usaha kecil dan menengah (UKM) yang sudah terstigma sebagai bisnis yang cekak modal dan  terbatasnya pasar.  Itulah, tidak heran jika mereka adalah memilih rumah untuk usaha.  Uud Mahmud, pemilik produk UM1, misalnya, memilih rumah di Kawasan Perumahan Harapan Baru, Bekasi, untuk tempat usaha, baik tempat produksi maupun kantor. Walaupun ‘sedikit’ agak mengganggu privasi penghuninya, tapi fulus yang diperoleh lebih dari lumayan.  Bujet yang dihemat untuk sewa kantor atau gudang  cukup lumayan untuk mendongkrak revenue. 

Cara yang sama juga dilakukan oleh resto Mak Uneh di Bandung. Resto yang menjual makanan tradisional khas kampung Sunda, mengawali bisnisnya dari sebuah rumah sederhana di tengah kampung.  Hampir seluruh ruangan di rumah dimanfaatkan untuk usaha. Dapur, ruang tengah, ruang tamu yang disulap menjadi tempat makan para tamu. Meski di kota, untuk menuju lokasi warung makan ini harus melewati sebuah gang sempit.  Mobil tidak dapat masuk. Untuk berpapasan saja susah. Namun jangan kira, pengunjung seolah-olah tak ada putusnya. Pada akhir pekan, banyak penduduk dari Jakarta yang sengaja mampir untuk sekadar menikmati kelezatan masakannya. Anda pun kaget bila tahu omset yang diperoleh per harinya. Bisa mencapai puluhan juta rupiah!  Mak Uneh kini sudah memiliki cabang. Namun, kekhasan resto yang telah membesarkan namanya tetap dipelihara. Malah, menurut kami, keunikan resto di tengah kampung inilah yang menjadi daya tarik mengapa orang berbondong-bondong untuk mencicipi masakan khas Sunda nya yang lezat itu.   

Anda juga masih ingat tentang kawasan yang dinamakan “All About Strawberry”. Nama kawasan yang terinspirasi  judul sinetron Korea, All About If  yang dibintangi oleh Jang Dong Gun ini terletak di Kawasan Bandung Utara. Kawasan yang berupa rumah peristirahatan raja factory outlet, Perry Tristianto Tedja ini telah disulap sebagai kawasan wisata kebun strawberry, lengkap dengan permainan outbound, khususnya anak-anak.  Setiap akhir pekan, pengunjung hampir membludak memenuhi halaman tempat permainan luas tersebut.  All About Strawberry telah menjadi ikon wisata kebun di Bandung. Penghasilan per minggunya juga tak kalah menakjubkan. Mungkin, puluhan juta rupiah berhasil diraup oleh pengelolanya. Padahal, kebun strawberry yang ditawarkan tak seberapa luas. Fasilitas outbond nya, juga tidak terlalu istimewa sekali.  

Piet Maryan Alicia juga menyulap rumahnya sebagai tempat usaha dan wisata. Tas Tajur, demikian produknya dikenal oleh kebanyakan kaum ibu-ibu, kini tidak hanya melulu berjualan tas. Rumah keluarga yang luas, telah diubah menjadi sebuah kawasan wisata Sumber Karya Indah (SKI). Fasilitasnya mulai dari outbound anak-anak, kolam ikan, taman, food court, gedung pertemuan—masih  dalam tahap pembangunan, arena offroad, kebun binatang mini. Di sini pengunjung, selain bisa membeli tas, pakaian, makanan, juga bisa berwisata menikmati fasilitas turun tebing, berkendara mobil offroad dan sebagainya. Ratusan hingga ribuan pengunjung setiap Sabtu dan Minggu seolah-olah berkumpul di SKI. Bisa Anda tebak, berapa penghasilan yang diraih dari SKI untuk tempat wisatanya. Ditambah dengan penjualan tas yang  laris bak kacang goreng, mungkin puluhan atau ratusan juta rupiah yang berhasil di raih.

Dalam skala kecil, Khoirussalim Ikhs, pemilik Country Donuts juga melakukan seperti Perry maupun Maryan. Rumahnya disulap sebagai tempat wisata dan kursus membuat kue brownies maupun donuts.  Pengunjung atau anomi peserta baik anak-anak maupun keluarga juga membludak. Salim—panggilan akrabnya—mengaku agak kewalahan menerima permintaan dari peserta. Selain SDM yang terbatas, lahan yang dipunyai juga sempit.  Kendati begitu, toh dia mengaku memanfaatkan rumah untuk tempat wisata ini memberi kontribusi pendapatan sekitar 20% ke kas Country Donuts.

Maryan, Perry, Salim adalah sosok pengusaha yang dikenal jeli dalam memanfaatkan peluang usaha. Rumah atau tempat tinggal yang seharusnya sebagai tempat paling privasi pun bisa dimanfaatkan dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.  Anda pun bisa berbuat serupa. Tinggal bagaimana cara mengemas atau memanfaatkan potensi rumah Anda. Siapa tahu rumah Anda lebih bagus dan bisa menghasilkan fulus yang lebih besar tidak hanya sebagai tempat tinggal semata.
Rian S.

no image

Posted by On 01.19

Tak kurang dari 100 delegasi dari berbagai negara bakal mengikuti lokakarya tentang entrepreneurship perempuan di Bali yang berlangsung antara tanggal 29 dan 30 November mendatang. Para pseserta yang umumnya perempuan tersebut  beragam mulai dari pengusaha, akademisi, professional dan birokrat. Mereka berasal dari berbagai negara seperti : China, Bangladesh, Korea Selatan, India, Iran, Nepakl Sri Lanka, Filipina, kamboja, Laos dan Myanmar.  Lokakarya yang diprakarsai LIPI ini bertujuan untuk menggagas kerjasama dari pakar, praktisi, pengusaha dan birokrat untuk pengembangan pengusaha kecil khususnya perempuan.  Mengapa perempuan?  Pengusaha perempuan dengan populasi yang besar sangat menunjang dalam pengelolaan ekonomi keluarga. Untuk itulah diberdayakan menjadi pengusaha kecil dan menengah.

no image

Posted by On 01.40

Terjun ke dunia garmen memang tidak gampang. Banyak “cobaan” di dalamnya. Berbekal pengalaman inilah Ilham bisa menemukan celah di safetywear. Wiyono

Jeli terhadap peluang. Khususnya pemain yang baru mencoba suatu bisnis yang sudah lama eksis, kalimat tadi adalah salah satu pegangan kalau tidak ingin  berhenti di tengah jalan. Tidak disangkal, bisnis konveksi sudah ada semenjak manusia mulai kenal cara berpakaian. Dan pebisnis baru di bidang ini mesti pandai-pandai dalam memainkan jurusnya. Lebih-lebih kini di tengah persaingan global, gejolak ekonomi-politik setempat dan juga perubahan kurs mata uang acap ikut-ikutan menjadi faktor penentu jatuh-bangunnya sebuah usaha.

