|
Page 1 of 2 Sejauh ini, ikan masih dipandang kalah gengsi dibandingkan ayam, sapi, kerbau, dan kambing. Tapi, setelah diolah menjadi ikan asap ala Amril, lauk siap makan ini mampu menembus pasar swalayan besar, bahkan melanglang buana. Russanti Lubis
Sebagian besar anggota masyarakat berpikir bahwa makan daging ayam, sapi, kambing, atau kerbau lebih bergengsi dibandingkan makan daging ikan, mengingat harga daging keempat hewan tersebut di atas jauh lebih mahal daripada daging ikan. Padahal, meski lebih murah, ikan juga sama gurih dan lezatnya dengan ayam, sapi, kambing, dan kerbau. Selain itu, ikan juga mengandung sejumlah khasiat bagi tubuh karena mengandung di antarnya omega-3 yang merupakan komponen penting dalam pembentukan otak dan omega-6 yang dapat menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.
Di sisi lain, di luar sana telah terjadi pergeseran menu makanan yaitu dengan beralih ke makan ikan. Untuk itu, agar orang-orang mau makan, satwa air ini diolah menjadi berbagai menu makanan. Bukan sekadar dibakar, digoreng, digulai, atau dipepes melainkan juga diolah menjadi ikan asap. Bertolak dari hal itulah, H. Amril Lubis mengolah ikan asap di “pabriknya” yang terletak di Citayam, Bogor.
Namun, berbeda dengan pengolahan ikan asap pada umumnya yang masih bersifat home industry dan memakan waktu 24 jam–26 jam, ikan asap hasil karya Amril hanya membutuhkan waktu empat jam demi alasan efisiensi, tanpa mengurangi kelezatan rasanya. Keuntungan lain dari hasil karyanya ini yaitu rasio ikan yang dihasilkannya yaitu 1:1,8 (1 kg ikan asap dihasilkan dari 1,8 kg ikan segar) padahal aslinya 1:5 (1 kg ikan asap dihasilkan dari 5 kg ikan segar). “Tapi, dengan alasan ekonomis, biasanya saya 1:3 (menghasilkan 1 kg ikan asap dari 3 kg ikan segar). Dengan cara ini, kadar gizi ikan asap saya juga lebih tinggi,” jelasnya. Pada dasarnya, ia melanjutkan, semua jenis ikan dapat diasapi, terutama yang berdaging tebal, seperti ikan patin dan ikan lele (ikan tawar) serta ikan marlin, ikan tuna, dan ikan cakalang (ikan laut). “Ikan-ikan segar yang kami ambil dari Muara Angke dan Muara Baru tersebut, kami olah secara tradisional. Dalam arti, tidak menggunakan bahan kimia dan bumbu apa pun, sehingga ikan yang dihasilkan asli rasa ikan tersebut. Singkat kata, ikan asap itu lezat karena daging ikan itu memang enak. Nah, untuk menambah kelezatannya, saya sarankan untuk menyantapnya cukup dicocolkan ke sambal instan atau sambal kecap,” ujarnya.
Lauk siap makan ini, juga mampu bertahan selama setahun dan aman atau terbebas dari bau busuk, sebab disimpan dalam lemari pendingin bersuhu –15° C. Untuk menyantapnya harus dipanaskan dalam oven/microwave atau dikukus terlerbih dulu. Dengan merek dagang Aneka Ikan Asap Citayam yang diproduksi oleh Petikan Cita Halus, produk ini dapat dijumpai di UKM Center Tanah Abang, Jakarta Pusat, dan Giant-Hero dengan harga Rp48 ribu–Rp80 ribu/kg (dalam bentuk curah), Rp15 ribu–Rp20 ribu (untuk kemasan 205 gr). Namun, dengan pemasaran ke seluruh Indonesia melalui pasar swalayan tersebut dan Uzbekistan, Kyoto, serta Kuala Lumpur, omset yang dikumpulkan Amril jauh lebih kecil dari yang diharapkan. “Sebagai UKM, saya masih membutuhkan dukungan dana dan pemasaran,” kata Amril, yang dalam waktu dekat ini produknya juga dapat dijumpai di Makro dan Carrefour. Merunut ke belakang, setelah pensiun dari sebuah perusahaan perminyakan (tahun 2001), Amril ingin membuka usaha pembenihan ikan di 11 kolam ikannya yang masing-masing seluas 23 m² x 13 m². Di kolam-kolam tersebut, ia menebarkan benih-benih ikan emas, patin, gurame, bawal, nila, lele, dan tembakang, masing-masing sebanyak 10.000 benih. Sekadar informasi, waktu itu, harga 10.000 benih ikan hanya Rp1 juta. “Saya bukan ahli perikanan tetapi cuma ingin berbisnis pembenihan ikan. Imbasnya, saya terkaget-kaget ketika 8–9 bulan setelah benih ditebarkan, saya harus memanen 5 ton ikan. Meski sudah dimanfaatkan dengan berbagai macam cara dan dibagikan kepada para tetangga, ikan-ikan ini tetap tidak habis,” tutur alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi YAPPAN, Jakarta, ini.
Untuk mendapatkan nilai tambah, pada pesta ulang tahun putrinya (tahun 2002), ia mengolah ikan-ikan tersebut menjadi ikan asap yang sebagian dibagikan kepada para tetangga. Komentar mereka, ikan asap itu enak. Selanjutnya, ia membagikan ikan-ikan asapnya ke mantan teman-teman kantornya. “Hasilnya, mereka langsung memesan 2 kg–3 kg,” ujar kelahiran Lubuk Sikaping, Sumatra Barat, 62 tahun lalu itu.
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|