Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Advertorial
Resto Area
Gunung Emas di Hari Tua
Monday, 21 April 2008

Kesibukannya sebagai pegawai negeri memang menjadi salah satu kendala Ida untuk mengembangkan bisnis agribisnisnya. Usaha yang dirintis belum lama itu mulai berbuah, meski belum maksimal. Rian S.

Kawasan seluas lebih 3 hektare di desa Serna Leba, Cariu, Cianjur, Jawa Barat, terlihat sangat teduh. Bukan karena banyaknya pepohonan seperti layaknya desa di sekitar situ, namun beragamnya jenis tanaman yang memang sengaja di budidayakan oleh pemiliknya, Mun Farida, seorang PNS yang bekerja di lingkungan Pemprov DKI.  Di kebun yang luas itu telah ditanam antara lain kayu gaharu, mentimun, lada perdu , kacang-kacangan, nilam, buah-buahan, peternakan kambing, padi, dan belewah. 

Selain kebun, Ida, panggilan akrab Mun Farida, juga mengembangkan budidaya ikan gurane, lele dan padi organik. Dari, sekian banyak tanaman tersebut, yang sekarang tengah dikomersialkan adalah padi organik. Tanaman nonpestisida itu dijual dengan dengan brand IDA, padi dalam kemasan 5 kilogram, sebuah merek dagang agribisnis yang diambil dari nama panggilannya sehari-hari.

IDA dijual dengan harga Rp 55 ribu atau Rp11 ribu per kilogramnya.  Harga ini agak murah dibanding dengan jenis organik Jepang yang mencapai Rp28 ribu per kilogramnya. Tapi bila dibanding dengan beras biasa yang memakai pupuk kimia, beras organik varietas Sl8 ini lebih mahal.  Di pasar terdapat beras organik yang harganya murah dan hampir sama dengan beras biasa. Namun itu, menurut Ida, adalah produk padi yang ditanam dengan pupuk organik sederhana. Banyak bahan-bahan yang bisa dibuat pupuk organik. Tapi, hasilnya kadangkala jauh dari harapan. “Kami menggunakan pupuk organik spesial, maka harganya lebih mahal,” katanya.

Meski pasarnya masih terbatas dari para kolega dan relasinya, namun permintaan dari luar Jakarta terus meningkat.” Untuk sementara kami masih menangani konsumen yang membutuhkan. Terutama di kantor-kantor di Jakarta dan sekitarnya,” ujar Nuraini Sukri, manajer pemasaran IDA.

Menurut Ani, memasarkan beras organik tidak segampang menjual beras biasa. Banyak konsumen yang belum familiar dengan beras jenis ini. Namun, dengan makin gencarnya publikasi kembali ke alam dan bahayanya penggunaan bahan-bahan kimiawi pada tanaman, beras organik perlahan-lahan terangkat. Di Jakarta kini telah berdiri supermarket, pasar dan resto yang khusus menjual produk tanaman organik.

IDA memang belum dikenal secara komersial. Tapi, dikalangan tertentu produk ini mulai diminati konsumen. Hampir di lingkungan Pemprov DKI, produk ini sudah popular. Meski pemasaran baru sebatas mulut ke mulut dan relasi pertemanan. Tahun ini, IDA telah berpromo lewat media cetak walau secara kecil-kecilan. “Kami baru sebatas ini mengingat produksi juga masih terbatas,” ujar Ani.

Keterlibatan Ida di dunia agribisnis dimulai pada 2000 lalu. Saat itu, dia hanya bermaksud berinvestasi tanah untuk simpanan hari tua. Kebetulan, sopir pribadinya menawarkan tanah murah di kawasan Cariu. Lalu dengan modal seadanya, dia mulai membeli lahan  seluas 3 hektare lebih. ”Terus terang saat membeli lahan itu murah, karena lokasinya sulit dijangkau. Total tanah yang saya beli  senilai Rp 60 juta dan itupun saya angsur beberapa kali,” ujarnya.

