Advertisement
Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Advertorial
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Menjaring Laba dari Tepi Dermaga Cinta (Ancol)
Friday, 15 June 2007

Le Bridge Resto Resto di pinggir pantai biasanya mengusung menu seafood. Tetapi Le Bridge justru menampilkan menu modern, sehingga bisa mengambil positioning berbeda. Fitra Iskandar 

Bangunanya cukup unik. Dari kejauhan, tenda putih memayungi area resto yang memiliki luas  230 M2 ini, sekilas seperti seekor ikan pari putih raksasa. Letaknya persis di tengah tengah dermaga yang  jika dilihat  dari atas  berbentuk seperti hati, tapi bukan bentuk hati. Saat pagi hari dermaga ini sering digunakan untuk  lari pagi. Namun saat menjelang malam  banyak pasangan muda-mudi memanfaatkannya untuk sekadar bercengkrama atau berdua-duan. Tak usah heran, pengelola Ancol saja memberi nama Dermaga Cinta.  
“Lokasinya cukup bagus, memiliki pemandangan indah, jembatannya sendiri sudah menarik banyak orang,” ujar Shandra S. Januar. Melihat potensi lokasi yang cukup menarik, ia pun merancang proposal yang diajukan ke pengelola Ancol Bay City untuk mendirikan restoran di dermaga cinta itu. 
Setelah empat bulan, proposal  resto yang diajukan Shandra akhirnya disepakati. Pihak Ancol memberi ijin kepada sarjana marketing komunikasi ini untuk memanfaatkan dermaga cinta sebagai lokasi restonya. Alhasil, berdirilah Le Bridge di dermaga yang kini telah berumur 2 tahun itu.      

Dalam bahasa Perancis “ le”  melambangkan suatu yang  kuat, dan maskulin. juga kata ganti yang sepadan dengan “He”  yang berarti dia laki-laki dalam bahasa Inggris. “Karena berada di atas dermaga (jembatan)  di  atas permukaan laut maka restonya di namakan Le Bridge yang artinya jembatan yang kuat,” terang wanita berkulit putih ini.
 
Pada mulanya jembatan yang dimanfaatkan Le Bridge sebagai lokasi berdirinya resto tersebut diperuntukkan untuk area beach pool. Area rekreasi untuk pengunjung yang ingin berenang ria di  pantai. Jembatan itu sendiri berfungsi sebagai batas area berenang, sekaligus pemecah ombak. Agar area berenang lebih nyaman, dan aman bagi pengunjung.
Saat malam hari Le Bridge sangat eye catching. Anggun di atas permukaan laut,  interior dan eksteriornya modern, tanpa banyak pernak-pernik dan sorotan cahaya lampu, menimbulkan kesan romantis sekaligus eksklusif. Bayangkan saja, sebuah restoran di tengah laut yang dihubungkan dengan sebuah jembatan. Menurut Shandra,  atmosfir ruang dalam dan luar Le Bridge,  memang didesain romantis dan eksklusif.

Mengamati area-area komersil sepanjang Pantai Ancol, tak bisa dipungkiri lokasi Le Bridge adalah yang paling menarik. Dermaga Cinta merupakan titik yang  terbaik untuk menikmati sunset di pantai Ancol. Demikian, Le Bridge sangat layak dijadikan restoran yang ekslusif - dengan konsumen tentu dari kelas atas, atau sebagai tempat kongkow kalangan zet-set, yang tentunya tidak akan segan menyisihkan lembaran-lembaran rupiahnya. Sempat terpikir oleh Shandra bayangan keuntungan itu, namun ia tak lekas tergoda.
Shandra melakukan pengamatan. Hasilnya, setelah mempertimbangkan karakter pengunjung Ancol, dan  aspek sosiologis wilayah,  terususunlah beberapa kesimpulan. Pertama, pengunjung Ancol sebagian besar datang dari kalangan menengah-bawah, menengah-atas. Kedua, pengunjung Ancol rata-rata adalah  anak muda. Dan yang ketiga Ancol yang masuk wilayah Jakarta-Utara masih relatif  “terpencil”. Dibanding tujuan kongkow lain di Jakarta, sehingga secara bisnis positioning Le Bridge mengambil segmentasi middle-up dan  anak muda. “Terlintas juga untuk menjadikan Le Bridge  restoran yang eksklusif, namun melihat karakter pengunjung Ancol dan beberapa pertimbangan,   saya memutuskan lebih baik menggarap pasar yang sudah ada. Yaitu kelas C sampai A, ” jelas Shandra.
 


 
© 2008 Peluang Usaha dan Solusinya