Pengalaman pahit pernah dialami Ilham Mansis saat ikut masuk di bisnis garmen sebelum akhirnya ia mencicipi manisnya hasil seperti yang diterima sekarang. Awalnya pengacara muda yang masih aktif ini mulai kenal dengan bisnis ini tahun 2000 lalu. Itu terjadi setelah salah seorang rekannya memperkenalkan seorang buyer dari Inggris yang sedang mencari produk-produk garmen di dalam negeri. Sampai akhirnya di antara mereka terjalin kerja sama, Ilham mencarikan stok barang-barang untuk diekspor.

Selama kurang-lebih dua tahun usaha tersebut cukup menggembirakan. Melalui bendera usahanya, Rasta Communication, pada waktu itu telah banyak pembeli lain berdatangan. Pria pecinta musik aliran kontemporer ini berlaku sebagai penyedia barang, yakni semua jenis produk konveksi over product dari pabrik, baik jaket, celana jeans, pakaian musim panas, dan sweater, mulai dari pakaian anak-anak sampai dewasa. Barang-barang sisa kelebihan produksi dari berbagai daerah tersebut seterusnya dilempar ke pasar luar negeri, di antaranya negara-negara di Eropa Barat, Eropa Timur, maupun Timur Tengah.

Masalah mulai timbul setelah berbenturan dengan kondisi politik dan ekonomi yang terjadi di dalam negeri.  Sejalan dengan sistem otonomi daerah, masing-masing wilayah berlomba menaikkan pendapatan asli daerah (PAD) dengan memunculkan bentuk-bentuk pungutan baru. Secara langsung hal itu berdampak kepada para pelaku stok barang seperti Ilham karena otomatis menggerus keuntungan. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan kenaikan harga BBM yang menyebabkan kenaikan biaya-biaya operasional, atau pun perubahan kurs mata uang asing, sebab transaksi dilakukan dalam mata uang dolar. Buyer yang datang menjadi berkurang karena harga jual kini menjadi lebih tinggi.
Dan ternyata bukan hanya itu saja, pernah pada suatu saat ia terlanjur menyanggupi permintaan pengiriman barang tetapi nyaris tidak terpenuhi. Ketika itu, ungkap Ilham, kontrak jual-beli berikut tenggat waktu pengadaan barang sudah disepakati. Celakanya pihak pabrik kemudian menyatakan barang tersebut tidak bisa keluar. Namun ada hikmahnya pula, karena untuk menepati perjanjian Ilham terpaksa mencari jalan keluar dengan cara memproduksi barang sendiri. “Saya bisa produksi sendiri karena dibohongi pabrik,” tukasnya seakan melampiaskan kekesalan. “Kebetulan pas ada pabrik nganggur, tidak ada order, akhirnya mau bekerja sama,” tuturnya.

Seolah merasa kepalang basah, bapak seorang putri yang kini berusia empat tahun itu berlanjut dengan menginvestasikan belasan mesin jahit dan merekrut karyawan sendiri. Sejak saat itulah ia mulai mencari pesanan dan berproduksi. Belum bisa dibilang banyak, barang yang diproduksi mulai dari tas, topi, seragam sekolah, kaos, dan lain-lain, khususnya sekadar mengerjakan pesanan lokal. Tetapi apa mau dikata, sebuah pil pahit kembali terpaksa harus ditelan. Saat itu ada sebuah pesanan dengan nilai nominal lumayan tidak dibayar, padahal barang sudah terlanjur digarap jadi.

Belajar dari berbagai pengalaman di atas, selanjutnya kelahiran Jakarta 1972 itu mulai menoleh celah pasar produk-produk safetywear. Ia sadar, hampir semua konveksi pasti larinya menggarap baju-baju uniform, kaos, dan sejenisnya. Maka di samping banyak persaingan, pemain senior biasanya sudah dipercaya oleh toko-toko pemasok bahan sehingga biaya produksi mereka lebih murah.
Jalan mulai terbuka ketika secara kebetulan salah seorang rekannya memperoleh order pembuatan safetywear dalam jumlah besar dan mengalihkan sebagian dari pesanan itu. Kini, sudah hampir setahun lulusan Fakultas Hukum Trisakti ini khusus menggarap produk pakaian perlindungan dan keselamatan, seperti rompi, wearpack baju-baju teknik, jaket pelampung, baju pelindung anti api, anti radiasi bahan kimia, dan sebagainya, dengan mengusung merek 909.

“Saya mulai memburu order dari internet,” ujar Ilham yang mengaku lebih memilih pemasaran berbasis online yang mampu menjangkau pasar lebih luas. Sejauh ini pemesan lokal mulai dari terentang dari Aceh, Batam, hingga Papua. Ada pula beberapa pembeli luar negeri, seperti misalnya dari Malaysia, Libya, dan beberapa negara lainnya. Sebanyak 90% pesanan adalah dari internet, permintaan repeat order tiap bulan dilakukan lewat email atau per telepon. Mereka umumnya pengusaha trading, permintaan langsung dari perusahaan dan ada pula dari instansi, seperti rumah sakit, perusahaan air minum.
“Produksi cukup lancar, teman yang semula membantu saya tetapi sekarang malah saya bantu,”  ucap Ilham mengungkapkan kegembiraannya. Mengutip pengakuan ara pembelinya, mereka acap kesulitan mencari perusahaan konveksi yang mau menerima pesanan produk pakaian perlindungan. “Di samping itu, yang saya suka, apabila garmen biasa, setiap bulan muncul model baru mengikuti perubahan mode, tergantung musim, trend dan sebagainya. Safetywear tidak, dari dulu sampai sekarang tetap seperti itu. Paling-paling dikombinasi dengan ventilator. Coverall umpamanya, tinggal dilihat tujuannya untuk apa, buat di lapangan atau indoor, tinggal disesuaikan model dan bahannya,” tukasnya mengimbuhkan.
Kini selain tetap akan memproduksi safetywear, ia pun melirik trading produk pendukung, helm, kaca mata, sepatu boot, sarung tangan kulit, masker, dan sebagainya, sebagai bisnis tambahan. Malah saat ini beberapa di antaran produk-produk itu sudah  mulai dia pasarkan.

