Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Advertorial
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Edam Burger, Ekspansi ke Indonesia Timur & Tengah
Wednesday, 21 November 2007
Dalam dunia perbugeran, nama Edam sudah tidak asing lagi. Namun Made tak berpuas diri. Kini ia mulai memperluas jaringannya ke wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Fisamawati

Bagaimana menjelaskan fenomena bisnis burger dalam negeri yang sekarang melejit menjadi makanan dan bisnis alternatif bagi sebagian orang dalam perspektif sebuah terobosan bisnis. Bagaimana pula menjelaskan pengembangan usaha produsen burger menengah lokal dengan pola kemitraan, bukan dengan pola franchise.
Namun semua pertanyaan tersebut dapat dijelaskan secara gamblang oleh Made Ngurah Bagiana, owner Edam Burger. “Memang sekarang ini banyak yang menerapkan sistem franchise. Tetapi dari adanya para franchisee yang bertambah memberikan ketidakseimbangan. Hal ini, dapat dilihat adanya ketidaktelitian para franchisee dalam melihat trade record si franchisor-nya,” ucapnya membuka pembicaraan.

Oleh karena itu, lanjut Made, ia tak berkeinginan menerapkan franchise ‘murni’ pada Edam Burger yang didirikan tujuh tahun lalu ini. Alasannya sederhana untuk dipahami yaitu hanya bertujuan memberikan peluang usaha bagi siapa pun, tanpa terbebani modal awal ketika menjalankan bisnis.
“Karena Edam Burger sifatnya Business Opportunity. Jika diberlakukan sistem franchise baku maka akan memberatkan seseorang untuk meraih peluang dan mendapatkan profit dari peluang tersebut. Sifat di Edam Burger adalah fleksibel. Contohnya, ketika seseorang ingin membuat counter stay dengan harga Rp. 2.500.000,- plus perlengkapan, bisa turun jika ada beberapa perlengkapan yang tidak dibutuhkan. Sehingga dari itu dikalkulasikan berapa potongannya, jadi sama-sama ringan,” papar Made yang pernah mendapat penghargaan sebagai ‘The Inspiring People bagi Korporasi dan Masyarakat dalam Usaha Kesejahteraan Sosial’.

Bagi Made, keuntungan tak semata-mata bernilai nominal (uang, red), tetapi keuntungan dapat dijabarkan secara luas. Menganut prinsip ‘mencari rugi’ Made memaparkan keuntungan bisa berupa trade record khususnya dalam bisnis, pencitraan nama baik bagi bisnis maupun secara pribadi, bertambahnya mitra hingga tercipta hubungan baik atau kepuasan bathin sekali pun.
Pria yang kental dengan logat bicara Bali-nya menambahkan, hal terpenting yang harus dibangun adalah akar pusat bisnis tersebut, kemudian sepak terjang bisnisnya ditambah faktor-faktor lainnya. “Hal itulah yang selalu saya terapkan dalam mengembangkan Edam Burger, semua perjalanan bisnis saya merupakan sebab-akibat dari apa yang saya terapkan. Saya mengembangkan dan memajukan Edam Burger adalah merupakan akibat dari apa yang saya kerjakan dulu,” ujar pria yang kini memiliki 3000 mitra di seluruh pelosok Indonesia.

Keyakinan kuat akan filosofi ‘sebab-akibat’ tersebut kini terbukti. Edam Burger mulai berekspansi ke wilayah Indonesia bagian timur dan tengah, antara lain Makassar, Manado, Lombok, Mataram, Kupang bahkan Jayapura. Edam Burger yang berpusat di Jalan Malaka Raya No. 84, Perumnas Klender, Jakarta Timur ini akan ‘action’ secepatnya.  
“Adanya permintaan dari Timur dan Tengah ini menjadikan saya semangat untuk memperluas jaringan Edam Burger. Di wilayah tersebut, saya melihat adanya peluang dan prospek bagi Edam Burger maupun mitra yang akan bergabung nantinya,” aku Made yang pernah berinovasi membuat burger terbesar di Indonesia.

Untuk sistem pengoperasian Edam Burger tersebut, Made mengatakan tak jauh berbeda dengan di pusat, sehingga tidak ada istilah ‘anak tiri’. “Dari kacamata management antara pusat dan di sana (daerah) sama saja. Mungkin, ada beberapa perbedaan yang dilihat dari struktur geografis, budaya dan ekonomi masyarakat setempat, bisa saja harga jual Edam Burger di sana lebih murah, atau perpaduan rasa khas Edam Burger dengan rasa khas daerah setempat,” imbuhnya lanjut.
Tak hanya itu, untuk mendukung jalannya bisnis tersebut, Made pun akan menempatkan staf ahli sebagai ‘orang kepercayaan’ yang akan mengoperasikan bisnisnya. Hingga, standar kualitas dan kuantitas terbaik Edam Burger dapat terjaga dan tidak berdampak buruk bagi bisnis yang bermulai dari titik awal tersebut.
“Orang kepercayaan tersebut akan diutus untuk mengurusi Edam Burger dalam kurun waktu tertentu. Nanti, jika masyarakat setempat sudah bisa diberdayakan maka akan dialihkan untuk mengefisienkan Sumber Daya Manusia daerah setempat sehingga tidak terjadi kerenggangan sosial,” kata pria low profil ini.

Apa sih yang memotifasi Made untuk berekspansi hingga ke Indonesia Timur dan Tengah? “Motivasi awal adalah adanya permintaan, tentunya. Selain itu, saya berkeinginan kuat agar burger bisa dimakan dan dinikmati oleh orang Indonesia minimal satu kali dalam sebulan. Saya pun ingin menghilangkan kesan bahwa burger tidak hanya untuk kalangan menengah keatas yang harganya relative mahal. Tapi di Edam Burger selain rasanya yang khas Indonesia, harga yang ditawarkan pun kompetitif,” promosi kelahiran Pulau Dewata tersebut.

Lantas apa rahasia di balik suksesnya Edam Burger, hingga brand yang diusungnya begitu melekat di telinga orang Indonesia sebagai market leader penjual burger di Indonesia? “Dalam menjalankan bisnis Edam Burger ini saya tidak menentukan langkah-langkah yang baku. Saya hanya memberanikan diri terjun dan yang pasti tidak pantang menyerah. Begitu juga dengan ekspansi ke Indonesia bagian timur dan tengah, sifatnya hanya menjalani saja. Sat hal yang menjadi pertimbangan adalah melihat adanya peluang dan profit, itu saja” ungkapnya memberi rahasia. Tak hanya itu saja, berfikir positif thingking serta menerapkan etika bisnis secara baik dan benar pun bisa menjadi kunci keberhasilan suatu bisnis.

Eit, ekspansi Made tak henti sampai disitu saja. Kini, ia sedang gencar-gencarnya mensosialisasikan counter sepeda motor mobile dan berencana membuka outlet baru di bilangan Buaran, Jakarta Timur.

 
© 2008 Peluang Usaha dan Solusinya