www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

no image

Posted by On 02.28

Fenomena artis berbisnis ini sudah banyak dan sering kita jumpai, mengingat masa ‘subur’ artis di Indonesia bertahan kurang lebih sampai dua tahun, apalagi untuk artis-artis yang sudah termakan usia. Yang pasti mereka harus bertahan di tengah persaingan dengan pendatang-pendatang baru yang lebih muda dan memiliki tingkat kreatifitas lebih beragam. Fisamawati

Solusi para artis ini untuk bertahan adalah berbisnis. Dengan menggunakan nama mereka yang sudah populer, promosi bisnis mereka pun bisa lebih mudah dikenal masyarakat, tinggal kepiawaian para artis itu saja dalam mengelola bisnisnya.

Salah satu keseriusan artis berbisnis bisa dilihat dari sosok Ebet Kadarusman, mantan penyiar radio dan pemandu acara Salam Canda. Kini, meski belum sembuh total akibat sakit stroke yang menimpa pada tahun 2001 lalu, tidak menyurutkan aktifitas Kang Ebet-begitu ia disapa. Selain masih aktif di berbagai organisasi seperti menjadi anggota dewan Artis Peduli Bangsa dan Lions Club, ia pun terjun ke dunia bisnis yakni dengan menginvestasikan uang yang dimilikinya.

“Artis itu ibarat habis manis sepah dibuang, sedang jayanya diagung-agungkan tetapi lambat laun akan lengser sendirinya. Oleh karena itu, saya berinisiatif menanam saham di PT. Artha Cipta Universal. Untuk produk yang ditawarkan adalah kaca film safety dengan label NTech,” katanya yang didampingi Director NTech Imam Krisnanto dan Division Head NTech Nita Kurnia.

Alasan Kang Ebet memilih investasi pada produk tersebut didasari kecenderungan banyaknya tindak kejahatan dalam kendaraan, selain melindungi dari terik sinar matahari, kaca film juga harus aman dari benturan keras maupun pukulan, seperti kapak merah yang sedang marak akhir-akhir ini. “Terutama untuk para pengendara yang ingin atau selesai beraktifitas pada malam hari, seperti kalangan artis,” imbuhnya.

Disadari benar, memiliki nama besar sebagai artis ‘senior’ memudahkan ia untuk menjalankan roda perputaran bisnis. Meski hanya menanamkan modal sebesar 10 persen, tetapi peranan Kang Ebet terbilang penting. “Sedikit banyak saya memiliki peran mendidik masyarakat bahwa untuk mendapatkan barang bagus tidaklah harus mahal. Untuk harga kaca film NTech berkisar antara Rp 2 juta sampai Rp 4 juta untuk satu unit mobil berjenis safety dengan ketebalan 125 micron,” papar Ebet yang menjabat sebagai Commissioner tersebut.
Ditemui di ruang kerjanya yang beralamat di Gedung Nindya Karya Jakarta, kakek dari 25 cucu ini pun mengungkapkan, bisnis yang dijalani bukanlah unsur ‘latah’ semata. Hal ini pun terbukti dengan keterlibatannya merambah bisnis lain, selain menjadi anggota, ia pun ikut berbisnis yang sifatnya Multi Level Marketing (MLM). “Saya hanya ingin memberikan pemahaman kepada para artis muda-khususnya, agar memanfaatkan penghasilannya sedini mungkin agar kelak bisa menikmati penghasilan dari investasi tersebut,” tegas yang kerap mengeluarkan kalimat ‘Its nice to be important, but more important to be nice’ saat memandu acara.

no image

Posted by On 01.32

Ikon ethno techno itu meluncurkan album qawali neo spiritual journey. Sebuah refeleksi perjalanan spiritual yang dituangkan kedalam sebuah album rohani nan apik. Rian S.

Kemasan lagunya sangat menarik. Liriknya bernuansa rohani, berani dan sulit dicerna kalangan awam.  Untuk mendenar musiknya, perlu pemahaman yang serius.  Perpaduan antara musik etnik Minang, Arab, Sunda, Bali dan Aceh telah dituangkan dengan apik dalam album Qawali (musik Sufi),  Neo Spiritual Journey.  Itulah karya terbaru musisi dan komposer lagu Diddi Agepe.

Siapa Diddi? Di era 1980-an, musisi ini telah muncul dengan karya-karya musik film. Diddi dikenal sebagai ikon Etnho Techno. Diddi tergabung dalam kelompok avant garde  Indonesia bersama Frankie Raden, Suka Harjana dan beberapa musisi lainnya. Mereka kelompok Asosiasi Komposer Indonesia yang sangat kritis dan peduli dengan perkembangan musik diluar musik pop komersial. Sayang,  Diddi tidak menelurkan album komersial. Oleh karena itu masyarakat awam jarang sekali mengenalnya. Tapi, bagi kalangan musikus pecinta seni, nama Diddi tidaklah asing. Skills musiknya bagus. Kualitas musik yang diciptakannya sangat bagus. Dia sering pentas di Gedung Kesenian Jakarta, Utan kayu atau Taman Ismail Marzuki membawakan karya musik yang sophisticated dan penuh improvisasi.
Dia juga sering berkolaborasi dengan musisi top di tanah Air baik dalam penggarapan lagu, album maupun pementasan.  Beberapa penyanyi atau musisi seperti Fariz RM, Syahrani, Cendy Luntungan, Eddie Kemput, almarhum Chrisye, Embong Rahardjo, Jack Lesmana, Addie MS,  pernah bermain bersama Diddi.

