Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Advertorial
Resto Area
Potensi Besar Singkong Raksasa
Tuesday, 24 March 2009

Tjutju Juniar Sholiha, PT. Biofuel Bigcassava HidayahSelain dimanfaatkan sebagai bahan makanan, singkong raksasa juga dapat diolah menjadi gasohol –bahan pengganti BBM. Potensi bisnisnya masih terbuka, karena belum banyak yang tertarik mengembangkannya. Wiyono

Pada tahun 60-an orang mengenal nama singkong mukibat, persilangan pohon singkong secara okulasi antara varietas singkong biasa dengan singkong karet. Hasilnya berupa ubi kayu berumbi besar akan tetapi kandungan senyawa sianida (HCN) rendah dan tidak pahit sebagaimana singkong karet, jadi aman buat dikonsumsi. Setiap hektar kebun singkong biasa setahun rata-rata mampu menghasilkan 30 ton umbi segar, sedangkan singkong hasil silangan itu bisa mencapai 66 ton/tahun atau sekali masa panen. Sayangnya, kemudian seiring waktu akhirnya singkong mukibat nyaris tidak terdengar kabar beritanya lagi.

Sejatinya potensi singkong  untuk dijadikan komoditas tidak boleh dianggap remeh. Peluang bagi pengembangan usaha budi daya singkong sangat terbuka sebab beragam jenis industri memanfaatkan singkong sebagai bahan baku. Kurang lebih terdapat 14 macam produk turunan dibuat dari produk olahan berbahan dasar singkong, baik gaplek, chips, pellet, maupun tepung tapioka. 

Kebutuhan pasar dalam negeri misalnya pada industri makanan dan minuman (kerupuk, sirup), industri tekstil, industri bahan bangunan (gips, keramik), industri kertas, serta industri pakan ternak. Sedangkan peluang ekspor dengan tujuan negara-negara Masyarakat Ekonomi Eropa, Jepang, Korea, China, Amerika Serikat, Jerman, digunakan sebagai bahan baku farmasi, bahan baku industri lem, bahan baku industri kertas, bahan baku industri pakan ternak, atau malah sebagai bahan baku BBM alternatif biofuel.

PT. Biofuel Bigcassava HidayahSeperti diketahui, penelitian tentang bahan pengganti BBM salah satunya dari ubi kayu atau yang dikenal dengan sebutan gasohol atau gasoline-alkohol sedang giat dilakukan. Menguragni ketergantungan pada BBM yang diyakini bakal habis ditambang dapat dilakukan dengan mencampur etanol kedalam bensin. Etanol mengandung 35 % oksigen yang meningkatkan efisiensi pembakaran dan juga menaikkan oktan. Kelebihannya, etanol  bisa terurai sehingga mengurangi emisi gas buang berbahaya. Sebagai gambaran, pada tahun 2004 konsumsi bensin 15 juta kilo liter. Jika 20 % saja diganti dengan gasohol BE-10, berarti penghematan 3 juta kilo liter bensin. Apabila satu liter bioetanol dihasilkan dari 6,5 kg singkong, artinya butuh 2 juta ton singkong dari lahan 100.000 Ha.

Sekarang pun di daerah Lampung, seperti halnya di Sulawesi Selatan serta di beberapa daerah lainnya sudah ada beberapa pengusaha yang mulai serius menggarap budi daya singkong tersebut. Masing-masing luas lahan dapat lebih dari 500 ha/kebun atau bahkan mencapai ribuan hektar. Bibit singkong yang ditanam umumnya juga merupakan bibit unggul seperti Manggi (dari Brasil) dengan hasil rata-rata 16 ton/Ha, Valenca (dari Brasil) dengan hasil rata-rata 20 ton/Ha, Basiorao (dari Brasil) dengan hasil rata-rata 30 ton/Ha, Muara (dari Bogor) dengan hasil rata-rata 30 ton/Ha, Bogor (dari Bogor) dengan hasil rata-rata 40 ton/Ha, jenis unggul dan genjah (cepat dipanen), Malang-1 dan Malang-2 dengan hasil rata-rata 37 ton/Ha dan 35 ton/Ha. Bahkan seorang pengusaha dari Sukabumi, Tjutju Juniar Sholiha, juga telah mengembangkan jenis ubi kayu varietas unggul yang dinamakan singkong Darul Hidayah (DH).

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 89/2008.
 
© 2010 Majalah Pengusaha - Referensi Usaha Anda