|
Bisnis jok mobil ikut bergairah seiring tetap bersinarnya industri otomotif tanah air. Meski jumlah pemain di bisnis ini cukup banyak, Mr Seat optimis mampu menggaet lebih banyak pelanggan dengan mengandalkan kualitas layanan dan inovasi produk. Slamet Supriyadi Meski perekonomian Indonesia masih mengalami kontraksi akibat dampak krisis global, sektor otomotif tampaknya tidak terlalu terpengaruh. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan angka penjualan mobil cukup stabil. Meskipun jika dibandingkan tahun 2008, total penjualan mobil tahun 2009 ini sedikit mengalami penurunan. Gaikindo mencatat tahun 2008 angka penjualan mobil mencapai 607.151 unit. Sementara tahun ini hingga akhir tahun diprediksi hanya sebesar 470 ribu unit.
Cerahnya industri otomotif tentu saja akan memberi dampak positif terhadap bisnis turunannya. Sebut saja usaha bengkel, toko spare part dan asesoris, tempat cuci mobil maupun pembuatan jok mobil. “Kami sangat merasakan semakin meningkatnya angka penjualan mobil ternyata ikut punya andil menaikkan permintaan jok mobil yang kami produksi,” ujar Wildan, pemilik Mr. Seat, salah satu produsen jok mobil. Menurut Wildan, order yang diterima tidak hanya sebatas untuk mengganti jo mobil yang sudah rusak atau yang telah memasuki masa peremajaan. Lebih dari itu, keinginan untuk mengganti jok juga didasarkan perasaan yang kurang nyaman dengan produk standar yang dikeluarkan pabrikan. Bahkan banyak juga yang memutuskan gonta-ganti jok hanya untuk mengikuti tren yang sedang berkembang.
“Saya memprediksi akan ada kenaikan omset sebesar 10 persen,” katanya. Padahal dengan situasi seperti sekarang ini saja Mr. Seat mampu membukukan omset sebesar Rp200 juta-Rp300 juta per bulan. Angka tersebut cukup tinggi mengingat jumlah pemain bisnis jok mobil di Jakarta, khususnya, sudah begitu banyak sehingga tidak gampang untuk menjala pelangan. Dengan mulai redanya berbagai isu negatif yang terkait dengan perekonomian nasional dunia usaha diharapkan bisa kembali bangkit. Pria berusia 38 tahun ini meyakini hanya dengan kualitas pelayanan serta hasil kerja yang baik, customer bisa tetap setia dengan Mr. Seat. Prinsip itulah yang selalu ia peang. Selain itu, Wildan juga tidak ingin begitu saja mengumbar janji dengan para customernya. Dengan demikian, ia berharap tidak mengulangi kesalahan saat pertama kali menjalankan bisnis ini. Wildan lalu menceritakan awal mula menggeluti bisnis jok mobil tersebut. “Awalnya saya bekerja sama dengan pihak lain. Saya menyediakan tempat, rekan saya yang mengerjakan. Rupanya mereka tidak bisa menepati janji dengan customer,” kenangnya.
Ada dua hal yang selalu ia jaga. Pertama, janji yang berkaitan dengan waktu, yakni proses penanganan order. Pria yang juga memiliki bisnis pisang goring ini berpesan untuk tidak gampang memberikan janji jika merasa tidak mampu untuk menepati. Lebih lebih baik untuk membatasi order yang akan diterima atau mengosiasikan kembali waktunya ketimbang memaksakan order tapi dengan resiko mengalami keterlambatan. Kedua, janji untuk memenuhi kualitas sesuai yang ditawarkan. Kepercayaan adalah faktor penting. Artinya, jika kualitas yang diberikan tidak sesuai dengan keinginan pelanggan maka akan menurunkan kepercayaan para customer. “Jika kami tidak mengutamakan kualitas layanan justru kami yang rugi. Misalnya, ketika ada jok yang berlubang, mau tidak mau kami harus menggantinya. Termasuk jika terjadi keterlambatan, customer hanya akan dibebankan untuk membayar separuh harga yang telah disepakati. Itu sudah menjadi komitmen kami,” tegasnya.