Harga tanah di kawasan Cariu memang murah. Tapi sejak dibangun taman pemakaman khusus untuk etnis China, harganya bergerak naik.  Jalan becek yang dulunya sulit dilalui mobil kini berubah menjadi jalanan beton dan aspal.  Sungai yang dulu tak bisa dilalui mobil, kini bisa dilewati kendaraan berkat jembatan beton yang dibangun oleh seorang konglomerat pemilik lahan kuburan tersebut. Taman Quiling, kuburan mewah yang menjadi saingan kuburan sejenis milik Grup Lippo telah berdiri megah di sebuah gunung. “Saya bersyukur adanya perubahan itu. Karena akses mudah, termasuk mengangkut hasil produksi,” ujar Ida.

Sebelum berbisnis beras, Ida memulai budidaya ikan lele dan gurami. Namun ini tak membawa hasil. Inevstasi yang dibenamkan dan berharap dapat memanen ikan lenyap tak berbekas. Dia mengakui lemahnya pengawasan menyebabkan investasinya kandas. Tak berlangsung lama, dia memulai melirik tanaman padi organik. Pergaulannya dengan Haji Dicky Zainal Arifin, pemilik CV Hikmatul Iman, Bandung, menyebabkan dia paham betul mengenai tanaman organik.

Akhirnya, Ida memulai menanam beras.  Varietas yang dikembangkan adalah varietas yang bnyak ditanam petani di sekitar situ. Hanya, bedanya, dia menggunakan pupuk organik DZA—akronim dari Dicky Zainal Arifin---yang dikembangkan Dicky. Hasilnya cukup menggembirakan. Per hektarenya, rata-rata menghasilkan padi 4-5 ton padi kering. Dari segi hasil, memang kalah dengan padi yang menggunakan pupuk kimia. Namun dari sisi ketahanan, padi organik lebih tahan hama ketimbang yang menggunakan pupuk kimiawi. Meskipun, varietas padi yang ditanam sama.

Keberhasilan Ida tampaknya menular ke beberapa petani di kawasan Cariu.  Kini banyak petani di desa Serna Leba yang beralih ke padi organik.  Ini menjadi peluang bisnis bagi Ida. Dia, akhirnya menjadi distributor pupuk DZA untuk para petani.  Selain itu, dia juga menjadi pemasar produk para petani untuk beras organiknya. “Terus terang untuk melayani kebutuhan pasar produksi kami belum seberapa. Kami masih butuh banyak beras organik untuk melayani permintaan di beberapa daerah,” katanya.

Ida kini melibatkan beberapa petani untuk mendukung produksi beras organiknya. Petani ini dibagi dalam beberapa kelompok yang masing-masing mengelola lahan beberapa hektare.  Selain distributor pupuk, Ida juga menjual bibit padi organik bagi siapa yang membutahkan. Bibit itu hasil riset yang dikembangkan bersama para petani setempat. Di lokasi dekat peternakan lele dan guraminya, bibit padi itu dibudidayakan. “Pasarnya masih terbatas di Cariu dan sekitarnya,” ujarnya.

Ida memang belum berniat mengembangkan usaha ini dalam skala yang lebih luas lagi. Pasalnya, SDM yang dimiliki terbatas.  Dia hanya memberdayakan masyarakat sekitar yang ngganggur atau petani yang memiliki lahan terbatas.  Baginya, menolong orang yang kesusahan adalah amanah yang harus dijalankan selagi dia mampu.  Kesibukan di kantor sangat menyita waktunya. Kadangkala hanya seminggu sekali atau dua kali mengunjungi lahan pertaniannya. Toh ini tidak menyurutkan semangatnya untuk menekuni dunia agribisnis. Sekarang, bersama kelompok taninya, tengah mengembangkan budidaya belewah manis. Sejumlah lahan telah disiapkan, dan tentunya juga mengajak para petani setempat.

Baru setelah pension, Ida berniat menggeluti secara total agribisnis yang tengah dirintisnya sekarang. Padi telah berhasil. Sebentar lagi belewah. Kambing masih dalam tahap perkembangan, tanaman kacang-kacangan sudah mulai panen. Dan lag, kayu gaharunya yang dalam beberapa tahun akan bernilai ratusan juta rupiah. Sungguh, merupakan gunung emas di hari tua.

 
© 2008 Peluang Usaha dan Solusinya