www.AlvinAdam.com


Majalah Pengusaha

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

no image

Posted by On 20.20

PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk, pada tahun ini lebih berkonsentrasi ke kredit usaha kecil dan menengah (UKM) dan Syariah. Bila tahun lalu dari total kredit sekitar Rp 66 triliun, porsi UKM mencapai  Rp 28,06 triliun atau sekitar 40%, untuk tahun ini akan tumbuh 20% dan pada tahun-tahun mendatang porsinya akan lebih besar. Kredit ritel, khususnya untuk UKM sudah dimulai sejak 2004 lalu. Untuk itu, manajemen BNI sudah membuat beberapa kebijakan yakni penyederhanaan prosedur, membangun sentra pelayanan kredit, termasuk pemberian kewenangan cabang yang terkait dengan realisasi penyaluran kredit kepada para UKM.  BNI juga menggandeng beberapa BPR untuk penyaluran kredit ke sektor pengusaha menengah kecil, serta membuat produk-produk kredit baru dengan skema yang ringan dan mudah. Salah satu produk menyediakan kredit kepada pebisnis UKM senilai Rp 50 – Rp 500 juta. Seperti dikutip Jurnal Nasional, untuk menyalurkan kredit ke sektor UKM, BNI telah memiliki 203 outlet yang terdiri dari 17 sentra kredit menengah, 47 sentra kredit kecil, 52 unit kredit kecil dan 87 cabang.

no image

Posted by On 03.18

Pedagang yang jujur sederajat dengan nabi, orang benar, orang shaleh dan syuhada di akherat kelak (Hadist)

Hadist tersebut merupakan suatu kabar gembira dari para pedagang (pengusaha) yang jujur. Bukan hanya dijanjikan kehidupan yang sejajar para nabi, orang shaleh dan syuhada di akhirat, pedagang yang jujur pun sudah bisa menikmati buah kejujurannya di dunia. ” Dengan mengutamakan kejujuran dalam berbisnis, Insya Allah sangat mendorong kemajuan dalam bisnis,” ujar Arifin Noor, pemilik Harifani Group, perusahaan yang memiliki bisnis mulai dari penjualan karpet, air isi ulang, Bakmi Tebet, Soto Banjar dan Paliat (masakan khas Tanjung Tabalong).

Menurut pria yang tercatat sebagai PNS Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Selatan ini, bisnis yang dilandasi nilai-nilai religius ( kejujuran dan kedermawana) sebagai satu kunci kemajuan bisnis. Ini nyata-nyata ia rasakan sendiri. Maka tak jarang, penghasilan yang ia dapatkan dari berbisnis ia kembalikan kepada masyarakat yang membutuhkan.  
”Penghasilan yang saya dapatkan saya kembalikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan, khususnya masyarakat desa yang ingin berusaha. Pada satu kesempatan mungkin saya membantu tukang cukur (mengkursuskan dan memberikan modal usaha), terkadang saya membantu tukang sayur dan pada kesempatan lain membantu tukang roti. Prinsipnya saya ingin membantu orang yang kesulitan tetapi mempunyai niatan untuk berusaha.” kata magister teknik ini seraya mengatakan beberapa orang yang dibantunya memang ada yang mengembalikan dana setelah mereka berhasil. Dan pintu untuk itu selalu ia buka kepada siapa saja yang serius berusaha. 

Dengan prinsip kejujuran dan kedermawanan ini usaha Arifin terus berkembang. Awalnya ia hanya berjualan karpet Lamongan pada 1994. Bersama sang istri, Hardiyanti, ia mulai melakukan ekspansi usaha dengan membuka outlet wartel di beberapa kota di Kalimantan Selatan. Kemudian ia membuka warung makan yang menunya spesialis kambing.
”Perkembangannya sangat baik,” ujar pria yang konon disebut-sebut mengalokasikan 80 persen penghasilannya untuk kegiatan membantu orang lain. ”Ya kita memang ada rencana ke sana (mengalokasikan 80 persen pendapatannya), tetapi yang penting sekarang adalah kita membantu orang yang membutuhkannya.” 
Pada 2000, Arifin kembali melakukan ekspansi dengan membuka bisnis air isi ulang di beberapa tempat. Bisnisnya terus bertambah. Ketika bertemu dengan Wahyu Saidi, bos Bakmi Tebet, Arifin tertarik bergabung. Kemudian ia mendirikan tujuh outlet Bakmi Tebet. Belakangan, Arifin mendirikan usaha Soto Banjar yang sudah ia waralabakan dan Paliat. 

Ditanya mengenai kunci perkembangan usahanya yang ekspansif ini, Arifin berujar ”dengan niat yang tulus bahwa setiap apa yang kami lakukan untuk menciptakan lapangan kerja. Dan keuntungan yang kami peroleh kami kembalikan lagi untuk menciptakan lapangan kerja, sehingga pendapatan kita terus datang tanpa kita duga, dan kepercayaan relasi kepada kami semakin bertambah.”

Karena, menurut Arifin, berbisnis atau berdagang itu pada dasarnya adalah tolong menolong. Maka dalam berbisnis jangan sampai ada orang yang dirugikan. ”Kunci utamanya pada kejujuran,” ungkap Arifin. Dan tentunya, rasa ikhlas untuk berbagi seperti yang telah selama ini ia jalani.  Terbukti, dengan sikap kejujuran dan kedermawanan pria yang sudah belajar berdagang sejak umur sembilan tahun ini mampu mengembangkan usahanya. Dan kehadiran usahanya tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri dan keluarga, tetapi juga bagi masyarakat desa, nun jauh di pelosok sana. (Sukatna)