|
Pasar ikan kerapu di luar negeri masih terbuka luas. Di beberapa negara seperti Hongkong dan Jepang, kerapu bahkan dianggap sebagai ikan 'berkelas'. Inilah yang membuat budidaya serta pembenihan ikan kerapu kian dilirik. Wiyono Tahukah Anda mengapa ikan kerapu merupakan komoditas yang menggiurkan untuk dibudidayakan? Ikan kerapu lebih banyak diminati di luar negeri ketimbang pasar domestik. Lebih dari 70% kerapu, baik hasil tangkapan atau budidaya adalah untuk ekspor, sebagian besar ke Hongkong dan Jepang. Orang-orang Hongkong punya keyakinan daging ikan kerapu yang berwarna kemerahan itu akan mendatangkan rejeki bagi yang memakannya. Sementara itu di Jepang, orang yang mengonsumsi ikan kerapu merupakan pertanda bagi kalangan terhormat. Di samping itu, ikan kerapu memang memiliki kelebihan karena dagingnya yang lembut dan lezat. Maka wajar jika harganya juga tinggi, Rp100 ribu/kg - Rp150 ribu/kg.
Dari berbagai jenis ikan kerapu, baik kerapu macan, kerapu tikus, kerapu lumpur, kerapu malabar, kerapu sunu dan kerapu totol, sejatinya jenis yang paling mahal adalah ikan kerapu tikus. Harga jualnya bisa mencapai Rp700 ribu/kg. Tetapi, dari segi kuantitas permintaan, kerapu macanlah yang memiliki peluang pasar paling besar. Karena alasan itulah, kini budidaya kerapu semakin dilirik. Meskipun tergolong mudah stress, sesungguhnya ikan kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan, terutama karena pertumbuhannya cepat. Di sisi lain, pergeseran selera konsumen dari mengonsumsi ikan mati/ beku kepada ikan segar ikut mendorong pertumbuhan usaha budidaya guna memenuhi permintaan pasar terhadap ikan kerapu.
Kerapu macan memiliki ciri-ciri bentuk tubuh agak pendek dengan moncong pipih-panjang, maxillarry lebar diluar mata, terdapat bintik-bintik putih coklat pada kepala, badan dan sirip, serta bintik-bintik hitam pada bagian dorsal dan poterior. Habitat benih ikan kerapu macan adalah pantai yang banyak ditumbuhi alga jenis reticulata dan Gracilaria sp. Setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari pasar berlumpur. Ikan kerapu termasuk jenis karnivora. Pakan yang paling disukai jenis krustaceae (rebon, dogol, dan krosok), serta ikan tembang, teri, dan belanak. Sebelumnya, budidaya ikan kerapu masih mengandalkan benih alam yang sifatnya musiman. Dengan semakin banyaknya permintaan ikan kerapu untuk pasaran domestik dan internasional, maka benih dengan mengandalkan alam akan sulit terpenuhi. Untungnya pemerintah telah mengupayakan usaha pembenihan buatan. Sejak tahun 1993 Balai Riset Budidaya Laut (BRBL), sebagai unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan, berhasil melakukan pengadaan benih melalui pembenihan buatan manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon. Seperti diinformasikan, keberhasilan BRBL dalam melaksanakan pemijahan ikan kerapu tersebut merupakan langkah awal dalam mata rantai sistem budidaya, yang antara lain meliputi pemeliharaan larva, pendederan dan selanjutnya sampai ukuran konsumsi. Sebab keberhasilan budidaya ikan kerapu, seperti dijelaskan pula oleh Ahmad Badri yang berkecimpung dalam usaha penyediaan benih ikan untuk pembudidayaan, di samping tergantung pada pola penyediaan pakan alami yang tepat untuk ukuran, jumlah, dan waktu, juga sangat dipengaruhi oleh teknik pemeliharaan larva.
Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 99/Oktober 2009. |