Menikmati alunan musik Diddi, seolah-olah membawa kita ke nuansa yang lain. Sesuai dengan aliran yang dipilihnya, avant garde,  musik yang muncul mengisyaratkan sesuatu yang berbeda. Stanley Clarke, Jaco Pastorius (basist),  Chick Corea (fusion) adalah musisi yang menginspiring karya musiknya. Dalam bermusik, selain menggunakan instrumen musik moderen, dia juga melibatkan beberapa peralatan di luar musik seperti panci, gallon air mineral, sapu lidi dan sebagainya.  Harmonisasi musik nan apik  yang dimainkan dari instrumen musik elektrik, akustik serta perlatan nonmusik, menghasilkan sebuah karya musik yang sarat akan nuansa. Sayang, tidak semua orang bisa mendengar musik jenis ini.   “Saya memang tidak membuat album pop. Namun karya-karya saya  dipakai sebagai ilustrasi musik di film-film layar lebar dan sinetron. Mungkin salah satunya pernah Anda tonton,” ujarnya.

Diddi, adalah musisi dan komposer (peñata musik) senior. Karya musiknya telah menghiasi lebih dari 900 episode sinetron  yang diputar di beberapa stasiun televisi nasional serta film layar lebar.  Coba dengarkan musik jenaka di senetron Jini oh Jinni? Atau musik serius berdurasi beberapa menit pada sinetron Pernikahan Dini, Suster Ngepot, Samson, dan Lika-liku laki-laki? Semua adalah karyanya.

Meski belum sukses secara komersial, Diddi adalah sosok yang popular. Dan, ini terus memotivasinya untuk terus berkarya. Pada 1990, musisi berusia 46 tahun ini mulai menciptakan musik-musik religius Islami. Namun, dia juga membuat musik-musik dari kumpulan dzikir, mantra ataupun doa-doa dari komunitas budha. Menurut dia, ada kerinduan batiniah untuk menciptakan musik rohani nan apik yang digali dari Tanah Air. “Ini bukannya pencapaian saya di musik komersial berakhir. Namun, kerinduan rohani untuk berkarya di musik religius,” ujarnya.

Pengajar di beberapa sekolah musik ini menciptakan musik religius yang berbeda dengan yang lainnya. Musik rohani Islam  tidak identik dengan nuansa khas Timur Tengah. Islam adalah milik dunia, dan untuk itu tidak salah bila kita juga membuat musik tersebut dari berbagai unsur di dunia.

Membuat musik rohani tidak mudah. Hambatan terus saja mendera. Apalagi, untuk album kali ini yang akan dibuat adalah refleksi perjalanan spiritual Diddi dalam beragama. Akhirnya, jalan terang itu muncul. Dalam semalam, ide itu begitu mengalir. Dia bisa menulis lirik yang di tuangkan dalam sembilan lagu. “Saya yakin ini berkat bantuan yang di atas. Lirik bisa rampung dalam semalam. Ide itu terus mengalir tanpa saya bisa menghentikannya,” katanya sambil menunjuk tangan ke atas.
Liriknya cukup menggelitik. Kadangkala mempertanyakan kesalehan seseorang atau sosok yang suka pamer tentang religiusitasnya.  Beberapa temannya berkomentar, bahwa lirik itu berani, lugas dan sarat makna. Dan, sebelum aransemen musik di buat, dia sudah berkonsultasi ke beberapa kelompok tarekat seperti : Uluhiyah, Stariyah, Qadiriyah Naqsabandiyah. “Semuanya mendukung,” ujar Diddi.

Beberapa temannya sesama musik, diajaknya bergabung untuk menggarap album ini. Beberapa unsur musik mulai dari Padang, Arab hingga Aceh diambilnya untuk memperkaya album itu. Hampir di setiap lagu, Diddi menata musik sangat artistik.  Di salah satu lagu, dia menata musik sedemikian rupa sehingga alunan orkestra yang muncul layaknya kita mendengar alunan musik religiusnya Kitaro.
Secara keseluruhan  lagu yang dikemas dalam album Neo Spiritual Journey ini sangat menarik. Bukan bermaksud riya,  album ini menurut Diddi merupakan karya yang cukup fenomenal. Bukan dari sisi musik, namun juga lirik yang sangat menggelitik. Di album ini dia menumpahkan selama 20 tahun perjalanan spiritualnya ke dalam sembilan lirik lagu.

