Advertisement
Home
Gapura
Wacana Utama
Peluang
Inovasi
Strategi
Pemasaran
Franchise
Profesional
CEO
Agribisnis
Sukses
Lifestyle
Manajemen
Selepreneur
Finansial
Kontak Bisnis
Kolom
Buku
Advertorial
Resto Area
Tumble Tots, Membentuk Karakter di Usia Emas
Wednesday, 03 February 2010

Novita Tandry, Tumble TotsMemberikan pendidikan terbaik menjadi tanggung jawab setiap orang tua pada si buah hatinya. Bahkan tak sedikit dari mereka memutuskan untuk memasukkan anak-anaknya yang berusia dini ke sekolah-sekolah bonafid. Prospek bisnis pendidikan diprediksi masih tetap cerah. Russanti Lubis

Tahukah Anda, bila 70% karakter manusia dibentuk pada saat mereka berumur 0−5 tahun? Dikatakan begitu, sebab pada usia yang paling crucial itu, anak-anak akan menerima/menyerap apa pun yang diberikan orang tua atau orang-orang terdekat mereka (oma, tante, pembantu rumah tangga, dan lain-lain), tanpa filter sama sekali. Lalu, siapa yang harus mengisi atau membentuk karakter mereka, orang tua atau orang-orang  terdekat mereka? Orang tua mereka, tentu saja. Mengingat, kewajiban orang tua yaitu mendidik dan mengasuh anak-anak mereka. 

Masalahnya, masih banyak sekali orang tua yang tidak mengerti dan bingung, bagaimana caranya mengajak buah hati mereka bermain dan belajar. Apalagi, pada umumnya, orang tua memiliki pengetahuan yang sangat minim tentang dunia anak. Maklum, tidak pernah ada sekolah untuk menjadi orang tua, bukan? Terutama, orang tua yang bekerja. Mereka biasanya menyerahkan pengasuhan bayi mereka kepada baby sitter atau pembantu rumah tangga. Padahal, para pengasuh bayi/anak ini hanya mampu memenuhi kebutuhan fisik si anak, tapi tidak untuk kebutuhan PILES (Physical, Intellectual, Language, Emotional, dan Social-Spiritual)-nya.

Merasa miris dengan kondisi ini, Novita Tandry pun bergabung dengan Tumble Tots, yang didirikan di Inggris pada tahun 1979. Kemudian, ia membawa program pendidikan yang dibentuk oleh Bill Cosgrave, pelatih tim Senam Olimpiade Inggris, ini ke Indonesia pada 9 November 1993.Tumble Tots adalah program physical atau bermain dan belajar yang ditujukan bagi anak-anak berumur 6 bulan−7 tahun. Tujuannya, untuk membentuk karakter yang positif bagi anak sekaligus orang tuanya. Dengan kata lain, di sini, anak belajar supaya menjadi anak yang baik dan benar. Sehingga, nantinya, menjadi orang-orang yang dapat diberdayakan, mempunyai skill,” tutur Managing Director Tumble Tots Indonesia itu.

Namun, sebenarnya sasaran utama dalam lembaga pendidikan yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sehari-hari ini, justru orang tua si anak. Karena itu, dalam pola pengajarannya, Tumble Tots melibatkan orang tua atau pengasuh si anak. Terutama, saat si anak berumur 0−3 tahun. “Di satu sisi, pada umur itu, anak masih sangat membutuhkan perhatian/bimbingan orang tua atau orang yang paling dekat dengannya. Di sisi lain, kami ingin agar orang-orang yang mendampingi si anak juga menyerap program kami, untuk nantinya diterapkan di rumah,” jelas sarjana psikologi dari University of New South Wales, Sidney, Australia, ini.

Tumble TotsDalam hal ini, Novita tidak memberlakukan tawar-menawar. Contoh, kalau orang tua si anak beralasan tidak ada waktu untuk menemani anaknya, karena harus mencari nafkah, Tumble Tots menyediakan kelas Sabtu–Minggu. Sementara, jamnya boleh memilih pagi, siang, atau malam sebab Tumble Tots dibuka dari jam 09.00–19.00. Jika orang tua si anak masih beralasan bahwa lokasinya terlalu jauh dari rumah atau kantor mereka, Tumble Tots memiliki 48 cabang di mana 25 di antaranya berlokasi di Jabodetabek, termasuk yang di dalam pusat perbelanjaan. “Tapi, kalau tetap tidak bisa, Tumble Tots juga menyediakan nanny workshop secara berkala di semua cabang, secara cuma-cuma. Di sini, para nanny itu di-‘brain wash’,” kata kelahiran Kendari, 38 tahun silam ini.

Namun, ia menambahkan, tetap harus ada teamwork antara nanny dengan orang tua si anak. Dalam arti, segala tindakan si nanny dalam menerapkan program Tumble Tots harus mendapat persetujuan orang tua si anak. “Kalau orang tua tidak mau mengerti ya bubar lagi program kami. Demikian pula ketika nanny-nya keluar atau berganti-ganti,” lanjutnya.