Sementara untuk bisnis utamanya tersebut, sekarang ini ia membawahi 17 orang penjahit yang bekerja borongan. Kapasitas produksi, dikatakan, tergantung jenis desain produk dan tingkat kesulitannya. Sebagai gambaran, produk yang yang paling gampang dalam sehari masing-masing bisa membuat 100 potong, atau lebih. Tetapi model yang rumit bisa jadi per orang hanya mampu membuat 5 lembar. Besarnya omset juga bervariasi sesuai order, berkisar Rp 50 juta-Rp 700 juta. “Kebutuhan peralatan safety tidak selalu ada, namun yang rutin biasanya rompi,” akunya. Yang pasti sekarang rejekinya tetap mengalir berkat produk-produk safetywear.

no image

Posted by On 01.41

Menjaga ikatan pribadi dan emosional dengan konsumen merupakan strategi Amadeus untuk tetap bertahan dan berkembang di tengah sengitnya persaingan. Wiyono

Terdapat sebuah hadits nabi yang bermakna, barang siapa ingin lapang rejekinya dan panjang umurnya hendaklah menyambung tali silaturahmi. Menariknya, terdapat sebuah bisnis studio foto khusus bayi dan anak bertahan kurang-lebih dengan konsep hampir sama. Untuk berfoto di tempat ini biasanya tidak bisa dilakukan instan. Artinya, sebelum datang mesti ada janji terlebih dahulu. Sebab apabila tidak, apalagi memiliki waktu terbatas sudah pasti tidak dilayani.

“Sebab bagaimana saya bisa ngobrol kalau sedikit-sedikit lihat jam,” ucap Nathal Ajie, pemiliknya. “Selama lima tahun yang dijalankan Amadeus seperti itu. Sebab saya punya keyakinan bisnis ini akan langgeng kalau dengan costumer terjalin ikatan secara pribadi atau emosional. Kalau hubungannya pertemanan maka ibaratnya memiliki tabungan. Bukan seperti di mall, sekali transaksi selesai sudah habis,” tuturnya melanjutkan.

Bisnis studio foto, khususnya studio foto bayi dan anak-anak sejak sekitar lima tahun lalu sempat booming. Salah satu pionirnya, Amadeus yang terletak di bilangan Tebet Dalam, Jakarta Selatan masih tetap eksis hingga saat ini. Foto studio anak asal dikemas dengan bisnis beneran bisa memiliki prospek bagus, kata Nathal. Namun ia tidak menampik fakta, beberapa studio foto lain yang mengikuti bisnis Amadeus ternyata malah tidak bisa bertahan lama.
“Kalau kita omong foto anak, bisnis studio anak pasti menarik. Masalahnya bagaimana caranya agar bertahan. Banyak yang berhenti karena sifatnya hanya sekadar bisnis musiman. Bisnis ini bukan kebutuhan primer. Bila foto-foto yang dibuat hanya untuk kebutuhan fun, bukannya sejarah, maka ketika mulai jenuh, lalu ada studio foto lain yang lebih bagus, otomatis konsumen akan berpindah,” tukas Nathal.

Maka mantan penabuh drum yang sempat pula mendirikan sekolah musik ini sedikit membuka kartu bahwa sejak didirikan 2003 Amadeus mempunyai konsep menjadikan foto yang bersifat kebutuhan alias bisa dianggap sebagai pencatat sejarah. “Saya tidak mau bikin foto instan yang kelihatan bagus, tetapi sekali dua kali lihat orang langsung bosan,” tandasnya.
Kurang lebih setahun setelah buka, foto studio yang memiliki target pasar khusus ini sudah menarik perhatian masyarakat, baik dari kalangan orang biasa, artis, bahkan pejabat. Foto-foto bayi dan anak-anak dengan kostum lucu-lucu seperti buah, telur besar, dan macam-macam mulai dikenal dan digemari. Seiring waktu pula, para produsen produk anak dan bayi, termasuk rumah-rumah sakit juga mulai melirik untuk kerja sama atau order pembuatan iklan. Demikian pula dalam lomba foto anak tingkat nasional, Nathal Ajie selalu ambil bagian dalam penjurian serta aksesoris.

Sesuai sifat pasar, begitu mencium peluang akhirnya banyak pula foto studio lain mulai ikut-ikutan. Dan bisa ditebak bisnis ini boleh dibilang menjamur di mana-mana hingga ke mall-mall, malah dijual dengan paket murah. “Lama-lama kok jadi kampungan,” pikir Nathal waktu itu.
Di samping itu, sesuatu hal terasa mengganjal bagi bapak tiga putra ini yaitu munculnya fenomena eksploitasi terhadap anak yang terkait dengan fotografi sudah sedemikian berkembang. Aneka perlombaan fotografi anak dengan iming-iming hadiah serta popularitas sebagai bintang iklan cilik menyebabkan munculnya komunitas pemburu hadiah. Ia mensinyalir terdapat sejumlah balita yang sampai diikutkan lebih dari sepuluh agensi. Hal yang sangat  ia sayangkan, demi memenuhi ambisi orang dewasa sehingga setiap hari anak dijejali jadwal casting foto, dengan diberi kostum macam-macam, tanpa memperhatikan tumbuh kembang anak secara lebih sehat.

Akhirnya setelah dua tahun menjalankan bisnis PT Amadeus Pilar Harmony studio foto bayi dan anak, bersama istrinya, Fanda, Nathal terfikir untuk tidak semata-mata mengikuti arus pasar yang dirasa kurang sehat. Apa yang mereka bangun seolah-olah akhirnya ditentang sendiri.

