|
|
|
Rumah Jahit Kinara, Marambah Segala Model Busana Muslim |
|
Thursday, 10 May 2007 |
Harga kompetitif yang ditawarkan baju muslimah Fitri ini, ternyata menarik minat kalangan selebritis dan beberapa kaum ibu berduit. Tahun ini produknya bakal di ekspor ke mancanegara. Russanti LubisBisnis busana muslimah tumbuh bak jamur di musim hujan. Dimana-mana terus saja bermunculan hingga sekarang. Dalam arti, mereka yang “bermain” di sini terus ada, baik yang sekadar numpang lewat maupun yang mati-matian bertahan dan terus berusaha untuk berkembang. Memang ini bukan upaya yang mudah. Untuk itu, diperlukan berbagai strategi. Salah satu dari mereka adalah Fitri Kusuma. Pemilik Rumah Jahit Kinara ini, terjun ke kancah bisnis busana muslimah dengan strategi unik. Hingga tahun kedua bisnisnya berdiri, perempuan berkerudung ini lebih memilih menerima jahitan saja ketimbang memproduksinya secara masal. Dia lalu menitipkan rancangan busananya ke toko-toko dan membuat gerai sendiri. “Memasuki tahun ketiga, kami berproduksi secara teratur untuk dikirim ke Bontang. Tapi, tetap bukan produk masal melainkan satu model untuk satu baju berukuran small, medium, dan large. Jika diuangkan pesanan sebulan sekali tersebut senilai Rp 25 juta,” ujar Fitri yang mendirikan Rumah Jahit Kinara pada 2001, dengan modal Rp10 juta dan mempekerjakan empat karyawan. Sekadar informasi, pesanan dari Bontang saat ini berhenti untuk sementara waktu dan digantikan oleh pesanan dari Balikpapan senilai Rp 20 juta/bulan.
Meski sudah menyebar hingga ke Kalimantan Timur dan menambah karyawan menjadi 10 orang, alumnus Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo--salah satu sekolah mode tertua di Indonesia yang didirikan perancang busana Susan Budihardjo-- ini tetap tidak tergerak untuk mengembangkan pemasaran produknya. Pertama, pesanan jahitan saja sudah terlalu menyita waktu sehingga belum terpikirkan untuk memproduksi secara massal. Kedua, perputaran uangnya jelek. Menurut Fitri, dia pernah menanyakan ke sebuah mal, ternyata mereka menjual baju-baju kreasinya jauh lebih mahal daripada harga yang ditetapkannya (lebih dari Rp 250 ribu, red.). Padahal, pakaian atau bisnis busana muslim di mal persaingannya sangat ketat. “Dengan cara itu baju-baju saya belum tentu bisa laku dengan cepat atau malah tidak akan laku sama sekali. Ditambah dengan harga yang mereka tetapkan, kemungkinan besar tidak setiap bulan saya memperoleh pemasukan,” kata Fitri yang setiap bulan meraup omset Rp 40 juta, di luar pesanan, ini.
Kondisi ini akan berbeda, kalau dia sudah “mempunyai nama”. Yang dia inginkan saat ini hanyalah karyanya disukai orang dan segera mendapat pemasukan untuk perputaran modal. Fitri memakai strategi lebih baik menjual dengan harga yang komopetitif, namun lakunya seperti kacang goreng. Tentu saja dengan mutu terjamin serta image tetap terjaga. Untuk hal ini, beberapa rancangan busananya dibuat eksklusif dan limited edition . “Maklum perempuan, apalagi yang berduit, kan tidak mau dikembarin. Selain itu, dengan harga segitu pun saya sudah mendapat untung yang lumayan kok,” tambah Fitri yang berencana segera “melempar” busananya ke Malaysia, Singapura, dan Belanda dengan sistem penjualan sama dengan di Bontang dan Balikpapan. Namun, tidak berarti desainer yang busananya juga dilanggani para selebriti ini tidak ingin memiliki gerai sendiri, mengingat busana-busananya yang terbuat dari bahan silk dan berhiaskan bordir ini kini mulai banyak yang “mencari”. April ini, perempuan yang mengandalkan promosi dari mulut ke mulut ini, akan membuka outlet-nya yang pertama. Selain berbagai busana muslimah, di sini juga tersedia mukena, jilbab, kebaya, dan baju pengantin di samping busana model apa pun untuk wanita, pria, dan anak-anak. Bila Anda berminat, silahkan kunjungi: Rumah Jahit Kinara Jln. Persada Kemala No. 16/2 Jaka Permai, Bekasi Telp: 021-8840746 |
|