Album yang diluncurkannya sekarang tidak hanya konsumsi bulan Ramadhan. Namun lebih ditujukan kepada public penikmat musik dan pejalan spiritual yang telah siap dengan sudut pandang yang berbeda, dewasa, arif dan bijak. Neo Spiritual Journey diperuntukkan bagi mereka yang butuh kesejukan kalbu dan kecerdasan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.   Anda bisa memperoleh CD-nya dengan harga Rp30 ribu.

no image

Posted by On 01.33

Teh selain memiliki sensasi nikmat pada saat menyeruput ternyata juga memiliki kandungan-kandungan yang berguna menjaga kesehatan tubuh. Tea Addict memiliki 100 lebih sajian teh. Fisamawati

Pasti sudah tidak asing dengan kata teh. Teh sendiri merupakan minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanamannya. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi empat varian yaitu teh hitam (black tea), teh oolong (oolong tea), teh hijau (green tea), dan teh putih (white tea).

Menyeruput (minum, red) teh memang bisa mengundang sensasi kenikmatan tersendiri. Ini tak perlu diragukan lagi. Sudah banyak orang yang mengakuinya. Namun saat ditanya alasannya, kebanyakan mereka bingung memberi jawaban. Ada yang mengatakan baik untuk melepas pikiran suntuk dan membangkitkan rasa segar. Tak sedikit pula yang berkomentar secara ilmiah yakni bagus untuk kesehatan tubuh.
Apa pun alasannya, menyeruput teh bukan sekadar membasahi kerongkongan atau pemuas dahaga belaka. Dari beragam alasan tadi, teh berkembang menjadi salah satu minuman favorit yang banyak disukai orang di seluruh dunia, termasuk warga Indonesia. Saat pikiran sedang ‘beku’, penyuka minum teh buru-buru menyedu. Beberapa menit kemudian, ia merasa terpuaskan. Rasa segar kembali menjalari tubuh, pikiran pun lebih rileks. Ujung-ujungnya, mood bangkit lagi.

“Karena alasan teh itu baik dan sehat untuk tubuh maka muncul keberadaan Tea Addict ini, tepatnya tahun 2002 lalu. Saat itu belum ada tempat khusus semacam tea lounge atau tea house khususnya di Jakarta. Pada waktu itu yang menjamur adalah coffee shop dan café-café. Dan kami pun tak ingin menjadi follower tapi menjadi trend setter,” papar Erry Alif selaku PR& Marketing Manager Tea Addict.
Ia pun memaparkan secara terperinci bahwa bagi masyarakat Indonesia, teh bukanlah barang baru. Teh merupakan sajian minuman ‘wajib’ kala pagi hari. Umumnya, sajian teh hanya diseduh dengan air panas tanpa campuran lain selain gula, tentunya. Tak hanya itu, teh pun memiliki khasiat yang baik bagi tubuh. Selain memberikan rasa kesegaran dan relaksasi, teh pun dipercaya bisa menetralisir gejala-gejala penyakit. Tingginya kandungan vitamin antioksidan dalam teh dapat mencegah penyakit-penyakit berbahaya seperti kanker, jantung, bahkan osteoporosis. Sedangkan bagi perempuan, bisa menjaga kecantikan kulit tubuh atau bahkan melangsingkan tubuh.

“Teh sudah sangat familiar. Apalagi dengan adanya teh kemasan yang sekali celup jadi lebih praktis. Tapi pengetahuan masyarakat tentang teh baik dari cara penyeduhan maupun manfaat dari masing-masing teh masih terbilang kurang. Berbeda dengan Jepang, minum teh sudah merupakan upacara tradisional,” katanya.

Tea AddictDengan motivasi memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat teh, Tea Addict pun melengkapi sajian minuman aneka teh. Tak hanya berupa seduhan teh klasik tetapi juga memberikan tampilan yang berbeda dari sebuah teh. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau dengan kisaran antara Rp. 14.000,- hingga Rp. 45.000,-.
“Tersedia bermacam-macam minuman teh baik yang disajikan panas atau dingin. Ada special tea seperti Strawberry Flirt, Teh Tarik ala Malaysia, Earl Grey Tea Addict, Jasmine, Caramel hingga Blackcurrant. Anda pun bisa mencoba teh khas mancanegara seperti Queen Marry, Nilgiri dan Darjeeling. Mau khas Japanese Green Tea ada Sencha dan Bancha. Kalau pun ingin mencoba green tea dengan rasa Peppermint pun bisa,” promosinya.