Nathal Ajie berprinsip seorang fotografer layaknya seniman lukis yang melukis dengan memanfaatkan cahaya. Ia tidak mungkin melakukan pekerjaan yang dianggap karya seni secara asal jadi. Sekadar informasi, tarif studio foto kelas menengah ke atas seperti Amadeus tidak bisa dianggap murah seperti studio foto kebanyakan. Harga cetak bisa mencapai antara puluhan ribu hingga jutaan rupiah.
Sehingga orang hanya mau foto anak setelah merasa puas melihat hasilnya yang bagus. Seterusnya, seiring pertumbuhan anak semakin membesar, konsumen tidak kapok datang secara rutin. Berjalan selama lima tahun, diakuinya, sebanyak 60% yang datang adalah konsumen lama. Demikianlah, meskipun tetap menjalankan bisnis menurut perhitungan komersiil tetapi pria berkacamata tebal ini tetap melakukan berdasarkan konsep serta karakter yang ia miliki sendiri, dan bukan karya pesanan.

“Saya juga masih fanatik dengan film hitam putih, saya garap dengan gaya dan pendalaman karakter saya,” ungkapnya. Pendiriannya tentang bisnis dan seni harus berjalan beriringan menyebabkan ia tidak takut dianggap menentang aturan fotografi yang dipahami masyarakat umum.  Seperti misalnya, tidak jarang obyek foto yang diambil dibuat kecil, kurang dari 2/3 bidang foto atau distorsi pada hasil foto ia biarkan begitu saja karena dianggap lebih natural.
Sementara itu, terhadap konsumen yang datang Nathal juga tidak menganggap mereka itu sebagai orang lain yang minta dilayani semata-mata. Sebaliknya mereka diperlakukan selayaknya tamu yang datang ke rumahnya. Setiap kali sebelum sesi pemotretan ia akan banyak berbicara bersama kostumer demi menggali informasi mengenai obyek yang akan difoto tersebut. Sebab menurutnya konsumen boleh membawa konsep dan menyampaikan apa keinginannya, tetapi pada akhirnya foto yang akan diambil tetap yang menggambarkan anak ini seperti ia lihat apa adanya.

no image

Posted by On 03.01

Di usia belia Boris telah mengambil keputusan tegas: tak melanjutkan pendidikannya dan memilih menjadi pengusaha sebagai jalan hidupnya. Wiyono

Di negeri ini masih populer paradigma pilihan hidup menjadi pengusaha adalah karena faktor terpaksa. Maka masih agak sulit mencari sosok pengusaha yang sudah eksis sejak usia belia. Kalau pun sebetulnya cukup banyak tetapi umumnya usaha yang dilakukan baru sekadar bisnis coba-coba atau belajar bisnis. Wajar kalau usaha mereka juga belum banyak terekspos oleh media. Barangkali ini sebuah contoh ekstrem seseorang yang memilih jalur entrepreneur sejak dini.
Memang, Boris Ngangi terlahir di tengah-tengah keluarga pebisnis. Kedua orang tuanya pengusaha, salah satunya berupa yayasan pendidikan. Tidak heran apabila didikan yang diberikan oleh keluarganya sehari-hari tidak luput dari arahan yang mengasah jiwa kewirausahaan kepada anak-anaknya. Tetapi anak kedua dari enam bersaudara ini ternyata mengambil langkah radikal dengan memutuskan mulai berwirausaha  begitu lepas dari SMU tanpa melanjutkan study ke perguruan tinggi.

“Aku belajar dari pengalaman, orang tua, dan juga anak buah. Pokoknya belajar from the best,” ujarnya singkat. Motivasi yang diperoleh dari keluarga umpamanya setiap malam mereka mengadakan semacam rapat keluarga membicarakan pencapaian yang diperoleh. Lalu didiskusikan pula tentang bagaimana rencana ke depannya, tentang kondisi perusahaan, karyawan, serta langkah-langkah yang akan kembali dijalankan untuk mencapai target lanjutan. 
Saat ini setidaknya dua buah usaha miliknya tengah berjalan. Yang pertama Boris Yogurt, bisnis minuman yogurt dan satu lagi sebuah majalah remaja bernama Shock! Magazine.
Boris mengaku, terdapat untung-rugi menjalani bisnis sejak usia muda seperti dirinya. Sebab dari sisi pergaulan saja sudah pasti berbeda. Kesempatan berhura-hura dengan teman sepantaran lebih terbatas karena lingkup pergaulan lebih banyak dengan para orang dewasa dan terutama rekan usaha. Namun keuntungan yang diperoleh ia dapat lebih awal mandiri dibandingkan teman-teman seusia yang lain. “Aku dari dulu sudah malas sekolah. Maka mendingan membuka usaha, tetapi asalkan serius dan dijalani dengan benar. Orang tua juga mendukung,” akunya.

Pilihan usahanya pun tidak terlalu muluk melainkan mengambil jalur sederhana. Dengan alasan hobi makan ia membuka sebuah usaha pengolahan asam susu atau yogurt. Bisnis yang berlokasi di daerah Bogor itu kini belum genap setahun dan kapasitas produksi, seperti diungkapkan, sekitar 1000 sachet sebulan belum maksimal karena masih tahap uji coba pasar. 
“Terus bikin majalah karena saya suka fashion,” lanjut mantan model ini. Media cetak yang membidik kelas remaja berusia 13 hingga 23 tahun tersebut saat ini memasuki edisi yang ketiga. Sementara edisi awal tercatat bulan Maret 2007 lalu sebanyak 3000 eksemplar. Peredarannya sebagian besar masih berada di Jabodetabek ditambah Bandung dan beberapa kota-kota besar lainnya.
Lebih lanjut diungkapkan, sebetulnya latar belakang kedua bisnis yang tengah ia jalankan tersebut tidak lain sebagai back up dari usaha yang dijalankan oleh ibunya. “Intinya aku bikin media dan yogurt untuk membackup bisnis sekolahnya mama sehingga sekolah Jaka Sampurna memiliki media sendiri, Shock! Magazine. Nantinya ada tempat komunitas di situ sebagai tempat nongkrong dan lalu ada yogurt sebagai makanannya,” tutur Boris yang ingin mengembangkan banyak bisnis pendukung lain semisal bisnis kafe, fashion, dan berencana segera mulai membuka franchise Boris Yogurt. Sesuai rencana, bisnis media pun akan merambah segmen penggemar otomotif, free magazine, dan bermacam-macam pasar media lain.

no image

Posted by On 02.59

Anak adalah anak, bisnis adalah bisnis. Sang anak harus mengembalikan pinjaman modal ketika bisnisnya telah memberikan hasil. Itulah pelajaran pertama Saiful terhadap Gagan, anak sulungnya. Russanti Lubis 

Dalam berbisnis, seseorang selalu akan mundur teratur bila dihadapkan pada modal, sehingga peluang di depan mata pun lewat begitu saja. Menurut Saiful Kantaprawira, salah seorang pemilik perusahaan properti Panorama Parahyangan, modal utama dalam berbisnis adalah percaya diri, terutama bagi mereka yang memulai bisnis di usia remaja. Selanjutnya, bagaimana caranya menangkap dan mengolah peluang. Berikutnya, mengembangkan relasi.