Bisnis ini, ia geluti dari nol. Tidak ada pengetahuan mengenai bisnis jok mobil sebelumnya. Kondisiya pun tidak jauh berbeda dengan bengkel lain yang sejenis. Wildan masih ingat tahun-tahun pertama saat menjalankan usaha ini. Awalnya, dalam sebulan ia hanya memperoleh sekitar 10-20 order. Kapasitas produksi belum mencapai batas maksimal yang artinya bengkel lebih banyak menganggur. “Tentu saja dengan jumlah itu tidak banyak yang bisa diharapkan,” tambahnya. Agar kondisi tersebut tidak terus berlanjut, Wildan melakukan berbagai cara untuk mendongkrak popularitas Mr. Seat. Salah satunya dengan beriklan di sejumlah media. Cara ini dianggap yang terbaik dan efektif untuk mengenalkan brand Mr. Seat sekaligus menggaet lebih banyak pelanggan. Strategi lain adalah kerap mengikuti event-event pameran otomotif. Dari pameran Tumblekblek (even pameran otomotif kelas menengah) hingga pameran yang digelar Gaikindo yang merupakan pameran otomotif berkelas.
Dunia otomotif memang sering diidentikkan dengan kaum lelaki. Mereka inilah yang gandrung terhadap segala macam informasi, trend, mode, dan berbagai perubahan di dunia otomotif. Bahkan tidak segan-segan, para lelaki ini berani mengeluarkan anggaran besar untuk sekedar memenuhi segala hal yang berhubungan dengan hobi tersebut. Disinilah terdapat celah untuk menggaet lebih banyak customer. “Bukan rahasia umum jika dalam pameran otomotif salah satu yang menonjol adalah keberadaan sales promotion dirl (SPG). Mereka ini bisa menjadi daya tarik untuk memperkenalkan produk yang ditawarkan,” jelas Wildan. Itulah salah satu alasan ia menggunakan jasa SPG ketika awal meretas bisnisnya. Suatu ketika itu ia memakai beberapa jasa SPG untuk menjual tempat tissue dari kulit yang ia produksi dalam sebuah pameran otomotif. Dalam sekejap produk yang ia jajakan ludes terjual. Ini membuktikan peran SPG sangat efektif. “hanya dari penjualan pernak-pernik produk itu saya bisa membayar sewa tempat di pameran,” ujarnya berseloroh.
Meski terbukti efektif, Wildan memilih untuk tidak lagi menggunakan SPG yang berpenampilan menantang. Dalam pamrean Gaikondo berikutnya, Mr. Seat merupakan satu-satunya peserta yang memakai SPG berbusana muslimah atau berjilbab. Tentu saja hal ini menarik perhatian pengunjung. Kenapa demikian? “Saya sering mengamati banyak customer yang suami-istri agak gerah juga disambut oleh SPG tersebut. Maka saya memutuskan untuk mengganti semua. Mereka memakai jilbab namun desain otomotifnya tidak ketinggalan,” ujar Wildan. Sebenarnya, bisnis jok mobil bukan sesuatu yang menggiurkan. Keuntungan yang diperoleh, menurut Wildan tidak terlalu besar. Untuk satu buah jok mobil, misalnya, margin yang didapat hanya berkisar seratusan ribu. Ia tidak bisa mematok harga yang terlalu mahal megingat banyak pesaing yang juga menawarkan harga miring. Yng pasti peta persaingannya cukup ketat. Selain pemain lama, sekarang juga bermunculan pemain baru yang tak kalah inovatif. Maka, harga yang ditawarkan pun harus kompetitif. Sebagai gambaran, untuk beberapa produknya saat ini Mr. Seat mematok harga berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp2 juta. Sedangkan jika customer menghendaki jok mobil yang terbuat dari kulit ia menawarkan harga Rp5 juta-Rp6 juta.
Agar tetap eksis, Mr. Seat selalu melakukan terobosan lewat promosi dengan cara unik. Wildan membungkus seluruh body mobil Avanza miliknya dengan kulit. Meski rumit dan memakan biaya besar cara ini cukup efektif mencuri perhatian. “Pengunjung bisa menyaksikan jahitan kulit yang membalut mobil tersebut begitu rapi. Sama halnya jika diterapkan di jok mobil,” tuturnya sembari berpromosi.
Jika ingin mengutip/menyebarluaskan artikel ini mohon mencantumkan sumbernya.s01 |