Memiliki 100 lebih sajian teh, Tea Addict pun mempunyai minuman andalan yakni Pure Nirvana. Minuman yang disajikan dengan daun teh ini pun dilengkapi madu dan sumpit. Selain keunikan daun teh yang bisa diambil menggunakan sumpit lalu dimakan dengan celupan madu, Pure Nirvana pun bisa di-reffill tanpa mengurangi citra rasanya. “Tapi dianjurkan untuk me-refill maksimal sebanyak empat kali, karena teh bisa memberikan relaksasi jadi dikhawatirkan berlebihan,” ungkap Erry memberi alasan.
Tetapi tak perlu khawatir, teh yang digunakan sebagai bahan dasar merupakan teh dengan pilihan kualitas terbaik. Erry mengatakan, teh yang berasal dari wilayah Ciwidey, Bandung tersebut adalah pemilihan dari P1, P2 dan P3 (pucuk 1, 2, dan 3 yang dipetik, red). Tetapi khusus untuk jenis white tea hanya P1 saja yang dipetik dari setiap pohonnya. “Teh yang digunakan 80% produk dalam negeri dan sisanya luar negeri. Selain itu, kami memproduksi teh kering dalam bentuk kemasan kaleng yang bisa dibawa pulang dengan harga sekitar Rp. 75.000,- per 125 gram,” tambahnya.

Berlokasi di bilangan Jakarta Selatan dan telah memiliki satu cabang, Tea Addict dalam seharinya bisa mendatangkan 70 orang untuk singgah. “Biasanya yang datang adalah para eksekutif muda yang umumnya bekerja tetapi tidak menutup kemungkinan yang lain. Mereka mampir untuk refresh setelah seharian sibuk bekerja,” imbuh kelahiran Padang, 14 Maret 1966 ini.
Bernuansakan modern art minimalis, Tea Addict menawarkan kenyamanan dalam bentuk lounge yang sangat cozy untuk berbincang-bincang dalam suasana santai. Namun, Tea Addict dapat berubah wujud sesuai dengan kebutuhan acara seperti ulang tahun, gatehring, rapat, seminar. Lounge yang dapat mengakomodasikan 100 orang ini dilengkapi juga oleh fasilitas conference call, fax, screen + in focus, filp chart, standard sound system dan sarana pendukung lainnya.  Tea Addict juga dilengkapi dengan layanan spa, ramal menggunakan tarot, perpustakaan dan ruang rapat pribadi berkapasitas 10 orang. Penasaran? Mampir aja!

no image

Posted by On 02.36

Siapa yang menjamin jika karir akan terus abadi? Jadi jangan heran bila sekarang di jagad selebritis dunia atau di Indonesia berlomba-lomba mengembangkan bisnis pribadi selagi sempat dengan kekayaan yang diperolehnya. Banyak di antara mereka yang mengembangkan dunia baru yang tak jauh dari profesinya sekarang atau malah berseberangan sama sekali. Mengapa mereka menjadi seorang selepreneur atawa selebritis entrepreneur?   Jawaban seragam akan dilontarkan bahwa mereka mengamankan kekayaan untuk bekal kelak di hari tua. Hasil yang diperolehnya sekarang diinvestasikan lewat bisnis strategis agar  berbiak untuk jaminan masa depan.

Selepreneur tidak terbatas pada kalangan artis saja. Selepreneur bisa dari berbagai kalangan seperti : atlet, artis musik, artsi film atau sinetron, politisi, profesional, militer dan sipil.  Selebritis adalah kalangan terkenal atawa prominence figure.

Di dunia kita kenal dengan nama selebritis dunia yang terjun sebagai selepreneur.  Penyanyi seksi Jennifer Lopez, Justin Timberlake serta  Beyonce Knowless telah membangun kerajaan fesyen yang kini telah mendunia. Produk-produk pakaian banyak diburu oleh kalangan selebritis, tidak hanya artis film tapi juga kalangan lainnya. Pegolf kondang  Jack Nicklaus, Greg Norman telah mengembangkan bisnis peralatan golf dengan brand namanya sendiri.  Pembalap F1, Giancarlo Fisichela dan  Jarno Trulli telah membangun bisnis sekolah balap dan agrobisnis anggur.

Di Tanah Air, kita mengenal beberapa selepreneur. Sebut saja misalnya mantan pebulu tangkis Liem Swie King, Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma, Cun Cun, binaragawan Ade Ray, dan mantan pesepakbola nasional Aji Santoso. Mereka telah  mengembangkan bisnis alat-alat olah raga, mulai dari sepatu, raket, panti kebugaran hingga sepatu.  Lalu di kalangan artis muncul nama-nama seperti pesulap Adrie Manan dengan sekolah sulapnya,  artis dan presenter Olga Lydia (bisnis biliar), Virnie Ismail (Spa), Venna Melinda (Sekolah Salsa & pusat kebugaran), Tora Sudiro (pijat refleksi), Sultan Djorghie (aksesoris otomotif), Ebet Kadarusman (kaca film anti bom), mantan artis cilik Ira Maya Sofa (event organizer), vokalis Ian Kasela (salon), Solihin GP (agribisnis), AP Batubara (pelumas otomotif) dan beberapa lagi lainnya.