Hal ini telah dibuktikan Gagan, putra sulungnya, meski ia dan sang istri tidak pernah secara sengaja mengajarkan kiat-kiat berbisnis tersebut kepadanya. Kebetulan, setiap pekan, sekolah remaja berumur 12 tahun ini selalu mengadakan kegiatan berjualan. Dibagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 10 murid. Dalam pembagian tugas, Gagan selalu memilih bagian marketing. “Pertama kali berjualan, dia gagal karena dia menjual roti lapis dengan tampilan ala kadarnya. Lalu, Ibunya yang sejak kecil juga sudah gemar ‘berbisnis’ menyarankan untuk berjualan ice lemon tea, yang kebetulan saat itu belum banyak yang menjualnya. Setelah dua pekan berjualan, terjadi perkembangan yang bagus, setiap anak di kelompoknya meraup omset Rp30 ribu, padahal harga lemonnya Rp24 ribu/kg,” kata Direktur Surapati Core ini.

Teman Gagan yang membantunya berjualan, ia melanjutkan, sempat ragu-ragu. “Dengan diplomatis, saat itu Gagan menjawab jika kita berpikir bahwa jualan kita tidak laku, maka jualan ini tidak akan laku. Tapi, kalau kita yakin bahwa jualan kita akan terjual habis, pasti akan terjual habis,” ujarnya. Akhirnya, mereka pun bersemangat menjual, meski tidak selalu laku. “Tapi, suatu ketika, saat snack time, jualan mereka laris manis hanya dalam waktu setengah jam. Besok-besoknya mereka melakukan hal yang sama dan terjual habis lagi,” kata Saiful, yang sering mengajak sang putra mendiskusikan suatu usaha dan memintanya memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam usaha tersebut.

Dalam kesempatan lain, Gagan juga suka menukar kartu-kartu mainan yang tidak disukai atau yang tidak dimiliki teman-temannya kepada mereka, sama dengan harga koin untuk mendapatkan satu kartu. “Dia bujuk mereka agar mau membeli kartu-kartu itu hingga mereka terpengaruh dan membelinya. Kartu-kartu itu, tentu saja ia jual dengan harga lebih tinggi daripada harga aslinya, sehingga ia mendapat untung. Sikap mempengaruhi itu kan bagian dari marketing,” ucap pria, yang juga mengajarkan sang putra agar mengembalikan setiap modal yang dipinjam, sekali pun dipinjam dari orang tuanya.
Namun, meski bangga dengan kemampuan bisnis anaknya, lelaki yang belajar bisnis sejak umur delapan tahun ini, menolak anggapan bahwa kemampuan berbisnis sejak usia dini adalah sebuah bakat. Menurutnya, kemampuan berbisnis adalah sebuah pola pikir yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. “Sebab, berbisnis saat masih kecil itu motivasinya hanya senang-senang. Apalagi, mereka masih berada di usia labil dan belum fokus. Tapi, tetap ada sisi menguntungkannya yaitu nantinya lebih menghargai adanya peluang dan setelah ketemu relasi akan muncul kecenderungan untuk mencari apa yang dapat digali dari klien-kliennya,” tandasnya.

no image

Posted by On 01.42

Laundry dengan hitungan per potong sudah sangat jamak. Sistem kiloan sudah mulai banyak ditemui, tetapi sangat jarang yang menetapkan harga atas dasar ukuran bulanan, seperti bisnis yang dijalankan Widyawati Irda. Russanti Lubis

Tidak pernah ada satu manusia pun di muka bumi ini, yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Karena, itu, setiap manusia wajib membekali diri dengan cara apa pun, untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga, sekali pun hal ini tidak menjamin manusia tersebut terbebas dari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti sering dikatakan, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, tapi manusia tetap wajib berusaha.
Berbekal pandangan ini, Widyawati Irada, mantan engineer pada sebuah perusahaan elektronik di Muka Kuning, Batam, membuka usaha laundry bersama dengan partnernya, Endrayani. “Tujuanku membuka usaha ini selain untuk menambah penghasilan, juga agar tetap terus eksis dan berkarya meski ‘cuma’ ibu rumah tangga. Aku juga nggak mau 100% bergantung sama suami, karena kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Jadi, kita wajib membekali diri. Di samping itu, dengan membuka usaha, muncul suatu keharusan untuk terus mengasah diri. Aku yakin banget hal ini berdampak positif pada kualitas pengasuhan anak-anakku, khususnya,” kata Adhe, begitu orang-orang menyapanya.

Di sisi lain, saat laundry ini dibangun (Februari 2003), bisnis laundry masih sangat jarang ditemui, terutama di perumahan-perumahan. Dengan demikian, pasarnya masih sangat luas, mengingat Batam dihuni ribuan pekerja pabrik yang hampir setiap hari kerja lembur, sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk urusan cuci mencuci. Belum lagi cuaca Batam yang sukar diramalkan. Sedangkan pembantu rumah tangga selain susah dicari, standar gajinya juga sangat tinggi. “Padahal pekerjaan ibu rumah tangga itu tiada habisnya. Jadi, daripada direpotkan oleh masalah cucian ya dilaundry saja atau setidaknya mempercayakan urusan menyeterika baju-baju mereka ke laundry,” ujarnya. Di sisi lain, mencuci dan menyeterika merupakan pekerjaan yang paling gampang dan dapat disambi mengurus anak-anak.

