|
Rumah makan Sedap Makan (SM) di bilangan Ragunan bisa bertahan sampai tiga generasi. Kuncinya sederhana: buatlah orang-orang makan di rumah makan seperti makan di rumah. Sukatna Judul tersebut bukanlah hanya suatu susunan kalimat yang dibolak-balik, melainkan ruh utama dari strategi manajemen Rumah Makan Sedap Makan (SM). Dengan prinsip sederhana tersebut SM mampu bertahan dan kini dikelola oleh generasi ketiga. Hampir dipastikan semua tokoh terkenal dan selebritas Indonesia pernah menyambangi rumah makan ini, dan beberapa di antaranya tercatat sebagai pelanggan. Pengelola SM, Sagi Ardhan, menguraikan lebih lanjut tentang prinsip sederhana itu. Prinsip makan di rumah adalah higinis, bergizi, enak rasanya, nyaman suasananya sekaligus murah. Prinsip itu terus dipertahankan dari sejak rumah makan berdiri hingga kini. Boleh saja Heraclitus mengatakan, “di dunia ini segalanya selalu berubah kecuali perubahan itu sendiri.” Tetapi banyak para pelaku bisnis yang memegang teguh prinsip-prinsipnya dari sejak awal bisnis digelindingkan hingga kini. Itu juga yang dilakukan pengelola SM. Dalam soal bumbu dan cara mengolah makananya pun, kata Sagi, SM tidak mau berkompromi. “Kalau suatu masakan membutuhkan bumbu sepuluh genggam ya harus sepuluh genggam. Kalau membutuhkan waktu pemasakan satu jam ya satu jam, tidak boleh dikurang-kurangi,” tegas Sagi. Itu sebabnya Sagi menjamin rasa masakan di SM tidak pernah berubah dari dulu hingga kini, sekalipun nakhoda rumah makan milik lima bersaudara keturunan Hajah Suntiwati-Haji Muhammad ini pernah berganti berkali-kali. Kesetiaan SM, menurut Sagi, bukan hanya kepada prinsip dan tata cara pengolahan makanan melainkan juga jenis menunya. “Dari dulu hingga sekarang kami dengan setia hanya menyajikan ayam panggang,” tuturnya. Dalam strategi bisnis modern seperti yang dituliskan oleh Jim Collins dalam Good to Great, apa yang diterapkan SM ini, merupakan Hedgehog Concept (teori landak). Saat ini kebanyakan bisnis makanan berlomba untuk menyajikan beragam menu (teori rubah) tetapi tidak memiliki menu inti yang unik. Nah SM menyadari kekuatan utamanya adalah di menu ayam panggang bumbu rujak. “Kalau ingin mendapatkan menu ayam panggang yang paling enak di Jakarta mungkin Bapak tidak salah datang kemari,” ujar pembalap gokart yang berkali-kali menyabet juara satu untuk lingkup nasional ini sembari sedikit berpromosi.
Dengan menu panggang ayam, SM pada era 1992-1997, menjadi pilihan utama karyawan perkantoran-perkantoran elit di Jalan Jenderal Sudirman. “Pada waktu itu trafik dari Sudirman ke sini masih enak Kalau sekarang langganan kami adalah karyawan perkantoran yang radiusnya antara dua-sampai lima kilometer saja, seperti karyawan perakitan sepeda motor Honda, Yamaha dan Kawasai,” tutur Sagi. “Pada zaman keemasan dulu saya tidak bisa menghitung berapa jumlah pengunjung tetapi para pelanggan harus berjalan miring-miring saking penuhnya.” Padahal luas secara keseluruhan SM mencapai 2315 M2. Alasan kepindahan SM dari Jalan Cilandak KKO ke bilangan Ragunan pun juga disebabkan karena tempat yang lama sudah tidak mampu menampung lagi jumlah pelanggan yang datang. Selain itu, sebutnya, SM juga sering dijadikan tempat untuk makan dalam pembentukan panitia acara suatu perusahaan, atau tempat merayakan kenaikan pangkat seorang pegawai. Pada saat ditemui beberapa waktu lalu, SM dipenuhi oleh peserta buka puasa sebuah partai politik dan sebuah perusahaan operator telepon seluler. “Tetapi jarang perusahaan yang menjadikan tempat kami sebagai ajang untuk perayaan yang sifatnya fun, karena kami tidak menyediakan minuman beralkohol atau sejenisnya,” ucap Sagi seraya mengimbuhkan beberapa kali dirinya pernah menggelar acara nonton bareng MotoGP di SM, karena dirinya hobi otomotif. Dikatakan Sagi, dari dulu hingga kini pengelola RMSM tidak pernah melakukan promosi. Semua pelanggan tahu karena direkomendasikan pelanggan yang lain. Artinya, promosinya berlangsung dari mulut ke mulut. Meski promosinya hanya dari mulut ke mulut, tetapi menurut Sagi, hampir semua orang penting di negeri ini pernah mampir dan menyantap menu di RMSM. Sagi mengaku pernah mencoba untuk membawa SM ke kancah otomotif. Namun, menurutnya, motif utamanya bukan bisnis. “Prinsipnya kami ingin membuat orang lain senang. Sedangkan saya hobi otomotif maka saya ingin teman-teman bisa mendapatkan makanan yang murah tetapi enak dan tidak usah pergi jauh-jauh. Kalau mereka senang, kami pun senang,” imbuhnya filosofis. Keberadaan RM SM sendiri saat ini, menurut Sagi, merupakan satu monumen bagi keluarga besar keturunan Hajah Suntiwati-Hajah Muhammad. Selain itu rumah makan itu juga dimaksudkan sebagai tempat “sekolahnya” anak dan cucu sang pendiri. “Kebetulan sepupu saya sudah menggeluti profesi masing-masing. Jadi sayalah yang jadi ‘satpam’ di sini,” kata Sagi yang mulai dipercaya mengelola RM SM sejak tahun 90-an. |