Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Advertorial
Resto Area
Daging Tiruan Untuk Para Vegetarian
Tuesday, 10 July 2007
PadmanadiBerkat inovasi yang dilakukan Kasan, kini seorang vegetarian bisa menyantap daging sapi, ikan, udang daging ayam atau daging bebek. Tak percaya? Datanglah ke Restoran Padmanadi . Wiyono

Apa yang akan Anda lakukan apabila dokter suatu ketika memberikan anjuran untuk menghindari makanan berlemak atau berkolesterol tinggi untuk seterusnya? Artinya mulai saat itu Anda harus mulai melupakan produk-produk hewani, sebagian atau malah semuanya sebagai penghuni meja makan atau cukup mengkonsumsi buah dan sayuran. Istilah vegetarian sejatinya bukan barang baru, tetapi saat ini komunitasnya bertambah luas. Tidak hanya dilatarbelakangi pelaksanaan ajaran agama tertentu melainkan berkembang menjadi gaya hidup yang lebih sehat.
 
Fenomena itu dapat dilihat dari jumlah situs maupun milis komunitas vegetarian, dari dalam maupun luar negeri  terus bertambah. Di situ para anggotanya saling bertukar informasi macam-macam termasuk rekomendasi lokasi belanja yang menyediakan menu vegetarian di berbagai penjuru dunia. Di Jakarta  restoran jenis ini juga makin bertambah. “Di utara Jakarta dulu baru ada dua buah tempat, tetapi sekarang terdapat 15 restoran vegetarian,” terang Kasan, pemilik sekaligus pengelola Padmanadi, salah satu restoran vegetarian yang cukup ternama. 

Padmanadi berdiri sudah cukup lama dan kini sampai pada generasi kedua. Restoran ini dirintis sejak 1982. Awalnya hanya berupa kedai kecil yang menyediakan berbagai menu vegetarian berbahan sayuran bagi orang-orang yang pantang makan daging. Di samping itu juga melayani kiriman pesanan hidangan pesta ulang tahun maupun pernikahan. Tidak lama berselang, dua atau tiga tahun kemudian usaha tersebut  berkembang dan telah menempati bangunan berlantai dua di sebuah kawasan ruko Pluit, Jakarta Utara hingga sekarang.  
Menariknya walaupun khusus menyediakan makanan dengan bahan dasar sayuran, jenis-jenis menunya tidak kalah dengan restoran biasa. Di tempat ini pembeli bisa menjumpai beraneka macam olahan daging, ikan, ayam, bebek, udang dan sebagainya. Sebut saja misalnya rendang, perut ikan cah, khong pau chicken, ayam bungkus, bebek peking merupakan beberapa nama menu favorit pengunjung. Disebutkan Kasan, menu-menu masakan yang tersedia terutama adalah resep masakan Taiwan serta masakan Padang. Kaum vegetarian tidak perlu khawatir memesan rendang, sate, atau bahkan bakso atau pun soto ayam karena semuanya menggunakan daging tiruan. 

Kasan sedikit membuka rahasia, bahan yang dipergunakan untuk membuat daging palsu tidak lain berasal dari kaki jamur yang berwarna hitam. Setelah direndam, lalu dihaluskan dan diadoni tepung lantas dikukus. Sebelumnya bagian kulit jamur yang berwarna kehitaman dikelupas untuk dicampurkan ke dalam adonan tersebut sehingga dihasilkan warna daging seperti yang dikehendaki. Soal rasa, penyantap daging pun bisa jadi akan terkecoh, hasilnya mirip benar dengan daging asli hingga ke teksturnya saat digigit di mulut. 
Menurut Kasan, saat ini produk daging sintetis makin gampang diperoleh, terutama impor dari Singapura. Dengan begitu kebanyakan para pengelola rumah makan vegetarian  tidak mau repot dan membeli barang yang telah jadi. Tetapi ia mengaku tetap lebih suka memproduksi sendiri karena beralasan produk kalengan rasanya kurang enak. “Sebanyak 70% bahan dibikin sendiri dan sisanya berasal dari impor. Sebetulnya dulu semua kita buat sendiri, tetapi sekarang karena sudah banyak dijual sehingga hitung-hitungan harganya lebih murah barang luar,” jelasnya. 
Selain itu dengan tetap membuat sendiri Kasan juga menjual produk mentah bikinannya seperti ayam goreng, bebek, udang, daging ham maupun jenis-jenis jamur kepada pembeli yang kepengin memasak sendiri. Biasanya dia mengambil keuntungan sekitar 20% dari harga dasar. Misalnya, daging ham mentah modalnya Rp 40 ribu  ia jual dengan harga Rp 50 ribu, demikian pula sekilo udang dengan modal Rp 100 ribu dijual Rp 120 ribu. Ia bahkan bisa membuat camilan mirip keripik kulit sapi sebagai oleh-oleh harganya sekitar Rp 120 ribu/ kg. Bahannya terbuat dari gluten, yakni hasil ‘cucian’ tepung terigu yang digoreng ulang hingga beberapa kali.   


 
© 2009 Majalah Pengusaha - Peluang Usaha dan Solusinya