Advertisement
Advertisement
Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Advertorial
Resto Area
De Santa Flora, Budidayakan Krisan Dengan Kultur Jaringan
Monday, 23 February 2009

de Santa FloraPermintaan bungan krisan di pasaran masih tinggi. Bahkan De Santa Flora baru bisa memasok pasar Jakarta 2.000 ikat/per minggu dari permintaan 5.000 ikat/minggu. Tertarik membudidayakannya? Wiyono

Popularitas krisan sebagai bunga potong bisa diibaratkan seolah-olah bisnis bunga potong identik dengan krisan itu sendiri. Harga jualnya boleh jadi tidak sefenomenal jenis tanaman hias lain, tetapi karena pasar domestik maupun ekspor luar biasa besar sehingga banyak yang melirik komoditas satu ini sejak lama. Di Jakarta, setiap minggunya sentra-sentra usaha bunga hias menyerap pasokan ratusan ribu ikat bunga krisan dari berbagai tempat. Demikian pula di luar negeri seperti Singapura, Hongkong, Taiwan, Korea, dan Jepang, umpamanya, setiap hari butuh jutaan batang bunga krisan.

Pasar yang menggiurkan itu akhirnya membuat Agung Wahyudi dan rekan-rekannya tertarik pada budidaya krisan. Mereka berlima sampai saat ini masih aktif bekerja di perusahaan, namun sejak awal 2008 memutuskan berbisnis tanaman krisan di daerah Puncak secara patungan. Agung yang lulusan sekolah tinggi pertanian sebagai pengelola usaha dengan nama De Santa Flora itu. Karena kebutuhan pasarnya memang luar biasa, pada tiga bulan awal saja (begitu panen pertama) mereka sudah mendapat permintaan dari Jakarta 5.000 ikat/minggu. Padahal saat itu baru mampu memenuhi sebanyak 2.000 ikat saja (1 ikat = 10 batang-red). 

“Prospek krisan sangat bagus, apalagi beberapa pemain lama produksinya justru mulai surut. Setelah 15-20 tahun beroperasi biasanya kondisi lahan akan mulai jenuh dan muncul hama/ penyakit, perlu pembaruan,” Agung menengarai. “Sebelum membangun usaha ini saya kontak dulu dengan pasar. Jenisnya yang dicari apa saja, saya coba tanam dan ditawarkan dengan harga Rp10 ribu/ikat. Jadi omset Rp20 juta/minggu atau Rp80 juta/bulan, sedangkan biaya produksi sekitar Rp50 juta/bulan tiap 1 Ha. Saya juga jual bibit kepada para petani setempat, lalu hasil panen mereka saya ambil,” ungkapnya.

Meskipun De Santa Flora ibarat baru seumur jagung, tetapi Agung dkk memang selangkah lebih maju dibandingkan para pemain lama, sebab untuk pembibitan mereka adakan sendiri lewat kultur jaringan. Petani krisan lokal secara umum memiliki permasalahan yang sama, bibit berkualitas masih harus diimpor, biasanya didatangkan dari Belanda. Bibit tanaman krisan yang didatangkan dari luar negeri tersebut dinamakan G1. Untuk dijadikan anakan (pitching), G1 hanya dapat bertahan sampai 7 bulan lamanya. Setelahnya tidak layak untuk tetap dijadikan indukan karena kualitas produksinya akan turun. Jadi petani harus mendatangkan lagi tanaman baru yang sejenis. Hal ini penting karena kualitas hasil panen otomatis mempengaruhi harga jual di pasaran. Sementara harga satu tanaman induk untuk di-pitching Rp2.000.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 87/2008.

 
© 2010 Majalah Pengusaha - Referensi Usaha Anda