Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Advertorial
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Kecil Itu Indah
Friday, 02 November 2007

Ippho SantosaSeorang istri memarahi suaminya, Harry, yang gemar berjudi. Namun, Harry tidak terima dirinya dipersalahkan.
      “Walau bagaimanapun, toh, saya tetap menunaikan kewajiban saya sebagai ayah,” Harry membela diri.

     
“Apa buktinya?” tukas istrinya.      “Saya tetap mendidik anak,” sahut Harry. Untuk memperkuat argumennya, maka ia pun memanggil anaknya yang masih berusia tiga tahun.
     
“Nak, ayah ‘kan sudah mengajarkan kamu berhitung. Masih ingat?” tanya Harry. 
     
Setelah anaknya mengangguk, kemudian Harry mengajukan sebuah pertanyaan, “Sesudah angka tujuh, angka berapa, ya?”
     
“Delapan!” seru anaknya bersemangat.
      “Sesudah angka delapan?” tanya Harry lagi.
      “Sembilan!” seru anaknya dengan tetap bersemangat.
      Harry tersenyum. Ia bangga sekali akan jawaban-jawabannya anaknya yang begitu tepat dan begitu percaya diri. Menurutnya, ia sudah berhasil mendidik anaknya, tidak seperti persangkaan istrinya.
      “Sesudah angka sembilan?” kembali Harry bertanya.
      “Sepuluh!” teriak anaknya.
      “Jack!” teriak anaknya dengan lantangnya.
Mendengar jawaban anaknya yang terakhir, istri Harry langsung terperanjat.

Begitulah anak kecil. Mudah sekali untuk diarahkan dan dibelokkan. Ibaratnya, kapal besar dan kapal kecil. Ketika sedang melaju, kira-kira kapal mana yang lebih gampang untuk berubah arah atau berbelok? Ah, rasanya tidak diperlukan gelar MBA hanya untuk mengetahui jawabannya. Yah, karena semua orang maklum, kapal kecil akan jauh lebih mudah untuk berubah arah atau berbelok.

Bisnis juga seperti itu. Saya pribadi sangat enjoy ketika bisnis saya masih terhitung kecil. Alasannya, saya berkesempatan untuk menjejalkan dan menjajal ide-ide liar saya. Saya juga bisa menyuntik improvisasi di sana-sini. Tentu saja, dengan segera! Dan perkara serupa menjadi mustahil seandainya bisnis saya sudah menggurita.

Saya tahu persis bahwa Anda atau siapapun pastilah mengidam-idamkan merek yang kuat dan bisnis yang besar. Sama, saya pun begitu. Tetapi, adakah yang salah dengan bisnis yang masih kecil? Ternyata bisnis kecil itu menyimpan kenikmatan tersendiri, yang jarang sekali diendus oleh kebanyakan marketer. Segeranya perubahan, itulah manfaat yang pertama.

Sedangkan tidak kelihatannya ‘dosa-dosa’ menjadi manfaat yang kedua. Coba bayangkan seorang presiden yang berbuat salah. Pastilah rakyat satu negara akan mengetahui dan menghujatnya. Tetapi, bagaimana dengan kesalahan seorang ketua RT? Hanya segelintir yang peduli dan segelintir pula yang meminta pertanggung-jawaban. Iya ‘kan?

Tidak jauh berbeda dengan landskap bisnis. Begitu merek Anda meraksasa, maka otomatis publik akan menyoroti, bahkan publik merasa ‘memiliki’ merek Anda. Jadi, agak sukar bagi masyarakat untuk toleran sekiranya merek-merek sekaliber Bank Mandiri, Astra, dan Podomoro melakoni kesilapan. Sedangkan merek kemarin sore? Ah, masa bodo!

Maka, tidak muluk-muluk rasanya apabila ungkapan ‘small is beautiful’ jamak dijumpai di mana-mana. Namun demikian, jangan salah kaprah, ya! Ini semua kudu diiringi dengan upaya-upaya untuk menjadi besar. Sebab itulah, sepanjang hayat saya tidak pernah sreg dengan istilah UKM alias Usaha Kecil dan Menengah. Kecil sih boleh, tetapi jangan mau dicap begitu. Kecil seumur-umur, baru tahu rasa! Cukuplah istilah UKM itu berputar di kalangan perbankan dan pemerintahan saja. Bilamana bisnis Anda masih kecil, sebut saja BBB alias Bisnis Bakal Besar atau Be a Big Brand. Nah, itu ‘kan lebih memotivasi.

Ippho adalah penulis 7 buku bisnis, pembicara seminar, produser Andalus, dan co-founder Entrepreneur Association (EA). Buku terbarunya adalah 10 Jurus Terlarang!

 

 
© 2008 Peluang Usaha dan Solusinya