|
Layaknya anak sekolah, di Sekolah Stroke mantan penderita stroke ini diajari berbagai kegiatan seperti berkesenian, bermain dan menjalankan aktivitas lainnya. Juga mengerjakan pekerjaan rumah. Russanti Lubis
Tahukah Anda bila di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, red.), setiap hari terdapat 60 orang yang terkena stroke? Tahukah Anda jika Indonesia merupakan negara ketiga di dunia, yang memiliki penderita stroke terbanyak. Saat ini, tercatat sekitar 1 juta orang yang pernah atau sedang terkena stroke di negara ini. Menurut Yayasan Stroke Indonesia, jumlah ini akan bertambah dua kali lipat pada 2020.
Bukan cuma itu, “pembunuh” manusia yang menempati peringkat ketiga setelah jantung dan kanker tersebut, akhir-akhir ini juga menunjukkan kecenderungan sering menyerang generasi muda, yang notabene masihberada di usia produktif. Selain itu, silent killer ini menyebabkan 50% penderitanya menderita cacat, baik yang bersifat ringan (tangan kaku, jalan pincang atau diseret) maupun berat (hanya mampu berbaring di tempat tidur hingga ajal menjemput, tidak mampu berkomunikasi atau berbicara). Namun, tidak berarti mantan penderita stroke tidak akan pulih seperti sediakala. Bahkan, untuk mereka yang segera di bawa ke dokter kurang dari tiga jam setelah terjadinya serangan, akan terbebas dari kelumpuhan. “Datanglah ke dokter tiga hingga enam jam setelah serangan. Setidaknya, hari itu terkena stroke, hari itu pula segera dibawa berobat. Lewat periode itu, kemungkinan sembuh juga tetap ada tetapi prosesnya lebih lama,” jelas Hermawan Suryadi, dokter spesialis syaraf sekaligus salah satu pendiri dan pemilik Karmel Stroke Centre (sekolah stroke, red.) Problemnya, lama atau sebentarnya kesembuhan pasien bukan cuma tergantung pada cepat atau lambatnya penanganan, melainkan juga bagaimana keluarga pasien menanganinya, setelah yang bersangkutan pulang dari rumah sakit. Biasanya, para penderita stroke tidak mendapat perawatan yang baik dari keluarganya. Di satu sisi, keluarga mereka juga tidak tahu harus berbuat apa. Dibawa ke dokter pun hanya akan diberi resep. Dan, itu tidak cukup. Karena, mereka juga harus menjalani rehabilitasi dan revalidasi. Di sisi lain, fasilitas terapi stroke yang dimiliki hampir semua rumah sakit di Indonesia, tidak terpadu dan tertata manajemennya. “Dengan alasan itulah kami mendirikan sekolah stroke ini,” imbuhnya. Sekolah stroke, Hermawan melanjutkan, merupakan sekolah rehabilitasi dan revalidasi untuk penderita paska stroke. Konsepnya, mereka yang menjadi muridnya yaitu penderita paska stroke dan keluarganya, harus menjalani pendidikan bagaimana belajar hidup sebagai penderita stroke dan bagaimana mengurusi penderita stroke, sehingga tercipta interaksi. “Mirip playgroup-lah,” katanya. Di sini, mantan pasien stroke diajari atau dilatih mengikuti program pemulihan dan revalidasi berupa fisioterapi, terapi okupasi/berbicara, terapi memori, dan lain-lain. Selanjutnya, mereka juga diajari berkesenian, bermain, dan berbagai aktivitas lain. “Layaknya konsep sekolah, mereka juga diberi pekerjaan rumah, seperti berlatih menggerakkan tangan. Bila sudah mahir, mereka harus menggunakannya, misalnya untuk mengelap meja atau membantu memasak,” ujarnya. Keluarganya diajari bagaimana menolong pasien, memandikan, memberi makanan, mengetahui makanan yang boleh atau dilarang dimakan, dan sebagainya. Sedangkan pihak sekolah stroke melalui dokter dan terapisnya akan mengawasi, mengobati, mengontrol tekanan darah dan gula darah, dan lain-lain. Selain itu, juga melakukan evaluasi terhadap jantung, ginjal, hati, paru-paru, dan sebagai, mengingat stroke selalu berimbas pada organ-organ vital ini. “Kami juga memiliki family therapy di mana antara pasien dan keluarganya, dokter, serta terapis akan bersinergi dan berinteraksi agar dapat saling mengenal dan membantu si pasien,” jelasnya. Berapa lama mereka harus bersekolah? “Itu sangat tergantung pada berapa derajat keparahan akibat stroke. Di samping itu, juga tergantung pada interaksi antara pasien dan keluarganya. Karena, faktor ini sangat mendukung proses edukasi cepat selesai,” ucapnya. Untuk itu, sesuai dengan konsepnya, pasien akan dievaluasi setiap kali bersekolah, yang waktunya bisa setiap hari atau hanya pada tahap-tahap awal, seminggu sekali atau dua kali seminggu. “Kami memberi mereka buku rapor yang harus diisi setiap kali mereka masuk sekolah. Rapor ini untuk mengevaluasi sejauh mana kemajuan mereka, adakah keluhan baik yang datang dari si pasien, keluarga, maupun pengasuhnya (care giver), dan sebagainya. Kami tidak melakukan kunjungan (home visit) kecuali diminta,” ungkapnya. Dilihat dari biayanya, relatif murah, yaitu Rp50 ribu hingga Rp200 ribu per bulan, dengan harapan orang tidak mampu pun bisa bersekolah di sini. Tapi, biaya ini di luar biaya-biaya lain, seperti fisioterapi yang biayanya Rp100 ribu/kunjungan. Sedangkan waktu sekolahnya cukup dua kali seminggu, selama sekitar satu sampai tiga bulan. Perlu diketahui, stroke dapat berulang. Orang yang mengalami stroke untuk pertama kalinya, berisiko enam kali lipat terkena stroke berikutnya, dibandingkan mereka yang belum pernah terkena stroke. Stroke juga bukan dominasi mereka yang telah berusia paruh baya, melainkan juga bisa menyerang anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Tapi, dengan derajat keparahan stroke yang sama, mereka yang berumur relatif lebih muda akan lebih cepat pulih dari kecacatan, dengan tetap mempertimbangkan faktor-faktor lain. Namun, semakin sering stroke berulang, semakin banyak kecacatan yang didapat pasien. Jadi, cukup sekali saja terkena stroke. Karena itu, stroke harus dicegah. Seandainya, sudah telanjur terkena stroke dan cacat, masih ada harapan untuk dipulihkan. Salah satunya melalui sekolah stroke ini. “Dengan demikian, dari segi bisnis, sekolah stroke ini cukup prospektif. Sebab, semua pasien paska stroke dari seluruh Jakarta tumplek bleg di sini. Harapan kami, nantinya sekolah stroke semacam ini juga tumbuh di kota-kota lain,” kata Hermawan, tanpa bermaksud meneguk di air keruh. Sekadar informasi, kini Karmel Stroke Centre telah memiliki 30 “murid” aktif. |