Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Advertorial
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Suga Fried Chicken & Kebab
Wednesday, 19 December 2007

Harga Hemat, Rasa Nikmat

Ayam goreng dan kebab yang satu ini belum lama muncul. Namun, antusiasme pembeli untuk menikmati produk makanan ini cukup hebat. Maka, dalam tempo singkat sudah menyebar ke beberapa lokasi di Jakarta. Mau coba?Rian S.

Tagline yang diusung produk ayam goreng kering dan kebab  ini sangat menarik. Harga Kaki Lima Rasa Bintang Lima.  Harganya yang berkisar antara Rp 4 – 5 ribu per potong, mencerminkan harga kaki lima. Namun, jangan tanya rasanya. Gurih dan nikmat serasa makanan hotel bintang lima. Begitulah, publikasi yang kerap diusung dan dicantumkan dalam brosur maupun outlet Suga fried chicken & kebab, sebuah makanan ayam goreng dan kebab.  

Di kompleks permukiman Nusa Indah, Pondok Gede dan sekitarnya, makanan ini sudah begitu akrab dengan pembeli.  Dalam jam-jam tertentu tiga outlet yang berada di wilayah Jakarta Timur itu kerap didatangi pembeli. Per harinya, terjual hampir 100 pieces di setiap outlet nya.  Ini, masih ditambah lagi dengan larisnya  kebab dan swarma, roti berisi daging yang menyerupai hotdog khas Timur Tengah.

Suga fried chicken & kebab, lahir dari kejelian Agus Setiawan, pendiri sekaligus pemilik brand makanan ini. Dunia bisnis bukanlah hal baru baginya. Sebelum berbisnis ayam goreng, pria kelahiran Tasikmalaya ini pernah bergelut dalam berbagai bisnis mulai dari usaha sablon, jasa foto copy, pedagang sapi serta cabai. Disela-sela mengurusi bisnis dan pondok pesantren Nurul Amanah, Tasikmalaya, dia melihat peluang di bisnis makanan, khususnya ayam goreng. Dengan mengajak kedua rekannya, dia  kemudian mendirikan bisnis makanan ala cepat saji  ini hanya bermodalkan Rp 8 juta. Dana itu dipakai untuk membangun gerobak dan beberapa peralatan lainnya.  Nama Suga, kebalikan dari nama Agus.

Outlet pertama muncul di Kawasan Perumahan Villa Nusa Indah yang notabene adalah rumah Agus sendiri.  Citarasa yang berbeda dengan makanan sejenis serta sajian yang menarik serta harga kompetitif, menjadikan makanan ini dalam tempo singkat cepat dikenal.  “Kami bisa meraup omset Rp5 juta per hari,” ujar Agus.
Sukses ini menambah rasa optimisme Agus. Tak lama kemudian--masih di tempat sama-- dia menambah dua outlet lagi. Alasannya, Suga ingin menjangkau konsumen yang lebih luas lagi. Kondisi geografis kompleks Vila Nusa Indah yang luas serta populasi penduduk yang besar, merupakan lahan potensial. Asumsi ini benar. Kedua outlet nya pun  memperoleh sambutan luar biasa.

Di tahun yang sama, Agus membangun usaha lain, yakni Suga Kebab, makanan khas Timur Tengah. Suga Kebab, terinspirasi dengan munculnya makanan sejenis yang juga mulai tumbuh subur.  Tak ada yang beda dengan bisnis ayam gorengnya. Suga Kebab juga direspons konsumen. Meski hanya publikasi lewat gerai ayam goreng, konsumen tetap antusias menikmati produk kebab Agus. Dengan pertimbangan ekonomis, Akhirnya, kedua usaha ini digabungkan dengan nama Suga fried chicken & kebab.

Permintaan konsumen tidak hanya sebatas produk saja. Keinginan untuk membuka cabang di beberapa daerah cukup tinggi baik itu di Jabotabek  maupun kota lain. Akhirnya, pada 2006 lalu Suga resmi di business opportunity kan. Dan, sejak itu secara berurutan outlet-outlet baru bermunculan.  Sekarang, Suga telah memiliki 8 outlet, empat di antaranya adalah Suga fried chicken dan kebab, empat sisanya adalah  Suga kebab. Enam outlet dimiliki oleh Agus, sedang dua sisanya adalah investor.

Agus mengakui bahwa pihaknya membatasi jumlah outlet. Alasannya, di samping SDM yang masih terbatas, suplay dan manajemen pengawasan ke cabang untuk luar kota juga masih belum sempurna.  Untuk itulah, untuk sekarang dia masih berkonsentrasi di Jabotabek dan sekitarnya. “Ada permintaan dari Sulawesi dan Kalimantan, namun masih saya pertimbangkan,” ujar pebisnis foto studio dan warnet ini. 
Untuk membuka cabang Suga cukup mudah. Selain memiliki lokasi usaha yang strategis, seperti di perumahan, pusat belanja, kampus atau sekolah, investor harus memiliki komitmen untuk berbisnis ayam goreng dan kebab.  Manajemen Suga, memiliki beberapa tawaran menarik, yakni paket investasi untuk fried chicken sebesar Rp16 juta, kebab (Rp16 juta) serta  fried chicken dan kebab (Rp 28 juta).  Biaya itu sudah termasuk, franchisee fee selama lima tahun, perlengkapan seperti freezer , gerobak, seragam dan royalty. Investor tinggal memiliki tempat dan karyawan saja, langsung bisa membuka cabang Suga. “Bila lokasinya sangat strategis, saya berani menjamin dalam 6 sampai 12 bulan akan mencapai titik impas,” ujarnya.

Cepatnya balik modal dan meraih laba, tambah Agus, lantaran bisnis ayam goreng adalah bisnis makanan yang terus bertumbuh. Lokasi strategis serta citarasa yang khas adalah kunci utamanya. Untuk masalah taste misalnya, Suga terus berinovasi tentang resep makanan, khususnya tepung untuk campuran ayam gorengnya.  Produk ayam goreng luar negeri legendaries adalah benchmark nya. “Acuan saya selalu kesana. Saya harus bisa membuat makanan ini lebih enak ketimbang kompetitor,” ujarnya bersemangat. Ini juga dilakukan untuk produk kebabnya. Meski sekarang banyak kompetitor bermunculan, Suga tetap tak khawatir. Citarasa yang tepat akan terus mengundang pembeli.

PAKET INVESTASI

KRITERIA
Franchise Fee
Perlengkapan
Total
Lama Kerjasama   
Royalti
BEP

FRIED CHICKEN            
Rp. 5 juta
Rp. 11 juta
Rp. 6 juta
5 tahun
5%
6-12 bulan
KRITERIA
Franchise Fee
Perlengkapan
Total
Lama Kerjasama   
Royalti
BEP
FRIED CHICKEN & KEBAB
Rp. 6 juta
Rp. 22 juta
Rp. 28 juta
5 tahun
5% - 10%
6-12 bulan

KRITERIA
Franchise Fee
Perlengkapan
Total
Lama Kerjasama   
Royalti
BEP

KEBAB
Rp. 5 juta
Rp. 11 juta
Rp. 6 juta
5 tahun
5% - 10%
6-12 bulan
  
 
© 2008 Peluang Usaha dan Solusinya