Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Advertorial
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Bubur Kwang Tung, Tak Pernah Sepi Pengunjung
Tuesday, 19 June 2007

Bubur Kwang TungUntuk menyantap lezatnya aneka bubur Anda tidak perlu pergi ke Kwang Tung, Hongkong, karena Anda bisa menemukannya di Pecenongan . Wiyono 

Sungguh besar pengaruh pengajaran dari orang tua terhadap masa depan buah hati mereka. Kerap bimbingan dan pengarahan yang diberikan keluarga itu mempunya andil saat anak membuat keputusan yang menentukan masa depan ketika menginjak dewasa. Maka Falvius Joana di usianya yang belum genap 30 tahun (saat diwawancara-red) pantas bersyukur sebab didikan yang ditangkap olehnya ditekankan pada pengembangan jiwa pengusaha.
“Dari kita sekeluarga tidak satu pun yang menjadi karyawan, meskipun tidak ada yang punya latar belakang bisnis restoran,” ucapnya saat mengawali perbincangan tentang restoran masakan aneka bubur dan seafood  ala Hongkong miliknya. Selanjutnya Joan mengaku tergerak mendirikan gerai bubur begitu menjumpai jenis makanan ini saat jalan-jalan di luar negeri. Singkatnya di sana ketemu tukang masak yang enak dan merasa cocok, akhirnya diajak buka restoran. “Bumbunya beda dari yang lain, dan belum ada di Jakarta,” kilahnya.

Restoran tersebut meskipun menyajikan segala jenis masakan yang tergolong seafood  namun sebagai menu andalan Joan sengaja menampilkan nama Bubur Kwang Tung. Terdapat lebih dari tujuh jenis aneka menu bubur, seperti bubur ayam, sapi, udang, kerapu, kepiting, kodok, scallop atau kerang kampak, dan haisom atau hisit, serta sayuran bagi vegetarian. Sedangkan nama Kwang Tung menurutnya untuk mengingatkaan nama sebuah pusat jajanan di kota Hongkong. Bahkan sebagai strategi awal ia pun sengaja memilih lokasinya terletak di daerah Pecenongan. “Semua orang tahu bahwa wilayah ini merupakan pusat makanan di Jakarta,” ujarnya.

Bubur yang dijual agak berbeda dengan yang lain. Saat disajikan sekilas bentuknya mirip atau sama dengan bubur pada umumnya, yakni beras yang dimasak dalam waktu cukup lama hingga kurang lebih 2,5 jam dengan jumlah air cukup banyak, maka hasilnya adalah makanan panas-panas empuk ini. Tetapi begitu dicicipi bubur yang terlihat polos dengan taburan daun bawang kacang tanah, dan irisan jahe itu memiliki rasa sedikit lain.
Menurut supervisor, Lydia Sumarni, bubur Kwang Tung hanya diberi bumbu garam dan kecap. Hebatnya walaupun tidak usah ditambah bumbu penyedap, tetapi gurihnya tidak kalah. Kunci resep rahasianya ternyata terletak pada bahan bubur yang dipakai betul-betul masih segar dan hidup. Ketika pesanan dibuat, baik ikan, udang, kepiting, kerang, atau yang lain diambil ketika benar-benar masih hidup dan barulah dibersihkan dan dipotong saat akan dimasak. Maka jangan heran bila terdapat akuarium berukuran besar di emperan dan pasti terlihat oleh semua pengunjung. “Air yang digunakan untuk memasak juga air mineral,” sambung Lydia.
Lalu, ditambahkan Lydia, bagi yang menghendaki bubur bisa disantap bersama cakwe, telur ayam, atau telur asin. Dan ketika hendak disantap lalu diaduk, barulah tampak irisan-irisan kerapu, scallop, sapi, ayam, atau bisa juga kepiting maupun udang yang kelihatan masih utuh, dan lain-lain sesuai pesanan.
Porsinya tergolong jumbo karena cukup untuk dua atau tiga orang, tetapi kalau masih kurang puas boleh ditambah lagi dengan aneka olahan sayuran atau hidangan oriental seperti udang mabuk, tim obat, kerapu tim, tim udang bawang putih atau pun kepiting tumis telur asin untuk dimakan bersama bubur. Menurutnya menu favorit pengunjung adalah bubur kepiting. Konon dalam sehari restoran ini membutuhkan pasokan tidak kurang 30 kg kepiting hidup.


 
© 2008 Peluang Usaha dan Solusinya