|
Page 1 of 2 Selama ini tak banyak yang bisa menambah added value komoditas kelapa. Padahal ada 1.600 item produk yang bisa dihasilkannya. Wiyono
Anda pernah mendengar sirup air kelapa (sirkel)? Ya, sejatinya sirup hasil pengolahan limbah air kelapa tersebut hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak produk yang bisa dikembangkan dari hasil tanaman kelapa. Menurut Wisnu Gardjito, pengusaha plus aktifis yang menaruh perhatian besar pada komoditas tumbuhan tropis satu ini terdapat 1.600 item produk akhir kelapa, primer maupun skunder. Direktur Improvement Institute yang juga dosen Akademi Pimpinan Perusahaan di bawah Departemen Perindustrian tersebut, dalam tugasnya mengembangkan agroindustri empat komoditas di Kawasan Timur Indonesia (coklat, kelapa, jagung, dan ikan) berkesimpulan, dari empat komoditas di atas maka paling strategis untuk dikembangkan adalah kelapa. Wisnu memiliki sejumlah argumentasi. Area tanaman kelapa di Indonesia tercatat terluas di dunia tersebar di Riau, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, NTT, serta daerah-daerah lain, mengungguli Philipina yang memiliki 3,1 juta hektar disusul India dengan 1,1 juta hektar lahan. Tetapi uniknya, di Indonesia karakteristik usaha budidaya tanaman kelapa dimiliki oleh rakyat. Sebanyak 96% merupakan perkebunan rakyat yang diusahakan di kebun dan atau di pekarangan, secara monokultur atau kebun campuran. Jumlah petani kelapa lumayan besar, melibatkan sekitar 25 juta warga. Berarti apabila itu dimaksimalkan maka akan menopang hajat hidup sejumlah besar penduduk.
Ironisnya, pada saat ini nilai ekonomi kelapa dihargai sangat murah. Kian merosotnya harga jual kopra, akhirnya menyebabkan kecenderungan masyarakat makin membiarkan tanaman ini dalam kondisi tidak terawat sehingga berdampak makin anjloknya produktifitasnya. Maka Wisnu berpendapat perlu ada upaya sistem pengembangan terpadu melalui usaha-usaha kelompok/ klaster agar tercipta kesempatan nilainya melompat ke tingkat yang jauh lebih tinggi. Sebut saja pengolahan kelapa menjadi produk virgin coconut oil (VCO), misalnya. Peraih gelar Doktor Teknologi Industri Pertanian IPB cum laude itu menyebutkan, nilai tambah hasil pengolahan aneka produk berbahan dasar kelapa mampu mencapai 8800% dari harga sekarang. Soal teknologi pembuatan segala macam produk juga tidak perlu khawatir, sebab semuanya sudah kita miliki. Apalagi, Wisnu menyebutkan alasan terakhir, pasokan untuk kebutuhan pasar dunia nyaris masih kosong, total hanya sekitar 1,8% yang telah terisi.
Menyadari hal itu, sejak 1999 mulai serius mengembangkan usaha berbasis kelapa. Sejatinya rintisan usaha sudah dilakukan keluarganya sejak 1996, berbendera usaha Sumber Rejeki dengan produk awal berupa kecap. Kemudian fokusnya mulai diperluas ke produk-produk lain sehingga akhirnya berkembang menjadi perusahaan agri specialist & agri trading. Dan sampai sekarang usaha yang kini dikelola bersama Vipie Gardjito, istrinya, itu telah berkembang sekitar 40 jenis, antara lain sabun, minyak goreng, arang batok, asap cair, body lotion, lotion anti nyamuk, VCO, dan lain-lain semua berbahan dasar kelapa. Terakhir kali, mereka mengenalkan produk sirup berbahan limbah air kelapa. Karena ketersediaan bahan baku tersebar meliputi wilayah dengan kondisi geografis yang luas, maka industri pengolahan produk kelapa tidak mungkin ditempatkan berpusat di satu titik, sebaliknya ikut menyebar di area sentra produksi kelapa. Secara singkat Wisnu menggambarkan, dari keseluruhan produk, Sumber Rejeki tidak selalu memproduksi langsung melainkan berposisi sebagai penampung sekaligus memperbaiki produk petani sebelum dipasarkan. Di sisi lain, melalui lembaga Improvement Institute yang ia pimpin, Wisnu giat menggalang dan melakukan pembinaan klaster-klaster di tengah-tengah masyarakat petani kelapa. Pembinaan itu meliputi technology transfer, pendanaan, sekaligus membuat semacam awareness program bagi pasar lokal hingga global.
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|