Selepreneur adalah suatu pilihan hidup, seperti halnya kita memilih profesi dokter, konsultan, lawyer atau profesi lainnya. Selepreneur adalah sosok yang membangun bisnis, mulai dari nol atau membeli bisnis yang sudah ada, seperti misalnya franchise. Selepreneur memiliki beberapa modal yang bisa dimanfaatkan untuk mendulang keberhasilan.

Pertama, popularitas dan personal branding yang tinggi. Kedua, modal dan yang ketiga adalah networking. Beberapa di antara mereka sadar hal ini. Potensi itu dimanfaatkan dalam mengembangkan bisnis. Hasilnya? Perlahan-lahan bisnis mereka pun bergerak naik.

Selebritis tetaplah selebritis. Mereka adalah orang yang beruntung karena popular berkat media massa. Jaringan atau networking yang luas sangat membantu dalam membangun bisnis. JLO, misalnya, sebelum produk tersebut sukses dipasar, terpaksa memanfaatkan koleganya untuk pemasaran produk pakaiannya. Dari sinilah, kemudian bisnis itu terangkat. Kini produk fesyen JLO banyak diburu kalangan selebritis tidak hanya terbatas artis film, tapi juga kalangan lainnya.  Hal sama juga dilakukan oleh Kang Ebet. Mantan presenter ini tengah memanfaat jaringannya untuk memasarkan N-Tek, produk kaca film asal Korea Selatan yang diklaim tahan bom.

Namun, ketiga hal itu tidaklah cukup. Kerja keras adalah kuncinya.  Kurang apa Jennifer Lopez? Siapaun tahu kalau dia cantik dan artis yang hebat.  Namun, dalam membangun bisnisnya dia juga pernah bangkrut, bangkit dan kerja keras. Kini produknya telah menjadi trendsetter dunia. Para selepreneur kita juga telah sukses meski terbatas pada tingkat local. Kita masih menunggu, apakah selepreneur disini bisa sukses mendunia? Atau tetap hanya sebagai pemain local saja. Rian S.

no image

Posted by On 01.34

Tempat hang out yang memadukan konsep gymnasium dan resto kesehatan telah hadir di Jakarta. Selain berolah raga, pengunjung bisa menyantap makanan sehat sesuai dosis. Rian S

Men Sana in Corpore Sano (dalam badan yang sehat terletak jiwa yang sehat). Demikianlah slogan lama bahasa latin yang acapkali dipakai untuk menggambarkan tentang kesehatan badan yang berkaitan dengan sehatnya jiwa seseorang. Dan, kata kuno itu, tampaknya menjadi acuan sebagian besar atau hampir seluruh karyawan dan para anggota The BodyfitnesS, sebuah tempat kebugaran  yang terletak di Wisma Geha, Jl Timor 25, Jakarta Pusat.
Tempat itu bukan sekedar tempat berolahraga (gymnasium), namun juga sebuah resto yang menjual menu kesehatan konsumennya.  Pengunjung The  BodyfitnesS, sesudah berlatih kebugaran, bisa langsung menyantap atau memilih makanan/menu sesuai selera sesuai dengan anjuran para personal trainer nya. “Kami tidak saja menjual fasilitas kebugaran, tapi juga tempat konsultasi kesehatan dan makanan bagi mereka yang ingin sehat,” aku KRT Tedjodiningrat Brotoasmoro, pemilik sekaligus pengelola The BodyfitnesS.

Jojo—panggilan akrab Tedjodiningrat—adalah sosok yang mampu melihat peluang ditengah-tengah hiruk pikuk kemacetan lalu lintas di Jakarta.  The BodyfitnesS, gymnasium sekaligus resto, adalah sebuah konsep bisnis yang memadukan antara kesehatan dan gaya hidup. Tempat ini, telah menjelma menjadi sebuah tempat untuk lifestyle bagi para professional dan khalayak awam di Jakarta. “Mereka yang ingin hidup sehat, silahkan datang ke tempat ini,” candanya.
Umumnya, pengunjung--para pekerja kantor—The BodyfitnesS sangat berminat dengan masalah kebugaran. Lelah, lokasi rumah yang jauh dari kantor, kemacetan lalu lintas, adalah rutinitas sehari-hari yang harus dihadapi mereka. Para professional, karyawan kantor ini kebanyakan adalah kaum urban yang berdomisili  di luar Jakarta, seperti Serpong, Cibubur dan beberapa tempat lainnya. Untuk berangkat ke kantor, mereka harus bangun pagi—subuh malah—agar tidak terjebak kemacetan. Begitu juga saat pulang, mereka harus menunggu lengangnya jalan. Nah, disela-sela waktu luang itu, akhirnya mereka mencari tempat  hang out (nongkrong) di luar kafe atau tempat yang sejenisnya. “Yang gemar olah raga atau fitness, akhirnya datang ke tempat kami. Keluar dari tempat kami ditanggung segar, ” ujar Jojo. 

