|
|
|
Laris Karena Tuah Pitik Rambut Syetan dan Sambel Iblis |
|
Wednesday, 25 July 2007 |
|
Page 1 of 2 Setelah sukses mengembangkan rumah makan steak Ben Tuman, Ajeng Astri Denaya berhasil mengelola rumah makan Mbah Jingkrak. Keduanya kini dikembangkan dengan model waralaba. Haris RK
Jalan-jalan ke kota Semarang, kurang lengkap rasanya bila tidak menikmati pitik rambut syetan atau sambel iblis. Jangan kaget dulu, belakangan menu yang terkesan menyeramkan itu memang sedang popular di ibu kota propinsi Jawa Tengah ini. Untuk mendapatkannya tidak perlu laku ritual, tapi cukup datang ke Rumah Makan Mbah Jingkrak. Rumah makan yang berada di kawasan Jl. Taman Beringin tersebut, memang sedang naik daun. Itu karena kepintaran pengelolanya dalam menyajikan menu-menu yang membuat penasaran para pemburu makanan enak.“Selain penasaran dengan nama menu, mereka cocok dengan makanan yang kami sajikan, “ kata Ajeng Astri Denaya, pemilik restoran tersebut.
Dalam jagad bisnis resto, nama Mbah Jingkrak bisa dibilang pendatang baru. Ia baru muncul setahun belakangan ini. Hebatnya dalam tempo yang terbilang singkat itu, ia telah memiliki pelanggan fanatik. Menariknya, mereka justru berasal dari kalangan menengah ke atas, yang sebenarnya tidak dibidik secara khusus pada awal pendirian rumah makan ini. “Semula kami membidik pasar semua lapisan, tapi ternyata yang muncul justru kalangan menengah ke atas, padahal harga menu kami sangat terjangkau kalangan mana pun,” tutur ibu tiga anak ini. Kemunculan rumah makan ini, memang terbilang fenomenal. Ia melesat cepat bak meteor. Maklum dalam waktu yang relatif singkat, telah berhasil menarik hati masyarakat. Tak mengherankan, bila dalam tempo tidak sampai sebulan pengelola rumah makan ini mengklaim telah berhasil mengembalikan modal yang ditanamkannya. “Kami sangat bersyukur karena tidak genap sebulan, modal yang kami tanam langsung balik,” imbuh Ajeng.
Menurut pengakuan Ajeng, Mbah Jingkrak baru resmi beroperasi sejak akhir 2005 lalu. Pendirian rumah makan ini, merupakan pengembangan bisnis resto yang telah dijalaninya sejak tahun 1997 silam. Wanita penghobi masak ini, sebelumnya memang telah berhasil mengembangkan bisnis jasa boga. Ia tercatat sebagai pemilik Warung Steak Ben Tuman, yang berada di Semarang dan kini telah berkembang di Jakarta.. “Setelah warung steak berkembang, saya kok pengin mengembangkan rumah makan dengan menu makanan tradisional,” ungkapnya. Ajeng berterus terang bahwa pendirian rumah makan Mbah Jingkrak terinspirasi dari beberapa warung makan tradisional yang ada di Yogyakarta dan Solo. Dia melihat ada beberapa warung di kedua kota tersebut yang cukup laris walaupun tempat dan cara penyajiannya sangat sederhana. Mereka laris bukan karena tempat tapi karena menu yang disajikan dirasakan cocok bagi kebanyakan orang, termasuk dari kalangan menengah. Namun ada sebagian besar kaum berduit yang merasa malu makan di tempat seperti ini, walaupun mereka sebenarnya merasa cocok dengan menu yang disajikan.”Mereka sebenarnya mau, tapi juga malu apalagi yang biasa jaga image atau sok gengsi,” tandas Ajeng.
Melihat fenomena banyaknya warung makan tradiosional yang cukup laris, Ajeng merasa ada peluang pasar yang bisa diraihnya. Ia tertarik membuat rumah makan dengan menyajikan menu tradisional, tapi disajikan di tempat yang representative sehingga bagi kalangan menengah ke atas tidak sungkan untuk datang menikmatinya. Bila melihat menu yang disajikan di rumah makan Mbah Jingkrak, memang terasa tidak asing lagi. Karena semua bisa ditemukan di warung-warung makan lain. Hanya saja yang membuat berbeda, Ajeng menamakan beberapa menunya dengan nama yang nyleneh seperti pitik rambut syetan, sambel syetan, sambel iblis, es tobat, dll. Sambel iblis, sebenarnya hanya sambel biasa tapi dibuat dari cabe rawit, yang terasa pedas sekali. Siapa pun yang menikmati tentu akan merasa kepedasan. Penamaan menu-menu aneh tersebut, memang menjadi strategi promosi untuk membuat konsumen penasaran. Dan strateginya memang membuahkan hasil , karena setiap muncul menu baru selalu ada yang merasa penasaran dan ngin mencobanya. “Biasanya setelah mencoba mereka akan ketagihan, nah membuat orang ketagihan ini yang sulit,” paparnya. Pernyataan Ajeng, memang tidak berlebihan. Nyatanya, dengan nama-nama menu yang terkesan “sangar” tersebut, ternyata telah mengangkat citra Rm Mbah Jingkrak, hingga cepat dikenal masyarakat. “Kami memang sengaja membuat menu aneh yang bikin penasaran konsumen,” katanya lagi.
<< Start < Prev 1 2 Next > End >> |
|