Mengapa Tumble Tots? “Sebab, pertama, saya merasa sreg dengan konsep dan founder-nya yang kebetulan psikolog anak sekaligus pelatih senam, bukan sekadar businessman. Kedua, Tumble Tots berasal dari Inggris, suatu negara yang masih menyimpan sisa-sisa konservatif. Misalnya, para muridnya diharuskan memakai seragam dan tidak memanggil guru mereka dengan namanya langsung, tetapi dengan sebutan auntie dan uncle. Sementara, untuk kurikulumnya, saya memadupadankannya dengan kultur/tata karma yang berlaku di Indonesia. Contoh, tidak boleh memegang atau menyentuh kepala, karena di negara kita itu dianggap sikap kurang ajar,” ucapnya.

Untuk dapat menjadi murid Tumble Tots, pertama, orang tua si anak harus terlibat agar pendidikan yang diajarkan tertransfer sesuai dengan misi dan visi Tumble Tots. Kedua, membayar uang masuk sebesar Rp750 ribu. Ketiga, membayar semacam SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) sebesar Rp300 ribu/bulan untuk kelas seminggu sekali, Rp400 ribu/bulan untuk kelas seminggu dua kali, atau Rp500 ribu/bulan untuk kelas seminggu tiga kali. “Dibandingkan dengan negara-negara lain, charge Tumble Tots Indonesia yang paling murah. Karena, seharusnya charge kami sama dengan Singapura yang sekarang mencapai Rp2 juta/bulan,” ujarnya. Selanjutnya, setiap murid Tumble Tots akan memperoleh kartu keanggotaan yang berlaku di 1.000 cabang Tumble Tots yang tersebar di Inggris, Hong Kong, Singapura, Korea, Cina, Jepang, Kepulauan Maurice, Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Setelah lulus dari Tumble Tots, mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang berbeda dengan anak-anak yang lain yaitu lebih percaya diri, memiliki penghargaan diri (self independence) yang tinggi, dan lebih mudah bersosialisasi. “Tetapi, itu semua tetap tergantung pada terlibat atau tidaknya orang tua dalam proses pendidikan anak mereka. Karena, sebagian besar waktu anak dengan orang orang tua mereka. Sedangkan, kami hanya bisa mentransfer knowledge dan brain wash secara terus-menerus. Selain itu, melalui internet, e-mail, buletin, dan lain-lain, secara berkala kami menggembar-gemborkan pentingnya menjadi orang tua, bagaimana menjadi orang tua yang positif, tip-tip menjadi orang tua, dan sebagainya,” katanya. Sekadar informasi, Tumble Tots kini telah memiliki hampir satu juta alumni.

Tumble TotsSaat ini, Tumble Tots telah memiliki 48 cabang (dua di antaranya milik sendiri yaitu Tumble Tots di Taman Anggrek Mall dan Pondok Indah Plaza 6), yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Para sub lisensi, begitu istilah yang digunakan, berasal dari para orang tua murid yang kesentil ketika mengikuti pelajaran, workshop, seminar, dan lain-lain. “Tapi, pada dasarnya, tidak mudah mempertahankan bisnis ini, apalagi mengembangkannya. Lantaran, bisnis ini hanya dapat dijalankan dengan hati, cinta dunia anak. Kalau tujuan saya hanya duit, cabang Tumble Tots sudah mencapai 100-an karena setiap minggu kami menerima 10–15 aplikasi,” ucap Novita, yang pada tahun 2012 menargetkan telah memiliki 100 cabang.

Dilihat dari targetnya, Novita mengakui bila Tumble Tots sebagai bisnis memiliki prospek yang sangat bagus, bukan hanya sekarang melainkan juga di tahun-tahun mendatang. Tidak perduli bagaimana kondisi ekonomi dan politik negara ini. “Dikatakan begitu, karena selama manusia masih bertumbuh, selama itu pula jasa pendidikan pada umumnya akan selalu eksis,” tegasnya.

Meski bisnis, ia melanjutkan, jangan sampai terlepas dari misi dan visi tertentu yang jelas dan bisa dimengerti. “Sekarang, banyak orang membuka bisnis pendidikan, tapi mereka asal buka saja. Yang penting, menghasilkan duit. Guru-gurunya pun di-hijack dari berbagai tempat. Dan, setelah digali lebih dalam, ternyata para front liners itu sebenarnya juga tidak mengerti mau dibawa ke mana anak-anak didik mereka,” imbuhnya.

Ke depannya, Novita akan membuka sekolah lain yang serupa dengan Tumble Tots yaitu Leaps & Bounds. Sekolah yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya ini akan dibuka di kota-kota kecil. “Karena, saya ingin agar para orang tua di kota-kota kecil pun mengerti bagaimana caranya mendidik anak mereka. Di sisi lain, orang-orang yang memiliki hati tapi tidak memiliki cukup modal, serta tidak saya sarankan meminjam modal ke bank, bisa memperoleh waralaba Leaps & Bounds hanya dengan modal Rp100 juta–Rp150 juta. Sekadar informasi, untuk memperoleh waralaba pendidikan, saat ini dibutuhkan investasi sebesar Rp1,5 milyar,” ungkapnya. Leaps & Bound yang akan di-launching pada Januari 2010 ini, ditargetkan akan membuka 100–150 cabang.

Jika ingin mengutip/menyebarluaskan artikel ini mohon mencantumkan sumbernya.s01 
 
© 2010 Majalah Pengusaha - Referensi Usaha Anda