The BodyfitnesS, muncul tidak semata-mata hanya peluang. Unsur hobi, ternyata jauh lebih dominant. Jojo, memang pehobi berat olah raga kebugaran. Kisah ini dimulai saat perkenalannya dengan bodybuilder, Ade Rai, pada 2000 lalu. Jojo, saat itu usai menamatkan sekolah di Tri Sakti, Jakarta.
Semula, dia adalah demonstran jalanan, termasuk ikut demo menjelang kejatuhan Presiden Soeharto. Perkelahian, gebuk-gebukan dengan petugas adalah makanan sehari-harinya. Oleh Ade Rai disarankan, ketimbang menjadi jagoan jalanan, lebih baik energinya disalurkan dalam arti positif dengan menjadi jagoan yang sebenarnya.  “Raihlah prestasi. Jangan prestasi negative seperti di jalanan.” Demikian kata-kata itu yang selalu berdengung di telinganya. Akhirnya, mulailah dia belajar kebugaran dan membentuk otot di Klub Ade Rai.

Setamat kuliah, pada 2001, Jojo keluar dan bekerja di PT Jaya Hanggada Sakti, sebuah perusahaan produsen dan distributor alat-alat kesehatan dan fitness. Dia kemudian dipercaya sebagai manajer sekaligus instruktur di Fit & Fresh Gym, sebuah tempat kebugaran di Jl. Abdul Muis, Jakarta Pusat. Pada 2003, gymnasium ini diwaralabakan dan telah memiliki tujuh outlet antara lain di : Surabaya, Jakarta, Bandung dan Jogjakarta.  Sayang, usaha yang dirintisnya berantakan karena  adanya friksi internal dan sistem waralaba yang kurang kuat.  Waralaba kebugaran ini stagnan.

Lalu, pada 2006, dia bersama ketiga mitranya mendirikan The BodyfitnesS. Dengan moto Your Place for the Real Fitness, mulailah gudang seluas 400 meter persegi itu disulap menjadi tempat kebugaran lengkap dengan resto kesehatannya. Disini, pengunjung setelah berbugar-ria, bisa menikmati sajian makanan sehat. Menurut Jojo, setelah berolah raga, tubuh butuh kalori yang cukup untuk menggantikan tenaga yang terbuang. Selama ini, banyak orang yang asal menyantap makanan yang dianggap bisa menggantikan tenaga yang terpakai saat berolah raga. “Padahal ini salah,” ujarnya. Makan dan olahraga harus sebanding, tergantung porsi latihannya. Untuk itulah, The BodyfitnesS menyediakan konsultan dan sekaligus personal trainer bagi mereka yang membutuhkan.
Healthilicious, adalah nama resto kesehatan tersebut. Tempatnya, satu lokasi dengan The BodyfitnesS. Di resto ini tak kurang dari 30 jenis menu makanan sehat disajikan yang bahan bakunya dari dalam negeri serta beberapa produk impor dari Jepang, Eropa dan Italia.

Sejak dibuka setahun lalu, The BodyfitnesS memiliki 600 anggota. Masing-masing anggota membayar Rp 250 ribu untuk uang keanggotaan. Selain ini, gymnasium megah ini juga sering dikunjungi oleh individu-individu yang sekadar ingin berolah kebugaran. Dengan 40 orang SDM plus beberapa personal trainer,  The BodyfitnesS belum balik modal. “Pendapatan kami masih belum mencapai titik impas,” tuturnya. Tapi, dia optimistis bahwa gymnasium ini menjadi salah satu profit center, disamping bisnis-bisnis yang lainnya.  Untungnya, investasi di bisnis uini tidak mahal lantaran ada beberapa peralatan yang bisa dibuat sendiri lewat divisi Body Fitness Equipment. “Kalau peralatan kami impor dan membeli di pasaran, investasi kami akan lebih besar lagi,” kata Jojo, yang enggan menyebut berapa nilai investasinya.

Tahun ini The BodyfitnesS menargetkan 1000 anggota. Berbagai upaya terus dilakukan, di antaranya promo langsung ke kantor dan lewat jaringan para anggota. Selain itu, manajemen juga menjajagi kemungkinan untuk membuka cabang baru. Bila hal itu terealisir, maka PT Perkasa Mandiri Sakti, pengelola gymnasium dan resto kesehatan ini makin menancapkan kuku bisnisnya di bidang life style. Selain The BoddyfitnesS, perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh tiga sekawan ini memiliki  Resto Bawang Putih yang terletak di Poin Square, Kafe di Kawasan Pasar Festival, Kuningan,  Workshop peralatan fitness dan resto makanan sehat.

no image

Posted by On 02.46

Ini bukannya berbicara tentang bisnis money game yang beberapa saat lalu santer dengan nama Kanan-Kiri Seimbang, tapi berbicara tentang keseimbangan otak kanan dan otak kiri. Memang santer sekali kata-kata otak kanan digunakan terutama oleh pendiri Entrepreneur University, yang juga salah satu mentor saya, Purdie E. Chandra. Secara struktural memang otak kita dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kanan dan bagian kiri. Namun secara fungsional atau sistem kerjanya, kedua bagian otak kita bekerja bersamaan saling membantu. Contoh sederhana, saat saya menulis naskah ini, saya sedang mengetik dengan kedua tangan saya, yang artinya otak kanan sedang memerintahkan tangan kiri untuk bekerja, sebaliknya otak kiri memerintahkan tangan kanan. Secara bersamaan (atau nyaris hampir bersamaan), otak saya bagian kiri sedang mengingat (kerja otak kiri) materi yang pernah dikatakan oleh Pak Purdi, sembari saya berimaginasi (kerja otak kanan) membayangkan adanya aliran arus listrik dari otak kiri saya ke otak kanan saya dan sebaliknya.

