|
Eni dan Susahnya Mengubah Persepsi Konsumen |
|
Thursday, 21 June 2007 |
Tak semudah membalik telapak tangan. Begitulah kira-kira gambaran susahnya mengubah persepsi yang sudah tertanam bertahun-tahun dalam benak konsumen, khususnya konsumen di Indonesia. Misalnya, bila berbicara tentang wadah plastik, maka yang terpatri dalam pola pikir mereka adalah beberapa merek tertentu yang sudah lama beredar di pasar negara ini. Kemudian pada 2002, muncul wadah plastik sejenis bermerek Lock&Lock, yang mengusung teknik kedap air dan kedap udara. Tentu saja, konsumen akan menganggap produk buatan Korea ini sama saja dengan produk sebelumnya dan lantas mengabaikannya.
Lalu, bagaimana caranya mengubah persepsi mereka? “Kami melakukan edukasi kepada konsumen, yang dalam praktiknya susah sekali, sehingga harus kami lakukan terus menerus. Misalnya, dengan menyebarkan sales promotion girls di setiap gerai kami, melakukan aplikasi di setiap counter kami berada sehingga konsumen tidak merasa dibohongi, dan melakukan berbagai roadshow di setiap pusat perbelanjaan dengan membawa beberapa artis terkenal yang memang berhubungan dengan produk kami. Di samping itu, kami juga memberi jaminan kemudahan kepada konsumen bila mereka ingin membeli Lock& Lock. Lebih dari itu semua, kami menekankan bahwa kehadiran kami bukan untuk menggeser produk-produk sejenis yang sudah lama dikenal masyarakat Indonesia, melainkan sekadar memberi pilihan lain,” kata Eni Setyowati, Marketing Director PT Joeun Star International (JSI), distributor tunggal Lock&Lock di Indonesia.
Usaha Eni dan 150 anak buahnya, tidak sia-sia. Perempuan yang bergabung di JSI sejak tahun 2000 ini, mampu meningkatkan penjualan hingga dua kali lipat dari tahun ke tahun. “Alhamdulillah, masyarakat mulai percaya dengan produk kami dan sedikit demi sedikit pindah dari produk sebelumnya ke Lock&Lock,” ujar kelahiran Yogyakarta, 25 Desember 1971 ini. Diakuinya, hal itu dapat terjadi karena dukungan tim dan manajemennya yang solid, kekeluargaan, dan toleran. “Meski top management JSI berasal dari Korea, tapi mereka menyadari bahwa sistem yang mereka miliki tidak akan cocok bila diterapkan di Indonesia, sehingga mereka sangat terbuka dan mengikuti sistem yang berlaku di sini. Di sisi lain, mereka juga menuntut kami agar memiliki disiplin tinggi dan mau bekerja keras seperti sistem kerja yang berlaku di negara mereka,” imbuh sarjana ekonomi dari Universitas Nasional ini.
Etos kerja yang berlaku di Korea ini dengan sendirinya akan membentuk para karyawannya menjadi pekerja keras yang sangat menjunjung disiplin, terutama dari segi waktu. Masihkah ada waktu untuk diri sendiri? “Harus ada! Meski cuma 20% saya harus menyediakan waktu untuk diri sendiri, misalnya dengan jalan-jalan ke mal,” ucap Eni yang ingin lebih fokus pada brand awareness Lock&Lock, hingga 60% masyarakat Indonesia mengenal produk ini.(Russanti Lubis) |