Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Advertorial
Resto Area
Sutarjo, Hidupnya Tak Jauh dari Ikan
Tuesday, 15 July 2008
Ikan Bakar SutarjoHidup Sutarjo tak pernah bisa jauh dari hewan berhabitat air itu. Dulunya ia seorang nelayan, sekarang sukses menjadi juragan ikan (bakar) . Wiyono

Ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri. Banyak yang mempercayai kebenaran ungkapan itu. Maka merantau ke Jakarta tanpa bekal pendidikan, pengalaman kerja, atau mungkin kecukupan modal buat membuka usaha jangan harap mampu bertahan hidup. Sebab tidak sedikit kejadian, di tengah sengitnya persaingan hidup setumpuk ijasah pun acap tidak membantu banyak alias terbuang percuma.
Tetapi Sutarjo seolah hendak menepis itu. Karena tidak puas selama 12 belas tahun hanya menjalani hidup sebagai nelayan di Pacitan, Jawa Timur, ia nekat mengadu peruntungan di kota. Hanya bermodal satu tekad, ingin mandiri dengan memulai penghidupan baru tahun 1990 ia berangkat ke Jakarta bersama istri dan seorang anaknya. Dan buktinya, setelah sekian tahun segala perjuangannya tidak sia-sia. Nama resto Ikan Bakar “Pak Tarjo” Permata Hijau sekarang telah memiliki beberapa cabang dan selalu ramai. Sedangkan pembelinya mulai dari kalangan orang biasa, artis, dan pejabat.

Sejumlah selebriti, mulai dari penyanyi hingga artis sinetron, semacam Gunawan, Desy Ratnasari, pemeran Ucil, serta para kru sinetron Si Doel Anak Sekolahan dan lain-lain termasuk di antara penggemar ikan hasil bakaran Sutarjo. “Banyak sekali, deh. Terus bapak-bapak anggota MPR/ DPR yang ke sini rasanya tiap hari,” tukas pria ramah ini tanpa memerinci.

Keberhasilan Sutarjo jelas tidak diraih semudah membalik telapak tangan. Mengandalkan ijasah SMP apa lagi tanpa embel-embel sertifikat pengalaman kerja jelas mustahil. Jatuh-bangun sebagai orang susah sempat dialami saat meretas langkah dari nol, dari pengalaman pahitnya ditipu orang maupun upaya keras bekerja siang-malam. “Kalau diriwayatkan kisah saya pahit banget,” tukas pria kelahiran 1968 itu mengawali riwayatnya.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta Sutarjo dan keluarganya menempati kontrakan sempit di daerah Kreo berharga sewa Rp 7 ribu sebulan. Beruntung tidak lama mendapatkan pekerjaan di Cipete sebagai cleaning service. Untuk menghemat pengeluaran dari kontrakan sampai ke tempat bekerja ditempuh dengan berjalan kaki.

Selang dua bulan bekerja Sutarjo memutuskan keluar. Dari uang sisa gaji bulan kedua ia belikan gerobak untuk berdagang sayur keliling. Hanya sekitar dua bulan berdagang, dirinya kembali melamar pekerjaan sebagai satpam dan pindah ke Kampung Rawa. Tetapi ternyata penghidupan sebagai satpam waktu itu juga tidak lebih baik, gaji yang diterima sekadar cukup untuk bayar uang kontrakan. Untuk menyambung hidup hingga sebulan, Sutarjo memberanikan diri meminta kayu kaso dari toko bangunan di depan tempat kerjanya. Akhirnya dengan sisa uang Rp 30 ribu di tangan, istrinya dibuatkan kios rokok di dekat lapangan tenis di daerah Plumpang.

Sekitar setahun kemudian atas ijin istri Sutarjo mencoba lagi berdagang sayur. “Karena gaji satpam tidak memungkinkan, saya keluar,” ujarnya. Lalu berjalan satu bulan kemudian, ia telah memiliki sedikit tambahan modal usaha dan mulai berjualan air minum kemasan meski dengan cara hutang terlebih dulu. “Ceritanya, setelah punya warung rokok, kebetulan ada langganan pedagang teh botol keliling. Karena dagang sayur biasanya hingga pukul 10.00, saya hutang minuman satu dus, jualan lagi di lampu merah,” tuturnya lebih lanjut.

Ikan Bakar SutarjoPria ini benar-benar tak kenal lelah. Pagi-pagi, selesai menyiapkan warung rokok yang dijaga Triyati, istrinya, ia segera berangkat menjajakan sayur-mayur. Rampung berjualan, tanpa beristirahat dulu ia langsung memanggul minuman kemasan untuk kembali berdagang di lampu merah. Sore sekitar pukul 5.00 ia pulang, mandi, shalat, baru menyusul istrinya, ganti menunggui kios rokok sambil menjual mie rebus hingga jam 12.00 malam. Sementara pagi buta, jam 03.00 ia sudah harus ke pasar belanja sayur.

Usaha keras tersebut akhirnya sedikit membuahkan hasil. Pada 1995 kios rokok miliknya sudah berubah menjadi warteg dan setahun kemudian ia pun mulai berjualan sayur keliling. Pada waktu itu ia sudah mampu beli motor dan punya dua orang karyawan. Tetapi malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih. Begitu terjadi kerusuhan pada akhir 1997 keadaan kembali berbalik. Ia mengaku, sesudah kejadian itu semua usaha seret dan sulit sekali mencari uang. Ia sempat habis-habisan dan tinggal mengantongi uang Rp 20 ribu.

Dalam keadaan bingung sehingga nyaris putus asa sebab merasa semua usaha sudah dijalani dan dikerjakan sekuat mungkin, ia hanya mampu berdoa. “Seolah mendapat hidayah, saya jadi teringat kalau pernah menjadi nelayan,” kenang Tarjo. Sutarjo jelas bukan hendak mengulang mata pencaharian yang sama, sebaliknya timbullah gagasan membuka usaha ikan bakar. Walaupun sempat ragu karena tidak cukup modal, atas dukungan istri semangatnya kembali bangkit. “Insyaallah, asal berusaha disertai doa dengan yakin pasti berhasil,” ucapnya menirukan istrinya waktu itu. Benar juga, dari sedikit, tiap kali belanja, jualannya selalu habis. Dasar jalannya memang dari situ, kehidupannya pun mulai membaik.



 
© 2010 Majalah Pengusaha - Referensi Usaha Anda