Wow, memang luar biasa potensi otak kita ini, tidak sesederhana seperti apa yang kita pikirkan. Namun hal sering digunakannya istilah otak kiri dan otak kanan sebenarnya lebih tepat sebagai analogi logika vs imaginasi, teori vs praktek, perhitungan vs keberanian, linier vs lateral.

Mengkanankan Otak Kiri
Kenapa banyak para mentor wirausaha memprovokasi untuk lebih sering menggunakan otak kanan saat akan mulai usaha? Sejenak saya termenung sambil memukul kepala saya bagian kiri seolah mendorong bagian otak kiri untuk pergi ke kanan atau saya sedang berusaha dengan keras untuk hanya mengijinkan otak kanan bekerja. Bukan seperti itu tentu maksudnya, otak kanan yang dimaksud adalah ACTION oriented, bukan sekedar teori saja.

Memang tidak mudah mengajak orang yang sudah telanjur dominan“kiri” (baca:teoritis) beralih ke  “kanan” (baca:praktis). Maka dari itu biasanya pula, para mentor mengupas iming-iming menjadi pengusaha dan memaparkan kemudahan-kemudahannya. Misalnya,”Kalau mau usaha, jangan dipikir, dimulai aja”, atau “Dibuka dulu usahanya, nanti pasti menghitung. Kalau dihitung dulu, nggak buka-buka!”. Apa sih maksudnya? Sebenarnya sang mentor hanya ingin menarik kita untuk jadi pengusaha sekarang juga, bukan besok apalagi kapan-kapan. Karena kalau sang mentor bilang,”… lha mbok dihitung yang cermat dulu untung ruginya, jangan sampe nanti rugi!”. Yah, kapan mulainya?!

Otak Kanan Saja Cukup?
Banyak juga si penggemar otak kanan yang “kebablasan”, sampai-sampai gak pakai otak lagi alias ngawur. Jaman dulu menjalankan usaha dengan sangat konservatif masih bisa. Lain hal dengan jaman internet dan franchise sekarang ini. Dunia sudah semakin kompetitif dan tren bisnis bergerak sangat cepat. Saat mulai, memang harus pake otak kanan, namun setelah mulai, dibutuhkan otak kiri yang dominan untuk menganalisa hasil yang kita peroleh dan meng-adjust strategi kita berikutnya. Kalo asal trial error aja khan namanya konyol. Wong sudah ada orang yang jatuh di lubang yang sama, kok kita nyemplung ke situ juga.

Contohnya, orang membeli barang bukan karena fungsinya saja, tapi juga karena 'lifestyle', suasana belanja yang nyaman, sekaligus kepastian harga murah, tanpa harus menawar. Bahkan banyak usaha yang tidak berfikir untung besar (margin) lagi, yang penting omset besar, karena keuntungan yang lain diperoleh dari propertinya. Kalau kita masih menggunakan strategi yang lama, ya sudah kuno. Jika dulu inovasi di bidang teknologi, sekarang bergeser ke desain yang unik dan menarik. Dan sebentar lagi tren itupun akan bergeser ke tren yang lain. Yang perlu digarisbawahi...., belajar itu tidak hanya di bangku kuliah saja. Karena saat kuliah, jurusan yang saya ambil (elektro) sangat jauh berbeda dengan dunia usaha saya, yang banyak berkecimpung di perdagangan dan marketing, maka saya memilih belajar dari buku, majalah, seminar dan training. Biaya trial error sangatlah mahal!

Kebo vs Ferari
Duluan mana sampenya? Tergantung! Kalo kebonya jalan, ferarinya diam aja, ya menang kebonya. Kalo sama-sama jalannya, ferari lebih cepat. Gimana kalo Ferari lawan Ferari juga dan sama-sama jalan? Tergantung juga, yang nyetir siapa dulu? Artinya, orang pinter kalau nggak berani action, ya nggak menang sama orang biasa tapi berani mencoba. Kalau sama-sama beraninya, yang punya ilmu ibarat punya petanya, bisa sampai lebih cepat karena paham jalannya. Gimana kalo nggak bisa naik ferari, bisa nggak nyampe sama-sama? Bisa aja, asalkan satu mobil. Artinya, kita bisa cari tim (partner atau karyawan) yang lebih pinter. Intinya, si ‘pelaksana’ bisnis haruslah orang-orang yang paham seluk beluk bisnis itu.