Dengan modal awal sekitar Rp200 ribu yang hanya digunakan untuk membeli gantungan baju, keranjang baju, kantung plastik, dan jemuran mengingat mesin cuci, setrikaan, dan tempat menjemur pakaian sudah tersedia, kedua nyonya rumah ini membuka usahanya yang diberi nama Familia Laundry. Dalam perjalanannya, ada penambahan alat-alat lain seperti steamer, tag gun, dan tag pin untuk identifikasi baju masing-masing pelanggan. Selain itu, mencuci dan menyeterika yang semula dikerjakan sendiri, setahun kemudian dibantu dua karyawan. “Ketika tersadar rumah kami sudah sesak dengan baju-baju, kami membeli satu unit rumah untuk ruang produksi dan mess karyawan, serta satu unit mobil untuk operasional, beberapa mesin cuci dan alat pengering dengan pinjam ke bank sebesar Rp200 juta. Kami juga memperlebar pelayanan kami yang pada awalnya cuma di Batu Aji ke Tiban, Nagoya, Sungai Panas, dan Batam Centre,” katanya. 

Familia Laundry menyediakan pelayanan laundry bulanan dengan tarif Rp80 ribu/bulan, laundry kiloan (Rp6 ribu/kg), dry cleaning (mulai dari Rp15 ribu/piece), laundry bed cover (mulai dari Rp15 ribu/piece), laundry karpet/permadani (Rp7.500/m²), laundry linen untuk spa, dan laundry seragam karyawan perusahaan. Dengan jumlah pelanggan tetap sekitar 150 baik keluarga maupun perorangan, setiap bulan dibukukan omset sebesar Rp25 juta. “Kami memperlakukan setiap pelanggan dengan cara khusus. Hampir semua permintaan mereka yang spesifik tapi masuk akal, kami penuhi. Yang pasti, masing-masing baju pelanggan kami cuci sendiri-sendiri. Ini yang tidak selalu dapat dijumpai di semua laundry, sekali pun kapasitasnya laundry besar,” ucap Adhe yang sering kebanjiran order saat menjelang lebaran, natal, dan imlek.
Untuk menambah pemasukan, di samping berpromosi dengan menyebarkan brosur dan beriklan secara kontinyu, Familia Laundry menjalin kerja sama dengan pengusaha busana muslim di mana member atau non member mereka yang berbelanja dengan nominal tertentu akan mendapat diskon 10% di Familia Laundry, sedangkan pelanggan laundry ini berpeluang mendapat voucher diskon untuk menjadi member mereka. “Kami juga berencana bekerja sama dengan beberapa teman di bidang-bidang usaha yang lain, seperti pengusaha gorden/vitrage,” kata ibu dua anak yang bermimpi menciptakan gaya hidup mencucikan pakaian di mal, sambil cuci mata ini. “Kelar jalan-jalan, mampir lagi ke laundry, cucian sudah kering, bersih, rapi, dan wangi,” imbuhnya.

Waralaba? “Belum ada rencana. Kami juga belum membuka cabang. Yang ada hanya agen yang tersebar di Tiban, Sagulung, Batam Centre, dan Muka Kuning. Agen-agen ini bertugas mengumpulkan baju kotor milik pelanggan, lalu baju-baju itu kami jemput, diproses, dan akhirnya dikembalikan lagi dalam kondisi bersih ke agen. Saat ini, aku lebih tertarik memotivasi para ibu rumah tangga untuk mengikuti jejakku. Untuk itu, aku membuat website tentang usahaku ini serta memberi kesempatan kepada mereka, dengan membuat dan menjual CD (compact disc) yang berisi panduan praktis dari A–Z tentang cara membuka usaha laundry, memilih baju pelanggan, dan lain-lain.
Dengan cara ini, aku ingin memperkenalkan laundry keluarga secara lebih luas. Harapanku, semakin banyak ibu rumah tangga yang membuka usaha laundry, selain tingkat ketergantungan terhadap suami berkurang, juga masyarakat dengan sendirinya akan semakin terdidik menggunakan jasa laundry sebagai bagian dari gaya hidup mereka,” ucapnya. Bagaimana ibu-ibu?

no image

Posted by On 02.55

Jika Anda ingin menjadi pengusaha sukses? Pendidikan tidak usah tinggi-tinggi. Contohnya, di Indonesia banyak pengusaha sukses yang tidak tamat sarjana apalagi doktor!  Demikianlah, kata-kata persuasif yang acapkali diucapkan oleh seorang mentor dalam sebuah seminar entrepreneurship.  Sang mentor yang juga pengusaha sukses di bidang pendidikan itu, selalu menonjolkan bahwa pengusaha yang basis pendidikannya rendah atau dunia akademiknya tidak begitu tinggi, justru lebih berhasil dalam berbisnis ketimbang mereka yang berpendidikan tinggi. Mengapa? Karena otak kanan mereka lebih menonjol ketimbang otak kirinya.
Otak kanan, sering diasumsikan dengan kemunculan gagasan, ide, gairah, keberanian, emosi dan sebagainya. Sementara otak kiri berhubungan dengan hal-hal yang kuantitatif, berpikir teoritis, intelektual, logis, linier dan rasional. 

Ada beberapa pandangan--termasuk salah satu mentor entrepreneur terkenal—bahwa berbisnis dengan menggunakan otak kanan dijamin sukses. Dengan berpikir memakai otak kiri yang serba rasional, orang akan cenderung ragu untuk melangkah dan tidak berani mengambil keputusan untuk memulai berbisnis. “Wong nggak ada duitnya kok sudah dipikir titik impas, cash flow. Kalau ada uangnya, nah itu baru dipikir.” Demikian, kata-kata itu yang dipakai untuk memotivasi peserta seminar atau workshop tentang entrepreneurship.  Oleh karena itu, kalangan perguruan tinggi jarang memulai atau meng create sebuah bisnis.  

Majalah ini tidak seratus persen merekomendasi bahwa Anda—jika mau berbisnis—harus menggunakan otak kanan. Dan, juga, kami juga menyanggah kalau banyak menggunakan otak kiri tidak selamanya gagal.  Banyak kami temui bahwa para intelektual dan akademisi, professional yang sukses dalam berbisnis. Padahal, menurut sang motivator tadi, umumnya mereka lebih banyak berpikir dengan otak kiri. 
Dokter Syarief, seorang ahli rehabilitasi medik, berhasil membangun beberapa klinik dan memproduksi alat bantu kesehatan (Larissa) untuk pasiennya. Nuryana, Kepala Sekolah SMA Terpadu Krida Nusantara, Bandung, berhasil membangun bisnis biro perjalanan CV Gema Nuansa. Dandan Irawan dan Shofwan Azhar Solihin, keduanya dosen Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Inkopin) juga berhasil membangun bisnis konveksi dan kursus bahasa Inggris di Bandung. Rektor Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, memiliki beragam bisnis mulai dari SPBU (Stasiun Pompa Bensin Umum), Bank Perkreditan Rakyat (BPR), kolam pembibitan dan pembesaran ikan dan beberapa lagi lainnya. 

