Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Advertorial
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Sambangi Roemahkoe, Mengenang Solo Tempo Doeloe
Monday, 07 January 2008

Ingin menikmati suasana dan makanan tradisional Solo tempo dulu, Anda bisa menemukannya di Roemahkoe Bed & Breakfast

 ImageRussanti Lubis

 Solo adalah Kota Batik. Bukan cuma itu, kota yang didirikan pada tahun 1745 ini, juga dikenal sebagai Kota Budaya, Kota Pelajar, serta kota dengan jajanan dan makanan unik sekaligus murah meriah. Bila segala julukan atau setidaknya dua di antara julukan-julukan itu, kita jumpai dalam satu tempat, tentulah sangat menarik dan nyeleneh. Krisnina Maharani atau yang lebih dikenal sebagai Nina Akbar Tandjung sangat paham dengan hal ini. Ia segera menangkap peluang itu, dengan mendirikan Roemahkoe Bed & Breakfast pada tahun 2000.

 Semula, Roemahkoe Bed & Breakfast yang terletak di kawasan Laweyan, Solo, ini merupakan rumah tinggal Ibu Poespo Soemarto, salah satu saudagar batik sekaligus perintis usaha batik di Solo. Lantas, rumah yang berdiri pada tahun 1938 ini, dibeli oleh Nina pada tahun 1997. Laiknya rumah orang kaya di Solo, bangunan yang menguasai 60% dari keseluruhan lahan seluas 2.000 m² ini, terbagi menjadi beberapa ruangan yaitu ruang depan atau yang dikenal dengan istilah pendapa. Kini, ruangan ini dimanfaatkan sebagai ruang penerima tamu dan ruang tunggu. Selanjutnya, ruang tengah atau krobongan yaitu ruang keluarga yang tetap ditata apik seperti aslinya dan sampai saat ini tidak berubah fungsinya. Berikutnya, sentong yakni ruang keluarga yang biasanya dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan keluarga atau sepasang mempelai bersanding.

 Tempat ini, dulu diapit oleh kamar pengantin dan orang tuanya. Sekarang, kami telah mengubahnya menjadi semacam museum kecil yang memajang buku-buku dan barang-barang antik koleksi Nina, busana batik karya pengrajin batik yang tergabung dalam komunitas Kampung Batik Laweyan, dan foto Ibu Poespo Soemarto,” jelas Ari Kurniawan, Operation Manager Roemahkoe Bed & Breakfast. Ruangan terakhir adalah beranda belakang yang dulu biasa digunakan sebagai ruang santai, tapi kini telah diubah menjadi restoran dengan nama Laras Restaurant. Di ruangan ini, setiap malam Jumat digelar acara musik nostalgia dengan organ tunggal, yang melibatkan para tamu untuk menyanyi bersama. Di sini, tersedia pula gamelan yang ditabuh selepas malam Minggu. “Para tamu dapat belajar menabuh gamelan, menari, dan membatik dengan charge Rp100 ribu hingga Rp200 ribu,” imbuhnya.

 Laras Restaurant diapit oleh 13 kamar yang dulu berfungsi sebagai kamar tidur pemilik rumah, putra-putri, dan para pembatiknya. Kamar-kamar yang menghadap ke taman tersebut, kini disewakan kepada para pengunjung dan terbagi menjadi satu Junior Suite dengan tarif Rp395 ribu/malam, 10 Deluxe (Rp345 ribu/malam), dan dua Royal Suite (Rp595 ribu/malam). “Yang membedakan tarif kamar-kamar itu hanya ukurannya. Misalnya, karena ukurannya yang mungil, untuk Deluxe cuma tersedia kamar mandi dan kamar tidur. Sedangkan Junior Suite dilengkapi dengan living room mungil dan kamar mandi berikut shower-nya. Untuk Royal Suite yang kebetulan ukurannya paling luas dan bekas kamar tidur pemilik lama rumah ini, tersedia living room dan  kamar tidur yang masih dipertahankan keaslian bentuk dan perabotan yang digunakan. Hanya kamar mandinya yang berubah dan menggunakan bathtub,” ungkapnya.

 Meski diembel-embeli bed & breakfast, Roemahkoe yang sama sekali tidak mengubah bentuk asli bangunan maupun furniture yang digunakan, termasuk lantai dan kaca-kaca patri yang menghiasi pintu dan jendelanya, tidak hanya menyediakan kamar tidur dan sarapan, tetapi juga makan siang dan makan malam. “Awalnya, Roemahkoe hanya menyediakan kamar tidur dan sarapan, tapi dalam perkembangannya juga menyediakan menu makan siang dan makan malam. Ternyata, para tamu menyambutnya dengan sangat baik. Karena, Roemahkoe memang tidak sekadar menyajikan makanan tradisional yang jarang dijumpai di tempat-tempat lain, tetapi juga makanan kuno atau asli Solo dan sebagian di antaranya merupakan hidangan favorit para bangsawan tinggi di Solo, seperti Lodoh Pindang yang merupakan makanan kesukaan Pakubuwono X (Raja Solo yang paling dikenal, red.) dan Nasi Jemblung atau bestik Jawa,” katanya.

 Uniknya, semua hidangan yang tersedia di Laras Restaurant juga boleh dinikmati oleh masyarakat, tanpa harus menginap. Keunikan guest house yang sangat kental nuansa Solonya ini bukan cuma itu, di sini juga tersedia fasilitas membaca watak berdasarkan primbon (astrologi Jawa, red.) yang dilakukan oleh kerabat Kraton Solo. “Bila tamu menginginkan hiburan lain, seperti tarian, Roemahkoe dengan senang hati menyediakannya. Demikian pula, jika mereka menginginkan makanan yang tidak tersedia di Laras Restaurant, seperti Serabi Notosuman atau Gudeg Ceker, pihak Roemahkoe akan sesegera mungkin mencarikan atau mendatangkan penjualnya,” ujarnya.

 Di sisi lain, Roemahkoe yang menekankan pemahaman dan penghargaan terhadap budaya dan estetika Jawa (baca: Solo, red.), memberlakukan beberapa peraturan yang harus ditaati oleh para tamu, seperti tidak diperbolehkan berbicara dengan suara keras (berteriak-teriak) dan berbuat semaunya atau setidaknya pecicilan. “Kami menutup pintu gerbang (Jawa: regol, red.) pada jam 23.00. Bagi tamu yang akan pergi atau pulang pada jam itu, harus memberi tahu penjaga rumah sehingga nantinya dibukakan pintu,” jelasnya. Sedangkan dilihat dari lokasinya, Roemahkoe yang menyasar masyarakat menengah ke atas sebagai konsumennya ini, memiliki kelebihan tersendiri yaitu berdekatan dengan Kampung Batik Laweyan dan makam KH Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam. Nah, bila sewaktu-waktu Anda berkunjung ke Solo, monggo to pinarak ke Roemahkoe.

 
© 2008 Peluang Usaha dan Solusinya