Jadi, untuk berhasil ada ilmunya, bukan asal jalan aja. Hanya saja kalau mau belajar, ya jangan ditelan mentah-mentah, dipilah dan diolah dulu, jangan-jangan ilmunya udah gak berlaku lagi di jaman sekarang.

You can not live with yesterday standard and expect extra ordinary income today!

Jaya Setiabudi
Pendiri Entrepreneur Association
Coach Entrepreneur Camp
Direktur Young Entrepreneur Academy
Komisaris Momentum Group
HP: 0811 777894
Email: masj@fone-mail.com
Web: www.yukbisnis.com

no image

Posted by On 02.52

Manusia diberi anugerah akal budi untuk bisa memerankan beberapa fungsi di berbagai kesempatan yang berbeda secara sama baiknya. Tak heran, Nuryana Saepudin bisa menjadi pendidik sekaligus pebisnis yang sukses. Russanti Lubis

Seorang akademisi selalu berpikir bahwa peluang itu diciptakan. Dan, peluang itu seringkali hanya muncul satu kali. Siapa pun yang dapat menangkap peluang itu, maka dialah yang akan berhasil. Nuryana Saepudin, Kepala Sekolah Menengah Atas Terpadu (SMAT) Krida Nusantara, Bandung, menciptakan dan menangkap peluang itu, ketika sedang kepepet. Saking banyaknya situasi kepepet yang menghampiri, Sarjana Pendidikan Fisika, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Bandung, ini terdorong untuk menjadikannya sebagai suatu kesuksesan.

“Awalnya, saya gagal mendapatkan apa yang menjadi hak saya yaitu gaji rapelan sebesar Rp750 ribu (sekarang sekitar Rp7 juta, red.). Kepepet oleh kondisi ini, saya tertantang untuk kreatif. Hasilnya, bila guru-guru lain mendapat gaji Rp350 ribu/bulan, saya memperoleh pemasukan Rp3,5 juta dalam jangka waktu enam bulan (di luar gaji), yang saya kumpulkan dari berjualan topi, badge OSIS, dan kaus olahraga di luar jadual mengajar saya. Hal ini, menempatkan saya dan keluarga dalam posisi hidup layak sebagai guru,” kata pria yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) sejak Agustus 1981 ini.

Dua tahun setelah menempati posnya yang baru, Master di bidang Ilmu Pemerintahan, Universitas Langlangbuana, Bandung, ini terpilih sebagai wakil kepala sekolah. “Biasanya, untuk bisa menduduki jabatan ini harus sudah memiliki masa kerja hingga 15 tahun. Karena itu, guru-guru lain mengajukan resolusi dan saya diturunkan dari jabatan saya. Kepepet lagi dengan kondisi ini, saya memutuskan untuk menjadi pebisnis tanpa mengganggu jadual mengajar saya. Awal 2003, bersama istri, saya mendirikan CV Gema Nuansa Tours & Travel,” tutur Direktur CV Gema Nuansa ini.

Bisnis ini dipilih, karena ia merasa memiliki pengalaman di bidang tour & travel. “Berdasarakan pengalaman itulah saya mampu merancang Tour of Operation (TO).

Jadi, nggak ribet lagi,” kata mantan tour leader ini. Adanya ketentuan di SMAT Krida Nusantara yang secara tidak langsung melarang para gurunya berbisnis, membuatnya menyerahkan operasional CV Gema Nuansa ke mitranya. “Sekarang saya pure PNS, tetapi akan menjadi mediator bila ada yang akan melakukan perjalanan wisata atau ibadah. Jadi, mitra saya bertugas mencari klien, sedangkan saya yang merancang TO-nya,” tambah motivator pada sebuah lembaga kajian ini.

Dari sini, Nuryana yang juga da’i  ini menyimpulkan bahwa menjalankan bisnis tidak harus moving, cukup dengan menggunakan handphone, telepon, atau fax. “Kita cukup memberdayakan pikiran kita, lalu biarkan orang lain yang menjalankannya, meski hasilnya tidak sebesar bila kita terjun langsung. Tapi, yang penting adalah bagaimana caranya membangun sistem,” jelasnya. Selain itu juga harus komit. “Komit sebagai guru ketika sedang mengajar dan komit sebagai pebisnis saat sedang menjalankan perusahaan. Kita tidak bisa hanya total pada satu bidang, karena akan membuat hidup kita kaku,” ujarnya. Selanjutnya, harus menjaga totalitas mutu, sehingga orang tidak akan mudah melupakan kita. “Kalau setiap tahun kita harus mencari pelanggan itu sulit, tapi menjadi mudah bila kita terus menjaga hubungan dengan pelanggan,” imbuhnya. Di akhir obrolan, Nuryana berpesan bahwa bisnis itu sesuatu yang unik dan indah untuk dimainkan. Jadi, yuk bermain (baca: berbisnis, red.)!