Benarkah mereka menggunakan otak kiri dalam berbisnis?  Jawabannya beragam. Maklumlah seorang intelektual. Dia bisa menyampaikannya dalam berbagai bentuk, karena melihat dari sisi yang berbeda. Tapi, hakikatnya, mereka melakukan bisnis dengan menyeimbangkan antara otak kiri dan kanan. Pengusaan teori—otak kiri—sangat mendukung dalam berbisnis. Bisnis tidak hanya dilakukan dengan motivasi atau komitmen kuat untuk majau. Bisnis tidak hanya bermodal keberanian. Teori memang bagus untuk mendukung bisnis. Tapi, hal tersebut tidak akan berhasil kalau tidak dipraktekkan.  Nah, untuk mempraktekkannya itu, kadangkala harus menggunakan sebuah tekad dan keberanian.  

Jadi,  kesimpulannya, jika Anda memulai berbisnis menjadi seorang entrepreneur, harus mengoptimalkan keduanya. Otak kiri bagus. Otak kanan, apalagi. Otak kanan harus dicerdaskan. Bila otak kanan cerdas, otomatis otak kiri akan mengikuti. Sebaliknya, otak kiri cerdas, tanpa diikuti oleh otak kanan yang cerdas tidak ada artinya.  Rian S.

no image

Posted by On 03.07

Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, dapat pula dialihkan sebagai sarana mendongkrak penghasilan. Hasilnya sangat memuaskan. Fisamawati

Tak puas dengan fungsi rumah sebatas hunian saja, Khoerussalim pun memanfaatkan tempat tinggalnya sebagai tambang uang agar ‘dapur’ rumah tangganya tetap ‘berasap’. Rumah seluas 1000 m2, awalnya digunakan untuk tempat membuat aneka donats berlabel Country Donuts. Tapi lambat laun diperluas dengan membuat fasilitas outbond bagi anak-anak beserta keluarga.
“Dengan kecenderungan memproduksi donat di malam hari maka saya memanfaatkan waktu siang harinya untuk kegiatan outbond. Menurut perhitungan ini merupakan efisiensi pemanfaatan waktu luang,” kata Khoerussalim semangat. Selain menawarkan outbond, pengunjung pun dapat membuat donats dan aneka kue lainnya yang menjadi pilihan seperti brownies atau kue lainnya. Pengunjung yang umumnya anak-anak tersebut, dapat membuat donats dan kue sendiri dengan dipandu instruktur dan baker-baker professional Country Donuts. Khoerussalim mengatakan, biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 35.000,-/peserta/resep pilihan. Namun, dengan biaya yang relatif murah tersebut pengunjung dapat bermain outbond dengan fasilitas halang rintang, menyeberang tali, titian bambu, lompat ban, sepak bola, mandi lumpur, hair up, bamboo shaolin dan lainnya. “Konsep program ini adalah fun and edutainment,” tegasnya.

Di rumah Khoerussalim, kini mampu menampung 150 pengunjung. Namun, ia memberi ketentuan untuk sekali kehadiran minimal berjumlah 20 orang. "Pembatasan jumlah pengunjung tersebut untuk kepuasan penggunaaan fasilitas. Bahkan, pernah ada yang meminta untuk jumlah 200 pengunjung, tapi itu saya tolak karena melebihi kapasitas,” akunya.
Selain mementingkan kualitas pelayanan, keistimewaan lain yang ditawarkan adalah program outbond tersebut terletak di tengah-tengah kota Jakarta. “Biasanya sarana outbond terletak di daerah-daerah puncak,” tambah Khoerussalim. Outbond yang terletak di kawasan Ciracas, Jakarta Timur ini bertujuan mensukseskan kurikulum berbasis kompetensi sehingga memberikan effect pengalaman mendidik bagi pengunjungnya.

Bagi Khoerussalim, pemanfaatan rumah sebagai sarana bisnis patut dijalankan dengan serius. Ini memberikan nilai positif tersendiri dalam pengaplikasiannya yaitu melipatkan omset penghasilan. “Adanya outbond tersebut memberikan keuntungan yang signifikan. Selain keuntungan dari produksi Country Donuts, outbond mampu memberikan kontribusi penghasilan hingga 20 persen,” imbuh pria yang menjabat President Director Entrepreneur Collage.
Tentu saja, rumah yang digandakan fungsinya memiliki kendala-kendala dalam pelaksanaannya. Khoerussalim mengaku, faktor utama kendala yang dihadapinya adalah setting ruangan antara hunian dan kepuasan pengunjung, kurang memadainya SDM karyawan dengan adanya aktifitas produksi donats dan outbond. “Saya tidak menambah jumlah karyawan tetapi membagi shif pagi dan siang saja,” ucapnya. 
Saat ditanya jumlah biaya operasional bisnis tersebut, ia menambahkan, pengeluaran biaya tetap sama. “Dengan adanya atau tidaknya konsep outbond, biaya pengeluaran untuk layanan komputer, listrik dan sebagainya tetap dihitung disiang hari. Jadi ini peluang dari itu semua,” tegas Khoerussalim.

no image

Posted by On 03.06

Menghampiri, menyapa dan berbicang kepada para tamu sebagaimana layaknya seorang sahabat merupakan kiat Mamink Daeng Tata menggaet pelanggan . Fitra Iskandar  

Seorang pria berbaju koko hitam dan kopiah putih dengan tali di atas,  mirip  topi tradisional Turki, menyapa para tamu yang sedang bersantap. “Minuman ini akan lebih enak kalau ditambahkan duren di dalamnya,” ujar pria tersebut yang tak lain adalah H Muhamad Amin Rahim, atau sering disapa Mamink, pemilik retoran Mamink Daeng Tata.
Kemudian sambil melemparkan candaan- candaan kecil ia menuangkan butir demi butir buah durian yang ia ambil dari meja lain itu ke gelas- gelas tamunya yang hanya bisa tersenyum senyum.  Bagi yang tak biasa, tingkah Mamink ini akan membuat kikuk, karena mereka mengira tambahan buah durian tersebut akan menambah digit rupiah yang harus dibayar. Tetapi memang demikian Mamink memperlakukan para tamu. Menyapa tamu, menemani bercakap-cakap, sampai menambahkan menu yang tidak dipesan tamu seperti di atas merupakan pemandangan yang biasa di temui di warung makan Mamink Daeng Tata.  “Itu merupakan rasa terimakasih dan pelayanan terhadap para tamu yang datang ke rumah makan saya,” tutur Mamink. Pendekatan yang sangat mesra dan bersahabat tersebut pada saat ini popular dengan istilah Teman Tapi Mesra (TTM), tetapi Mamink menyebutnya Teman Tapi Marketing.

