Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Advertorial
Resto Area
Gitar Tirto Langganan para Musisi Tenar
Monday, 15 June 2009

Gitar TirtoTerobsesi untuk memiliki gitar yang bagus justru membuatnya menjadi seorang maestro pembuat gitar. Adi Waluyo

Tiga puluh tujuh tahun sejak gitar pertamanya terjual, kini karya Witirto sudah tersebar ke seluruh penjuru tanah air. Dewa Bujana, Piyu, Bahlawan, Ahmad Dani, Ernest Coklat, dan Ridho Slank adalah sebagian dari deretan artis yang jadi langganannya. Gitar buatannya dapat diadu kualitasnya dengan gitar merek-merek ternama. Bisnisnya mulai dikenal luas saat krisis moneter melanda tahun 1998. ”Orang tak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk dapat memiliki gitar yang bagus,” ujar Witirto, 61 tahun, yang akrab dipanggil Tirto ini.

Belum lama ini, seorang pengusaha dari Malaysia menawarkan suatu bentuk kerja sama pembuatan gitar yang berskala besar. Tapi Tirto masih mempertimbangkannya. Ia takut nanti gitarnya akan dicap buatan Malaysia.

Tirto mengatakan bahwa ia mulai mengenal gitar sejak duduk di bangku kelas 2 SD di Magelang ketika seorang tetangga mengajarinya memainkan lagu-lagu The Beatles. ”Saya juga dipinjami gitarnya. Gitar buatan Eropa memang bagus suaranya. Itulah yang memicu saya untuk bisa memiliki gitar yang berkualitas,” ujarnya.

Ia merasa tidak puas dengan gitar buatan lokal yang ada waktu itu, tapi koceknya tak cukup tebal untuk membeli gitar idaman. Hingga menginjak kelas 1 SMP, kakaknya, yang memang menguasai teknik pengolahan kayu, mengajarinya membuat gitar. Dengan modal sebuah gitar tua milik paman yang sudah tak terpakai lagi, Tirto mulai bereksperimen. ” Biar rusak, itu gitar dari luar negeri. Saya mau lihat jeroan-nya seperti apa? Saya rendam di bak mandi sampai lepas semuanya,” papar bapak 2 anak ini.

Setelah bagian-bagian gitar itu lepas semua, Tirto akhirnya tahu bahwa kayu yang dipakai berasal dari jenis yang bagus. ”Pantesan suaranya enak,” imbuhnya. Sejak saat itulah, tepatnya tahun 1961, ia lebih fokus untuk belajar membuat gitar daripada memainkannya.

Hobi ini tetap dibawanya serta ketika ia hijrah ke Jakarta setelah kenaikan kelas 1 SMP. Lulusan SMA 8 Bukit Duri ini kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Tujuh Belas Agustus di jurusan Tata Niaga.

”Selama tahun 1961 sampai 1971 saya sering bikin gitar. Tiap selesai membuat saya pajang di rumah. Teman-teman saya maunya gratisan, maen bawa aja,” seloroh Tirto mengenang sikap sobat-sobatnya dulu.

Kepercayaan sebagai seorang guitar maker mulai muncul ketika seorang temannya datang berkunjung ke rumah. Kebetulan ada sebuah gitar yang baru selesai dibuat. Sang teman kemudian memainkan dan terpesona oleh suaranya. Tanpa ragu, ia menulis cek sebesar US$ 75 untuk membeli gitar Tirto. Dengan kurs sekitar Rp 2.000,- di tahun 1971, berarti gitarnya laku Rp150.000. Padahal di Pasar Rumput waktu itu, sebuah gitar hanya dibandrol Rp 7.500 sampai Rp15.000.

”Percaya diri saya timbul karena teman saya itu seorang pemain betulan yang sudah sering manggung di mana-mana. Sejak tahun 1971 itulah saya merasa gitar saya sudah layak jual,” tambahnya.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 88/2008
 
© 2010 Majalah Pengusaha - Referensi Usaha Anda