|
|
|
Memetik Fulus Dari Jambu Air Degus |
|
Thursday, 21 June 2007 |
|
Page 1 of 2 Sebagai varietas unggul baru, jambu air degus belum banyak dibudidayakan. Padahal jambu degus rasanya manis, kesat, dan daya tahan hidupnya lebih tinggi. Bahkan bisa dibudidayakan di dalam pot. Russanti Lubis
Jambu air (eugenia aquea burm) merupakan tanaman buah yang berasal dari Indocina dan Indonesia, yang lantas menyebar ke Malaysia dan pulau-pulau di Pasifik. Buah manis nan segar ini tumbuh dan berproduksi ideal di dataran rendah hingga medium. Selain itu, buah tak berkulit ini memiliki beberapa varietas, seperti jambu air camplong yang banyak dibudidayakan di Madura, jambu air dharsono (sebagian menyebutnya dersana), dan jambu air gelas (Kediri). Sedangkan jambu air degus merupakan“saudara” mereka yang kini dibudidayakan di Pasuruan.
Jambu air degus yang memiliki bentuk buah seperti lonceng tambun ini merupakan salah satu jenis buah-buahan yang dapat tumbuh di berbagai iklim dan jenis tanah. Bahkan, bisa tumbuh di lingkungan yang cukup berat di mana tanaman lain sudah tidak mampu bertahan. Di samping itu, sebagai varietas unggul, jambu yang berwarna merah tua kehitaman ini mudah beradaptasi, mudah dikembangbiakkan, responsif terhadap pemeliharaan intensif, serta berasa manis, segar, dan lebih kesat. Namun, keberadaan jambu yang memiliki kandungan air 89,4%, kandungan gula 9,0%–9,2%, dan kandungan vitamin C 1,99 mg ini, sampai saat ini masih sebatas digunakan sebagai buah segar untuk dikonsumsi langsung. Selain itu, jambu air degus sejauh ini hanya dapat dijumpai di Pasuruan. “Sebenarnya, jambu air degus terdapat di beberapa daerah lain, di samping Pasuruan. Tetapi, belum dibudidayakan secara intesif sesuai dengan baku teknis. Karena itu, Pemerintah Kota Pasuruan melalui Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan berinisiatif membudidayakan tanaman ini dengan menggunakan bibit yang bermutu atau berlabel,” kata Harry Tjahjono, Kepala Sub Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kota Pasuruan, Jawa Timur. Sekadar informasi, Balai Induk Hortikultura Kota Pasuruan menyediakan bibit jambu air degus dengan harga Rp10 ribu/batang. Apa lagi, Harry melanjutkan, pada prinsipnya tanaman ini dapat ditanam di mana pun dengan mempertimbangkan faktor-faktor, antara lain kesesuaian agroklimat atau iklim, ketinggian tempat (4–400 m di atas permukaan laut), jenis tanah (subur dan gembur), ketersediaan unsur hara (kandungan vitamin-vitamin dalam tanah, red.), serta sarana dan prasarana lain. Keterangan lebih lanjut tentang hal ini, silahkan lihat boks 1 dan 2.
Tahun ini, Harry menambahkan, telah dilakukan penanaman bibit jambu air degus sebanyak 1.000 batang yang didistribusikan ke beberapa wilayah kecamatan di Pasuruan, tapi belum merata. “Karena itu, tahun 2007 nanti rencananya akan menanam 3.000 bibit di wilayah Pasuruan,” ucapnya. Mengapa hal ini dilakukan di Pasuruan? “Kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat Pasuruan bahwa jambu air degus yang dapat dikembangbiakkan baik di area pertamanan maupun di dalam pot dengan hasil yang sama baiknya, berpotensi memacu usaha peningkatan produksi dan memberikan peluang usaha, di samping meningkatkan gizi masyarakat serta pendapatan petani dan masyarakat. Bukan cuma itu, pengembangan jambu air degus ke depannya juga berguna sebagai produk unggulan di bidang hortikultura, sekaligus mendukung pengembangan agrowisata secara terpadu,” imbuhnya.
Lebih jauh lagi, Harry melanjutkan, maksud dan tujuan dikembangkannya jambu air degus di Pasuruan yaitu untuk menumbuhkembangkan sentra-sentra komoditi hortikultura jenis buah-buahan yang nantinya akan menjadi produk unggulan, memanfaatkan lahan baik yang non mapun yang produktif menjadi lahan yang mempunyai potensi untuk memberikan peluang usaha dalam upaya peningkatan pengetahuan, ketrampilan, dan pendapatan petani dan masyarakat, mewujudkan program jangka menengah Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kota Pasuruan yaitu memiliki wilayah agrowisata secara terpadu. Nah, selamat bertanam!
<< Start < Prev 1 2 Next > End >> |
|