Melayani tamu dengan personal touch mungkin saja merupakan kunci dari keberhasilan pengusaha rumah makan dengan sajian masakan khas Makassar ini. Mamink menganggap  rumah makannya yang selalu ramai tak terlepas dari buah keakraban yang selama ini ia lakukan terhadap pelanggannya. Memang ada pameo dalam  bisnis yang  mengatakan “bisnis ya bisnis, teman ya teman.  Bagi Mamink pameo itu tidak lantas ditelan mentah-mentah. Sehingga, menurutnya, salah satu kunci sukses bisnis rumah makan adalah silaturahmi.
Memberikan menu yang tidak di pesan kepada tamu secara gratis bukanya akan membuat rugi? Mungkin saja. tapi Mamink punya argumen sendiri. “Hitungannya begini: jika makanannya enak dan pelayanannya memuaskan akan ada 5 orang yang datang, satu orang akan cerita ke 5 orang temannya yang belum pernah datang ke restoran, berarti 5x5 =25. Tapi kalau makanannya tidak memuaskan ditambah pelayanan yang seadanya mungkin hanya 3 orang yang datang. Berarti 3x3=9 selisihnya  jumlah tamu yang datang 16 orang.” Itu namanya TTM. Teman Tapi Marketing,”  kelakar Mamink, memplesetkan judul lagu kelompok Musik  Ratu yang terkenal itu.

Saat masih membuka warung kaki lima, Mamink punya cara untuk mendatangkan pengunjung. Selain memilih terpal yang warnanya berbeda dengan tenda kaki lima  pada umunya yang berjejer di Jalan Soepomo, ia menyebarkan brosur dan menjalin kerjasama atas dasar pertemanan dengan para supir taksi. Supir taksi yang membawa tamu ke warungnya digratiskan makan, sehingga warungnya semakin dikenal. Sekarang ini ia memanfaatkan teknologi SMS untuk sekadar menyampaikan sapaan atau candaan kecil kepada pelanggannya yang sudah lama tidak berkunjung.
Kiat, dengan ruh silaturahmi, ternyata sangat jitu. Rumah makan Mamink Daeng Tata berkembang sukses. Mamink berhasil menggeser bisnisnya yang  dari omset 50 porsi perhari  saat usahanya masih beratap terpal (1993) dengan tenda ukuran 5X8 di Jl Soepomo, menjadi 400 porsi perhari. Itu  baru dari restonya yang berada di Casablanca 33, belum terhitung dari tiga tempat lainya di Jl Abdullah Syafie, Tebet  Utara dan Jl. Panjang. Di penghujung 2006, Mamink Daeng Tata membuka cabang lagi di Bandung.

Selain kemampuannya menjalin relasi, Mamink juga mempunyai keahlian menciptakan menu istimewa “tata ribs” (tulang iga sapi panggang). Selain itu menu makanan khas Makassar lainnya juga menjadi andalan Mamink, seperti sop konro, soto sodara, es palu butung dan es pisang hijau. Beberapa bumbu seperti cabe dan tomat langsung didatangkan dari Sulawesi.

no image

Posted by On 03.24

Memulai atau berbisnis dari pengembangan hobi, sama halnya kita memulai sebuah bisnis baru.  Beberapa teori atau cara untuk memulai sebuah bisnis, bisa Anda jumpai lewat buku-buku bisnis. Dan, kalau mau lebih instant lagi, bisa mengikuti kelompok-kelompok bisnis yang kini mulai menjamur di Jakarta. Nah, untuk memulainya Anda perlu memperhatikan hal-hal berikut di bawah ini : 
1. Tekunilah Hobi Anda
Ada pepatah ‘practice make perfect’ dengan terus berlatih, termasuk melatih kemampuan kita, lambat-laun pasti akan menghasilkan karya yang terbaik. Hasil karya yang berkualitas tentu akan menaikkan nilai jualnya.

2. Tambah terus pengetahuan Anda melalui kursus-kursus, seminar atau pelatihan yang berkaitan dengan hobi.
Lewat aktivitas semacam itu, Anda akan memperoleh pengetahuan serta  sertifikat yang bisa menaikkan personal branding dan  prestise. Ini akan menumbuhkan kepercayaan pelanggan. Ujung-ujungnya tentu berkaitan dengan harga jual. Selain kursus, Anda bisa membaca buku, mjalah, internet atau media lainnya untuk meningkatkan pengetahuan Anda.  

3. Carilah Ahli yang berpengalaman.
Belajar langsung lewat orang yang berpengalaman atau yang sudah sukses menjalankan hobi tersebut.  Berguru pada  mentor atau bergaul dengan orang yang berhobi sama, merupakan salah satu cara terbaik untuk menghasilkan sebuah produk yang bagus dan kompetitif baik dari segi kualitas maupun harga. Dari ‘gaul’ ini, Anda bisa mengukur kemampuan dan hasil karya Anda. 

4. Publikasikan produk Anda secara komersial
Cobalah tawarkan hasil karya Anda ke toko-toko, atau rekan-rekan, tetangga. Dari pengalaman yang sudah-sudah, tetangga atau teman dekat adalah konsumen awal. Cara ini juga mampu mengatasi kesulitan dalam hal modal keuangan karena mereka bisa di minta pembayaran di muka sebelum barangnya dibuat atau diantar. Jangan patah semangat bila produk yang ditawarkan di tolak. Lewat cara ini juga secara tidak langsung melakukan promosi dari mulut ke mulut. 

Bahan : Perencana Keuangan.